
Pria yang sudah berusia senja itu menundukkan pandangannya dengan ketakutan. Pasalnya orang yang dihadapinya adalah tiran haus darah. "Apakah ada masalah dalam laporan yang saya buat yang mulia?" tanya Gong Jihon dengan hati hati. Dia melirik takut pedang yang tergeletak di samping kursinya beralih menebas lehernya. Alis mata Long Jian naik sebelah.
Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Meletakkan tangannya dibawah dagu dan kakinya bersilang. Dia menatap lekat Gong Jihon. Sampai lutut pria renta itu gemetaran. "Kudengar kamu punya cucu?" tanya Long Jian dingin.
Gong Jihon tersentak kaget. Kepalanya yang tertunduk terangkat sedikit. "Bagaimana yang mulia bisa tau?" tanya Gong Jihon membuat Long Jian tersenyum tipis. Long Jian mencondongkan tubuhnya ke depan. Spontan kepala Gong Jihon kembali menunduk. Aura Long Jian yang dingin terasa mencekik pernapasannya. Lidah pria renta itu seketika menjadi kelu. Apakah yang mulia kaisar mematai matai kami selama ini? batin Gong Jihon dengan peluh terus mengucur keluar. Kegelisahan mulai menyelimuti hati dan pikirannya. Dia tak habis pikir Long Jian menyinggung keluarganya. Padahal selama ini dia tak peduli dengan apapun. Asal tidak menyinggung masalah takhta yang didudukinya.
Apakah ini ada kaitannya dengan ..., batin Gong Jihon dengan napas tercekat.
"Gong Jihon!" seru Long Jian yang terdengar menggelegar.
"I-Iya yang mulia," jawab Gong Jihon gugup.
"Aku pernah dengar cucumu sekarang berusia 18 tahun. Bukankah itu usia yang cukup untuk ikut berperang?" wajah Gong Jihon seketika memucat. Dia menelan ludah susah payah.
"Yang dikatakan yang mulia benar. Tapi cucu saya tidak bisa ikut perang seperti pemuda lain dikarenakan dia sejak kecil sakit sakitan."
"Sakit sakitan, heh? Apakah kamu pikir itu bisa dijadikan alasan? Sebentar lagi perang akan dimulai. Jadi setiap keluarga bangsawan harus ikut berpatisipasi. Tak peduli dengan masalah kesehatan yang dia alami. Dia harus ikut atau kepala seluruh keluargamu ... hm, bukan keluargamu saja. Tapi seluruh penghuni dikediamanmu akan dihukum mati," ancam Long Jian menatapnya dingin. "Bagaimana Gong Jihon? Apakah kamu akan menolaknya, hm?" tanya Long Jian lagi membuat kepala Gong Jihon menggeleng.
"Saya tidak berani yang mulia. Saya akan berusaha keras agar cucu saya bisa ikut berpartisipasi," ucapnya dengan suara bergetar.
"Pilihan yang bagus Gong Jihon," puji Long Jian tersenyum lebar. Sementara Zhang Liu yang sejak tadi menyaksikan hanya bisa menatap iba Gong Jihon.
Pria yang malang. Aku dengar cucunya memiliki tubuh yang lemah dan bahkan harus terus dirumah. Dia juga tak bisa lepas dari obat obatan, batin Zhang Liu prihatin.
"Lalu laporanmu ini. Perbaiki lagi yang baru. Aku mau masalah terbaru yang ada disana," ujar Long Jian melemparkan gulungan kertas ke arah Gong Jihon. Dia sedikit membungkukkan badannya mengambil gulungan kertas dilantai.
"Baik yang mulia," jawab Gong Jihon memegang erat gulungan kertas.
"Sekarang keluarlah! Aku tak suka melihat ada lalat penganggu didepan mataku," usir Long Jian mengibaskan tangan diudara. Gong Jihon membungkuk terlebih dulu sebelum pamit meninggalkan ruangan.
"Yang mulia bukankah itu keterlaluan?" protes Zhang Liu membuat Long Jian melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Zhang Liu terkesiap dan mundur selangkah.
"Zhang Liu," ucap Long Jian tegas. "Aku tak pernah memintamu berbicara terlebih dulu sebelum kuperintah," lanjut Long Jian. Tangannya meraih pedang yang bersandar di kursinya. Dia mengeluarkan pedang itu dari sarung.
Sret!
Bilah pedang itu bergeser dan melukai kulit leher Zhang Liu. Pria itu mengerang kesakitan sambil memegangi leher yang terluka. Darah merembes keluar. Long Jian tersenyum puas.
Tetesan darah dipedangnya dia usap dengan tangannya. Membuat lantai yang mereka pijak kotor. Mata Zhang Liu nanar melihat darah yang terus menetes. Rasa sakit pun membuatnya kesulitan bernapas.
Dia merasakan kematian sudah berada didekatnya. Zhang Liu menelan ludah dan menatap Long Jian yang memasang wajah santai. "Zhang Liu bukankah tadi sangat menyenangkan?" tanya Long Jian menyeringai lebar.
Dengan lutut gemetaran Zhang Liu menjatuhkan tubuhnya. Dia bergegas bersimpuh dihadapan Long Jian. "Ampuni saya yang mulia. Saya telah bersalah tadi. Saya sudah bersikap lancang dan tidak sopan pada anda. Saya mohon ampuni saya," pinta Zhang Liu.
Long Jian menyilangkan tangan diatas dada. Pedangnya masih berada ditangannya. "Katakan padaku apa alasanku harus memaafkanmu?" perkataan Long Jian membuat darah Zhang Liu berdesir hebat. Dia sekali lagi menelan ludah. Napasnya mulai tersendat sendat. Sementara keringat sudah meluncur bebas membasahi sekujur tubuh.
Alasan? Apa yang harus kukatakan agar bertahan hidup? Pikirkan sesuatu Zhang Liu! Pikirkan! batin Zhang Liu dengan cemas. Otaknya memikirkan dengan cepat jawaban dari masalah yang dihadapi didepan mata. Jika memberikan jawaban yang salah dia pasti akan tewas ditangan Long Jian. Pedang itu siap menebas lehernya kapan pun. Pandangannya sudah berkunang kunang. Darah yang terus keluar mengenang dilantai.
Jleb!
Satu tusukan pedang menembus punggungnya. Pria itu mengerang kesakitan. Darah pun semakin banyak keluar. "Jawab aku Zhang Liu!"
Zhang Liu mengedipkan matanya berulang kali. Pandangannya perlahan buram. "Sa-Saya adalah orang yang bisa yang mulia percaya. Jadi saya pantas dimaafkan atas kesalahan yang barusan diperbuat," jawab Zhang Liu dengan cepat.
Alis mata Long Jian naik. "Percaya? Atas dasar apa?" tanya Long Jian menancapkan lebih dalam pedang didalam punggung Zhang Liu. Pedang itu seakan menembus perut Zhang Liu membuat pria itu mengerang kesakitan.
Napasnya pun tersendat. Rasa sakit dipunggungnya membuat suasana disekitarnya samar. Jantungnya pun berdegup sangat kencang. "Anda ingat pertemuan pertama kita? Itulah alasan terkuat saya mengapa anda harus memaafkan saya," ucap Zhang Liu tegas.
Long Jian mengusap dagu dan tersenyum tipis. Dia mencabut pedang dari punggung Zhang Liu. Begitu pedang tercabut tubuh Zhang Liu langsung ambruk ke lantai. Darah merembes dan membanjiri lantai tempat tubuh Zhang Liu tergeletak. Kelopak mata Zhang Liu terasa berat. Dia menatap Long Jian yang mengibaskan darah dipedangnya.
Long Jian beralih menatap Zhang Liu. Dia tersenyum lalu berjongkok tepat dihadapan Zhang Liu. "Sekali lagi kamu buat masalah. Aku takkan segan membunuhmu. Ingat itu Zhang Liu," ancam Long Jian menepuk pipi Zhang Liu. Long Jian berdiri dan melangkah pergi. Meninggalkan Zhang Liu yang secara perlahan pingsan.
Long Jian aku pasti akan membalasmu, batin Zhang Liu sebelum tenggelam dalam kegelapan.