PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
9. Terjebak Sendiri


Carine meminum anggur itu terlihat sangat elegan sambil menikmati sensasi hangat dan lezatnya rasa anggur mahal itu dengan senyum indah sambil melirik tuan Benson yang menatapnya penuh gairah.


"Tunggulah sesaat lagi gadis angkuh..! Aku akan membuatmu merasakan indahnya surga dunia," batin tuan Benson yang sudah mulai merasa sangat terangsang karena minuman yang ditambah pikiran mesumnya yang menatap kecantikan Carine yang tidak sama dengan kecantikan wanita yang selalu memanjakan miliknya.


"Dasar bodoh...! Kau kira kau lebih pintar dariku..?" senyum Carine menyeringai puas karena lawannya yang sudah menjebak dirinya sendiri.


Rupanya asisten pribadinya Rian sudah bekerjasama dengan orang FBI untuk membunuh pria jahat ini yang sudah menghancurkan perekonomian manusia karena bisnis haramnya.


Termasuk asistennya Rian yang awalnya datang ke tempat itu untuk protes karena kecurangan tuan Benson yang menipunya dengan judi online hingga ia rugi banyak.


Tapi pria yang selalu berpenampilan perlente itu malah menjebak Rian untuk bekerja dengannya dengan upah yang lebih besar dari kerugian yang pria malang itu dapatkan. Hanya saja setiap kali Rian kabur selalu saja tertangkap lagi dan itu akan membuat pria ini babak belur dihajar tuan Benson.


Kedatangan Carine yang akan menyelamatkan hidupnya Rian membuat Rian semangat membantu Carine. Itulah sebabnya, Rian bersedia bekerjasama dengan Carine yang merupakan agen FBI.


"Bagaimana tuan? Apakah aku boleh makan malam bersama anda?" tanya Carine saat melihat tuan Benson sudah mulai gelisah sendiri dan melihat wajah Carine yang menyiksa miliknya dibawah sana untuk dipuaskan.


Ternyata minuman anggur itu sudah disuntik dengan obat perangsang dan juga obat tidur oleh Rian. Untuk mengelabui tuan Benson, rian menaburkan obat penawar di minuman milik Carine agar gadis itu terbebas dari jebakan.


"Ada apa denganku? kenapa aku merasa pusing seperti ini?" lirih Benson yang tidak bisa menguasai dirinya..


Carine mengirim pesan kepada Rian agar datang ke kamarnya untuk membawa kabur tuan Benson yang sudah jatuh tergeletak di atas lantai.


"Suruh anak buah kita untuk mengeluarkan tuan Benson dari sini dan bawa ke atas atap. Sebentar lagi helikopter akan menjemput kita..!" titah Carine pada Rian.


"Apakah bajingan itu sudah mampus?" tanya Rian memastikan lagi ucapan Carine.


"Sudah. Cepatlah..! Aku sudah berpakaian rapi. Aku harus segera kembali ke Amerika untuk membawa pulang target untuk dihukum mati!" titah Carine yang sudah mengenakan celana panjang jins, kaus putih dengan mantel panjang di balut sepatu boot yang menjadi kesukaannya.


Tidak lama kemudian, tubuh tuan Benson di masukkan ke dalam boks pengangkut pakaian laundry dan dibawa ke lantai atas menuju atap untuk menunggu kedatangan helikopter milik FBI yang sedang menjemput Carine.


Rian dan Carine tetap waspada dengan area sekitarnya karena penjagaan di kasino itu sangatlah ketat. Apalagi Benson adalah orang berpengaruh di negara itu yang bisa membeli oknum polisi untuk membayar upeti agar bisnisnya tetap aman.


Itulah sebabnya mengapa FBI turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat setempat karena banyaknya oknum pejabat yang juga ikut kecipratan rejeki dari tuan Benson dan membuat mereka menutup mata atas kegilaan tuan Benson yang sangat terkenal sadis bila membunuh orang.


Setibanya di atas atap, tubuh tuan Benson di masukkan kedalam helikopter dengan tangan dan kaki di borgol. Tepat di saat itu para anak buahnya Benson mengetahui bos mereka dibawa kabur langsung menghentikan helikopter itu dengan tembakan bertubi-tubi ke arah helikopter yang masih bisa terbang menjauh.


Carine melempar dua granat ke arah para anak buahnya Benson hingga mereka terpental. Helikopter terbang makin menjauh menuju bandara.


"Terimakasih Carine. Akhirnya aku bisa bebas dari penindasan bajingan sialan ini," ucap Rian yang merupakan pria jenius hanya otaknya dipenuhi dengan dunia judi.


"Apakah kamu akan kembali ke negaramu di Jerman, Rian?" tanya Carine.


"Iya. Tapi aku harus ikut bersamamu sampai Amerika agar aku tidak tertangkap lagi oleh anak buahnya Benson.


"Jangan takut...! Kami akan menolong mu sampai tuntas. Karena kamu tugasku menjadi lebih ringan karena sangat sulit menangkap pria belut ini," ucap Carine sambil tersenyum membuat Rian terpesona akan kecantikannya Carine. Namun ia sadar diri, Carine bukan wanita sembarangan.


"Apakah kamu sudah punya kekasih?" tanya Rian sekedar basa-basi.


"Pria seperti apa yang kamu inginkan Carine?" tanya Rian.


"Kekagumanku padanya tidak terbatas pada kata. Aku menginginkan pria yang membuatku jatuh cinta," ungkap Carine terdengar ambigu bagi Rian yang hanya bisa mendesah lembut.


Di Bandara Amerika keduanya berpisah. Carine kembali ke rumahnya dan Rian terbang lagi ke negara asalnya. Tuan Benson sudah diamankan oleh anggota FBI untuk diproses secara hukum di negara tersebut. Tuan Benson yang baru bisa membuka matanya nampak terkejut saat kaki tangannya tidak bisa bergerak karena diborgol.


"Di mana aku?" lirihnya sambil melihat kanan kiri karena berada di dalam mobil FBI sendirian yang dibatasi jeruji.


"Apakah aku sedang di bawa oleh polisi?" tanya tuan Benson merasa dirinya telah tertipu oleh Carine dan Rian.


"Bangsat...! Pasti Rian yang sudah menjebak aku dengan mengirim si ja**Ng itu!" umpat tuan Benson yang kali ini terjebak sendiri dalam permainan yang ia ciptakan.


Di mansion utama, Carine yang baru tiba tengah malam di sambut oleh Lucio." Selamat malam dan selamat datang kembali nona Carine ..!" sapa Lucio.


"Terimakasih. Kamu boleh kembali ke kamarmu. Aku ingin istirahat," ucap Carine terlihat suntuk.


"Apakah anda mau makan sesuatu, nona?" tanya Lucio lagi.


"Aku ingin tidur. Tolong jangan menggangguku!" berlalu ke kamarnya.


"Baik nona. Selamat malam..!" pamit Lucio.


Carine mengunci kamarnya dan langsung masuk ke dalam selimutnya. Ia ingin melepaskan lelahnya agar bisa bangun pagi lebih segar.


Lucio menghubungi Orlando yang sedang berada di apartemennya. Lucio tahu pria itu sangat sulit tidur malam hari kalau tidak bercinta terlebih dulu dengan wanita malam.


Sejak bertemu dengan Carine, sifat Orlando mulai berubah. Ia lebih senang menyendiri dan tidak lagi bermain wanita. Di benaknya hanya ada wajah cantik Carine.


"Tuan muda. Nona Carine sudah kembali ke rumah," ucap tuan Lucio.


"Apa...? Carine sudah pulang?" tanya Orlando kegirangan.


"Sudah tuan. Tapi, sepertinya nona Carine terlihat lelah dan langsung masuk kamar dan tidur," ucap Lucio.


"Terimakasih Lucio. Aku akan segera pulang," ucap Orlando yang mengetahui saat ini kedua orangtuanya sedang berada di Swiss.


Keesokan paginya, Orlando ingin meminta maaf kepada Carine dengan cara membuat sarapan pagi sendiri untuk gadis itu. Setelah sudah siap ia sendiri mengantarkan makanan itu ke kamarnya Carine. Setelah beberapa kali di ketuk tidak dibuka juga oleh Carine, Orlando memberanikan diri masuk ke kamar Carine karena pintu kamar itu tidak dikunci. Ternyata kamar Carine kosong.


"Carine....! Carine..! Panggil Orlando berkali-kali di depan kamar mandi tapi tidak terjawab juga. Ia memeriksa ke dalam ruang ganti juga tidak ditemukan Carine.


Akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya Orlando menyaksikan apa yang saat ini dilihatnya.


"Carinenn...!" pekik Orlando.