
"Hmph! Dasar pelacur! Kamu pikir aku tergiur melihat tubuhmu itu?" tangan Long Jian meraih rambut Li Jihyun yang tergerai. Menyelipkannya dibalik telinga Li Jihyun. "Perempuan buruk sepertimu tidak akan bisa menggodaku," bisiknya lagi menatap sinis.
Li Jihyun menghela napas pelan. Jemari lentiknya menyentuh bawah bibir Long Jian. Long Jian sedikit tersentak. Alis matanya mengerut tajam. Li Jihyun menjauhkan jemarinya lantas menunjukkannya pada Long Jian. Dia tersenyum sinis. "Apa sekarang anda bisa jelaskan kenapa bibir anda berair?" tanyanya berbisik sampai tidak terdengar oleh Ceng yang berada didekat mereka. Kedua orang itu masih berbisik satu sama lain.
Long Jian tertawa pelan menjauh dari Li Jihyun. Dia memegang tangan Li Jihyun erat. "Berhentilah bicara omong kosong sebelum aku menjatuhimu hukuman berat," ancamnya mendelik tajam. Tapi gadis itu tidak menunjukkan rasa takut justru balas menatapnya galak. "Tatapan itu ... apa sekarang kamu berniat membalasku?" tanya Long Jian menaikkan sebelah alis matanya. Dia menekan kuat tangan gadis itu. Tapi tidak membuatnya kesakitan.
"Sejak dulu aku memang ingin menghancurkanmu," ujar Li Jihyun yang ditertawakan Long Jian sampai sudut matanya berair.
"Kamu ... ingin mengalahkanku? Sadarlah Li Jihyun. Apa selama ini otakmu sudah jadi bodoh sejak menjadi selir agung? Kemana dirimu yang jenius itu?" ejek Long Jian menunjuk dahi Li Jihyun sembari tertawa. Jemarinya menyapu ujung matanya sambil menahan tawa. Dia menatap remeh Li Jihyun yang berdiri didepannya. Tangan Li Jihyun terkepal erat. Dia mengatupkan rahang. Namun tak lama seulas senyuman tersungging dibibir Li Jihyun.
Tawa Long Jian seketika terhenti. Matanya menatap tajam Li Jihyun. Tak ada sedikit pun keramahan di wajah Long Jian. Hanya kebencian dan amarah yang membuncah. Mungkin hanya ada sedikit desiran di hatinya. Tapi langsung ditepis oleh Long Jian.
"Hari ini aku akan pergi berperang. Setelah ini tunggu saja. Posisimu itu akan segera kuturunkan," bisik Long Jian ditelinga Li Jihyun. Gadis itu masih diam. Sedikit pun tak berniat menyahut ucapan Long Jian.
Dia melepaskan cengkraman tangannya. Lalu berjalan pergi meninggalkan Li Jihyun. Li Jihyun menggosok pergelangan tangannya yang memerah. Dia menatap punggung Long Jian yang menghilang dibalik pintu.
Kita lihat saja siapa yang akan hancur lebih dulu, batinnya.
...
Long Jian menaiki kuda terlebih dulu. Didepan gerbang istana yang megah itu tampak berjajar para selir. Termasuk salah satunya Li Jihyun yang merupakan selir agung. Sudah tugasnya melepaskan kepergian Long Jian selaku suaminya sekaligus kaisar Qing Long. Meski hatinya dongkol melihat wajah Long Jian. Lien yang bertugas menemani Li Jihyun hanya menghela napas pelan. Tak ada rasa sedih yang ditunjukkan gadis itu. Hanya tatapan datar dan kosong yang tercetak jelas.
Keduanya yang sering bertengkar sudah hal lumrah yang terjadi di istana. Perubahan yang dulu ditunjukkan Li Jihyun langsung menguap begitu saja. Mereka kembali mengenalnya sebagai kepribadian buruk yang kerap bertengkar dengan kaisar. Meski dia tetap berlaku baik dengan bawahannya.
Satu per satu selir maju ke depan. Memberikan berkat atau sekadar mengucapkan doa keselamatan. Li Jihyun mendengus sebal. Kuharap dia mati dimedan perang, batin Li Jihyun. Suara tangisan pun terdengar memenuhi keramaian itu.
Kini giliran Li Jihyun. Kepala gadis itu menunduk meski dihatinya tak berhenti mengumpati Long Jian. "Semoga kemenangan senantiasa mengikuti yang mulia," ujar Li Jihyun.
Long Jian tersenyum. "Tentu saja. Kemenangan selalu mengikutiku," ucapnya sombong. Gigi Li Jihyun bergemulutuk mendengarnya. Tapi teringat dengan rencana yang dia susun dengan Zhang Liu membuatnya kembali tenang.
"Sampai bertemu lagi yang mulia kaisar," ujar Li Jihyun mundur ke belakang. Long Jian menatapnya cukup lama sebelum memacu kudanya terlebih dulu. Diikuti pasukannya yang sejak tadi bersiap didepan gerbang istana. Suara tangisan terdengar berisik mengiringi kepergian Long Jian.
Dayang itu pamit terlebih dulu lalu pergi meninggalkan Li Jihyun sendirian di lorong. Gadis itu berjalan dengan anggun melewati lorong yang sepi. Tak ada satu pun dayang yang berkeliaran di lorong. Mereka masih sibuk dihalaman istana.
"Yang mulia selir agung," panggil seseorang menghentikan langkahnya. Kepalanya tertoleh ke belakang. Menatap sosok dayang yang menghampirinya. Napas wanita itu tersengal. Dia membungkuk hormat sambil mengatur deru napasnya. Alis mata Li Jihyun naik sebelah menatap dayang didepannya.
"Ada apa Fen kamu memanggilku?" tanya Li Jihyun penasaran. Fen menelan ludah. Lalu menarik napasnya.
"Saya menghadap yang mulia selir agung ingin menanyakan nona Hai Rong," ujar Fen.
"Hai Rong? Ah! Belakangan ini wanita itu sedang sakit. Jadi sangat sulit untuk kalian bertemu," ucap Li Jihyun meletakkan telapak tangannya ke pipi. Matanya masih menatap Fen yang membungkuk hormat.
Fen memilin jemari gelisah. Firasatnya buruk. "Apa nona Hai sudah membaik yang mulia?" tanya Fen dengan penuh harap. "Sa-Saya ingin menjenguknya walau sebentar," pintanya tergagap. Dia masih takut berhadapan dengan Li Jihyun.
Hela napas terdengar. "Malangnya Hai Rong terluka parah. Apa kamu masih sanggup melihatnya?" tanya Li Jihyun membuat Fen tersentak.
"Ter-Terluka? Apa yang terjadi pada nona Hai yang mulia?" tanya Fen cemas. Kepalanya sejenak terangkat namun kembali menunduk. "Maafkan saya sudah lancang yang mulia," ucapnya lagi.
"Tidak masalah. Wajar dayang sepertimu khawatir pada majikanmu. Andai saja majikanmu tau betapa setianya kamu," ucap Li Jihyun menepuk pelan bahu Fen. "Ikutlah denganku. Kita akan pergi menjenguk Hai Rong." Mata Fen berbinar.
"Terimakasih yang mulia selir agung," ucapnya tersenyum sumringah. Li Jihyun berjalan terlebih dulu diikuti Fen. Hati wanita itu sudah tak sabar bertemu Hai Rong setelah cukup lama berpisah. Apalagi mendengar keadaan Hai Rong yang mengkhawatirkan. Sepanjang jalan Fen terus merasakan kegelisahan.
Li Jihyun yang menyadari gelagat Fen segera buka suara. "Maafkan aku sebelumnya Fen. Nonamu terluka karena aku," ujarnya memecah keheningan sepanjang melewati lorong istana. Tampak satu dua dayang kembali bekerja.
Fen memiringkan kepala kebingungan. Matanya menatap punggung Li Jihyun. Dia diam mendengarkan perkataan selanjutnya dari Li Jihyun. "Seharusnya aku bisa mencegahnya melakukan itu. Tapi ..." perkataan Li Jihyun dijeda. Ekor matanya melirik Fen yang diam. Hela napas kembali terdengar.
"Apakah nona Hai berusaha melukai anda?" tanya Fen dengan jantung berdegup kencang. Perasaannya semakin tak karuan. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Hai Rong.
Lagi Li Jihyun menghela napas. "Kami sempat berdebat cukup lama. Hai Rong yang marah padaku langsung mengambil pisau di meja dan hendak menusukku. Aku pun menghindar tapi Hai Rong yang dibutakan amarah hendak menyerangku lagi," bual Li Jihyun menarik napas.