
Sejak penghinaan Orlando pada Carine, hubungan keduanya menjadi tidak harmonis. Carine lebih banyak menghindari Orlando dan hal itu membuat Orlando menjadi tidak betah berada di rumah.
Agar membuat Carine merasa nyaman di rumahnya, Orlando rela tidak pulang dan lebih memilih menginap di apartemennya.
Hingga tiga bulan berjalan, Carine berada di rumah itu, dan iapun mulai mendapatkan tugas berikutnya untuk menangkap penjahat yang saat ini menjadi incaran agen FBI dan CIA tentang keberadaan seorang bos judi online yang mengeruk keuntungan dari para pemainnya.
Carine sudah siap menerima tugas itu dan kini harus berangkat ke Belanda. Malam harinya, Carine pamit kepada kedua orangtuanya untuk tugas itu. Tentu saja yang mengetahuinya hanya ibunya namun tidak dengan ayah sambungnya.
"Mommy. Besok aku ada tugas ke Belanda. Kali ini agak lama karena kami sedang melakukan beberapa penelitian untuk menemukan solusi dari beberapa penyakit kangker jika dilakukan dengan bedah menggunakan robot canggih," ucap Carine.
"Hati-hati sayang...! Jaga dirimu..! Mommy hanya punya satu putri cantik," nasehat nyonya Adeline yang selalu cemas setiap kali Carine menerima tugas berbahaya itu.
"Terimakasih mommy...! Daddy..aku titip mommy. Aku sangat percaya pada daddy," ucap Carine.
"Kamu pamit seperti mau berperang, Carine. Kamu di sana hanya tugas belajar, bukan?" tawa kecil tuan Franco yang merasa aneh dengan obrolan antara istrinya dan putri sambungnya itu.
"Kematian selalu datang kapan saja, Daddy. Orang yang duduk diam saja bisa juga mati tiba-tiba kalau sudah saatnya. Jadi, apa salahnya kalau saya mempunyai permintaan kecil pada daddy untuk menjaga mommyku," ucap Carine tersenyum manis pada tuan Franco.
"Tanpa kamu mintapun, Daddy selalu menjaga wanita hebat ini. Karena ada mommy kamu, daddy menjadi lebih semangat untuk hidup," ucap tuan Franco.
"Terimakasih Daddy..! Carine mau ke kamar dulu untuk siap-siap," ucap Carine seraya mencium keduanya.
Di dalam kamar, Carine tidak tahu jika di kamar gantinya sudah terpasang CCTV oleh Orlando yang jago memasang benda pengawas itu. Seperti biasa Carine membersihkan tubuhnya terlebih dahulu baru berangkat tidur.
Usai mandi, Carine mengambil piyama tidurnya dan tidak mengenakan di dalam kamar ganti tersebut melainkan di kamar tidurnya. Namun ketika ia menghadap ke arah CCTV, wajah cantik yang tanpa polesan makeup dengan rambut yang terbungkus dengan handuk putih itu, kini terpampang nyata di depan kamera CCTV yang tersembunyi itu. Tidak ada lagi behel gigi dan juga kaca mata tebalnya. Carine benar-benar tampil menjadi dirinya sendiri yang sangat cantik dan segar usai mandi.
Ponsel milik Orlando berbunyi sebagai bentuk peringatan kalau CCTV yang dipasangnya memberi respon. Sialnya kali ini ia sedang berada di negara Jepang karena sedang menjalin kerjasama dalam bisnis ekspor import makanan laut dengan negara tersebut.
Orlando yang sedang berada di kamar hotelnya itu, segera meraih ponselnya. Ia sebenarnya ingin melihat bentuk tubuh Carine bukan wajah adik tirinya itu. Namun apa yang dia lihat saat ini membuat jantungnya hampir terlepas. Bagaimana tidak, wanita yang selama ini ia cari karena telah menolongnya muncul di dalam kamar adik tirinya.
"Hah...?! Bukankah gadis itu yang selama ini aku cari? Kenapa bisa berada di dalam kamarnya Carine? Atau jangan-jangan dia adalah sahabatnya Carine dan saat ini menginap di rumahku?" girang Orlando karena berhasil menemukan gadis penolongnya.
"Aku harus segera pulang. Aku ingin bertanya pada Carine tentang gadis itu," ucap Orlando begitu semangat.
...----------------...
Dua koper milik Carine sudah dimasukkan ke dalam mobil. Sopir pribadi tuan Orlando yang mengantar Carine ke bandara karena gadis itu menumpang pesawat komersial. Carine memeluk erat tubuh wanita yang sangat disayanginya.
"Kabari mommy kalau sudah tiba ditujuan sayang!" pinta nyonya Adeline mengurai pelukannya pada Carine.
"Ok. Mommy. Carine berangkat dulu!" pamit Carine masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka oleh pelayan.
"Hati-hati nona Carine," ucap sang kepala pelayan menunduk hormat pada Carine." Terimakasih Lucio."
"Dengan senang hati nona," ucap Lucio.
Mobil bergerak meninggalkan mansion milik tuan Franco menuju Bandara. Tuan Franco juga pamit kepada istrinya untuk ke perusahaannya.
"Aku akan pulang cepat," ucap tuan Franco mengecup bibir nyonya Adeline.
Kini tinggallah nyonya Adeline sendirian. Iapun berjalan menuju pantai karena ingin melihat deburan ombak laut yang tidak terlihat ganas saat ini.
Orlando yang baru tiba di mansion itu langsung turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam mansion tanpa mempedulikan para pelayan yang menyambut kedatangannya.
Hatinya saat ini sedang berbunga-bunga karena akan bertemu lagi dengan gadis penolongnya. Pintu kamar milik Carine diketuk beberapa kali oleh Orlando. Pelayan Lucio segera menghampiri Orlando yang terlihat tidak sabaran ingin bertemu dengan temannya Carine.
"Maaf Tuan muda..! Nona Carine tidak ada di kamarnya. Nona baru saja berangkat ke luar negeri," ucap Lucio.
"Keluar negeri? bersama temannya?" tanya Orlando.
"Teman..?" Lucio menggelengkan kepalanya.
"Nona Carine tidak membawa temannya tuan. Sejak tinggal disini, saya belum pernah melihat melihat nona Carine membawa temannya ke rumah ini," ucap Lucio meyakinkan Orlando.
Wajah Orlando nampak terhenyak. Ia masih merasa bingung saat ini. Jadi, kemarin yang saya lihat itu siapa? Tidak mungkin Carine memiliki wajah....?"
Orlando memanggil lagi Lucio." Lucio..!"
"Iya tuan...!" menghampiri Orlando dengan tubuh sedikit membungkuk.
"Saya butuh rekaman CCTV di dalam rumah ini saat Carine pulang ke rumah semalam!" titah Orlando.
"Baik tuan muda."
Dalam beberapa menit rekaman CCTV yang dipinta Orlando sudah terkirim ke ponsel pria tampan itu. Ia melihat pergerakan Carine mulai pulang hingga berangkat lagi pagi ini.
Orlando mengusap mulutnya sambil merenung. Ia juga mengulangi lagi rekaman cctv-nya yang dia pasang di kamar ganti milik Carine. Orlando membuka pintu kamar Carine yang memang tidak dikunci. Kebetulan kamar itu belum di rapikan oleh pelayan.
Orlando mendapati piyama tidur milik Carine yang ada di dalam kamar mandi gadis itu. Ia mencium piyama tidur milik Carine sambil menangis.
"Dasar kamu memang bodoh Orlando...! Gadis penolong itu adalah Carine sendiri, bukan gadis lain. Carine selama ini sedang menyamar entah dengan tujuan apa," gumam Orlando bicara dengan dirinya sendiri.
"Carine. Rupanya aku telah jatuh cinta padamu," lirih Orlando memeluk piyama tidur Carine seakan sedang memeluk adik tirinya itu.
Orlando baru ingat kalau Lucio mengatakan Carine ke luar negeri.
"Astaga. Semoga aku bisa menyusul Carine ke luar negeri."
Orlando memanggil Lucio lagi dan Lucio langsung mendekati tuannya itu.
"Apakah kamu tahu Carine pergi ke mana?" tanya Orlando.
"Maaf Tuan. Saya tidak tahu," ucap Lucio.
"Astaga." Mengusap wajahnya kasar.
"Di mana Tante Adeline?" tanya Orlando.
"Di pantai."
Orlando menghubungi temannya yang bekerja di bandara untuk mencari penumpang yang bernama Carine Alexandra Sheffield.