PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
50. Peran Orlando


Pasangan ini sudah menyelesaikan sesi mandi mereka. Carine masuk ke ruang ganti sementara Orlando menghampiri meja nakas untuk mengambil ponselnya. Ada banyak panggilan dari ibu mertuanya. Orlando meraih ponselnya Carine dan juga mendapati notifikasi pesan selain panggilan yang juga tidak kalah banyaknya.


Orlando membaca pesan itu lalu menghapusnya buru-buru. Ia juga menghapus riwayat panggilan dan kini beralih untuk memblokir nomor kontak ibu sambungnya itu agar tidak menganggu Carine. Orlando menyeringai sinis.


"Hari ini kau telah melukai hati istriku yang sedang mengandung cucumu. Dan sekarang kau butuh dia di saat nyawamu sedang terancam. Kau sama tidak bergunanya seperti daddyku," gerutu Orlando yang ikut menghapus semua riwayat panggilan dan pesan di ponselnya.


Ia juga memblokir nomor kontak ibu mertuanya itu yang ada di ponselnya. Walaupun begitu, Orlando tetap meminta anak buahnya untuk menolong ibu mertuanya itu dengan mengirim lokasi keberadaan ibu mertuanya melalui GPS mobil yang dikendarai oleh nyonya Adeline sendiri.


"Dasar wanita keras kepala...! Sudah tahu banyak pelayan di rumah, kenapa tidak menyuruh mereka yang menyetir? Sekarang rasakan sendiri akibat dari sifat keras kepalamu itu!" umpat Orlando pada ibu mertuanya itu.


Carine keluar dari ruang ganti dengan dress ibu hamil sebatas paha tanpa lengan. Rambutnya di ikat ke atas lalu keluar dari kamarnya untuk memasak.


Ia tidak pedulikan suaminya yang sedang sibuk dengan ponselnya karena ia tahu Orlando masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Orlando hanya melirik istrinya sesaat lalu menghubungi lagi orang kepercayaannya.


"Tolong kabarkan aku kalau ibuku itu tetap aman dalam pengawasan kalian!" titah Orlando sambil mondar-mandir tak karuan.


"Mobilnya masih dipepet oleh dua mobil penjahat. Kami sedang menggagalkan rencana mereka, tuan," ucap anak buahnya.


"Pastikan ibuku tidak terluka atau leher kalian akan terpisah dari kepala kalian!" ancam Orlando lalu menutup ponselnya tanpa ingin mendengar keluhan dari anak buahnya.


"Aku tidak mau istriku terganggu dengan hal-hal pelik yang menyita perhatiannya. Cukup hari ini saja aku melihat aksi heroiknya. Aku tidak mau bayiku mengalami masalah," ucap Orlando.


Beruntunglah pintu unit kamarnya di lapisi baja. Begitu pula dengan kaca jendela kamar dan ruang tamunya semua dipasang anti peluru. Orlando memang mengambil unit kamar tepat di pinggir gedung untuk memudahkan dirinya bisa melihat keadaan di luar gedung.


Selang beberapa menit kemudian, sudah tercium aroma masakan dari dapur membuat Orlando meneguk liurnya.


"Cih... Di dekatku dia menggodaku dengan aroma harum tubuhnya. Sekarang dengan jarak yang lumayan jauh dia bisa menggoda perutku dengan aroma masakannya. Benar-benar istrinya yang sempurna," gumam Orlando segera masuk ke ruang ganti untuk mengenakan pakaian santai yang sudah disiapkan oleh Carine.


Apapun yang disiapkan Carine, Orlando selalu memakainya karena selera berpakaian Carine sesuai dengan pilihannya.


Orlando menghampiri Carine yang masih sibuk dengan peralatan masaknya. Dua tangan Orlando sudah memeluk perut besar Carine dan mengecup pangkal leher istrinya.


"Apakah sudah matang, sayang?" tanya Orlando lalu duduk di kursi dan mencomot buah anggur yang sudah disiapkan Carine di keranjang buah.


"Tunggu lima menit lagi masakannya akan matang. Duduklah dengan manis dan tunggu sebentar lagi aku akan hidangkan," ucap Carine lalu mengeluarkan daging panggang dari tempat panggangan.


"Sini..biar aku saja yang menyiapkannya. Kamu cukup memerintahkan aku bagaimana caranya," tawar Orlando yang melihat Carine cukup sulit untuk menyiapkan tiga menu dalam satu kali masak.


Setelah sudah terhidang, Carine dan Orlando sudah siap mengeksekusi makan siang mereka. Raut wajah Orlando langsung berubah cerah saat merasakan masakan lezat istrinya lagi.


"Ini sangat lezat sayang. Kau selalu saja menakar bumbunya tidak berlebihan dan semuanya pas di lidahku. Masakanmu sudah setara dengan restoran hotel bintang lima," puji Orlando sambil menikmati setiap gigitan daging stiknya itu.


"Habiskan makananmu dan biar aku yang mengambil ponselnya," ucap Orlando.


Orlando melihat panggilan yang merupakan dari Mr. M. Untuk istrinya. Wajah pria tampan itu langsung gusar karena bos FBI ini benar-benar membuatnya darah tinggi.


"Bukankah istriku sudah mengajukan cuti? Apa lagi yang ingin kamu libatkan dengan dia, hah?!" bentak Orlando dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Aku hanya mau bilang ibunya saat ini sedang diawasi oleh kami karena banyak musuh sedang mengincarnya karena mereka sudah mengetahui siapa Carine sebenarnya," ucap Mr.M.


"Tangani wanita itu sesuai prosedur yang berlaku dan jangan libatkan istriku saat ini. Aku hanya ingin istriku tenang menunggu masa-masa persalinan anak kami, apakah kamu mengerti?!" omel Orlando tidak kalah sengit.


"Sialan...! Rupanya dua mobil itu milik orang FBI. Aku harus segera mengabarkan anak buahku untuk mundur. Benar-benar memalukan," ucap Orlando seraya mengambil ponselnya dan mengirim pesan melalui pesan suara.


"Tolong kalian mundur karena mobil itu adalah mobil orang FBI. Ibu mertuaku sudah menghubungi aku," ucap Orlando memberi alasan.


"Oh. Jadi ini hanya sebuah salah paham ya tuan?" tanya salah satu anak buahnya Orlando.


"Iya. Sudah dulu ya..!" Orlando keluar membawa ponsel istrinya. Di luar sana Carine sudah menyelesaikan makan siangnya dan Carine sedang makan potongan buah apel dan pear sebagai pencuci mulut.


"Ada telepon dari Mr. M. Aku sudah menjawabnya agar dia tidak menganggu kamu di masa cuti mu," ucap Orlando seraya menyerahkan ponselnya pada Carine.


Carine hanya mengangkat kedua bahunya dan tidak ingin kepo untuk menanyakan lagi pada Mr. M karena takut Orlando tersinggung. Ia melanjutkan makan makanan penutup.


Sementara itu di luar sana, justru terjadi salah paham antara Mr. M dan Orlando. Justru mobil yang mengejar nyonya Adeline adalah mobil penjahat yang merupakan suruhan Andrew.


Sementara mobil para FBI sudah dilumpuhkan oleh anak buahnya Andrew dengan menembak ban mobil mereka. Karena keadaan anggota FBI itu parah, mereka tidak lagi mengabari Mr. M. Dan bosnya Carine ini merasa kalau nyonya Adeline aman bersama anak buahnya.


Saat mobil nyonya Adeline berhasil di hadang oleh penjahat, wanita paruh baya ini tidak mau turun dari mobilnya. Wajah cantiknya nampak terlihat pucat namun ia sudah menggenggam pistol untuk menembak anak buahnya Andrew.


"Lebih baik aku mati daripada aku ditangkap oleh kalian," ucap nyonya Adeline tidak pedulikan gedoran pintu mobilnya oleh dua orang penjahat yang sudah menembak kaca mobil depan berkali-kali agar bisa hancur namun tetap saja peluru itu terpental.


Dorrr...dorrr...dorr...


Tembakan itu mengenai beberapa orang penjahat yang sedang mengepung mobil nyonya Adeline. Wajah nyonya Adeline berubah berbinar karena ada yang datang menolongnya.


"Apakah itu putriku Carine?" tebak nyonya Adeline menghembuskan nafasnya lembut.


Beberapa menit kemudian, jendela mobil nyonya Adeline kembali di gedor. Tanpa melihat siapa wanita yang ada di samping mobilnya, nyonya Adeline buru-buru membuka pintu mobil itu dan nyonya Adeline begitu kaget melihat wanita itu.


"Kau ..?!" sentak nyonya Adeline.