
Mr. M baru mengetahui kalau Carine saat ini sedang hamil. Itu berarti gadis itu tidak bisa menjalani misi yang berat. Namun Mr. M tetap meminta gadis ini melakukan penyamaran untuk mendekati seorang mafia.
Kini Carine sudah berada di negara Denmark. Negara terbersih urutan pertama di dunia. Carine ingin bekerja di perusahaan besar milik seorang mafia yang bernama tuan Smith.
Usia Tuan Smit yang masih relatif mudah menurut Carine. Usianya yang sudah menginjak 30 tahun namun masih lajang. Hanya saja pria ini terlalu serius dalam menekuni bisnisnya hingga tidak memikirkan wanita dalam hidupnya.
Di otaknya hanya tecertak uang hingga orang-orang disekitarnya menilai pria ini memiliki kelalaian orientasi se*sual karena satu wanita seksi dan cantik manapun tidak menarik minatnya untuk memiliki salah satu dari mereka.
Tapi mengenai postur tubuh dan ketampanan, jangan ditanya karena setiap kali kakinya melintas di depan kaum hawa semuanya hanya bisa menatap terpaku pada visual sempurna itu namun tidak bisa tebar pesona karena tidak mempan untuk digoda.
Carine yang jenius ingin melamar menjadi sekertarisnya tuan Smith. Kebetulan tuan Smith baru kehilangan sekertarisnya karena kecelakaan.
Entah sengaja dilenyapkan karena sudah banyak mengetahui kejahatan tuan Smith atau memang murni kecelakaan, hanya tuan Smith yang bisa menjawab itu.
"Apakah kamu sudah punya pengalaman menjadi seorang sekertaris perusahaan besar seperti perusahaan ini?" tanya tuan Melendez yang merupakan asistennya tuan Smith yang saat ini sedang melakukan wawancara dengan Carine.
"Saya rasa saya tidak perlu menjawab pertanyaan anda tuan karena semuanya sudah tercantum di cv yang saya kirim melalui email perusahaan," ujar Carine karena data pengalaman kerjanya sebagai sekertaris sudah direkayasa oleh FBI.
"Saya hanya ingin memastikan saja secara langsung pada anda. Kalau begitu kita lanjutkan mengenai data pribadi anda. Apakah anda masih singel atau sudah berkeluarga?" tanya tuan Melendez.
"Saya baru pisah dengan suami saya dan saat ini sedang hamil," jujur Carine.
"Baiklah. Itu terserah sama bos yang menentukan sendiri siapa yang pantas menjadi sekretarisnya. Aku tidak bisa memberi keputusan untukmu. Tunggu saja kabar selanjutnya dari kami via email atau telepon," ucap tuan Melendez.
"Baik Tuan. Terimakasih!"
Carine beranjak keluar dari ruang kerja tuan Melendez. Saat memasuki lift Carine berpapasan dengan tuan Smith. Walaupun sudah mengenali wajah tuan Smith, Carine harus berpura-pura di depan tuan Smith dengan bersikap cuek karena tuan Smith juga berwajah datar.
Carine sibuk memainkan ponselnya. Tuan Smith memperhatikan wajah Carine lalu tidak sabar juga akhirnya menegur Carine.
"Apakah kamu anak magang di sini?" tanya tuan Smith membuat Carine mengangkat wajahnya.
"Maaf tuan ! Apakah anda sedang bicara dengan saya?" tanya Carine terlihat bloon.
"Apakah ada orang lain selain kita berdua di sini?" tanya tuan Smith.
"A.. iya. Maaf tuan," ujar Carine cengengesan.
"Lalu...?" menunggu jawaban Carine selanjutnya.
"Aku baru selesai interview. Selebihnya tunggu keputusan dari bos besar. Itu yang dikatakan oleh asistennya tadi," ujar Carine.
"Sangat mau tapi aku ragu apakah tuan Smith terima atau tidak dengan keadaan aku yang sedang hamil muda." Memasang wajah sendu.
"Apakah suamimu pengangguran?" tanya tuan Smith.
"Kami sudah pisah karena perbedaan prinsip," ucap Carine.
"Ok."
Pintu lift terbuka tepat di lantai satu. Carine berjalan dengan anggun membuat tuan Smith menatapnya sesaat.
"Semoga aku yang kau pilih tuan Smith," harap Carine membatin.
Sudah sepekan dia berada di Denmark. Entah mengapa ia merasakan kerinduan yang mendalam pada Orlando. Sambil menunggu masakannya matang, Carine bicara sendiri pada anaknya. Carine yang harus mengganti namanya menjadi Carrey. Nama kecilnya yang sangat ia sukai.
"Sayang. Apakah kamu merindukan Daddymu?" tanya Carine sambil mengelus perutnya yang lebih menonjol saat ini. Usia kandungannya yang sudah memasuki tiga bulan.
Sementara itu, di ruang kerjanya tuan Smith pria tampan itu memeriksa berkas lamaran milik dua kandidat calon sekretarisnya berupa cv yang sudah di seleksi oleh asisten Melendez.
Melihat wajah cantik Carine, tuan Smith langsung suka pada kepribadian Carine yang menurutnya sangat humble. Cuek tapi menarik dan apa adanya. Asisten Melendez menunggu dengan sabar saat tuan Smith sedang menimang-nimang kedua calon sekretarisnya itu yang sama-sama cantik dan cerdas. Tapi, menurutnya yang menarik tetap saja Carine.
"Pilih wanita ini saja. Aku menyukainya," ucap tuan Smith.
"Tapi dia sedang hamil Tuan."
"Tidak masalah. Dia tidak mungkin akan hamil selamanya." Aku suka dia. Tidak tebar pesona seperti gadis-gadis nakal yang berusaha merayuku. Mereka sangat menjijikkan," ucap tuan Smith.
"Baik tuan. Kapan dia boleh bekerja di perusahaan ini?" tanya asisten Melendez.
"Mulai besok pagi dia harus sudah bekerja di sini. Berikan gaji dua kali lipat dari permintaannya karena saat ini dia sedang hamil dan hidup sendiri," titah tuan Smith.
"Hah...?! Sejak kapan tuan Smith perduli pada wanita apalagi wanita hamil. Dan dari mana tuan Smith mengetahui kalau wanita itu sudah pisah dengan suaminya?" tanya asisten Melendez membatin.
Keesokan harinya, Carine sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Karena profesi sebagai sekertaris, tentu saja Carine tetap tampil anggun dengan pakaian yang tampil sangat sopan hingga tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Beberapa menit kemudian dengan mobilnya Carine sudah bersaing dengan para pengendara lain menuju tempat kerja mereka.
Tiba di perusahaan tuan Smith, Carine langsung disambut oleh asisten Melendez.
"Silahkan ikut aku nona Carey...!" titah asisten Melendez.
"Baik."
"Itu ruang kerjamu ada di depan ruang kerja tuan Smith. Sekarang kamu harus menemui tuan Smith untuk menerima beberapa instruksi dari beliau. Kamu mengerti?" tanya asisten Melendez.
"Sangat mengerti," malas Carine.
Pintu dibuka. Keduanya masuk bersamaan dan tuan Smith langsung tersenyum pada Carine membuat mata asisten Melendez membelo.
"Hah....?! Emang nggak salah tuan Smith langsung tersenyum pada wanita?" sentak asisten Melendez yang tidak pernah melihat tuannya tersenyum lepas seperti saat ini.
"Apa kabar nona! Masih ingat aku?" tuan Smith menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Carine.
"Apakah tuan yang kemarin bertemu dengan saya di pintu lift?" Apakah anda sangat mengenal tuan Smith pemilik perusahaan ini?" tanya Carine penuh drama pada tuan Smith yang hanya mengangguk.
"Benar sekali."
"Syukurlah. Aku mengira tuan orangnya sulit untuk didekati ternyata tuan sangat peduli dengan wanita seperti saya," ucap Carine dengan dramanya walaupun ia sendiri sangat mengenal sosok seperti apa tuan Smith itu.
"Duduklah..! Aku ingin ⁰minta bantuanmu untuk bertukar tempat dengan Melendez. Kamu aku⁰ angkat menjadi asistenku saja," ucap tuan Smith membuat Carine dan asisten Melendez terkejut.
"Hah...di tukar?" sentak asisten Melendez namun Carine tidak peduli..