
Hanya suara tangisan tersedu sedu yang terdengar dari dalam kamar dan seorang wanita yang tergeletak. Dari mulutnya keluar darah seperti habis minum racun. Hmph! Siapa lagi yang ikut campur dalam urusanku? batin Li Jihyun kesal. Gadis itu terus berjalan mendekati Fen yang memeluk tubuh Hai Rong. Suara tangisan tadi berasal dari Fen. Wajah penuh air mata itu terlihat menyedihkan.
"Nona, sadarlah! Ini pasti tidak benar. Anda tidak mungkin bunuh diri," ujar Fen menepuk pipi Hai Rong yang memucat. Namun tak ada tanda Hai Rong akan bangun. Li Jihyun menepuk bahu Fen membuat kepala dayang itu mendongak.
"Ya-Yang mulia selir agung," ujar Fen menundukkan pandangan. Tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh dingin Hai Rong.
Li Jihyun sedikit membungkukkan badannya. "Fen tenanglah. Ikhlaskan kalau Hai Rong sudah dialam lain. Semua itu sudah takdirnya," ujar Li Jihyun yang digelengkan pelan Fen.
Bulir bening terus berjatuhan membasahi pipinya. "Sa-Saya tidak percaya nona Hai Rong bunuh diri. Ini semua pasti kebohongan," sergah Fen tidak terima.
"Fen," panggil Li Jihyun lembut. Meski pandangannya diedarkan mengamati sekitar. Dayang dan beberapa selir yang berkumpul di belakangnya mulai bergosip. Mereka saling berbisik dengan lirih. "Sekarang kita harus mengurus mayatnya sebelum terjadi hal buruk lainnya. Ikhlaskan dia Fen," bujuk Li Jihyun selembut mungkin.
Tapi Fen justru menggelengkan kepala. Malah memeluk erat tubuh Hai Rong seakan tak dilepaskan. "Tidak. Nona Hai tidak meninggal. Dia masih hidup. Ini semua pasti bohongan. Nona Hai cuma tertidur," tolak Fen membuat semua orang yang menyaksikan diliputi rasa sedih.
Li Jihyun mengusap ujung matanya dengan ujung hanfu. Berpura pura bahwa dia turut bersedih. "Fen, jangan seperti ini. Hai Rong sudah tiada. Terimalah itu sudah jadi takdirnya," bujuk Li Jihyun menenangkan Fen.
Dayang itu terdiam. Tapi air matanya terus bergulir jatuh. Mata Li Jihyun menatap cangkir teh yang tergeletak di lantai. Masih ada sisa teh di dalam cangkir. Aku harus mencari tau racun apa yang mereka berikan pada Hai Rong. Pasti ada petunjuk yang tertinggal, batin Li Jihyun. Dia memeluk Fen dari belakang. Berusaha menguatkannya yang tengah diselimuti duka. Sambil tangannya meraih cangkir teh yang tak jauh darinya. Dia harus mencari tau jenis racun yang digunakan dan memastikan pelaku yang berani ikut campur. Ck! Ada saja yang mengangguku, rutuk Li Jihyun dalam hati.
...
Pemakaman Hai Rong berjalan sebagaimana mestinya. Meski tidak diadakan di istana namun Li Jihyun tetap datang. Dia menangis sesunggukan ikut bersedih atas kematian Hai Rong. Walau sekadar sandiwara.
Kediaman Hai Rong ramai didatangi pelayat. Beberapa orang menangis tersedu sedu. Li Jihyun mengusap ujung matanya dan mendekati kepala keluarga Hai.
"Saya turut berduka cita atas kematian putri anda," ujar Li Jihyun dengan suara serak. Kepala keluarga Hai itu menoleh lantas membungkuk hormat.
"Saya menyapa yang mulia selir agung," ujarnya. "Terimakasih sudah datang yang mulia. Saya mohon maaf jika putri saya melakukan kesalahan pada anda," tambahnya lagi.
"Tidak perlu seperti itu tuan Hai," ujar Li Jihyun menggelengkan kepala. "Putri anda orang baik. Dia tak pernah berbuat jahat pada siapapun. Cuma sifatnya yang iseng. Tapi saya tidak menyangka nona Hai Rong bunuh diri," lanjut Li Jihyun melirik kepala keluarga Hai. Tampak bibir bawah pria tua itu digigit seolah tengah menahan amarah.
Kepala Li Jihyun sedikit tertunduk. Dia menghela napas pelan. "Saya rasa memang terjadi sesuatu padanya. Saya selaku selir agung meminta maaf pada anda," ujar Li Jihyun membungkukkan badan membuat pak tua itu terperangah.
"Ti-Tidak perlu seperti ini yang mulia. Ke-Kenapa anda meminta maaf?" tanya kepala keluarga Hai tergagap.
Kalau bukan karena statusnya aku tidak sudi memintaa maaf begini, rutuk Li Jihyun dalam hati. Dia memasang wajah iba. Kepalanya digelengkan dan matanya pun berembun. "Saya merasa tidak pantas sebagai selir agung yang dilayani dayang Hai Rong. Seharusnya saya menjaganya dengan baik. Kalau saja saya tidak teledor. Pasti kejadian ini takkan terjadi. Andai waktu bisa diputar kembali," ujar Li Jihyun sedih. Dia kembali meneteskan air mata.
Kepala keluarga Hai terdiam. Dia meraup wajahnya kasar. Menghela napas pelan. "Anda tidak perlu menyalahkan diri anda yang mulia. Justru saya bersyukur anda menjadikan anak saya sebagai dayang yang kerap mendampingi anda. Itu ... sudah cukup membanggakan bagi saya," ujar kepala keluarga Hai tersenyum getir.
"Tapi saya merasa bersalah. Saya akan menebusnya," dahi kepala keluarga Hai mengerut. Dia memiringkan wajah kebingungan. Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat. Dia mengusap ujung matanya yang berair dan pipi. "Saya selaku selir agung bisa membantu anda menemukan kebenaran di balik kematian Hai Rong sebagai bentuk bayaran atas rasa bersalah saya," ujar Li Jihyun. Tentu saja itu tak gratis pak tua. Aku akan manfaatkan kekuasaanmu untuk menggulingkan Long Jian. Aku harus bergerak cepat sebelum Long Jian pulang ke istana, batin Li Jihyun sedikit gelisah.
Kepala keluarga Hai terdiam sejenak. Matanya menatap lekat mata Li Jihyun. "Maaf jika saya meragukan anda. Apa anda ... sungguh akan menyelidiki kasus ini?" tanya kepala keluarga Hai dengan tatapan penuh harap.
"Tentu saja. Saya merasa perlu bertanggung jawab," ujar Li Jihyun.
"Baiklah. Tapi ... perkenankan saya membantu anda yang mulia. Apa yang ingin anda perlukan dari saya?" senyuman sumringah tersungging dibibir Li Jihyun. Tapi gadis itu dengan cepat menutupinya.
"Tidak perlu balas budi tuan. Saya melakukan ini demi menghormati nona Hai semasa hidupnya." Hela napas terdengar.
"Sebagai saudagar saya tidak bisa menerima kebaikan anda secara suka rela. Saya akan memberikan sesuatu atas kebaikan yang anda lakukan," ujar kepala keluarga Hai bersikukuh. "Anda tidak perlu ragu pada saya." Alis mata Li Jihyun terangkat. Dia menatap lekat kepala keluarga Hai.
Tak lama senyuman tipis melengkung dibibirnya. "Suatu kehormatan bagi saya tuan. Tapi permintaan saya cukup sulit. Anda pasti keberatan mengabulkannya," ujar Li Jihyun menghela napas berat.
Dia menundukkan pandangan. "Tidak masalah. Asal anda bisa menemukan pembunuh yang sudah membuat putriku meninggal. Aku tak bisa menerima kematiannya begitu saja," ujar kepala keluarga Hai dengan penuh amarah.
"Baiklah. Dengan senang hati saya mencari tau siapa pembunuh yang sudah membuat nyawa putri anda meninggal. Bukankah hama harus dibasmi?" celetuk Li Jihyun yang diangguki kepala keluarga Hai.
"Tentu saja. Saya pasti akan membalasnya apapun permintaan anda. Saya janji." Li Jihyun tersenyum puas. Satu per satu rencananya berjalan mulus. Meski ada sedikit kejadian tak terduga atas pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang.