
Malam itu Li Jihyun pulang dengan mata sembab. Semua pasang mata para dayang melirik kearahnya. Bisikan pun kian terdengar memenuhi lorong istana sepanjang Li Jihyun lewat. Apalagi saat melihat bekas tangan di pipi gadis itu. Kepalanya tertunduk sepanjang dia berjalan. Meski dibalik rambutnya itu tersembunyi senyuman licik.
Sebelum dia pulang ke istana. Hal pertama yang dilakukan adalah mengubur belati didekat kediaman Xu. Dia juga membakar rumah Xu agar tak menyisakan jejak. Hanfu yang dipakainya pun dirobek paksa. Meski sebelumnya dia membersihkan hanfu tersebut dari bercak darah. Dia juga mengikat tangan dan kakinya dengan kencang agar menimbulkan bekas. Saat kobaran api semakin tinggi dia keluar dari arah gudang belakang sambil berteriak histeris.
Rakyat yang berada disekitar kediaman Xu sampai terkejut melihat tampilan Li Jihyun. Gadis itu menangis tersedu sedu. Tubuhnya terlihat kotor dan berantakan. Rambut yang biasanya tertata rapi kini berubah berantakan. Membuat rakyat berpendapat miring tentang keluarga Xu.
Li Jihyun yang ditanya pun hanya diam seribu bahasa. Dia terus menangis sampai sulit diajak komunikasi. Sebagian rakyat berinisiatif memadamkan kobaran api yang menjulang tinggi. Lalu ada rakyat yang membantu Li Jihyun. Dia memulangkannya ke istana. Begitu tiba di istana langsung menimbulkan kehebohan. Bahkan selir Hai Rong sampai tercengang melihat penampilan Li Jihyun.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa penampilan yang mulia selir agung sangat berantakan? Apa ini ulah dari keluarga Xu? pikir Hai Rong diliputi banyak pertanyaan. Begitulah reaksi penghuni istana begitu Li Jihyun memasuki istana dan paviliun selir.
Li Jihyun membuang napas kasar begitu memasuki kamarnya. Dia sudah menutup rapat pintu bahkan menguncinya agar siapapun tak ada yang masuk.
Tok! Tok! Tok!
"Yang mulia selir agung," panggil seseorang dibalik pintu. Kepala Li Jihyun sigap menghadap ke pintu. Dia berdehem pelan.
"Siapa disana?" tanya Li Jihyun dengan suara serak.
"Ini saya yang mulia, Lian." Sahutnya dari balik pintu. Li Jihyun terdiam sejenak lalu tersenyum tipis.
"Ada apa Lian? Hari ini aku tidak mau ditemui siapapun," balasnya dengan suara serak. Matanya menatap ke arah pintu yang masih tertutup.
"Tapi yang mulia selir agung ini penting," jawab Lian meneguk ludah susah payah. Ekor matanya melirik seseorang dibelakangnya. Orang itu terus memperhatikan Lian dengan angkuh.
"Tinggalkan aku sendirian. Aku tak butuh siapapun," sahut Li Jihyun dengan nada tinggi. Sedikit membuat Lian tersentak kaget. Matanya sekali lagi melirik seseorang di belakangnya. Dia malah melotot saat menyadari lirikan Lian. membuat dayang itu kembali fokus didepan pintu.
"Ta-Tapi yang mulia ..."
"Bilang padanya selir Hai datang berkunjung," hardik Hai Rong memotong ucapan Lian. dayang itu langsung gelagapan.
Astaga! Bagaimana ini? Selir Hai, apa dia menjadi gila? pikir Lian. "Maafkan saya selir Hai tapi untuk saat ini yang mulia selir agung tidak mau bertemu siapapun. jadi saya harap anda bisa datang lain kali," ujar Lian membungkuk hormat. Gadisitu sudah membalikkan tubuhnya tepat berhadapan dengan Hai Rong. Terdengar dengusan dari Hai Rong.
Cih! Kali ini aku tak bisa dapat apapun lagi, batin Hai Rong bersungut sungut. "Baiklah. Sampaikan salamku pada yang mulia selir agung," ucap Hai Rong dengan nada ketus.
"Ayo, kita pergi Fen." Ujar Hai Rong yang diangguki Fen. Sebelum pergi Hai Rong menghentakkan kakinya. Lalu pergi menjauh diikuti Fen dibelakangnya. Melihat Hai Rong dan Fen menjauh, Lian langsung menghela napas lega.
"Syukurlah tak terjadi masalah," gumamnya mengusap dada. Pandangannya kini beralih menatap pintu kamar Li Jihyun yang tertutup rapat. Apa yang terjadi pada selir agung? Kenapa dia pulang dalam keadaan kacau begitu? batin Lian sambil mengembuskan napas kasar. Dia balik kanan lalu pergi meninggalkan pintu kamar Li Jihyun.
Sedangkan Li Jihyun sendiri saat mendengar suara ketukan sepatu Lian menjauh. Gadis itu tersenyum puas. "Sayang sekali kamu dari kubu yang berbeda," gumamnya membuka hanfu dan mengganti yang baru. "Saatnya bermain Long Jian," lanjutnya bergumam sambil sumringah.
....
Malam telah menyapa kekaisaran lagi. Sejak kepulangannya dari kediaman Xu gadis itu tak keluar dari kamarnya. Menimbulkan gosip dari para dayang diistana. Sebagian mengatakan tingkah Li Jihyun menjadi aneh. Gadis itu seakan mengalami kejadian buruk sampai membuatnya terpuruk. Bahkan mungkin saja mengalami trauma.
Gosip itu terus menyebar sampai ke telinga Long Jian. Pria itu sudah kembali bekerja seperti biasanya. Walau sisa pekerjaannya dibantu oleh Zhang Liu. "Apa yang dilakukan gadis itu?" tanya Long Jian menatap kasim Bo yang berdiri tepat dihadapannya. Pandangan kasim Bo terus tertunduk dengan gelisah. Bagaimana pun ini berita yang menggemparkan di istana.
"Sa-Saya tidak tau lebih pastinya yang mulia," jawab kasim Bo seadanya.
Buk!
Meja yang memisahkan jarak antara kasim Bo dan Long Jian dipukul keras olehnya. Menimbulkan suara pukulan yang mengagetkan kasim Bo. Kepala pria paruh baya itu semakin tertunduk. Lututnya bergetar pelan.
"Dasar kasim tak berguna. Mencari informasi itu saja kamu tidak bisa," rutuk Long Jian membuat tubuh kasim Bo semakin gemetaran. Embusan napas terdengar kasar. Jemari Long Jian menyisir rambutnya yang gelap.
"Suruh dayang atau siapapun itu ke kekamarku. Aku harus segera bersiap menemui selir agung," titahnya yang diangguki patuh kasim Bo. Pria itu berbalik dan pergi meninggalkan kamar. Sementara Long Jian sekali lagi mengembuskan napas kasar. Wajahnya tampak ditekuk saking kesal. Kali ini apa rencanamu gadis bodoh? batin Long Jian.
Tak lama dayang memasuki kamar. Setelah mengucapkan salam pada Long Jian. Dengan cekatan dayang membantu Long Jian berganti pakaian. Hanfu warna kemerahan dengan simbol naga berwarna keemasan dibelakang hanfunya tampak menyala dibawah cahaya bulan. Setelah dibantu berpakaian, Long Jian berjalan keluar. Kondisinya sudah membaik ketimbang sebelumnya.
Sehingga tak ada halangan baginya menemui Li Jihyun yang berada sedikit jauh dari istana utama. Dia berjalan diiringi dayang dan kasim Bo. Pria itu berjalan dengan angkuh dibawah cahaya bulan. "Yang mulia apa anda tidak makan malam lebih dulu?" tanya kasim Bo yang berada dibelakang Long Jian.
Ekor matanya melirik tajam kasim Bo membuat pria itu menutup mulutnya rapat. Kepalanya pun tertunduk ke bawah. Long Jian mendengkus dan terus berjalan. Sedikit pun tak berniat menyahut perkataan kasim Bo.
Mereka terus berjalan melewati lorong yang menghubungkan antara istana utama dan paviliun selir. Sepanjang jalan kesiur angin malam bertiup. Kasim Bo menatap khawatir Long Jian. Tapi pria itu tak menunjukkan kedinginan ataupun menggigil. Dia terus berjalan dengan langkah mantap. Sia sia aku khawatir pada yang mulia, batin kasim Bo.