Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 41


"Tuan Zhang? Apa anda mau menemui yang mulia kaisar?" tanya kasim Bo yang berdiri didepan pintu. Kepala Zhang Liu mengangguk cepat. Hela napas terdengar.


"Ada apa? Apa yang mulia kaisar tidak ada?" tanya Zhang Liu celingak celinguk. Hela napas terdengar lagi. Kali mata kasim Bo menatapnya serius. Pria paruh baya itu sampai menepuk pundaknya.


"Sebaiknya anda tidak perlu ikut campur masalah yang mulia selir agung," saran kasim Bo yang digelengkan tegas Zhang Liu.


"Tidak! Bagaimana mungkin saya membiarkan wanita selemah yang mulia selir agung tersiksa begitu saja?" protes Zhang Liu mengejutkan kasim Bo. Mata pria bertubuh tambun itu sampai terbelalak.


"Apa anda pikir yang mulia selir agung itu lemah? Wanita itu bahkan lebih kejam dibanding iblis," ucap kasim Bo mengusap lengannya. Masih terbayang jelas dikepalanya saat wanita itu mengintimidasinya.


"Sekuat apapun wanita mereka tetaplah makhluk yang lemah," timpal seseorang mengalihkan atensi mereka. Sontak kepala kedua orang itu langsung membungkuk hormat.


"Selamat datang selir Hai," sapa mereka serempak.


"Angkat kepala kalian," titah Hai Rong membuat kepala mereka terangkat.


"Ada keperluan apa selir Hai datang menemui yang mulia kaisar?" tanya kasim Bo. Hai Rong dan Fen saling tatap. Kepala Hai Rong mengangguk membuat Fen melangkah maju. Wanita itu menyerahkan gulungan kertas pada kasim Bo. Dahi kasim Bo mengerut keheranan.


"Berikan pada yang mulia kaisar," ucap Hai Rong yang diangguki kasim Bo.


"Apakah anda tidak mau bertemu dengan yang mulia kaisar?" tanya kasim Bo yang digelengkan Hai Rong.


"Tidak usah. Pasti yang mulia sedang sibuk mengurus masalah peperangan lagi," ucap Hai Rong menatap pintu yang tertutup rapat. Kasim Bo menghela napas pelan. Bukan satu atau dua kali Long Jian kerap membahas peperangan dengan para menteri untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Tapi sejak kematian selir Xu Diu membuat keluarga Xu langsung menarik diri dari pasukan militer kekaisaran. Peperangan pun terpaksa ditunda. Inilah membuat Long Jian melampiaskan amarahnya pada Li Jihyun yang menjadi penyebab kematian Xu Diu. Pria itu pun kerap menyiksa Li Jihyun tanpa ampun. Bahkan sampai melibatkan orang yang berhubungan dengan Li Jihyun. Membuat wanita itu semakin terpukul.


Mata Hai Rong melirik Zhang Liu yang masih berdiri didekatnya. "Tuan Zhang apakah anda punya waktu luang?" Zhang Liu menggelengkan kepala.


"Saya tidak bisa selir Hai. Saya harus bertemu yang mulia kaisar agar bisa bertemu yang mulia selir agung. Bagaimanapun dia membutuhkan bantuan saya."


Hela napas terdengar. "Tuan Zhang. Untuk saat ini masalah yang mulia selir agung akan segera teratasi," ucap Hai Rong enteng. Dia menoleh ke arah pintu yang ditutup kasim Bo. Pria paruh baya itu sudah melangkah memasuki ruangan kaisar.


Zhang Liu menatap keheranan Hai Rong. "Apa maksud anda selir Hai?" tanya Zhang Liu penasaran.


"Kita lihat saja nanti," ujar Hai Rong menepuk bahu Zhang Liu dan melangkah pergi. Zhang Liu menatap punggung Hai Rong dengan berbagai pertanyaan.


...


Suara langkah kaki mengusik tidur Li Jihyun. Gadis itu membuka matanya. Pandangannya masih samar. Dia pun mengucek matanya. "Lama tak bertemu Jin," sapa seseorang mengejutkan Li Jihyun. Gadis itu menyipitkan mata guna memperjelas pandangannya. Dibalik jajaran besi yang tersusun rapi tampak seorang pria berwajah sangar dan memakai seragam prajurit istana. "Atau bagaimana jika saya panggil yang mulia selir agung?" tanya pria itu lagi dengan membungkuk hormat.


Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat. Dia menatap dingin pria didepan sambil menyilangkan tangan diatas dada. "Aku tak memduga kita bertemu disini lagi paman." Wajah pria itu langsung berubah pias.


Hela napas terdengar. "Kali ini kamu sudah keterlaluan Li Jihyun. Aku sudah bilang jangan sampai membuat masalah dengan kaisar."


"Masalah? Dia yang duluan paman. Apa paman tidak tau apa yang dia perbuat? Dia pembunuh!" ucap Li Jihyun lantang. Hela napas sekali lagi terdengar. Pria itu merogoh saku dan membuka gembok penjara.


"Keluarlah!" ucapnya membukakan pintu. Tapi Li Jihyun tidak beranjak sedikit pun. Dia menatap sinis pria itu.


"Apa paman lupa siapa yang sudah membunuh keluarga kita?" tanya Li Jihyun menaikkan sebelah alis matanya.


"Aku tak peduli," jawabnya dingin membuat Li Jihyun berdecih. Li Jihyun segera bangkit dari duduk.


"Dasar manusia berhati dingin. Paman dan orang itu sama saja. Sampah!" makinya sebelum melangkahkan kaki keluar dari penjara. Pria itu memilih diam dan mengepalkan tangan erat.


"Ingat satu hal ini Li Jihyun. Seberapa hebat dan jenius dirimu kamu tetaplah manusia biasa. Jangan terlalu memaksakan diri." Langkah Li Jihyun terhenti. Dia berbalik dan menatap nyalang punggung pria itu.


"Paman tau aku jenius. Tapi kenapa paman menghalangiku pergi ke medan perang membantu ayah? Kenapa?" tanya Li Jihyun dengan mata berkaca kaca. Masih terbayang jelas pria itu pergi membawanya jauh dari kediaman mereka. Tujuannya agar Li Jihyun tidak terkena dampak dari peperangan. Tapi Li Jihyun justru kembali saat mendengar kematian ayah dan keenam saudaranya membuat dia dengan cepat ditemukan Long Jian. Lalu dijadikan selir tawanan. Sementara pria yang dipanggil paman oleh Li Jihyun bekerja sebagai ketua sipir penjara tanpa dibayar. Sebagai bentuk jaminan agar Li Jihyun tak bisa lari. Mengingat hubungan keduanya masih sedarah.


"Sekarang keluarlah dari tempat ini dan jangan datang lagi. Satu lagi jangan sia siakan bantuan orang yang sudah mengulurkan tangan untukmu," ucap pria itu tanpa menoleh ke arahnya. "Dan jangan mencari masalah yang bisa membuatmu bertemu denganku lagi." Suara pria itu terdengar bergetar.


"Cih! Aku juga tak mau bertemu paman lagi," ucapnya berjalan menjauhi pria itu. Begitu mendengar suara langkah Li Jihyun menjauh. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia menghela napas lagi.


"Kak apa aku tidak bisa menyusulmu saja? Aku sudah lelah. Putrimu sekarang sudah besar dan kurasa dia bisa menjaga dirinya sendiri. Aku tidak mau lagi berada dibawah bayangan masa lalu. Aku capek," gumamnya lirih.


...


Li Jihyun terus berjalan melewati lorong diistana. Dayang yang bertemu dengannya semua menepi. Apalagi melihat raut wajah Li Jihyun yang seram. Dia pikir aku diam saja? Long Jian kamu salah menganggu orang. Selama ini aku terlalu meremehkanmu sampai dikalahkan terus olehmu. Kali ini aku akan membalasmu. Lihat saja! batinnya dengan langkah melebar menuju kamar.