PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
20. Meyakinkan Carine


Carine segera menggeser kursinya dan pamit duluan pada kelurganya. Dia terlihat kurang nyaman saat mendengar penuturan ayah tirinya tentang perjodohan itu. Orlando gelagapan sendiri melihat Carine yang tidak bisa menahan diri untuk duduk mendengar dulu apa keputusan akhirnya.


"Maaf daddy. Ada tugas yang harus Carine selesaikan," ucap Carine bohong.


"Baiklah Carine. Nanti saja kamu bisa bertemu langsung dengan calon kakak iparmu itu. Dua hari lagi mereka akan bertandang ke sini," ucap tuan Franco.


"Baik daddy," santun Carine menahan ledakan kesedihan yang membuat dadanya terasa sesak.


"Daddy. Aku tidak mau menikah dengan siapapun karena aku sudah punya gadis pilihanku sendiri," bantah Orlando yang masih terdengar oleh Carine.


"Orlandooo....!" pekik tuan Franco dengan wajah nyalang.


"Jangan seperti itu Daddy. Kenapa daddy tidak menanyakan pendapatku dulu sebelum mengundang mereka ke mari?" lanjut Orlando.


"Ini sebuah pernikahan bisnis. Kamu tahu sendiri bukan, kerajaan bisnis kita bisa hancur jika kita tidak menjalin hubungan kerjasama dengan bisnis raksasa milik Tuan Anderson White," jelas tuan Franco.


"Mengapa pernikahan ini menjadi sebuah alasan bisnis daddy? Jika aku pernah mengungkapkan perasaanku kepada tuan Anderson tentang putrinya, itu karena Orissa saat itu masih tergolong gadis baik-baik. Sejalannya waktu, gadis itu menjadi liar dan aku tidak suka," sarkas Orlando.


"Lalu apa bedanya denganmu, Orlando? Bukankah kau adalah pria bajingan yang selalu berpindah dari satu wanita ke wanita lainnya sama halnya seperti ibumu itu?" hardik tuan Franco membuat wajah Orlando memerah.


"Dia tidak akan liar jika suaminya tidak harus tidur dengan banyak babi," sarkas Orlando yang sudah mengetahui alasan ibunya selingkuh. Orlando menaiki tangga dan ingin masuk ke kamar Carine.


"Orlando....! Dengar..! Jika kamu tidak menikah dengan Orissa, jangan harap kamu akan daddy ijinkan mengelola perusahaan kita!" ancam tuan Franco.


"Ambil semuanya karena aku tidak butuh perusahaan, daddy," ucap Orlando tidak peduli dengan ancaman ayahnya.


"Dasar anak sialan..!" geram tuan Franco melemparkan gelas ke tembok dengan amarah yang meledak.


Nyonya Adeline yang baru melihat watak keras suaminya terhenyak sambil menutup mulutnya dengan tubuh gemetar. Tuan Franco keluar mencari udara segar di area pantai. Nyonya Adeline menyusul suaminya ke pantai.


"Tolong beresin semuanya ini Lucio!" pinta nyonya Adeline dengan suara lirih.


"Baik nyonya. Tolong jangan kaget karena sifat asli tuan Franco. Tuan memang keras tapi hatinya sangat baik, nyonya," ucap Lucio dengan wajah tertunduk.


Nyonya Adeline hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


Orlando membuka pintu kamar Carine lalu menguncinya. Ia mencari istrinya itu dan melihat pintu balkon terbuka, Orlando segera menghampiri istrinya.


Rangkulan hangat dari tubuh kekar suaminya membuat Carine merasakan kenyamanan. Carine membalikkan tubuhnya dan berlindung di dekapan itu, tempat ternyaman yang ia dapatkan selain ibunya.


"Ayo masuk! Kita tidur sayang!" pinta Orlando seraya menggendong tubuh ramping Carine ala bridal style.


Orlando membaringkan Carine lalu membuka piyama tidur Carine dan menarik selimut menutupi tubuh mereka. Ia juga membuka bajunya hingga tubuh keduanya menyatu tanpa terhalang benang satupun. Carine merapatkan tubuhnya dalam dada suaminya.


"Apapun yang terjadi, istriku hanya kamu. Aku rela meninggalkan semuanya asalkan bisa bersamamu," hibur Orlando.


"Tapi, bukankah daddy orang yang berpengaruh di negara ini, sayang?" tanya Carine penuh keraguan.


"Dengar sayang! saat aku ingin menikahimu, aku sudah memperhitungkan segalanya. Aku punya perusahaan lain di luar negeri yang aku bangun dengan hasil kerja keras aku sendiri. Kita bisa mulai hidup kita di sana. Apalagi kamu juga seorang dokter. Kamu bisa berkerja di klinik kamu sendiri karena aku akan membangunkan klinik untukmu," ucap Orlando.


"Baiklah. Kita lihat saja nanti bagaimana ke depannya. Apakah daddy masih mau memaksaku untuk menikahkan aku dengan gadis itu atau tidak," ucap Orlando.


"Apakah kamu pernah jatuh cinta dengan gadis itu?" tanya Carine.


"Itu hanya cinta monyet. Cinta yang tidak punya komitmen. Aku sudah menemukan cinta sejatiku yaitu kamu baby, Carine Cassandra Caisar," ucap Orlando.


"Temui mereka baik-baik. Lakukan dengan kepala yang dingin. Setiap masalah pasti punya solusi dan aku harap wanita itu mengerti akan posisimu sebagai pria yang sudah menikah," ucap Carine.


"Carine. Aku belum siap memproklamirkan pernikahan kita pada keluarga kita, sayang. Kita bisa lakukan itu perlahan-lahan," cemas Orlando.


"Bukan seperti itu maksudku," bantah Carine.


"Apa rencanamu, baby?" gemas Orlando seraya meremas salah satu bukit kembar Carine yang langsung mendesis.


"Sshhh...!" desis Carine.


"Ajaklah dia kencan dan saat itu Aku akan datang menemui kalian. Kamu harus memperkenalkan aku sebagai istrimu. Masalah selesai. Lagipula dia juga tidak akan mengenaliku. Bukankah sendiri juga pernah terkecoh dengan penyamaranku?" jelas Carine.


"Terus kamu mau mengaku kalau nama istriku Carine sama dengan nama adik tiriku, hmm?" tanya Orlando yang sekarang berpindah tangannya menuju pangkal pahanya Carine.


"Bukan. Kenalkan saja namaku Carrey. Itu nama panggilan kesayangan mendiang daddy kandungku," ucap Carine.


"Cih...! Selain menyamar jadi gadis culun, kamu masih punya nama samaran," Orlando terkekeh mendengar penjelasan istrinya.


"Baiklah baby. Idemu tidak buruk. Itu akan membuatku bisa membungkam Orissa yang mungkin sudah menghasut ayahnya agar menjodohkan aku dengannya," ucap Orlando.


"Aku tidak akan mau berbagi dengan wanita lain karena kamu sudah menjadi hakku seutuhnya," ucap Carine.


"Terimakasih sudah mau mempercayai aku. Jangan ragukan cintaku padamu, Carine. Aku rela kehilangan segalanya, asal bukan kamu," tegas Orlando.


"Anggap saja ini adalah ujian pernikahan kita, sayang. Asal kita kompak, kita bisa lulus dalam ujian ini," hibur Carine bijak membuat Orlando sangat bersyukur dengan sikap Carine yang tidak menerima begitu saja ketidakadilan pada dirinya karena pernikahan rahasia mereka.


"Terimakasih baby atas pengertianmu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau istriku itu wanita lain," ucap Orlando.


"Aku adalah takdirmu. Karena kamu adalah pria penuh masalah makanya Tuhan memilih aku untuk mendampingimu karena wanita lain tidak akan mampu menghadapi masalahmu itu," bangga Carine namun terdengar masuk akal ditelinga Orlando.


"Iya deh. Aku percaya baby," ucap Orlando terkekeh.


Keduanya kembali bercumbu mesra hingga kembali melakukan percintaan panas. Lenguhan dan erangan terdengar riuh di dalam kamar Carine karena Orlando menggempur nya tidak kenal ampun. Mereka tidak kenal waktu saat menikmati percintaan panas itu hingga kesekian kalinya.


Keduanya baru bisa tidur saat menjelang pagi. Jika kamar Carine tidak dipasang alat peredam suara mungkin kamar itu sudah digedor oleh kedua orangtua mereka.


Sekitar pukul depan pagi saat ke-dua orangtua mereka berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing, Orlando dan Carine baru bangun tidur. Orlando yang lebih semangat turun ke lantai bawah untuk mengambil sarapan pagi mereka. Pelayan Lucio sedikit bingung saat memergoki Orlando yang baru keluar dari kamarnya Carine.


"Kenapa tuan Orlando keluar dari kamar nona Carine? Apakah mereka tidur bersama?" tanya pelayan Lucio pada dirinya sendiri yang sempat bersembunyi dibalik pilar saat Orlando menuruni anak tangga.