Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 27


"Menemui yang mulia kaisar," jawab Li Jihyun enteng mengejutkan Yona.


Bagaimana mungkin yang mulia selir agung memakai pakaian pria menemui yang mulia kaisar? Apa yang mulia selir sudah gila? batin Yona keheranan. "Ta-Tapi kenapa yang mulia selir agung menemui yang mulia kaisar memakai pakaian pria?" tanya Yona dengan mengumpulkan sedikit keberanian. Li Jihyun mengalihkan atensinya ke arah Yona.


Dayang itu kelabakan dan langsung menundukkan pandangan. Jemarinya dipilin gelisah. Keringat dingin bercucuran. Li Jihyun berjalan dengan langkah pelan mendekati Yona. Suaranya yang pelan membuat Yona tak mendengar suara langkah kaki Li Jihyun. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Masalah kali ini sangat penting Yona," ujar Li Jihyun yang sudah berdiri tepat dihadapan Yona.


Yona yang baru menyadari keberadaan Li Jihyun terperanjat kaget. Dia sampai mundur selangkah. "Ya-Yang mulia ..." kata Yona tergagap bahkan lidahnya sampai kelu. Alis mata Li Jihyun naik sebelah. Dia menyilangkan tangan diatas dada.


"Jadi apa kamu akan melakukannya untukku?" tanya Li Jihyun memegang pundak Yona. Sedikit mencondongkan wajahnya. "Yona hanya ini satu satunya cara kita naik ke puncak," bisiknya membuat tubuh Yona menegang. Wajahnya berubah memucat.


Li Jihyun menjauhkan wajahnya dan tersenyum lebar. Dia menepuk pundak Yona sebelum melepaskannya. Tatapan matanya yang tajam membuat Yona dengan cepat menundukkan pandangan. Dia menggigit bibir bawah menghapus keraguan dihati. Sudah tugasku sebagai dayang melakukan apapun yang disuruh majikan. Terlebih dia adalah yang mulia selir agung. Meski berbahaya akan kulakukan, tekad Yona dalam hati. Dia mengangkat kepala dan menatap iris Li Jihyun. Li Jihyun yang ditatap justru tersenyum.


"Jadi, bagaimana Yona? Apa pilihanmu?" tanya Li Jihyun mengulurkan tangan ke arahnya. Yona menelan ludah.


"Saya bersedia yang mulia selir agung," ujar Yona tegas. Li Jihyun tersenyum lebar.


"Bagus. Ini lah jawaban yang kunantikan. Kalau begitu berikan aku pakaian itu. Aku harus segera menemui yang mulia kaisar," titah Li Jihyun yang diangguki Yona. Dayang itu pamit lalu berbalik meninggalkan Li Jihyun. Sementara Li Jihyun tersenyum sumringah sambil melirik pemandangan diluar jendela. "Kira kira bagaimana ekspresi si bodoh itu saat tau aku melakukan sesuatu diluar nalar? Dia pasti sangat terkejut sekali," gumam Li Jihyun sambil bersenandung riang.


Tak butuh waktu lama bagi Yona mendapatkan baju pria. Dia membawanya sambil bersembunyi dari orang lain. Tidak ada yang boleh tau jika Li Jihyun menyamar sebagai pria. Apalagi sampai menemui kaisar. Jika ada yang tau dan melaporkannya hukuman paling berat diterima adalah disiksa sampai mati. Membayangkannya saja sudah membuat Yona merinding. Kepalanya celingak celinguk memperhatikan sekitar. Suasana lorong istana sedang sepi. Hanya satu dua dayang yang lewat.


Dia mengeratkan bungkusan kain yang dibawa. Langkahnya semakin cepat menuju kamar Li Jihyun. Tapi tanpa disadari ada seseorang yang sedang mengintainya sejak tadi. Dia terus mengamati pergerakan Yona. Senyuman tersungging dibibir. "Kali ini pertunjukan apa yang kamu suguhkan Li Jihyun? Melihatnya saja aku sudah tak sabar," gumam orang itu. Dia memakai jubah berwarna kehitaman. Setelah melihat Yona memasuki kamar Li Jihyun. Dia pun segera pergi.


Yona memasuki kamar dengan langkah tergesa. Li Jihyun yang sudah menunggu duduk di kursi tampak antusias menyambut kedatangan Yona. Matanya menatap bungkusan yang dibawa Yona. "Kerja bagus Yona," pujinya segera bangkit dari duduk. Dia pun segera meraih bungkusan kain dan membukanya. Tampak baju pria dengan berbagai warna yang cantik dan berkilaun. Dahi Li Jihyun mengernyit. Meski ukuran baju tersebut cocok dan pas ditubuhnya tapi ada yang janggal dimata.


Mata Li Jihyun kembali menatap pakaian ditangannya. "Dimana kakakmu?" tanya Li Jihyun.


Yona tersenyum getir. "Hilang."


Suasana berubah menjadi hening. Li Jihyun menyodorkan pakaian itu pada Yona. "Aku tidak membutuhkannya. Lebih baik kamu beli saja yang baru," ujar Li Jihyun yang digelengkan Yona.


"Tidak apa yang mulia selir agung. Jika dibeli waktu yang dibutuhkan terlalu lama. Apalagi ukuran tubuh anda berbeda dengan pakaian pria. Saya tidak masalah anda memakai pakaian kakak saya," ucap Yona membuat Li Jihyun terdiam. Gadis itu menghela napas pelan.


"Baiklah. Aku akan memakainya. Tapi ceritakan padaku semua tentangmu. Termasuk kakakmu yang hilang agar aku bisa menemukannya," ucap Li Jihyun penuh keyakinan. Tapi Yona menggelengkan kepala.


"Dia sudah menghilang dua tahun lalu. Kami mengerahkan berbagai cara tapi tetap saja kakak saya tidak bisa ditemukan. Hingga perang meletus pun kami tidak bisa menemukannya. Ayah meninggal sehingga saya terpaksa menjual semua barang dan bekerja sebagai dayang istana. Awalnya saya membenci takdir yang diberikan tapi sejak bertemu yang mulia selir agung pikiran itu sudah berubah. Saya justru merasa bangga dan senang melayani anda," ucap Yona dengan senyuman lebar.


"Jadi dulu apakah kamu adalah keluarga bangsawan?" tanya Li Jihyun yang diangguki Yona. Pantas saja pakaian yang diberikannya bergaya bangsawan. Ternyata dia memang berasal dari keluarga bangsawan. "Yona percayalah padaku. Aku pasti akan menemukan kakakmu. Kamu harus percaya padaku. Entah itu dalam keadaan hidup atau mati," ucap Li Jihyun membuat Yona terdiam.


Sejujurnya dia juga tak yakin kakaknya masih hidup atau mati. Tak pernah terdengar kabar apapun tentang kakaknya seolah pria itu lenyap dari muka bumi. Setiap teringat kakaknya, dayang itu selalu meneteskan air mata. Bahkan disituasi sekarang pun Yona tak bisa menghentikan air matanya yang berjatuhan. "Terimakasih yang mulia selir agung," ucap Yona disela isak tangis.


Li Jihyun menghapus air mata dengan jemarinya. Tindakan Li Jihyun mengejutkan Yona. Buru buru dayang itu mengusap matanya dan menundukkan pandangan. "Tidak usah minta maaf. Aku melakukannya semata demi membalaskan kebaikan dayangku," ujar Li Jihyun membuat Yona langsung menutup mulutnya. Dia menatap pakaian di tangan. Senyuman tersungging dibibir. "Kalau begitu sekarang kita jalankan rencananya," kata Li Jihyun yang diangguki patuh Yona.


Siang itu Li Jihyun menyamar sebagai pria. Dari mulai aksesoris sampai pakaian. Bahkan payudara yang menjadi ciri khas wanita pun ditutupi dengan lilitan kain. Agar tidak ketahuan, Li Jihyun dibawa Yona ke rumahnya yang jauh dari istana. Rumah lama yang sudah tak ditempati lagi sejak ayahnya meninggal.


Tapi untuk keluar dari istana mereka berbohong mengatakan pergi berobat. Padahal Li Jihyun mempersiapkan rencana gila diluar istana tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan Long Jian sendiri pun tak bisa menerka permainan dari Li Jihyun.