PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
53. Kau...!


Pelayan Lucio menceritakan apa adanya pada nyonya Adeline karena bagaimanapun juga anak dari Orlando dan Carine adalah cucu kandungnya yang tak bisa terbantahkan.


Lagipula Nyonya Adeline sudah mengetahui status Orlando yang bukan putra kandungnya tuan Franco.


"Jadi cucuku sudah lahir?" senyum nyonya Adeline terbit bahagia.


"Iya nyonya. Sekitar pukul 11 malam. Itu yang saya dengar dari asisten Wizz," ujar pelayan Lucio menceritakan apa yang ia ketahui.


"Kalau begitu siapkan sarapan pagi untuk putriku. Biar aku sendiri yang akan mengantarkan sendiri untuk mereka. Aku ingin melihat cucuku," ucap nyonya Adeline kembali dengan keangkuhannya namun wajahnya menyiratkan berbeda karena bahagianya yang dirasakannya saat ini.


"Baik nyonya."


Pelayan Lucio meminta chef Lukas untuk memasak makanan sehat untuk ibu yang melahirkan dan juga makanan kesukaannya Orlando.


Dalam beberapa menit kemudian, nyonya Adeline sudah rapi dan pelayan sudah membawa masuk makanan untuk pasangan bahagia itu ke dalam mobil mewah nyonya Adeline untuk pasangan yang di unit apartemen mewah di sana.


Mobil sudah siap meluncur yang disetir sendiri oleh pelayan Lucio yang ingin ikut menjenguk putranya Orlando. Baru saja mobil itu meluncur ke pintu gerbang keluar tiba-tiba saja ada mobil lain yang langsung menghadang pintu keluar.


Pelayan Lucio segera menginjak rem mendadak membuat tubuh nyonya Adeline sedikit terpental ke depan walaupun wanita paruh baya itu sudah mengenakan sabuk pengamannya.


"Apakah kamu mau membunuhku, hah?!" bentak nyonya Adeline dengan wajah memerah dan jantungnya hampir copot karena kaget.


"Maaf nyonya. Ada mobil lain yang sedang menghalangi mobil kita," ucap pelayan Lucio.


Nyonya Adeline yang trauma dengan penghadangan oleh anak buahnya Andrew bulan lalu seketika gemetar ketakutan. Namun pelayan Lucio cukup lega saat melihat seorang wanita yang sedang menurunkan kaca mobilnya melihat ke arah mereka.


"Itu nyonya Cole, nyonya," ucap pelayan Lucio.


"Mau apa lagi wanita itu menggangguku?" gerutu nyonya Adeline segera turun dari mobilnya menyampari nyonya Cole yang juga ikut turun dari mobil itu.


"Aku tidak mau keluar dari rumahku sebelum ada kejelasan secara hukum," ucap nyonya Adeline sebelum dilabrak oleh besannya itu.


"Setidaknya kamu harus keluar dari rumah itu karena rumah itu dalam sengketa saat ini. Itu baru adil," ucap nyonya Cole.


"Aku tidak akan pernah keluar dari rumahku. Selama ini kamu ke mana saja, hah?! Sekarang suamiku tertangkap dulu, kamu baru repot menyerangku meminta aku meninggalkan rumah itu. Jangan harap aku akan pergi dari rumahku.


Dasar wanita aneh..! Minggir kamu...! Aku ingin melihat cucuku yang baru lahir semalam," usir nyonya Adeline yang lupa kalau cucunya itu adalah cucunya nyonya Cole juga.


"Apa ..?! Aku sudah punya cucu? Jadi cucuku sudah lahir? Kalau begitu aku ikut kalian," ucap nyonya Cole sumringah.


"Percaya diri sekali kamu? Apakah kamu lupa kalau saat ini putramu Orlando tidak menyukai sama sekali dirimu?" ledek nyonya Adeline dengan senyum smirk.


Nyonya Cole meneguk salivanya dengan kasar. Keberaniannya menciut. Wajahnya tak lagi seangkuh tadi. Hatinya meringis kesakitan.


Sudah belasan tahun ia meninggalkan putranya tanpa mau tahu keadaan putranya namun itu bukan kesalahannya karena tuan Franco yang mencuci otak putranya untuk membenci dirinya.


"Kau tidak lebih dari seorang ibu yang menyedihkan yang ingin mendapatkan perhatian putramu padahal kau sendiri sudah membuangnya selama ini," sarkas nyonya Adeline.


"Diam kamu..! Kamu tidak tahu apapun tentang permasalahanku. Lagipula apa yang terjadi pada hidupku itu adalah urusanku, berengsek..!" maki nyonya Cole lalu masuk lagi ke dalam mobilnya.


Ia meminta sopirnya untuk meninggalkan tempat itu. Sementara mobil nyonya Adeline kembali bergerak menuju apartemen Orlando.


Pelayan Lucio bersikap netral pada kedua wanita itu. Baginya tidak ada keuntungan apapun membela salah satunya karena keduanya sudah memiliki keterikatan sebagai besan.


"Kenapa wanita itu datang-datang merusak pagiku?" gerutu nyonya Adeline yang merasa sangat malu karena tidak tahu jika rumah itu menjadi sengketa antara mantan suami istri itu.


...----------------...


Di dalam unit apartemennya Orlando sudah terdengar suara tangis bayi yang mewarnai hari-hari mereka seperti di awal pagi ini.


Aroma nuansa bayi begitu pekat dan menenangkan membuat rasa kasih kepada bayi tampan itu makin terpikat. Saat ini suster Megan sedang mengenakan pakaian pada baby Kenan sebelum di serahkan kepada sang ibu.


Walaupun Orlando sudah membuat roti bakar keju coklat dan susu untuk Carine, namun istrinya masih membutuhkan makanan lainnya sebagai nutrisi tambahan untuk dirinya sebagai ibu yang menyusui.


"Jam berapa kamu mengantarkan pesananku? Ini sudah hampir jam 9 pagi," kesal Orlando.


"Sebentar lagi akan tiba, tuan. Tunggu saja tuan..!" ucap asisten Wizz.


Ting...tong...


"Pasti itu dia," ucap Orlando buru-buru membuka pintu untuk orang suruhan Wizz.


Tanpa melihat tamunya, Orlando segera menarik gagang pintu dan seketika wajahnya tersentak melihat ibu mertuanya dan pelayan Lucio sudah berdiri di depan pintu unit apartemennya.


"Mommy.. !" tegur Orlando hampir tenggelam suaranya karena terkejut.


"Apakah kami boleh masuk?" tanya nyonya Adeline mencoba menahan gugupnya.


Orlando tidak menjawab namun pintunya dilebarkan olehnya pertanda ia menerima kedatangan ibu mertuanya itu. Nyonya Adeline masuk diikuti oleh pelayan Lucio yang segera membawa makanan untuk pasangan bahagia itu ke dapur.


"Siapa yang datang Orlando..?" tanya Carine sambil menggendong bayinya menuju ruang tamu.


Belum sempat Orlando menjawab pertanyaan Carine, nyonya Adeline menatap wajah putrinya penuh dengan rasa haru.


"Mommy..!"


"Sayang...!"


Nyonya Adeline mendekati putrinya lalu memeluk putrinya dan keduanya menangis bersama. Orlando dan pelayan Lucio hanya bisa menyaksikan adegan haru itu.


"Betapa ajaibnya seorang bayi bisa menyatukan hati yang membatu dan sekarang bisa melumer karena cintanya," lirih pelayan Lucio.


Carine memberikan baby Kenan pada ibunya yang menyambut penuh sukacita.


"Astaga. Dia sangat tampan sekali..! Hallo sayang..! Ini Oma kamu. Maafkan Oma ya sayang...!" ucap nyonya Adeline yang masih meneteskan airmata haru.


Ia mengecup pipi lembut itu yang langsung menggeliat. Orlando meminta Carine untuk sarapan dulu bersama dengannya.


"Sayang. Temani aku sarapan...! Biar mommy yang mengurus cucunya," datar Orlando yang masih sakit hati dengan nyonya Adeline.


Pelayan Lucio melayani keduanya di meja makan. Carine tersenyum pada pelayan Lucio yang memberinya selamat.


"Selamat menjadi ibu, nona. Aku senang dan bangga dengan kehadiran si tampan di keluarga ini," ucap pelayan Lucio tulus.


"Terimakasih Lucio...!" ucap Carine.


Keduanya menikmati sarapan pagi bersama penuh kenikmatan..Carine terlihat sangat lahap. Padahal sebelumnya Carine selalu menjaga porsi makannya. Mungkin karena menyusui jadi ia membutuhkan makanan yang lebih dari porsi biasanya.


Ting... tong...


Bel pintu kembali berbunyi. Orlando dan Carine reflek melihat ke arah pintu utama. Pelayan Lucio ingin membukanya namun dicegah oleh Orlando.


"Biar saya saja yang membukanya Lucio..!" pinta Orlando seraya beranjak dari duduknya menuju pintu utama.


"Mungkin itu dokter Maya," pikir Orlando.


Saat pintu di tarik olehnya seketika mata Orlando melebar dengan mulut setengah terbuka.


"Kau...!"