PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
65. Kritis


Orlando langsung mendatangi rumah sakit tempat istrinya bekerja di rumah sakit itu. Carine saat ini sedang ditangani oleh rekan seprofesinya. Mereka harus melakukan operasi pada punggung Carine di mana tiga peluru bersarang di tempat tersebut.


"Bagaimana keadaan Carine?" tanya Orlando ketika sudah bertemu dengan bos istrinya tersebut.


"Keadaannya kritis. Tadi sempat henti jantung dan sekarang sudah mulai lancar lagi. Baru kali ini Carine tertembak. Selama ini ia hanya mengalami luka lebam dan goresan pada beberapa sisi tubuh dan wajahnya dari percikan kaca jika sedang bertarung dengan musuhnya," jelas Mr. M.


"Sampai kapan kalian terus memanfaatkan nyawa istriku atas nama negara? Tidakkah kalian bisa membebaskan dia dari tugas bodoh ini?" geram Orlando menatap tajam wajah Mr. M dengan amarah yang membuncah.


"Itu sudah pilihannya dan sumpah jabatan yang ia terima saat terpilih sebagai agen rahasia FBI. Dia harus siap dengan konsekwensinya. Kematian adalah bagian dari sumpah itu.


Dan kau tidak bisa ikut campur dalam urusan negara karena kamu menikahi agen kami saat dia sudah menjadi agen rahasia kami. Jadi, jangan protes untuk hal apapun," ketus Mr. M.


"Berengsek...!" maki Orlando yang tidak bisa lagi membela hak istrinya.


Ia juga tidak bisa menuntut banyak karena Carine bagian dari aset negara itu. Hidup dan matinya hanya untuk negara jika ingin disebut anak bangsa.


Di dalam kamar operasi sana, dokter tampak dibuat jantungan oleh Carine. Pasalnya tekanan darah dan pacu jantung Carine selalu tidak stabil membuat mereka harus berulang kali memacu jantung Carine. Kadang menggunakan kedua tangan mereka, kadang harus memberi rangsangan dengan alat pacu jantung atau alat kejut jantung.


"Carine...! Bertahanlah..! Karena kami butuh waktu untuk mengangkat satu peluru lagi di punggungmu. Ingat anakmu..! Dia masih terlalu kecil untuk kamu tinggalkan," lirih dokter Kellen


"Suster Megan meneteskan air matanya dibalik maskernya. Ia tidak sanggup melihat sahabatnya ini harus berakhir di meja operasi.


"Ijinkan suaminya bicara dengannya dokter Kellen..! agar kita tidak kehilangan dia...!" pinta suster Megan yang sangat yakin kalau Carine saat ini lebih membutuhkan dukungan suaminya.


"Baiklah. Minta suaminya bicara melalui interkom. Suaminya tidak bisa masuk ke ruangan ini karena sedang steril," ucap dokter Kellen.


"Bukankah dokter Kellen yang lebih berhak untuk bicara dengan walinya pasien?" ucap suster Megan.


"Baiklah."


Dokter Kellen menemui Orlando yang sedang duduk di lantai sambil membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.


Cek...lek..


Orlando mengangkat wajahnya melihat sosok dokter Kellen yang melihat ke arahnya.


"Tolong ikut denganku tuan Orlando..! Kami butuh bantuanmu saat ini," ucap dokter dokter Kellen.


"Ada apa dengan istriku?" gugup Orlando.


"Jantungnya makin melemah. Kami terpaksa menghentikan operasinya. Tolong bicara padanya melalui interkom ini..! Suaramu akan terdengar di ruang operasi," pinta dokter Kellen.


Orlando melihat layar monitor di mana istrinya sedang menjalani operasi dengan tubuh telungkup. Ia mendekatkan bibirnya pada mikrofon yang tersambung ke interkom di dalam kamar operasi itu.


"Baby. Aku selalu melewati setiap kesulitan di dalam hidupku dan itu kadang berhasil dan sering juga gagal untuk bisa memaafkan masa laluku yang hancur hingga kamu datang dalam hidupku.


Kamu menipu penglihatanku dengan wajahmu yang jelek, tapi aku baru tahu ternyata kamu sangat cantik dibalik gaya culun mu. Aku telah terkecoh dengan penampilanmu yang aneh.


Menyadari kamu memiliki segalanya yang ku butuhkan dari dirimu membuat aku mengerti bukan kecantikan fisik yang selama ini aku cari pada wanita manapun, tapi ketulusan hati, kejujuran jiwa dan kasih sayang yang tak terbatas hingga keberanian dan kehormatanmu membuat aku bertekuk lutut pada sosok Carine, ibu dari putraku Kenan.


Jangan membuat aku kehilangan arah setelah aku tahu jalan pulang dan kau adalah rumahku tempat aku kembali. Kau adalah rumah itu Carine. Kaulah rumahku sebenarnya, baby saat pertama kali aku menyentuhmu."


Untaian kalimat Orlando menyentuh para wanita yang ada di kamar operasi itu. Mereka ikut menangis pada kalimat terakhir Orlando bahwa rumah sebenar untuk dirinya adalah pelukan cinta kasih sayang hanya Carine untuknya.


"Oh manisnya ucapan itu," lirih dokter Kellen sambil menitikkan air matanya.


"Dokter Kellen...! Lihatlah.. diagram jantung dokter Carine kembali stabil," ucap dokter Micel.


"Ayo kita teruskan operasinya..!" titah dokter Kellen pada timnya setelah memastikan semua organ vital Carine kembali normal.


"Ternyata idemu sangat brilian suster Megan," puji dokter Kellen pada asistennya Carine itu.


"Begitulah cara dokter Carine melunakkan besi baja hati suaminya yang terkenal playboy itu," ucap suster Megan yang sangat tahu kisah percintaan Carine dan Orlando.


Tidak lama kemudian, mereka berhasil mengangkat proyektil peluru yang terakhir dari tubuh Carine.


"Dokter Hedi. Tolong jahit lukanya...!" titah dokter Kellen kembali menemui Orlando yang duduk di depan kamar operasi.


"Siap dokter."


Pintu kamar operasi itu kembali terbuka. Orlando menanti ucapan dokter Kellen dengan perasaan was-was.


"Bagaimana keadaan Carine dokter?" tanya Orlando diikuti Mr.M.


"Dokter Carine sudah melewati masa kritisnya. Sebentar lagi dia akan dipindahkan oleh suster ke ruang observasi sebelum di pindahkan ke ruang rawat inap," ucap dokter Kellen.


"Oh syukurlah. Terimakasih dokter..!" ucap Orlando menarik nafas lega.


Orlando memeluk Mr.M dan menangis di dalam pelukan wanita berusia 55 tahun itu.


"Selamat Orlando. Aku yakin Carine tidak akan pernah menyerah. Dan dia tidak akan mati semudah itu," ucap Mr.M menepuk punggung Orlando.


"Mr. M. Tolong lihat ini sebentar..!" pinta anak buahnya Mr. M seraya menyerahkan ponselnya.


"Ada apa?" heran Mr.M memperhatikan tayangan berita pagi itu.


"Tuan Meldosa yang membawa helikopter FBI ternyata menjadi tranding topik pagi ini. Ia dianggap pahlawan karena menyelamatkan nyawa jutaan masyarakat Amerika dari bom itu," ucap anak buahnya Mr. M.


"Apaaa...? Bukankah seharusnya dia mati bersama dengan bom itu?" tanya Mr. M sambil melihat tayangan berita pagi itu.


"Sebelum bom itu meledak, tuan Meldosa berhasil turun dari helikopter dengan paralayang dan tim SAR berhasil menyelamatkan dirinya saat ia jatuh di permukaan laut."


"Permainan bodoh apa lagi yang ditunjukkan oleh pria idiot itu?" maki Mr. M yang merasa jika tuan Meldosa telah mengerjai dirinya dengan rencana yang sangat licik.


"Semua masyarakat Amerika mengelu-elukan tuan Wizzy Meldosa dan saat ini dia sedang di bawa ke rumah sakit yang sama dengan nona Carine."


"Rupanya ini rencana dia yang telah mempersiapkan dirinya untuk mendulang simpatik masyarakat Amerika agar masyarakat Amerika memilih capres yang diusung oleh partainya. Benar-benar licik kau Meldosa," geram Mr. M.