Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 66


Zhi Shen tersenyum lebar. "Memang apa yang dibutuhkan oleh manusia sepertiku?" tanyanya balik sambil mengedikkan bahu.


Li Jihyun menarik napas. "Zhi Shen kamu benar benar menyedihkan," ucap Li Jihyun tersenyum sinis. Gadis itu menyilangkan tangan diatas dada. Ekspresi wajah Zhi Shen langsung berubah. Alis matanya naik sebelah.


"Heh? Kamu meremehkanku?" Zhi Shen mendelik tajam. "Kamu hanya pelacur kecil dan bidakku. Jangan pernah bisa lari semudah itu dariku," ujar Zhi Shen memicu amarah Li Jihyun. Gadis itu mengepalkan tangannya erat.


"Kamu pikir aku takut?" ejek Li Jihyun melayangkan tinjunya. Tapi Zhi Shen tak mengelak justru membiarkan tinju itu ke arahnya. Tepat mengenai wajahnya tapi tangan Li Jihyun menembus tubuh Zhi Shen. Pria itu terkekeh mengejeknya.


Li Jihyun berdecak sebal. Tak cukup meninju satu kali. Dia meninju tubuh Zhi Shen ke titik yang lain. Kepalan tangan Li Jihyun menembus tubuh Zhi Shen seperti sebelumnya. Li Jihyun mencobanya lagi dan lagi. Namun hasilnya nihil. Kali ini pria itu tertawa terbahak bahak. Bahkan sampai ujung matanya berair. Li Jihyun menggeram marah menarik tangannya dari tubuh Zhi Shen.


Pria itu menghentikan tawanya. Dia menatap lamat Li Jihyun. "Li Jihyun seberapa hebatnya pekerjaannmu dulu sebagai pembunuh bayaran. Kamu takkan bisa menang melawanku," ujarnya mengusap ujung mata yang berair. Dia menarik napas. "Kasihan sekali dirimu Li Jihyun. Kamu tidak bisa mengalahkanku," ejeknya kemudian menghilang bersamaan embusan angin.


Mata Li Jihyun berkedip berulang kali. Tak percaya dengan pemandangan didepan matanya. Zhi Shen baru saja menghilang begitu saja. Sebenarnya siapa dia? pikir Li Jihyun memijat pelipis. Dia menghela napas panjang. Sekilas menoleh ke arah Hai Rong yang menangis tersedu sedu. Lupakan itu dulu. Masih ada sesuatu yang menarik terjadi, batinnya terkekeh pelan kemudian meninggalkan kamar tempat para selir berada.


Di sepanjang lorong yang dilewati terdengar dayang bergosip. Mulai dari perubahan sikap Li Jihyun sampai penyebab turunnya pangkat Hai Rong. Li Jihyun tersenyum tipis. Rumor tentang terbakarnya kediaman Xu sudah menyebar dengan cepat. Tak sia sia dia pulang dengan tubuh penuh luka.


"Yang mulia selir agung," panggil seseorang menghentikan langkah Li Jihyun. "Maafkan saya sudah lancang menghentikan langkah anda," lanjutnya lagi yang berdiri dibelakang Li Jihyun. Tak lupa dia membungkuk hormat. Meski Li Jihyun tak menoleh ke arahnya.


Gerombolan dayang yang tengah sibuk bergosip pun segera pergi dengan tergopoh. Bahkan saat berpapasan dengan Li Jihyun wajah mereka lamgsung memucat. Pandangan mereka tertunduk dalam. Li Jihyun mendelik tajam saat melewati mereka. "Tunggu sebentar," tahan Li Jihyun menghentikan langkah mereka.


Tubuh dayang itu seketika gemetaran. Mereka membalikkan tubuh dengan kaku. "Iya yang mulia selir agung. Apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu dari gerombolan dayang itu. Li Jihyun selangkah maju membuat mereka semua diliputi ketakutan.


Plak!


Satu tamparan telak mengenai pipinya. Dayang lain berseru kaget melihatnya.


Plak!


Satu tamparan lagi melayang dipipinya. "Apa kamu tau tindakanmu barusan?" tanya Li Jihyun menatapnya dingin. Dia sudah bertekad takkan membiarkan siapapun menginjak dirinya lagi.


Gosip perubahan dirinya dimata gerombolan dayang itu luntur. Melihat keberingasan Li Jihyun menampar dayang itu cuma karena gosip. "Ma-Maafkan saya yang mulia selir agung. Saya ...."


Plak!


Perkataan dayang itu terpotong. Dayang itu langsung bungkam. Kedua pipinya berubah merah. "Ya-Yang mulia selir agung hentikan semua ini" pinta orang yang tadi menemui Li Jihyun. Tapi diabaikan Li Jihyun.


Tangannya terangkat bersiap menampar sekali lagi pipi dayang itu. Dayang lain yang menyaksikannya menutup mata saking jeri. "Saya mohon hentikan yang mulia," pinta orang itu lagi. Li Jihyun berdecak menatapnya tajam. Tangannya dipegang oleh orang itu yang tak lain adalah Zhang Liu. Pria berkacamata itu menelan ludah melihat tatapan tajam Li Jihyun. Gadis itu tampak gusar sekarang.


Plak!


Satu tamparan lagi melayang membuat tubuh dayang itu terhuyung jatuh. Darah merembes keluar dari sudut bibirnya. Dia memegangi pipi yang memerah.


Tangan Li Jihyun meraih rambut dayang itu lalu menariknya paksa. Suara jeritan kesakitan terdengar. Kepala wanita itu mendongak dan bertatapan dengan Li Jihyun. "Yang mulia ampuni saya," pintanya dengan suara serak.


Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat. Tangannya menarik kencang rambut dayang itu. Suara kesakitan terdengar lagi. "Ampun katamu? Dibandingkan pengampunan yang kamu minta. Pikirkanlah alasan agar aku mengampuninu," ujar Li Jihyun melepaskan cengkraman tangannya dari rambut dayang itu.


Kepala dayang itu terbentur ke lantai. Darah merembes keluar. "Kalian bawa dayang itu ke penjara lalu katakan pada mereka jatuhi hukuman cambuk dua puluh kali. Siapapun yang berani menyebarkan rumor tentang keluarga kaisar akan dijatuhi hukuman berat," ucap Li Jihyun yang diangguki takut dayang lain.


"Sekarang bawa dia pergi," titah Li Jihyun melayangkan tangan diudara.


"Baik yang mulia," sahut gerombolan dayang itu serempak. Mereka menyeret dayang yang terkapar lemas itu pergi.


"Satu lagi jika berita ini tersebar kalian yang berada disini akan kuhukum mati," ancam Li Jihyun yang diangguki takut gerombolan dayang lain. Langkah mereka semakin dipercepat meninggalkan Li Jihyun. Begitu langkah mereka menjauh Li Jihyun kembali melanjutkan perjalanan.


"Tunggu sebentar yang mulia," ucap Zhang Liu menahan langkah Li Jihyun.


"Jika ada yang penting mau dibicarakan. Kita bisa bicara didalam," ucap Li Jihyun kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa banyak bicara lagi Zhang Liu mengikuti langkah Li Jihyun.


Hingga tak lama mereka tiba di depan pintu kamar Li Jihyun. Ada dua dayang yang tengah berdiri didepan pintu. "Selamat datang yang mulia selir agung," sapa mereka yang diangguki sekilas Li Jihyun. Pintu dibukakan lebar. Li Jihyun dan Zhang Liu melangkah masuk.


"Siapkan teh untuk kami," ucap Li Jihyun sebelum pintu tertutup rapat.


"Baik yang mulia," sahut mereka serempak.


"Silakan duduk tuan Zhang Liu," ucap Li Jihyun duduk terlebih dulu diikuti Zhang Liu. "Ada perlu apa anda datang kemari?" tanya Li Jihyun begitu Zhang Liu duduk tepat diseberangnya.


Zhang Liu berdehem sejenak. "Saya dengar anda dikurung keluarga Xu." Zhang Liu menjeda kalimatnya. Dia menarik napas pelan. "Saya sudah dengar semuanya. Kebakaran itu apakah anda tidak tau siapa pelakunya?" tanya Zhang Liu memastikan.


Zhi Shen apa kali ini kamu tidak mengikutiku? batin Li Jihyun teringat Zhi Shen. Biasanya setiap apapun yang dilakukannya pasti tak lepas dari pantauan Zhi Shen. Bahkan pria itu pun melaporkannya pada Long Jian melalui surat. Tapi sebaiknya aku berhati hati. Mungkin saja Zhi Shen menunggu waktu yang tepat, batin Li Jihyun lagi.


"Yang mulia?" panggil Zhang Liu membuyarkan lamunan Li Jihyun. Mata gadis itu mengerjap.


"Iya. Untuk masalah itu saya tidak tau. Selama dikurung saya tidak mengetahui apapun," sanggah Li Jihyun.