
"Sepertinya aku harus mengunjungi rumah selir Xu. Pasti keluarganya sangat kehilangan putri mereka," ucap Li Jihyun dengan wajah sedih. Hai Rong dan Fen terperangah kaget.
"A-Anda yakin yang mulia selir agung?" tanya Hai Rong memastikan. Bagaimanapun mendatangi rumah keluarga Xu Diu sama saja menantang kematian. Pemilik rumah itu yang merupakan kepala keluarga Xu tidak akan membiarkan Li Jihyun lolos begitu saja. Mereka pasti membalaskan dendam atas kematian Xu Diu. Apalagi Xu Diu berasal dari keluarga militer dari generasi ke generasi yang menjabat sebagai jenderal. Selain itu dia menjadi selir mewakili keluarga Xu. Artinya nama keluarga Xu pun semakin terkenal dan dihormati semua bangsawan.
Tapi Xu Diu yang tewas ditangan selir tawanan meruapakan aib keluarga. Bagaimana bisa dia mati begitu saja ditangan manusia rendahan? itulah gosip yang terdengar dikalangan istana. Hai Rong menatap lekat Li Jihyun. Wajah gadis itu tidak menunjukkan ketakutan ataupun rasa bersalah. Dia sangat tenang untuk dipanggil pembunuh. Hai Rong menelan ludah.
Selir dihadapannya bukanlah lawan yang mudah. Menjadikan lawan cuma merugikannya. Dia lebih licik dan pintar dalam mengendalikan situasi. Bahkan lebih kejam dari Long Jian.
"Tentu saja. Sebagai bentuk kepedulianku yang merupakan selir agung. Sewajarnya aku mengunjungi keluarga Xu," ucap Li Jihyun membuat kedua orang itu tercengang.
"Anda tidak perlu datang kesana," cegah Hai Rong dengan suara lantang. Li Jihyun memiringkan wajah membuat napas Hai Rong tercekat. Wajahnya langsung memucat saat menatap iris kehitaman Li Jihyun yang hitam legam. Kepala Hai Rong langsung tertunduk. "Sa-Saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud lancang. Sa-Saya hanya mengkhawatirkan anda," ucap Hai Rong dengan keringat dingin bercucuran. Begitu juga Fen yang sejak tadi membisu dengan tubuh gemetaran ketakutan.
Menantang Li Jihyun sama saja menemui maut. Meski gadis itu masih terbaring dikasur. Tetap saja aura yang terpancar dalam tubuhnya membuat nyali siapapun ciut. Li Jihyun tertawa pelan mengejutkan Hai Rong dan Fen. "Apa yang kamu lakukan selir Hai? Aku tidak marah kamu melarangku pergi kesana. Aku juga memaklumi reaksimu begitu," kata Li Jihyun santai. "Angkat kepala kalian," lanjutnya lagi.
Fen melirik Hai Rong. Wanita itu menganggukkan kepala pelan. Dia mengangkat kepalanya lebih dulu diikuti Fen. Li Jihyun menghela napas dan bersandar di kepala ranjang. "Saya tetap memohon maaf sudah bersikap lancang pada anda," ucap Hai Rong sopan.
"Bukankah aku sudah bilang. Itu bukan masalah," ujar Li Jihyun tersenyum lebar. Keduanya menghela napas lega. "Tapi kenapa kalian melarangku pergi menemui keluarga Xu?" tanya Li Jihyun menatap keduanya bergantian. Mereka saling tatap dalam diam. Hela napas terdengar mengalihkan atensi keduanya. "Jika kalian tidak mau memberitahunya pun tidak masalah. Aku tidak keberatan."
"Yang mulia selir agung maaf saya lama. Tadi air hangat didapur sudah habis," ucap Yona mengejutka keduanya. Dia membawakan nampan berisi teko berisi teh dan tiga gelas. Dengan cekatan memindahkan gelas dan teko diatas meja. Dia juga menuangkan teh ke dalam gelas masing masing. Tangannya mengulurkan gelas pada Li Jihyun.
"Terimakasih," ucap Li Jihyun mulai mencium aroma kepulan asap dari gelasnya. Yona menganggukkan kepala lalu mundur ke belakang Li Jihyun. Lebih tepatnya di sisi ranjang Li Jihyun. Majikannya itu pasti membutuhkan sesuatu itu sebabnya dia tetap berada sebelah Li Jihyun.
Aroma melati pada tehnya membuat Li Jihyun tersenyum. Dia kemudian menyesap tehnya hingga tersisa setengah gelas. Matanya melirik Hai Rong dan Fen yang meminum teh. Diletakkannya gelas teh dengan anggun.
"Yang mulia selir agung. Apa anda sudah dengar rumor yang beredar?" alis mata Li Jihyun naik sebelah.
Sehingga rumor yang tersebar pun kacau. Mendekati Hai Rong pun tidak menimbulkan kerugian. Karena Hai Rong bagian dari kekaisaran terdahulu. Ayahnya dan keluarga Hai merupakan teman. Tapi, kepala keluarga Hai membuangnya dan mendukung kaisar sekarang. Hal itu membuat Li Jihyun marah besar. Dia tak menduga akan mengalami pengkhianatan seperti dikehidupan pertamanya. Sejak mengetahui dayang yang ditolongnya adalah suruhan Hai Rong. Dia pun mendekatinya dengan tujuan tertentu.
"Mereka mengatakan anda wanita iblis yang suka menyiksa orang sampai mati," ucapan Hai Rong mengejutkan Yona. Meski pernah melihat secara langsung Li Jihyun menyiksa lawannya hingga meregang nyawa. Tapi mendengar rumor itu membuat Yona khawatir. Dia menatap cemas Li Jihyun.
Lagi dan lagi Li Jihyun tertawa pelan. "Cuma gosip tapi mereka seheboh itu," celetuknya menghela napas.
"Lagipula kematian selir Xu semata cuma kecelakaan. Aku tidak bermaksud membunuhnya," ucap Li Jihyun menatap lurus Hai Rong.
Bulu kuduk wanita cantik itu langsung meremang. Tatapan Li Jihyun yang tajam dan dingin membuatnya tak bisa menyembunyikan ketakutan. Iris hitamnya bergetar. Apa dia bermaksud mengancamku jika berani mengusiknya? pikir Hai Rong memegang gelas dengan tangan gemetaran. Bukan rahasia umum perlakuan buruk semua penghuni paviliun selir padanya. Bahkan berdampak pada dayang yang melayaninya. Termasuk Xu Diu, salah satu orang merudung Li Jihyun.
"Bagaimana tehnya? Pasti nikmat, bukan?" tanya Li Jihyun mengalihkan topik. Hai Rong dan Fen menganggukkan kepala dengan cepat. Situasi yang dihadapi terasa mencekam. Sedikit tergesa keduanya menghabiskan teh.
"Terimakasih atas jamuan tehnya. Kami mengucapkan terimakasih yang mulia selir agung," ucap Hai Rong dengan membungkuk hormat. "Kami permisi dulu," pamit Hai Rong yang dibalas anggukan Li Jihyun. Kedua orang itu bergegas meninggalkan kamar Li Jihyun.
Begitu suara langkah keduanya terdengar jauh. Li Jihyun turun dari kasur. "Yang mulia selir agung," ujar Yona cemas. Gadis itu berdiri dan menoleh ke arah Yona.
"Tidak usah cemas Yona. Aku baik baik saja," ucapnya menyunggingkan senyuman.
"Tapi ..." tangan Li Jihyun terangkat diudara membuat dayang itu mengatupkan mulutnya. Dia berjalan dengan santai menuju jendela. Matanya menatap keramaian dipaviliun selir.
"Selama aku tidak keluar. Ternyata ada banyak kejadian yang menarik," gumam Li Jihyun. "Yona apa kamu punya pakaian pria?" tanya Li Jihyun membuat Yona kebingungan.
"Saya punya. Tapi apa yang ingin anda lakukan?" tanya Yona penasaran. Li Jihyun tersenyum tipis.