Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 8


Plak!


Satu tamparan telak mengenai pipi gadis kecil berusia 7 tahun. Tapi gadis kecil itu diam dan pandangannya kosong. Tak ada raut kesakitan yang terlihat dari wajah meski pipinya memerah karena bekas tamparan dari wanita paruh baya didepannya. Dia juga tidak mengeluarkan suara jeritan maupun menangis.


“Aku sudah bilang lakukan yang benar!” bentak wanita paruh baya itu. “Aku tak pernah membesarkan anak tak berguna sepertimu,” ucapnya lagi dengan penuh amarah. Dia menatap wanita itu lekat. Wanita itu sedikit bergidik saat bertatapan dengan sorot mata yang dingin dan tajam. Manik hitam legam yang redup nengingatkannya kembali pada kenangan di masa lalu. Bayangan seseorang muncul di kepalanya. Matanya nyalang menatap gadis didepannya. Kebencian dan kemarahan pun membuncah. “Jangan menatapku seperti itu! Mata itu ... mata yang sudah menghancurkan hidupku!” jeritnya histeris melayangkan satu tamparan dan tamparan lagi pada pipi gadis itu. Namun gadis itu tak bergeming hingga terjatuh pingsan.


Tubuhnya ringkihnya meringkuk di lantai yang dingin. Pakaiannya yang kumal dan sobek menunjukkan banyak bekas luka dan lebam pada sekujur tubuhnya.


Wanita itu berdecih dan balik kanan meninggalkan gadis itu didalam ruangan yang pengap dan remang. Dia menutup pintu rapat dan menguncinya dari luar. Sementara gadis itu merasakan kelopak matanya semakin berat. Kesadarannya perlahan semakin lama berkurang membuat matanya terkatup rapat.


“Li Jihyun,” seru seseorang memanggil namanya. Terdengar suara familiar yang selama ini dirindukannya. Kelopak matanya berkedut. “Bangun! Ayah sudah menunggu kita sarapan,” lagi suara itu terdengar dan kali ini semakin jelas. Dia pun membuka matanya dan terkejut melihat seseorang didepannya. “Bertahanlah! Kakak akan selalu ada disisimu,” ujarnya sambil mengusap rambutnya lembut.


Li Jihyun menggelengkan kepala. Tak terasa air matanya berlinang. Baru saja hendak dipeluk mendadak tubuhnya secara perlahan menghilang. “Tidak! TIDAK! JANGAN PERGI!” jeritnya langsung terbangun dengan napas menderu kencang. “Ternyata mimpi,” gumamnya frustasi. Tangannya menyentuh sisa air mata di pipi dan mengusapnya kasar. Kenapa hidupku tidak adil? Apa aku tak berhak bahagia? Kenapa semua yang kupunya direbut? rutuknya terkekeh pelan.


...


Bencana kekeringan di wilayah perbatasan kini terselesaikan dengan baik berkat solusi Li Jihyun. Sejak saluran irigasi dibangun dan pepohonan ditanam dengan baik masalah kekeringan bukanlah menjadi bencana. Meski ada banyak anggaran yang digunakan untuk membangun saluran irigasi. Berkatnya, rakyat bisa menggunakan air secukupnya untuk kebutuhan sehari hari. Selain itu akar pepohonan yang tumbuh mengikat setiap sumber air hujan membuat tanah tidak retak lagi. Bahkan sekarang sudah menjadi subur dan tidak gersang. Sehingga masalah kelaparan pun teratasi dengan baik. Udara pun terasa lebih sejuk dari sebelumnya. Rakyat pun berterimakasih pada kekaisaran mengatasi masalah yang dihadapi. Tapi tak ada yang tau bahwa solusi itu berasal dari selir tawanan.


Sementara saat rapat di aula para menteri tak berhenti memuja Long Jian yang berhasil mengatasi masalah kekeringan. Long Jian yang duduk di kursi singasana tersenyum tipis. Dia puas melihat kinerja yang dilakukan Li Jihyun berhasil tanpa ada kendala. Cuma Zhang Liu yang memasang ekspresi datar. Pria berkacamata tebal itu berulang kali mengembuskan napas berat.


“Seluruh rakyat kekaisaran berterimakasih pada anda,” ucap salah satu menteri. Dia adalah Fang Hua, menteri pertahanan dari faksi timur. Gerombolan faksi barat menatap sinis Fang Hua. Kedua faksi ini bermusuhan. Jika faksi timur mendukung Long Jian maka faksi barat justru sebaliknya. Mereka adalah sisa pengikut kekaisaran terdahulu yang selamat berkat pengorbanan Li Jihyun. Sebenarnya mereka siap mati demi membela kekaisaran tapi Li Jihyun membujuknya. Dia tak mau melihat orang disekitarnya mengalami kematian lagi.


Faksi barat pun menuruti perkataan Li Jihyun dan memberikan dukungan. Meski bukan keluarga kekaisaran tapi dia adalah putri perdana menteri yang jenius dan orang yang bisa dipercayakan oleh faksi barat untuk membalaskan dendam. Tapi kekuatan faksi barat sangat lemah sehingga Li Jihyun tidak bisa lepas dari status tawanan perang.


“Menteri Gong Jihon sepertinya itu ide dari nona Li Jihyun,” bisik menteri dari faksi barat pada temannya bernama Gong Jihon. Pria berjanggut putih dan berusia 60 tahun yang lebih tua dari menteri lainnya menganggukkan kepala setuju. Dia sudah mengenal Li Jihyun sejak kecil. Gadis yang terkenal pintar itu selalu bisa menyelesaikan masalah tanpa kendala. Kekaisaran pun banyak terbantu berkat kepintaran Li Jihyun.


“Tapi kenapa nona Li Jihyun membantunya?” tanya Gong Jihon mengusap janggut. Menteri lainnya terdiam dan saling menatap.


“Nona Li Jihyun pasti merencanakan sesuatu. Dia tak mungkin mengkhianati kita,” ucapnya yang diangguki serempak oleh menteri lainnya. Aku percaya gadis itu sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia pasti takkan membiarkan orang yang menghancurkan keluarganya hidup tenang. batinnya melirik Long Jian yang duduk di singasana dengan angkuh.


“Sebagai kaisar sudah tugasku memakmurkan rakyat,” suara riuh dari menteri terdengar. Sekali lagi Zhang Liu menghela napas sambil memijat pelipis yang tiba tiba nyeri.


Tugas katanya? Padahal berkat gadis itu kami bisa melewati krisis dengan mudah. Ternyata itu bukan sekadar rumor. Gadis itu benar benar jenius. Pantas saja Long Jian menjadikannya selir, batin Zhang Liu.


“Tapi ada sesuatu yang harus kusampaikan,” suasana riuh pun mendadak senyap. Para menteri mendengarkan dengan seksama. “Selir Li Jihyun akan diangkat selir agung dalam waktu dekat. Siapapun yang berani menentang akan menghadapi kematian,” titahnya.


Suasana faksi timur dalam sekejap rusuh. Mereka pun terdengar berisik. Tapi menteri dari faksi timur tak ada yang berani protes pada kaisar. Sudah jelas mereka takut menghadapi ancaman kematian.


Faksi barat pun terkejut. Tak menduga jika Li Jihyun bergerak dengan cepat. Gong Jihon tersenyum bangga. Sekarang faksi barat tidak menaruh kecurigaan lagi pada kesetiaan Li Jihyun. Mereka turut senang pada Li Jihyun yang berhasil menduduki posisi tertinggi dalam waktu cepat.


Zhang Liu yang menyaksikan perbedaan reaksi dari kedua faksi tersenyum. Jadi gadis itu didukung faksi barat, batinnya menatap faksi barat yang terlihat kontras di aula.


....


“Nona Li Jihyun! Nona Li Jihyun! Ada berita penting!” jerit Yona berlarian menghampiri Li Jihyun yang duduk diteras sambil menyesap teh.


Dia meletakkan cangkir di meja saat Yona berhenti tepat dihadapannya. Napasnya terengah engah dan peluh bercucuran membasahi dahi. Dahi Li Jihyun mengerut keheranan. “Apa yang terjadi Yona? Masih pagi tapi kamu sudah berisik,” ujar Li Jihyun dingin.


Yona segera membungkuk. “Maafkan saya nona. Tapi ada berita penting yang harus disampaikan dari yang mulia kaisar.”


Senyuman tersungging dibibir merah Li Jihyun. Dia menyesap teh yang bersisa separuh dicangkir. “Jadi hari ini telah tiba.”