
Zhang Liu berdehem mengalihkan atensi mereka ke arahnya. Sebelah matanya mengedip ke arah Li Jihyun. "Seharusnya kalian mengucapkan terimakasih pada yang mulia selir agung," ujar Zhang Liu membuat rakyat yang berkumpul saling tatap.
Wajah mereka terlihat kebingungan. Zhang Liu mengembuskan napas kasar. "Perempuan didepan kalianlah yang mulia selir agung. Cepat beri salam," lanjutnya yang mengejutkan rakyat. Sontak mata mereka menatap Li Jihyun.
Senyuman ramah tersungging dibibir Li Jihyun. Segera kepala rakyat langsung tertunduk. Rakyat membungkuk hormat. "Kami memberi salam pada yang mulia," ucap mereka serempak.
Zhang Liu memperbaiki letak kacamatanya. "Kalian tidak perlu seperti ini. Angkat kepala kalian," ujar Li Jihyun.
"Terimakasih atas kebaikan anda yang mulia. Sungguh saya tidak menyangka anda akan sebaik ini pada kami," ujar salah satunya mewakili dari gerombolan itu.
"Tidak perlu berlebihan. Sudah sepantasnya penguasa berbagi pada rakyatnya. Kalian adalah anak anakku di kerajaan ini." Mereka terkesiap saling tatap lagi. Bahkan ada satu dua orang yang berbisik.
"Sepertinya rumor itu tidak benar sepenuhnya," bisik salah satu rakyat yang terdengar oleh Li Jihyun.
"Aku dengar dia hanya membantai orang yang mengusiknya," sahut temannya yang diangguki setuju orang disebelahnya.
"Sekali lagi terimakasih yang mulia. Kebaikan anda akan kami ingat sampai kapanpun," ujar salah satunya yang sejak tadi mewakili mereka. Kepalanya tertunduk tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya.
"Ada satu hal lagi yang akan kukatakan pada kalian. Ini merupakan kesempatan yang bisa mengubah hidup kalian," ujar Li Jihyun menarik napas. "Dalam waktu dekat ini ada perekrutan prajurit. Aku harap kalian bisa ikut," lanjutnya yang disambut keriuhan.
"Perekrutan prajurit? Bukankah itu kabar baik?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak mau ikut? Tapi apa rakyat jelata seperti kita diterima?"
"Hei! Buka telingamu lebar lebar! Bukankah yang mulia sendiri yang bilang akan merekrut prajurit dari rakyat?"
Li Jihyun mengangkat ujung hanfunya. Menutupi seringaian di bibir. Dengan begini aku bisa menghancurkanmu Long Jian, batin Li Jihyun.
"Yang mulia sudah waktunya kita pergi. Ada yang harus dikerjakan terlebih dulu," ujar Zhang Liu mengalihkan atensi Li Jihyun.
"Maaf sepertinya saya tidak bisa lama lama disini. Sebenarnya saya ingin disini lebih lama. Bercerita banyak hal. Tapi waktu saya terbatas. Saya permisi dulu," pamit Li Jihyun ramah. Gerombolan itu terdengar kecewa.
"Maafkan saya. Lain kali kita pasti bisa berbincang lebih lama," lanjutnya. Dia menaiki kereta kuda. Sekilas melihat ke arah mereka yang memasang wajah sedih dan kecewa. "Aku harap kita bisa segera bertemu di perekrutan prajurit," ujarnya sebelum menghilang dibalik tirai.
"Tentu saja yang mulia. Kami pasti takkan mengecewakan anda," jawab salah satu dari mereka dengan berapi api. Kereta kuda pun melaju meninggalkan daerah kumuh itu.
"Aku tidak menduga masih ada daerah kumuh di Qing Long," celetuk Li Jihyun mengelap tangannya dengan saputangan.
Zhang Liu menghela napas pelan. "Saya harap anda bisa memperbaikinya dengan cepat," ujar Zhang Liu mengalihkan atensi Li Jihyun. Dia tersenyum miris.
"Jangan berharap lebih padaku," ujar Li Jihyun membuang saputangan keluar. Kuda terus melaju membelah jalanan kota menuju istana. Suasana diluar sangat ramai oleh manusia yang berlalu lalang.
"Tapi anda lebih baik dari yang mulia kaisar. Anda ..."
"Zhang Liu berhentilah membandingkanku dengan Long Jian. Sekarang fokus saja pada tugasmu," titah Li Jihyun membuat Zhang Liu seketika terdiam. Dia menghela napas lagi.
......................
"Malam yang sangat tenang," gumamnya memejamkan mata. Desir angin yang melewati kisi jendela membuatnya tak bisa menahan kantuk.
Tok! Tok! Tok!
Mata Li Jihyun langsung terbuka. Dia mendesis marah. Kepalanya tertoleh ke arah jendela. "Sialan! Siapa yang menganggu waktu tidurku?" gumamnya beringsut turun dari kasur. Dinyalakannya lilin hingga menerangi kamar.
Dia membuka jendela yang barusan jadi sumber suara yang cukup menganggu tidurnya. Decakan terdengar saat melihat seseorang berjubah hitam berjongkok didahan pohon. "Tuan memanggil anda ditempat biasa yang mulia selir agung," ujarnya yang diangguki Li Jihyun.
Apa dia mau melaporkan mengenai paman? pikir Li Jihyun meraih jubah dan memakainya. Tanpa sedikit pun menganti pakaian tidurnya. Seseorang berjubah itu hanya melirik tanpa berani bicara. Setelah Li Jihyun melompat turun. Seseorang berjubah itu langsung menghilang. Dia seperti angin, batin Li Jihyun mendongak ke atas. Tak ada siapapun lagi disana. Hanya desir angin yang terdengar.
Dia menghela napas. Melanjutkan perjalanannya menuju taman terbengkalai yang ada dibelakang istana. Sesekali kepalanya tertoleh ke belakang. Memastikan tidak ada orang yang mengikutinya dibalik kegelapan malam.
Tak lama dia tiba di tempat yang dijanjikan. Zhang Liu yang melihat kedatangan Li Jihyun langsung menyambutnya dengan antusias. Senyuman merekah dibibir. "Senang bertemu dengan anda yang mulia," sapa Zhang Liu membungkuk hormat yang disahut deheman Li Jihyun. "Saya minta maaf sudah menganggu waktu anda. Tapi ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan anda," ujar Zhang Liu yang diangguki Li Jihyun.
"Katakan padaku! Apakah ini terkait ketua sipir itu? Atau ..." Zhang Liu menggelengkan kepalanya memotong perkataan Li Jihyun. Gadis itu diam dan melihat Zhang Liu tajam.
"Ini tentang kepala sipir. Dia ..."
......................
Brak!
"KURANG AJAR!"
BUK!
Pemuda itu meringis kesakitan dipukul Long Jian. Wajah pria itu merah padam. Matanya nyalang menatap pemuda yang dibaluti pakaian serba hitam. "Bodoh! Membunuh pak tua saja kamu tak bisa?! Dasar tak berguna!" maki Long Jian dengan napas memburu cepat.
Bahunya naik turun. Dia mengacungkan telunjuknya dengan raut wajah marah. "Aku membayarmu mahal bukan berarti kamu tidak bisa bekerja. Bunuh pria tua itu atau kubunuh kamu!" ancamnya yang diangguki pemuda itu.
"Saya pasti akan ..."
"Sudahlah. Laksanakan saja tugasmu. Jangan sampai gagal," perintah Long Jian memotong perkataan pemuda itu. Wajah lebam bekas dipukul Long Jian. Bahkan sudut bibirnya pecah hingga darah pun merembes.
"Baik yang mulia. Saya permisi dulu," pamitnya yang disahut deheman Long Jian. Pria itu memijat pelipisnya yang tiba tiba mendadak nyeri.
"Gadis sialan! Tidak hanya keponakannya yang berumur panjang bahkan pak tua itu pun tak bisa dibunuhnya. Dasar tak berguna," gerutu Long Jian sambil berdecak sebal.
"Li Jihyun satu per satu akan kubunuh keluargamu," gumam Long Jian mengepalkan tangan erat.
...----------------...
Li Jihyun tertawa terbahak bahak sampai ujing matanya berair. Zhang Liu yang selesai bercerita hanya menatap penuh tanya. "Astaga! Tidak hanya Long Jian yang bodoh tapi anak buahnya juga sama. Mereka pikir si tua itu mudah dibunuh," ujar Li Jihyun mengusap ujung matanya sambil menarik napas.