Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 55


"Ini mungkin terdengar lancang yang mulia. Tapi apa anda berniat perang?" tanya Zhang Liu penasaran.


"Mungkin ini terdengar aneh. Tapi saya punya hutang pada mereka," ucap Li Jihyun membuat dahi Zhang Liu berkerut. Begitu juga Lian yang sejak tadi mendengarkan.


Hutang budi apa yang mulia maksud? Bukankah yang mulia dan keluarga Xu tidak pernah berinteraksi? tanya Lian dalam hati. Aku akan melaporkan ini pada yang mulia kaisar nanti, batinnya lagi.


Hutang budi? Apakah ini ada kaitannya dengan yang mulia bebas dari penjara? tebak Zhang Liu. Rumor yang beredar di istana tidak sepenuhnya bohong. Untuk membebaskan Li Jihyun, Hai Rong menawarkan kerjasama dengan keluarga Xu. Dengan bayaran memberikan Li Jihyun sebagai tawanan. Hai Rong yang merasa berjasa pun memberikan kerjasama keluarga Xu kembali pada Long Jian. Berkat itu hukuman cambuk Li Jihyun dicabut.


Walau Li Jihyun berterimakasih berkat bantuan Hai Rong dia dibebaskan. Tapi tetap saja gadis itu kesal. Ternyata Hai Rong memanfaatkan dirinya untuk naik keatas. Citra selir itu dalam sekejap melecit sebagai selir yang baik. Orang tak mengetahui sesuatu dibalik itu semua. Apalagi orang yang ditawarkan kerjasama itu adalah putri dari keluarga yang dibunuhnya. Sudah jelas dia takkan lolos semudah itu.


"Hutang tetaplah hutang tuan Zhang. Seberapa besar maupun kecil jumlahnya," lanjut Li Jihyun yang dibalas mangut mangut Zhang Liu.


"Tapi bukankah anda bisa mengirimkan permata? Anda adalah selir agung. Tidak ada yang berani menolak hadiah anda," usul Zhang Liu yang digelengkan Li Jihyun.


"Tidak bisa. Anda mungkin tak mendengar rumor tentang saya yang membunuh putri keluarga Xu." Zhang Liu berdehem pelan sambil memperbaiki kacamatanya. Dia kembali teringat dengan rumor yang beredar di istana.


Selir agung yang baru diangkat membunuh selir Xu pada jamuan minum teh. Berita itu terdengar heboh di seluruh penjuru istana. Bahkan Long Jian pun mendatangi Li Jihyun untuk memberikan hukuman secara langsung. Karena gara gara itu dia tak bisa pergi berperang. Padahal butuh pasukan militer dari keluarga Xu.


"Maafkan saya yang mulia. Saya terlalu berpikiran sempit," ucap Zhang Liu yang dibalas lambaian tangan oleh Li Jihyun.


"Tidak masalah. Lagipula seperti kataku kemarin kita butuh memperkuat kekuatan militer. Kita tidak pernah tau kapan lawan akan menyerang," ucap Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu.


Kesiur angin berembus menggoyangkan gorden. Mata Li Jihyun menatap keluar jendela. Pemandangan yang sama dan tak asing selama dia tinggal di istana. Pepohonan yang rimbun dan bunga yang tumbuh ditepi halaman istana. Semua itu sangat indah. Tapi Li Jihyun kembali teringat pertemuannya dengan Zhi Shen. Rasa penasaran menyelimuti hatinya. Apa Zhi Shen jadi hantu? Kenapa tubuhnya bisa tembus? pikir Li Jihyun penasaran sampai tak menyadari tatapan Zhang Liu. Sejak tadi Zhang Liu hendak bertanya mengenai selendang yang dililit pada leher jenjang Li Jihyun. Tapi selalu urung karena dari tadi mereka membahas masalah istana.


Lian yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Zhang Liu mulai menaruh curiga. Apa mungkin tuan Zhang dan yang mulia selir agung punya hubungan? batin Lian sambil curi pandang ke arah mereka.


Tok! Tok! Tok!


Sontak kepala Li Jihyun dan Zhang Liu menoleh ke pintu. Mata Li Jihyun melirik Zhang Liu penuh tanya. Tapi pria berkacamata itu menggelengkan kepala. "Siapa?" tanya pria itu sedikit mengeraskan suaranya.


"Ini saya tuan Zhang. Kasim Bo," jawab kasim Bo dari balik pintu. Zhang Liu ber oh pelan.


"Masuklah."


Kriet!


"Angkat kepalamu kasim Bo," titah Li Jihyun yang dipatuhi kasim Bo. Dia segera mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan Zhang Liu.


Ekor mata kasim Bo melirik sedikit Li Jihyun yang duduk dengan santai. Dimeja ada buku laporan keuangan istana. Dahi kasim Bo berkerut. Apa yang mulia selir agung mengambil alih laporan keuangan istana? pikir kasim Bo.


"Ada apa kasim Bo kemari?" tanya Zhang Liu menyadarkan kasim Bo dari lamunan.


"Yang mulia kaisar sudah sadar," jawab kasim Bo tersenyum sumringah. Wajahnya yang semula kuyu terlihat bersinar. Semua orang diruangan itu terkejut.


"A-Apa? Yang mulia kaisar sudah sadar?" tanya Zhang Liu langsung bangkit dari kursi. Wajahnya tampak mengeras.


"Iya. Tadi yang mulia sudah sadar dan memanggil anda ke kamarnya," jawab kasim Bo membuat tubuh Li Jihyun membeku.


Bagaimana bisa dia bisa sadar? Bukankah ... tak ada obat lain yang bisa mengobatinya. Bagaimana bisa? Dimana letak kesalahannya? batin Li Jihyun dipenuhi rentetan pertanyaan. Otaknya berpikir cepat mencari penyebab masalahnya. "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Li Jihyun mengalihkan atensi kasim Bo.


"Untuk saat ini tubuh yang mulia masih lemas."


Sial! Bagaimana bisa? Padahal itu racun mematikan yang kugunakan. Tapi kenapa dia sudah siuman? Harusnya sekarang dia mati. Tak ada obat yang bisa menghilangkan racunnya. Aku juga sudah memecahkan botol itu. Tapi kenapa gagal? Apa racunku kurang kuat? Atau ...


Li Jihyun langsung teringat seseorang. Dia memegangi leher yang tertutupi selendang beludru yang dipakai. Walau penampilannya tampak aneh. Cuma itu cara satu satunya menutupi luka di lehernya. Dia tak bisa menunjukkan bekas luka itu pada orang lain. Rahangnya mengatup rapat. Terdengar suara gigi bergemulutuk.


"Kalau begitu saya akan kesana. Yang mulia selir agung saya permisi dulu," pamit Zhang Liu segera berjalan keluar.


"Tunggu sebentar." Langkah Zhang Liu terhenti. Dia membalikkan badan. Gadis itu sudah berdiri tegak. Dia segera menyusul Zhang Liu yang berada enam langkah darinya. Dia berdiri tepat dihadapan Zhang Liu. Pria itu segera membungkuk hormat. "Aku akan ikut kalian," serunya tegas menatap kasim Bo dan Zhang Liu bergantian.


"Baik yang mulia selir agung," jawab kasim Bo dan Zhang Liu serempak. Li Jihyun berjalan lebih dulu diikuti kasim Bo, Lian dan Zhang Liu. Keempat orang itu berjalan melewati lorong istana menuju kamar kaisar.


Pikiran Li Jihyun kusut. Belum sempat menikmati kehidupan istana. Sudah terjadi kekacauan. Padahal dia berharap Long Jian tak pernah bangun lagi. Gagal lagi! Gagal lagi! rutuknya dalam hati.


Mereka terus berjalan kemudian belok di perempatan. Kembali lurus kedepan melewati taman istana yang luas. Berbelok lagi di dekat pilar yang bersusun rapi. Kali ini mereka sudah tiba didepan pintu kamar Long Jian. Kedua prajurit berjaga didepan pintu.


"Kami menyapa yang mulia selir agung," sapa kedua orang itu serempak.