PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
22. Menculikmu


Carine mendorong tubuh Orlando agar suaminya tidak memaksanya untuk melayani dirinya di saat mereka sedang dalam pengawasan.


"Lepaskan Orlando..! Jangan seperti ini karena caramu itu sama saja merusak kebahagiaan keluarga kita!" pinta Carine dengan nafas memburu karena takut ketahuan oleh kedua orangtuanya mereka.


"Kau istriku. Aku berhak atas dirimu," ketus Orlando.


"Aku sadar akan statusku. Tapi aku juga putri ibuku. Aku tidak mau membuatnya terluka dengan mengkhianati kepercayaannya," ucap Carine.


"Terus kamu maunya aku harus bagaimana? Menerima perjodohan konyol itu, hah?!" geram Orlando.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya berharap kamu tetap santai dan jangan terlalu terbawa dengan amarah menghadapi perjodohan ini. Jika kamu menginginkan aku, tolong jangan lakukan di saat kedua orangtua kita berada di rumah!" pinta Carine.


"Baiklah. Kita pindah ke apartemenku. Rumahmu di sana bersamaku. Dengan begitu aku bisa menyentuh istriku kapan saja aku mau," ucap Orlando.


"Lebih baik kamu pergi duluan saja ke apartemenmu itu, setelah itu aku akan menyusul. Empat jam lagi aku harus ke rumah sakit karena aku harus melakukan operasi pasien malam ini. Aku masih punya waktu bisa bersamamu berapa jam ke depan," ucap Carine.


"Tapi aku tidak bisa keluar dari rumah ini kalau masih ada wanita liar itu di bawah sana," ucap Orlando.


"Gampang. Kamu bisa minggat lewat balkon kamarku dan masuk saja ke mobil aku. Setelah itu aku akan menyusulmu dengan alasan ada panggilan darurat ke rumah sakit," ucap Carine memberi solusi.


"Bagaimana cara turunnya sayang? Tanya Orlando bingung.


"Baiklah. Ikuti aku..!" ucap Carine seraya mengambil perlengkapan saat dirinya melakukan misinya.


Carine mengikat tali ke pinggang Orlando dan juga dirinya setelah memastikan bagian ujung jangkar yang berada di pagar pembatas balkon bisa menahan beban tubuh mereka agar tidak jatuh. Carine melompat duluan lalu diikuti oleh Orlando.


Orlando tersenyum melihat cara istrinya melompat ke bawah dengan sekali hentakan kaki yang terlihat sangat keren. Apa lagi melihat jejak kakinya Carine yang belum sampai menyentuh tanah, Carine sudah lebih dulu melepaskan ikatan tali di pinggangnya lalu meloncat ke tanah.


"Sayang. Kamu sangat hebat. Sudah seperti agen rahasia di film-film action," puji Orlando.


"Memang benar aku agen rahasia FBI, hubby," jawab Carine dalam hatinya.


"Kamu belajar di mana sayang?" tanya Orlando.


"Saat masih belajar ilmu bela diri," bohong Carine.


"Dan sekarang kamu harus ke mobil aku. Tolong jangan banyak berdebat dengan aku. Tunggu aku sepuluh menit lagi. Kita akan berangkat bersama ke apartemen kita," ucap Carine seraya menyerahkan kunci mobil miliknya.


"Tapi bagaimana caramu naik lagi ke atas sana, baby?" tanya Orlando bingung.


"Itu perkara mudah bagiku. Apakah kamu mau lihat?" tanya Carine tersenyum kecil.


"Tentu saja. Kau selalu penuh kejutan," binar Orlando.


Carine Mengambil pistolnya lalu menembak ke atas atap plafon kamarnya di balkon itu. Tali itu terulur dengan cepat menancap ujungnya menembus beton agar pijakannya kuat untuk menarik tubuhnya. Carine lalu menekan tombol pada pistol itu untuk menariknya ke atas membuat Orlando hanya menatapnya kagum.


"Siapa sebenarnya istriku? Apakah dia benar-benar hanya memiliki satu profesi?" batin Orlando yang tidak percaya begitu saja pengakuan Carine dengan menyaksikan sendiri beberapa fakta tentang Carine.


Carine yang sudah berada di atas balkon melambaikan tangannya ke Orlando yang langsung berjalan ke garasi mobilnya.


"Cepatlah berkemas, sayang! Aku tidak mau menunggu lama dirimu," ucap Orlando.


Carine menunjukkan jempolnya lalu membereskan semua peralatan misi rahasianya.


Beberapa menit kemudian Carine sudah rapi dengan pakaian kerjanya siap berangkat ke rumah sakit. Saat menuruni anak tangga, terdengar suara canda tawa di ruang keluarga antara orangtuanya dan tamu mereka. Tawa itu terhenti begitu melihat Carine yang mengenakan jas putihnya.


"Carine. Apakah kamu mau ke rumah sakit?" tanya nyonya Adeline.


"Iya mommy. Ada tindakan darurat. Carine harus segera ke rumah sakit," ucap Carine terlihat buru-buru hingga tak mau banyak basa-basi apa lagi memberikan cipiki cipiki dengan ibunya.


"Maaf Andrew...! aku tidak suka di antar. Nyawa pasienku lebih penting. Aku bisa menyetir mobilku sendiri, ok!" suara Carine sedikit nyaring seakan melarang Andrew agar tidak menganggunya.


"Ok.. Mungkin aku bisa menjemputmu nanti dan kita....-"


"Selamat malam...!" sela Carine tanpa ingin mendengar ocehan Andrew yang terlihat sangat tergila-gila kepadanya.


Carine masuk ke mobilnya dengan tergesa-gesa. Sementara Orlando sudah berbaring di jok belakang. Begitu mobil Carine keluar dari pintu gerbang utama, Orlando berpindah duduk di depan bersama Carine.


"Kenapa lama sekali, baby?" sungut Orlando.


"Manusia purba itu ingin mengantarkan aku," ucap Carine seraya melepaskan kaca mata tebalnya.


"Kenapa kamu tidak menonjok saja wajahnya?" tanya Orlando.


"Daddy bisa mengamuk dan menghukum aku. Nanti saja kalau aku bertemu dengannya lagi di luar," ucap Carine.


"Apaaa...? Jadi kamu berharap bertemu lagi dengan berandalan itu?" kesal Orlando.


"Bukan seperti itu. Dia tidak penting bagiku. Sekarang aku sedang fokus menculik suamiku sendiri dari kediamannya," canda Carine yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri.


Tak pelak, tawa renyah Carine membuat Orlando menjadi makin terangsang melihat wajah cantik istrinya dengan sapuan makeup lembut dipadu lipstik warna nude.


Walaupun dalam keremangan malam, cahaya lampu jalanan cukup menyoroti wajah Carine yang membuat Orlando tidak ingin berbagi dengan siapapun.


"Aku akan melakukan apapun agar tidak ada yang menikmati kecantikanmu melebihi lamanya kedipan mata mereka, baby," batin Orlando yang menjadikan Carine segalanya untuknya.


"Sayang. Apakah kamu tetap akan berangkat ke rumah sakit malam ini?" tanya Carine.


"Iya sayang. Setelah meniduri bayi besar ku," jawab Carine terdengar menggelitik Orlando namun makin membakar gairahnya.


"Aku sulit tidur kalau sudah bersamamu," ucap Orlando.


"Kenapa? Kamu bisa mengalami anemia jika begadang terus," balas Carine.


"Karena kamu terlalu nikmat untuk dilewatkan," jujur Orlando membuat Carine tersipu malu.


"Sudahlah. Jangan terlalu memujiku. Biasanya orang sudah KO usai bercinta karena tubuhnya sudah mendapatkan salah satu zat obat tidur dari sesi percintaan mereka," ucap Carine.


"Itu berlaku pada yang lain tapi tidak denganku," ucap Orlando.


"Tapi aku harus ke rumah sakit. Ini sudah bagian dari tugasku dan sumpahku. Tolong maafkan aku sayang!" pinta Carine atas pengertiannya Orlando yang hanya bisa mengangguk pasrah.


"Di mana apartemenmu, Orlando?" tanya Carine saat mereka sudah cukup jauh dari kediaman mereka di pantai tadi.


"Dekat dengan rumah sakitmu," jawab Orlando dengan menyebutkan nama gedung apartemennya.


Carine menambah kecepatan mobilnya melewati setiap mobil pengendara lain yang dirasanya menghalangi jalannya. Orlando cukup kaget dengan cara Carine yang menyetir terlihat sangat keren mengambil setiap celah jalanan diantara mobil lainnya.


"Carine. Siapa kau sebenarnya sayang?" tanya Orlando membatin.


Tiba di apartemen, Carine sudah berubah menjadi istrinya Orlando yang terlihat manja dalam gendongan suaminya. Dia tidak segan bercumbu dengan suaminya saat mereka sudah berada di dalam lift walaupun ada satu atau dua orang penghuni apartemen yang masuk ke lift bersama mereka.


Tiba di kamar unit apartemennya, Orlando tidak bisa lagi menunda hasratnya. Dalam sekejap, tubuh Carine sudah polos dengan pakaian sudah berantakan di lantai ruang tamu. Orlando membawa wanitanya dengan tubuh polos itu ke dalam kamarnya untuk kembali berbagi peluh.


Kalau sudah seperti ini, Carine harus bisa mengimbangi permainan suaminya yang selalu memberinya kepuasan yang membuatnya selalu menagih. Carine bisa melupakan segalanya jika sudah berada dalam kungkungan suaminya.