Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 20


Long Jian yang sempat mundur tadi gara gara diludahi Li Jihyun. Kini mendekatinya dengan agresif. Kali ini Li Jihyun tak menghindari tatapan Long Jian. Dia menantang pria itu dengan penuh keberanian.


Long Jian semakin tertantang melihat perilaku Li Jihyun. Wajah keduanya pun semakin dekat hingga deru napasnya terasa menyentuh kulit. "Apa maumu brengsek?" tanya Li Jihyun membuat alis mata Long Jian terangkat.


Dia memegang dagu gadis itu dengan kuat. Tapi sekali lagi ekspresi Li Jihyun tak menunjukkan kesakitan. Dia justru terlihat tenang. Membuat Long Jian semakin penasaran. "Kamu tidak bisa kemanapun Li Jihyun," kata Long Jian penuh kemenangan. Li Jihyun berontak sekali lagi berusaha meloloskan diri. Tak dipedulikannya tali yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya memberikan bekas lebam.


Puas memandangi wajah Li Jihyun yang cantik. Dia melepaskan cengkramannya. Jemarinya yang kekar mengelus dahi Li Jihyun. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahinya. Pandangan Long Jian menurun ke arah lekuk tubuh Li Jihyun.


Dia tersenyum tipis. Tangannya dengan cepat berpindah dan merobek hanfu yang dipakai Li Jihyun. Membuat tubuh gadis itu terlihat sempurna tanpa sehelai benang pun. Mata Li Jihyun terbelalak. Wajahnya memerah saking marah. "Bangsat!" makinya tapi diabaikan Long Jian. Dia justru asyik memperhatikan lekuk tubuh Li Jihyun.


Senyuman Long Jian semakin melebar melihat kulit Li Jihyun putih mulus tanpa bekas luka apapun. Jemari Long Jian menyentuh tubuh Li Jihyun. Gadis bertubuh mungil itu menggeliat geli. Dia merasakan jijik sentuhan dari tangan pria yang paling dibencinya. Napasnya menderu cepat dan menatap nyalang Long Jian.


"Lepaskan aku! LEPAS!" teriaknya memecah keheningan malam. Gerakan Long Jian meraba sekujur tubuh Li Jihyun terhenti. Matanya menatap Li Jihyun yang gusar. Dia tersenyum lagi tapi lebih mirip senyuman mengejek.


Li Jihyun menatap ke arah kedua tangannya yang terikat. Tali itu mengikatnya dengan kuat hingga membuat dia kesulitan melepaskan diri. Tapi dia tetap berusaha meloloskan diri meskipun peluangnya kecil. Sial! Baru pertama kalinya aku terjebak. Aku terlalu lengah selama ini, umpat Li Jihyun menggeram marah.


"Hentikan usahamu yang sia sia itu. Kamu tidak akan bisa melepaskan diri dari tali itu," ujar Long Jian menghentikan gerakan Li Jihyun. Atensi Li Jihyun beralih menatap Long Jian yang sedang mengambil sesuatu dari laci nakasnya.


"Lepaskan aku!" pinta Li Jihyun sekali lagi dengan nada tinggi. Tapi Long Jian tak peduli dan mengeluarkan sesuatu dinakas. Dia mengangkat benda ditangannya. Mata Li Jihyun terbelalak kaget sambil menelan ludah susah payah. Alis mata Long Jian naik turun melihat Li Jihyun bereaksi.


Long Jian bangkit dari duduk. Dia menepuk nepuk benda ditangannya. "Bagaimana jika kita mulai sekarang?" celetuk Long Jian menarik sudut sebelah bibirnya. Pandangan Li Jihyun nanar menatap benda ditangan Long Jian yang ternyata cambuk.


Plak!


Ctar!


Cambuk ditangan Long Jian melayang mengenai tubuh telanjang Li Jihyun. Gadis itu tidak menunjukkan reaksi apapun. Senyuman tersungging lebar dibibirnya. Gadis itu masih diam dan menatapnya kosong. Tak ada suara jeritan yang keluar dari mulutnya.


Ctak!


Plak!


Satu dua cambuk melayang ke tubuhnya. Dalam sekejap ada banyak bekas luka di sekujur tubuh. Darah pun merembes keluar. Long Jian yang melihat tak ada reaksi dari gadis itu menjadi gusar. Dia terus menerus melucuti tubuh gadis itu dengan cambuk. Tenaganya pun semakin menguat hingga kulit gadis itu terkoyak. Gadis itu tidak bisa merasakan sakit sehingga tak menunjukkan reaksi apapun. Sedikit pun air mata tidak ada bergulir jatuh.


Sekujur tubuh gadis itu dalam sekejap dipenuhi banyak luka. Darah terus mengalir keluar hingga gadis itu pingsan. Gerakan Long Jian pun terhenti melihat Li Jihyun sudah pingsan. Dia melemparkan cambuk ke sembarang arah. Dia mengembuskan napas kasar. Apakah dia sungguh manusia? Kenapa tidak bisa merasakan sakit? Cih! Apa peduliku? batin Long Jian berbalik sambil menyugar rambut hitamnya. Dia melangkah keluar dari kamar Li Jihyun.


......................


Gadis itu terkejut bukan main. Buru buru dia bangkit dari tidurnya. Pandangannya masih buram akibat bekas tetesan air yang membuat wajahnya pun basah kuyup. "Bangun!" bentak seseorang menarik tangannya kasar.


Gadis berusia 9 tahun itu pun bangkit dengan terhuyung. Tubuhnya masih lemah dan terasa panas. Namun dia berusaha berjalan mengikuti langkah seseorang didepan matanya. Orang itu terus menarik tangannya menuju ke suatu tempat.


"Nyonya saya sudah membawanya," ujar orang itu begitu mereka tiba didepan pintu. Langkah mereka terhenti sejenak begitu juga gadis yang sejak tadi diseretnya.


"Masuklah," ujar suara dibalik pintu. Orang itu menoleh sekilas ke belakang. Dia berdecik saat matanya bersitatap dengan gadis itu. Dia kembali menarik gadis itu lagi setelah mendorong pintu tersebut.


Begitu memasuki ruangan gadis itu dilemparkan dengan kasar. Dia tersungkur ke lantai. Lutut dan sikunya pun lecet. Gadis itu tidak menunjukkan rasa sakit maupun menangis.


"Saya sudah membawanya seperti perintah nyonya," ujar orang itu yang diangguki wanita cantik didepannya. Orang itu pun segera pergi meninggalkan mereka.


Wanita yang berusia kepala tiga itu mengembangkan kipas yang sejak tadi dipegangnya. Dia menutupi separuh wajahnya sambil memandang gadis didepannya dengan jijik. Gadis itu dengan susah payah mengangkat kepalanya. Membuatnya bertatapan dengan wanita cantik didepan matanya.


"Tsk!" decak wanita itu memalingkan wajah. Sementara gadis itu menatapnya kosong.


Tok! Tok! Tok!


Kepala wanita itu langsung tertoleh ke pintu. Senyuman mengembang dibibirnya. Dengan langkah tergesa dia menghampiri pintu dan membukanya dengan cepat. Gadis itu hanya diam memperhatikan gelagat wanita itu.


"Maaf saya terlambat," ujar suara yang berat dan dingin. Hela napas terdengar.


"Tidak masalah. Bagaimana perjalanan anda tuan?" tanyanya dengan nada ramah. Senyumannya juga tak luntur sedikit pun. Pria didepan matanya diam. Matanya melirik gadis yang masih terduduk di lantai. Baju yang dikenakan gadis itu terlihat lusuh dan kumal. Tubuhnya juga kotor dan ada beberapa bekas luka dikulit.


"Apakah dia anak yang akan kamu jual?" tanya pria bertubuh tegap itu menunjuk ke arah gadus itu. Kepala wanita itu langsung tertoleh ke belakang. Dia mendengus pelan.


"Iya. Dia adalah anak yang kuat dan tangguh. Asal anda tau dia bahkan tak mengeluarkan air mata meski dipukuli berapa kali," celetuk wanita itu menatapnya sinis. Tapi gadis itu sama sekali tidak takut atau menundukkan pandangannya. Justru dia menatap lekat wanita dan pria yang berdiri dihadapannya.


Pria itu mengelus dagunya. "Berapa?" tanyanya datar melirik wanita disampingnya.


"120 juta," tawarnya membuat pria itu tersenyum remeh.


"Semurah itu? Apa anda yakin?" wanita itu terkejut bukan main mendengar perkataan pria disebelahnya. Dia menelan ludah susah payah.


"Berapa harga yang anda inginkan?"