PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
61. Tebakan Carine


Di depan Mr M, kini Carine berada. Wajah tenang Carine mendengarkan penjelasan bosnya itu tentang misinya kali ini.


"Saat ini seseorang sedang mencuri bom milik perusahaan milik negara yang berpusat pada teknologi energi.


Bom itu baru saja selesai di ciptakan. Salah seorang pengkhianat perusahaan itu yang bekerjasama dengan penjahat hingga bisa masuk ke tempat itu untuk mengambil bom itu dari sarangnya," jelas Mr. M.


"Apakah Mr.M sudah mengetahui ke mana pencuri itu membawa pergi bom itu?" tanya Carine.


"Pengkhianat itu rupanya dibunuh juga oleh penjahat itu. Namun sebelum meregang nyawa, pengkhianat itu sempat menuliskan pesan dengan kalimat aneh. Kami tidak tahu apa maksudnya," ucap Mr. M.


"Apakah TKP itu masih dalam pengamanan polisi?" tanya Carine.


"Masih. Tempat itu sedang dijaga ketat oleh polisi agar wartawan tidak mengambil gambar di lokasi kejadian itu," ucap Mr. M.


"Apakah aku bisa melihat tempat itu sekarang?" tanya Carine.


"Baiklah. Kita akan ke sana."


Dalam waktu setengah jam mereka sudah tiba di lokasi kejadian. Bahkan jenasah pengkhianat itu yang tidak lain sang sekuriti yang menjaga di tempat pengawasan monitor CCTV.


Ia menuliskan sebuah kalimat yang merupakan pesan singkat tapi kalimat itu seperti sebuah pantun. Carine mengambil dengan ponselnya.


"Ini adalah sebuah anagram.," ucap Carine.


"Ah...ya..! Tepat sekali. Kenapa tidak terpikirkan olehku kalau ini adalah sebuah anagram."


Menepuk jidatnya sendiri karena melewatkan kode kata itu. Anagram adalah salah satu jenis permainan kata yang huruf-huruf di kata awal biasanya diacak untuk membentuk kata lain atau sebuah kalimat. Anagram sering dipakai sebagai kode. Permainan yang menggunakan anagram.


"Apakah kamu bisa menemukan acak kata itu?" tanya Mr. M.


"Iya. Dari kalimat ini hanya menunjukkan sebuah nama negara. Yaitu Armenia," ucap Carine.


"Apa yang akan kita dapatkan di negara itu? apa yang ingin diberitahukan oleh pengkhianat ini pada kita?" kesal Mr. M dengan teka-teki yang di mainkan oleh penjahat.


"Mereka sengaja mengajak kita untuk berpikir agar bisa masuk ke dalam permainan mereka. Dengan begitu mereka ingin kita memberi mereka jedah waktu agar mereka bisa melakukan pemboman di suatu tempat," jawab Carine.


"Apakah ini lebih tepatnya mereka sedang melakukan pengalihan isu yang sedang marak saat ini agar tujuan mereka tercapai?" tanya Mr. M.


"Ya seperti itulah tujuan mereka. Sekarang kita harus tahu. Apa yang menjadi istimewa di Armenia?" tanya Carine mengajak bosnya itu untuk berpikir.


"Kalau begitu kita kembali ke markas untuk bisa melihat peta negara tersebut dan apa yang saat ini sedang terjadi di negara itu," ucap Mr. M yang segera keluar dari perusahaan itu dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Tunggu Mr. M."


"Ada apa Carine?"


"Bagaimana penjahat itu bisa masuk ke tempat itu jika perusahaan ini membolehkan karyawannya mendapatkan akses masuk dengan kornea mata?" tanya Carine.


Mobil bergerak kembali ke markas. Di dalam sana, Carine sedang melihat beberapa yang menjadi daya tarik kota Armenia yang mungkin bisa mereka temukan jawabannya yang tertera di komputer raksasa yang ada di layar yang menempel di dinding.


Tangan Carine dengan lihai mencari tempat wisata yang menjadi kunjungan menarik menjadi tempat destinasi wisata untuk turis mancanegara. Dalam beberapa menit kemudian ia langsung tersenyum lega setelah mendapatkan jawabannya.


"Aku sudah menemukannya," ucap Carine.


"Apa itu...?"


"Armenia memiliki gereja tertua di dunia. Operasi para pelaku berlindung di tempat itu walaupun kita akan dibawa lagi oleh mereka ke suatu tempat tapi jawabannya ada di dalam gereja itu tua itu," ucap Carine berdasarkan instingnya.


"Baiklah. Ayo kita ke sana..! Kita harus merebut kembali milik negara ini yang telah di curi oleh pelaku. Itu adalah kekuatan negara ini," ucap Mr. M membuat Carine sedikit keberatan karena ia bukan hanya menemukan bom itu tapi ia juga pasti akan disuruh untuk menjinakkan bom itu.


"Aku tidak bisa melakukannya sendiri untuk mendapatkan barang itu. Ajaklah salah satu staf perusahaan itu yang merupakan penemu perakit bom itu. Dengan begitu ia bisa menjinakkan bom miliknya karena itu adalah hasil temuannya," ucap Carine memberi solusi.


"Kenapa kamu sekarang menjadi penakut?" kesal Mr. M.


"Karena aku punya keluarga yang menungguku pulang. Aku punya bayi kecil yang membutuhkan makanannya yang ada di dadaku ini," ketus Carine membuat Mr. M hanya bisa mendesah kesal.


"Baiklah. Aku akan menghubungi perusahaan itu untuk mendampingi kamu melakukan misi ini. Lagi pula itu milik mereka dan sudah sepantasnya mereka sendiri yang mengambilnya. Tugas kita hanya mengawasi," ucap Mr.M.


Carine menarik sudut bibirnya karena kali ini ia tidak lagi tampil seperti kucing penurut seperti biasanya sejak bertemu dengan malaikat kecilnya yang membuat pandangan hidupnya berubah.


Sore harinya Orlando menjemput lagi istrinya di markas FBI atas permintaan Carine sendiri. Tidak lama menunggu, mobil mewah milik suaminya sudah berhenti tepat ia berdiri. Carine segera masuk ke dalam mobil seraya mengecup bibir suaminya dan mobil kembali bergerak meninggalkan markas itu.


Carine tampak terdiam sesaat dan Orlando tahu kalau saat ini Carine sedang memikirkan misinya kali ini. Biasanya seperti itu. Istrinya akan banyak diam karena pikirannya sedang menyusun banyak rencana.


"Misi mu ke mana kali ini?" tanya Orlando.


"Armenia." Carine menceritakan awal mulanya mereka bisa memikirkan Armenia tempat pelaku membawa milik negaranya entah untuk tujuan apa. Itu yang sedang mereka cari tahu.


"Apakah aku boleh ikut menemanimu, sayang?" tanya Orlando walaupun ia tahu misi istrinya kali ini terdengar sangat tidak masuk akal karena berurusan dengan bahan peledak.


"Apakah kamu bisa menyusul ku nanti saja, sayang?" pinta Carine.


"Apakah karena bom itu hingga kamu keberatan aku ikut?" geram Orlando.


"Setidaknya kalau aku mati di misi itu, putra kita masih punya ayah. Jika penjahat itu hanya menggunakan peluru untuk menghabisi kami, mungkin hanya sebagian dari kami yang akan mati.


Tapi tidak dengan bom yang mungkin akan menenggelamkan setengah dari penduduk kota," ucap Carine keberatan dengan keikutsertaan suaminya kali ini.


"Tolong jangan membuatku takut Carine...! Jangan terlalu memikirkan pengabdianmu pada dunia tapi ingatlah bahwa duniamu saat ini adalah kami sayang. Tempat kamu ingin pulang begitu juga denganku yang menganggap di luar sana sangat membosankan karena kau adalah gairahku yang membuat aku mabuk setiap saat, baby," ucap Orlando penuh penekanan pada kalimatnya.


Carine menahan tangisnya yang hampir menyeruak kini. Entah mengapa kehadiran putranya membuat langkahnya cukup berat menjalankan misi negara kali ini.


"Aku mencintai kalian berempat, sayang. Kau, putra kita dan kedua ibu kita. Kalian adalah bagian terpenting ku. Aku janji akan pulang dalam keadaan utuh. Aku sangat mencintaimu Orlando," ucap Carine dan Orlando langsung memeluknya erat.