
Carine berjalan cepat menyusul suaminya yang entah hilang ke mana. Langkahnya mengikuti instingnya sambil sesekali menengok kiri kanan berharap ia melihat sosok tampan itu yang saat ini sedang dikejar rasa bersalah pada ibu kandungnya.
Langkahnya terhenti di taman saat melihat Orlando duduk dibangku taman agak terlindungi oleh rimbunan pohon bunga menghadap air mancur.
Udara dingin menyusup ke dalam mantelnya yang dibiarkan terbuka karena hawa panas menyergap hatinya yang sulit mendingin karena terbakar api dendam yang mulai berkobar untuk menghabisi dua pria yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
"Mommy. Maafkan aku...!" gumamnya sambil sesekali menyeka air matanya.
Carine melangkah perlahan dan memeluk leher kokoh itu dari belakang. Ia mengecup pipi itu agak dalam lalu menempelkan pipinya dengan posisi masih memeluk leher suaminya dengan kedua tangannya.
Orlando memegang lengan istrinya sambil menangis. Hatinya merasakan kepiluan mendalam saat ini. Carine ikut duduk disamping suaminya. Orlando merebahkan kepalanya dipangkuan Carine.
"Aku terlalu jauh berjalan hingga lupa dari mana asalku hadir di dunia ini. Mengikuti emosi dengan pikiran yang masih belia hingga membentuk asumsi sendiri bahwa ibuku tidak lebih dari seorang wanita murahan tanpa ingin menkonfirmasi kebenarannya setelah aku sudah cukup dewasa untuk mengerti situasinya saat itu.
Aku tenggelam dengan permasalahanku sendiri dengan mencari ketenangan di mana tempat yang bisa membuat aku lupa akan kesedihanku hingga aku menemukanmu. Tapi, lagi-lagi aku tertipu dengan mataku saat aku melihat pancaran ketulusan cintamu dari matamu saat kita masih kuliah dulu," tutur Orlando yang dipahami Carine.
"Jangan pernah merasa bersalah atas ketidaktahuan kamu saat itu. Situasi yang sengaja diciptakan oleh Franco untuk menggiring opinimu pada mommy agar kamu tidak meninggalkan dirinya karena ia tidak bisa memiliki keturunan setelah dinyatakan mandul oleh dokter.
Itulah mengapa ayahmu mempercayai ibumu mengandung anaknya bukan anaknya Franco," tutur Carine yang sudah mengetahui isi cerita itu dari pelayan Lucio.
"Aku sangat membencinya Carine. Bahkan aku ingin membunuh kedua bajingan itu," geram Orlando yang tidak bisa lagi menampung amarahnya.
"Kematian bajingan seperti mereka tidak layak dengan dibunuh. Mereka harus merasakan penderitaan kamu dan mommy alami hingga mereka dibuat menyesal telah menghancurkan hidup kalian berdua," ucap Carine menasehati suaminya.
"Bagaimana caraku membalas mereka, sayang?" tanya Orlando belum mengerti dengan saran dari istrinya.
"Ambil semua apa yang mereka miliki. Bahkan kuasa ayahmu yang saat ini berada dipenjara bisa kamu patahkan agar dia tidak bisa memerintahkan orang-orangnya di luar sana yang ia ia bisa perintahkan dari dalam penjara untuk mengawasi kamu yang saat ini sedang menjalankan perusahaannya," ucap Carine.
"Maksudmu, penjara belum bisa menghentikan pengaruh ayahku untuk menciptakan keonaran?" tanya Orlando yang baru tahu sepak terjang ayah tirinya itu.
"Uang bisa mengendalikan semua orang. Sekalipun dia berada di lubang semut, Franco masih bisa melakukan apapun untuk menunjukkan kekuasaannya pada semua orang dengan bekerjasama dengan oknum pejabat terkait yang ikut makan dengan bisnis haramnya," tutur Carine.
"Jadi kamu tahu semuanya tentang permainan kotornya dari dalam penjara?" heran Orlando yang tidak menyangka Carine masih mengikuti kejahatan ayah tirinya mereka.
"Begitulah. Tapi, dia tidak akan berkutik jika kamu mengambil alih apa yang dia miliki secara hukum. Baik itu bisnis kotornya maupun bisnis bersihnya," ucap Carine.
"Bagaimana caranya kita mengetahui bisnis haramnya itu masih menghasilkan uang?" tanya Orlando.
"Badan intelijen Amerika telah mendapatkan semua bukti transaksi di bank dunia atas nama Franco dan White. Dengan memindahkan uangnya ke rekeningmu, maka Franco tidak bisa lagi memerintahkan orang-orangnya di luar sana untuk menjalankan perintahnya karena m-banking miliknya telah dibekukan oleh bank dunia," jelas Carine.
Kesedihan Orlando seakan terobati setelah mendapatkan ide cemerlang dari istrinya. Walaupun ia tidak menunjukkan ekspresi bahagianya secara nyata, namun ia merasa bisa menebus waktu yang hilang itu dengan memperbaiki keadaan.
Orlando menegakkan kembali tubuhnya. Semangatnya kembali membara seakan ion tubuhnya yang hilang digantikan dengan seorang Carine yang menjadi apa saja yang dibutuhkan suaminya saat ini.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu, baby," ucap Carine sambil tersenyum pada suaminya yang masih memasang wajah datarnya.
"Apakah milikmu belum sembuh sayang?" tanya Orlando yang tidak kuat lagi menahan dirinya untuk melakukan penyerbuan di lorong sempit istrinya pasca melahirkan.
Dreeeettt...
Ponsel Carine berderit kencang menghentikan cumbuan panas mereka. Carine melihat panggilan dari suster Megan.
"Hallo suster! Ada apa?" tanya Carine sambil mendengar tangis putranya.
"Baby Kenan haus dokter. Stok ASI miliknya sudah habis. Jadi,...-"
"Baiklah. Kami pulang sekarang," sela Carine lalu bergegas berdiri.
"Ayo pulang sayang! Alarm hidup kita sudah memanggil. Kita sudah punya si kecil jadi tidak bisa bebas bertindak sesuka hati," ucap Carine sambil tersenyum pada suaminya yang terlihat kesal.
"Iblis kecil itu benar-benar mencuri perhatian ibunya dariku. Awas saja kalau kamu mengerjai ku, baby," batin Orlando seraya menjalankan mobilnya.
Carine dan Orlando bergegas menuju lift apartemen karena begitu gelisah dengan tangisan si kecil yang membuat mereka tidak enak meninggalkan si kecil terlalu lama.
Pintu unit kamar itu dibuka buru-buru oleh Carine dan melihat putranya sudah ada di ruang tamu bersama suster Megan yang serba salah mendiamkan bayi tampan itu.
Baby Kenan memang tidak diperkenankan untuk minum susu formula karena usianya belum cukup untuk meneguk susu sapi itu. Lagi pula Carine memang ingin memberikan ASI eksklusif untuk putranya itu.
"Uhh...sayang. Maafkan mommy ya karena kelamaan tinggalin, baby Kenan," ucap Carine sambil meraih putranya dari gendongannya suster Megan.
Tangis bayi itu langsung reda begitu mencium aroma tubuh sang ibu membuat Orlando tersenyum geli.
"Sial...! Dia sudah hafal dengan aroma tubuh ibunya. Awas saja kalau nanti waktuku berdua dengan ibumu kamu ganggu juga.
Sekarang aku mengijinkanmu mengusai ibumu karena bendera belum dikibarkan untuk boleh mendekatinya, boy," batin Orlando yang harus puasa menahan hasratnya satu pekan lebih ini.
Carine membawa baby Kenan ke dalam kamarnya. Orlando meminta pelayannya untuk mengantar makanan ringan untuk mereka. Suster Megan kembali ke dalam kamarnya dengan perasaan lega.
Orlando pergi ke balkon kamarnya untuk menghubungi asisten Wizz. Ia meminta asistennya itu untuk ke bank besok agar membekukan rekening milik ayah tirinya itu. Baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri yang ia ketahui. Selebihnya Carine yang lebih tahu bank mana saja yang menjadi tempat penyimpanan uang dan barang berharga lainnya milik Franco.
Sementara di rumah sakit tempat tuan White di rawat, lelaki ini harus berhadapan dengan istrinya nyonya Bella yang sudah mengetahui perbuatan suaminya yang bejat.
Dengan membawa perasaannya yang terluka ia harus melakukan sesuatu pada ayah dari anaknya ini.
"Pria sialan...! Kau hanya pria kecil gelandangan yang diangkat ayahku sebagai anak buahnya dan mengusai separuh hartanya. Tapi apa yang kamu lakukan? Kau sangat menjijikkan seperti tempat asalmu berada sebelumnya.
Besok kau harus menadatangani surat perceraian kita dan semua perusahaan milikmu akan dikembalikan kepadaku sesuai perjanjian kamu dan ayahku saat kita menikah dulu bila kamu ketahuan selingkuh," sarkas nyonya Bella sengit.
Deggggg....
"BELLA...!" bentak tuan White menahan sakit pada pundaknya.