
Long Jian berdehem memperbaiki pakaian kebesarannya. Hanfu berwarna merah itu tampak berkilau dibawah cahaya matahari pagi. "Tidak salah lagi kamu memang selir yang paling peka dibandingkan yang lain," ucap Long Jian. "Aku membutuhkan kesaksianmu mengenai kematian keluarga Xu," lanjutnya.
Li Jihyun terdiam sejenak. "Saya tidak tau yang mulia. Yang saya ingat saya ditampar lalu dikurung. Yang mulia pasti melihat wajah saya yang memerah bukan?" tanya Li Jihyun menunjukkan pipi yang terdapat sedikit bekas kemerahan. Bahkan pergelangan tangannya pun memerah seperti bekas diikat tali. Meski kejadiannya cukup lama tapi bekasnya masih tersisa sedikit.
Perasaan Long Jian bergejolak marah. Dia mengepalkan tangan erat. Entah kenapa hatinya dirudung kemarahan melihat bekas itu. Dia menarik napas dan diembuskan kasar. Seharusnya dia senang melihat gadis itu hancur tapi perasaannya seolah tak tenang. Dia membuang napas lagi.
"Semua penghuni istana juga tau itu," ujar Long Jian. "Tapi apa kamu akan terus berbohong? Kamu pikir aku tak tau kalau dalam tubuhmu itu punya hasrat membunuh yang kuat?" tunjuk Long Jian membuat Li Jihyun tersenyum tipis. Dia menghela napas pelan.
"Berapa kali harus saya bilang yang mulia. Kalau saya ini hanya perempuan biasa. Kemampuan saya dibandingkan yang lain sangat buruk," ujar Li Jihyun merendahkan suaranya. Long Jian berdecak.
"Berhentilah berbohong. Aku sangat tau kemampuanmu Li Jihyun. Aku yakin kamu yang membakar rumah itu bukan?" selidik Long Jian yang disambut helaan napas Li Jihyun.
"Harus berapa kali aku harus mengatakannya yang mulia. Saya tidak melakukannya," sergah Li Jihyun. Tidak mungkin dia tau aku menyulut api itu membakar kediaman Xu. Apa mungkin Zhi Shen yang melaporkannya? pikir Li Jihyun.
"Dayang Lien memasuki ruangan," teriak kasim Bo yang dari balik pintu. Suara derap sepatu membuat Long Jian diam sejenak. Lien dengan hati hati meletakkan cangkir teh. Dia membungkukkan badannya lalu pergi.
Long Jian mengangkat cangkir teh lalu meneguknya sedikit. Kemudian diletakkan kembali di meja. Li Jihyun juga menikmati teh yang dihidangkan. Dua orang itu berdiam cukup lama. "Lalu apa alasanmu tidak melawan ditampar oleh kepala keluarga Xu? Bukankah kamu biasanya melawan?" tanya Long Jian tersenyum miring. Dia menatap lurus Li Jihyun.
"Aku pantas menerimanya yang mulia," jawab Li Jihyun. Gadis itu meneguk tehnya lagi. "Karena perbuatan yang saya lakukan sudah membuat mereka kehilangan orang yang mereka sayangi." Long Jian langsung tergelak mendengar perkataan Li Jihyun.
"Seperti bukan dirimu saja Li Jihyun," ejek Long Jian meneguk habis tehnya. Dia bangkit dari duduk menatap sekilas ke luar jendela. Matahari sudah hampir tinggi menandakan sebentar lagi siang.
"Banyak yang bilang kamu hebat. Tapi nyatanya kamu pengecut yang tak berguna," tambah Long Jian menohok jantung Li Jihyun. Gadis itu menelan ludah susah payah. "Aku semakin yakin setelah kamu berada didekatku. Kamu tak bisa dibandingkan dengan apapun. Heh? Hebat apanya? Kamu selalu kalah dariku," ejek Long Jian menepuk pundak gadis itu. Lalu berjalan melewati Li Jihyun.
"Yang mulia," panggil Li Jihyun menghentikan langkahnya. Namun sedikit pun tak menolehkan kepalanya.
"Pembicaraan kita sudah selesai. Hentikan pembicaraan kita yang tak berguna ini," ucap Long Jian melanjutkan langkahnya.
"Bagaimana jika saya berhasil merebut takhta dari tangan anda?" tanya Li Jihyun menghentikan langkahnya. Long Jian berbalik menatap punggung Li Jihyun. Alis mata Long Jian menukik tajam. Wajahnya berubah merah padam.
"Heh? Kamu pikir bisa mengambilnya dariku?" tantang Long Jian. Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat.
"Anda tidak lupa bagaimana saya bisa berada diposisi selir agung?" Long Jian berdecak.
"Aku bisa saja mencabut gelar itu kapanpun aku mau," ujar Long Jian sombong.
"Dasar perempuan sombong! Tanpa gelar itu kamu hanya sampah," maki Long Jian sebelum berbalik. Dia pergi keluar meninggalkan Li Jihyun.
Fen yang berada disana menatap Li Jihyun tak percaya. Gadis itu baru saja menantang Long Jian. Posisi Li Jihyun sekarang dalam bahaya. "Maaf Fen kamu jadi menyaksikan sesuatu yang tak pantas," ujar Li Jihyun yang digelengkan Fen.
"Tidak yang mulia. Anda tidak perlu minta maaf. Saya lah yang harusnya minta maaf yang mulia tidak bisa membela anda," ucap Fen.
"Terimakasih Fen. Padahal kamu bukanlah orang yang dekat denganku." Fen menggelengkan kepala.
"Saya takkan melupakan kebaikan yang mulia yang telah menyelamatkan saya," ucap Fen membuat Li Jihyun tersenyum lebar. Namun senyuman itu langsung luntur mengingat ada pekerjaan yang tertunda. Dia harus menyelesaikannya secepat mungkin.
"Fen sepertinya hari ini kita tidak bisa berbincang lebih lama. Ada banyak hal yang harus kukerjakan sekarang," ucap Li Jihyun yang diangguki Fen.
"Iya yang mulia. Saya permisi dulu. Maaf sudah menganggu waktu anda," pamitnya membungkuk hormat kemudian meninggalkan kamar Li Jihyun. Begitu suara derap sepatu Fen terdengar jauh. Li Jihyun langsung memanggil Lien.
"Lien sampaikan pesanku pada Gong Jihon agar menemuiku sekarang," titah Li Jihyun yang diangguki patuh Lien. Dayang itu membalikkan badannya dan bergegas pergi. "Jing kemarilah," panggilnya lagi.
Jing datang dengan tergopoh. "Panggil dayang lain kemari. Kita harus segera pergi ke ruang bawah tanah. Jangan lupa bawa ember berisi air itu," tunjuk Li Jihyun pada ember yang berisi air didekat ranjangnya.
"Baik yang mulia," jawab Jing berjalan ke dekat ranjang Li Jihyun. Tubuhnya sedikit membungkuk meraih ember dibawah kolong ranjang. Melihat Jing sudah menenteng ember Li Jinyun berjalan terlebih dulu diikuti Jing.
Mereka berdua berjalan melewati lorong istana. Ada banyak dayang yang hilir mudik disekitaran mereka. Karena hari yang sudah beranjak siang membuat mereka sibuk. Beberapa dayang yang berpapasan dengan Li Jihyun menundukkan pandangan.
Li Jihyun tersenyum menanggapinya. Di persimpangan tiga mereka belok kanan terus berjalan. Suasana lorong sangat berbeda dengan sebelumnya. "Kamu sudah pastikan tidak ada yang melihat kalian?" tanya Li Jihyun.
"Sudah yang mulia. Semua sudah aman terkendali," jawab Jing. Li Jihyun mangut mangut. Semakin berjalan ke ujung suasana lorong semakin suram. Sinar matahari pun tidak terlihat. Berbeda dengan lorong sebelumnya. Langkah mereka terhenti tepat didepan pintu yang terbuat dari besi.
Li Jihyun merogoh saku dan mengeluarkan kunci gudang. Dia memasukkan kunci dan memutarnya.
Kriet!
Suaranya memecah keheningan. Li Jihyun melangkah masuk diikuti Jing. Ruangan itu memiliki tangga yang curam dan dalam. Tampak dari nyala obor yang menempel di tepi tembok. Li Jihyun dan Jing menuruni tangga setelah Jing menutup pintu terlebih dulu.