
Jika saat ini Orlando sedang menikmati percintaan panasnya dengan Carine di apartemen mereka, tidak dengan Orissa yang menanti Orlando di ruang tamu tampak gelisah karena mengira Orlando masih di mansion tuan Franco.
"Paman. Apakah aku tidak bisa bertemu lagi dengan Orlando?" rengek Orissa manja dengan bibir manyun.
"Mungkin suasana hati Orlando sedang tidak enak saat ini, nak Orissa. Bagaimana kalau besok saja kamu ke sini lagi dan tinggal bersama kami supaya hubungan kalian terlihat lebih akrab sebelum kalian memutuskan untuk menikah," ujar tuan Franco menghibur Orissa yang sedang merajuk.
"Berarti aku boleh tidur di kamarnya Orlando, paman?" tanya Orissa dengan binar ceria.
"Biar Orlando yang memutuskan nak. Paman tidak ingin kamu kecewa. Orlando sudah banyak berubah tidak lagi seperti dulu," ucap tuan Franco.
"Tapi kata pelayan Lucio kalau Orlando sudah....-" ucap Orissa yang disela oleh pelayan Lucio.
"Maaf tuan Franco. Tuan Orlando sudah tidur dan tidak ingin diganggu. Itu pesannya pada saya," sambar pelayan Lucio untuk membungkam mulut besar Orissa.
"Kalau begitu sebaiknya kita pulang saja. Ini sudah malam," ucap tuan White menahan geram karena Orlando tidak menghargai kedatangan mereka.
"Tapi ayah, aku masih mau di sini," tolak Orissa.
"Pulang...!" bentak tuan White setengah tertahan tepat di kuping putrinya yang langsung menurut.
"Sialan...! Aku belum pernah dipermalukan seperti ini oleh pria tampan dan tajir. Kau akan menerima pembalasanku Orlando. Aku akan membuatmu menjadi milikku," ucap Orissa penuh tekad yang kuat.
"Baiklah tuan Franco. Ini sudah larut malam. Kita bisa bertemu lagi lain waktu. Aku harus kembali ke Swiss malam ini," ucap Tuan White.
"Baiklah. Kalau begitu kami minta maaf atas sikap putraku. Aku akan menasehatinya nanti," ucap tuan Franco tidak enak hati.
"Atur saja apa yang menjadi kesepakatan kita tuan Franco. Aku harap pernikahan ini bisa membuat kedua bisnis kita akan menjadi kuat," balas tuan White penuh penekanan pada kalimatnya.
"Tentu saja," ucap tuan Franco terkekeh walaupun tidak ada bahasan yang terdengar lucu antara mereka. Andrew hanya menarik nafas panjang dan terlihat jengah. Pikirannya hanya tertuju pada body seksi milik Carine yang sudah membekas di benaknya kini.
"Aku tidak peduli wajah gadis itu. Tubuhnya sangat membuatku bergairah. Aku harus memilikinya. Setelah itu aku akan mencampakkannya," ucap Andrew penuh dengan tipu muslihat.
Usai bersalaman satu sama lain, kelurga tuan white segera ke bandara. Pesawat jet pribadi milik mereka membawa mereka kembali ke tanah air kecuali Andrew yang langsung kembali ke California.
Tuan Franco mengajak tidur istrinya. Ia tidak ingin membahas sikap dingin putranya saat ini karena takut darah tingginya kumat. Memilih bercinta dengan istrinya akan mengurangi ketegangan urat syarafnya malam ini.
Beberapa jam kemudian, Carine sudah tiba di rumah sakit di antar oleh suaminya. Pria tampan ini terlihat sangat senang karena sudah puas mendapatkan pelayanan dari istrinya.
Tubuh Carine yang terlihat sangat segar usai bercinta dengan suaminya. Rasanya ia makin semangat untuk melakukan operasi pada pasiennya malam ini.
"Aku pulang besok siang," ucap Carine saat turun dari mobil milik Orlando yang mengantarnya.
"Baik sayang. Aku tetap harus sarapan bersamamu di kantin rumah sakit," ucap Orlando.
"Baik. Aku tunggu. Sekarang kamu pulang dan jangan kelayapan!" nasehat Carine yang tidak ingin suaminya akan kembali pada kebiasaan buruk dengan mengikuti balapan liar.
"Tidak akan karena adanya kamu yang membuat kehidupan liarku berubah 180 derajat," ucap Orlando serius.
"Baguslah. Aku senang mendengarnya," ucap Carine sambil melambaikan tangannya saat baja mewah itu meninggalkan dirinya di depan lobi rumah sakit.
...----------------...
Berjalannya waktu, nampaknya Orissa tidak muncul juga di kediaman Orlando karena ayahnya tuan White ingin menegaskan pernikahan putrinya dan Orlando harus segera dilakukan secepatnya.
Tuan Franco yang sudah kadung janji pada sahabatnya itu lebih menekan Orlando agar putranya itu mau menikah dengan Orissa. Saat ini pasangan pengantin baru itu sedang berada di rumah kedua orangtuanya mereka.
"Orlando. Daddy mau bicara serius denganmu!" pinta tuan Franco saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
"Kalau hanya bahas tentang rencana pernikahanku dengan Orissa, lupakan saja Daddy!" elak Orlando seraya beranjak berdiri.
"Aku tidak pernah mau menikah dengan gadis itu sekalipun daddy ingin mengambil alih lagi perusahaan yang aku kelola saat ini," tegas Orlando.
"Oh ya? Jadi kamu sekarang sudah merasa hebat dan ingin meninggalkan daddy? Apakah kamu bisa meninggalkan rumah ini tanpa membawa harta daddy sedikitpun?" remeh tuan Franco.
"Dengan senang hati daddy. Daripada aku harus menikahi ja**Ng itu," sarkas Orlando yang langsung mendapatkan tamparan dari ayahnya.
Plakkk....
Plakk...
Carine dan nyonya Adeline tersentak. Mereka tidak menyangka tuan Franco tega menyakiti putranya demi membangun kerajaan bisnis yang sebagian besarnya adalah bisnis haram yang tidak diketahui oleh Orlando.
Orlando mengusap wajahnya. Carine merasa serba salah untuk menghibur suaminya mengingat posisi mereka saat ini berada di rumah. Orlando meninggalkan ruang keluarga dan langsung ke kamarnya.
Carine hanya mengikuti langkah kaki Orlando dengan tatapannya tanpa tahu harus berbuat apa saat ini.
"Daddy. Jangan terlalu keras pada Orlando. Ia akan menjauhi Daddy karena ..-" ucapan nyonya Adeline berhenti di udara karena di sela suaminya.
"Dia tidak akan sanggup meninggalkan aku tanpa uang," ucap tuan Franco penuh percaya diri.
Carine menerima pesan dari Orlando. Wajah gadis ini terlihat pucat saat membaca pesan itu.
"Kemasi barangmu karena kita harus tinggalkan rumah ini! Kamu mengerti?" titah Orlando membuat Carine menelan salivanya dengan gugup.
"Ada apa sayang?" tanya nyonya Adeline saat melihat kegugupan di wajah putrinya.
"Maaf mommy...! Ada tugas dinas luar negeri," ucap Carine seraya berlalu dari hadapan kedua orangtuanya.
Nyonya Adeline yang sangat mengetahui kualitas pekerjaan putrinya hanya mengangguk dan mengijinkan Carine menjalankan tugasnya sebagai agen rahasia.
Sementara tuan Franco tidak begitu peduli dengan Carine karena dia hanya tahu tenaga gadis ini sering di gunakan di rumah sakit di luar negri karena keahliannya sebagai dokter bedah terkenal di dunia yang menerima job dari mana saja.
Tidak lama Orlando segera keluar lagi dan mengembalikan apapun milik ayahnya termasuk black card yang dipegangnya. Ia hanya mengendarai motor hasil judinya saat balapan dulu.
Sementara Carine sendiri sudah membawa kopernya dan meminta Lucio membawanya ke mobilnya.
Carine membaca lagi pesan dari suaminya.
"Aku tunggu kamu di apartemen kita, honey!" ucap Orlando.
"Baik sayang," balas Carine segera masuk ke mobilnya.
"Jagalah tuan muda Orlando, nona Carine...! Hanya kamu yang bisa membuatnya bahagia," ucap tuan Lucio membuat Carine tercengang.
"Kamu bicara apa sih Lucio?" sergah Carine pura-pura tidak tahu.
"Percayalah padaku nona, aku bisa menjaga rahasia. Nona bisa mengandalkan aku," ucap Lucio namun Carine tidak mau terpancing karena dia begitu takut Lucio bisa saja jadi mata-mata tuan Franco.
"Terimakasih. Jangan terlalu banyak mengkhayal Lucio...!" ucap Carine lalu menjalankan mobilnya.
Lucio hanya mengulum senyumnya sambil menghembuskan nafas lega. Ia sangat tahu kalau Orlando sangat mencintai Carine.
"Semoga kalian bahagia, tuan Orlando dan nona Carine, sekalipun kelurga ini harus hancur karena pernikahan kalian," batin pelayan Lucio.
Sementara di jalanan, ada yang sedang menguntit motor Orlando yang yang sedang berjalan dengan kecepatan stabil.
"Habisi pria itu..!" titah seorang pria paru baya pada anak buahnya yang sedang berusaha menembak Orlando saat ini.