
Orlando menghentikan aksi Carine yang berusaha menggodanya dengan mencium dadanya terlalu lama.
"Sayang. Jangan diteruskan atau kau akan menyesal?!" cegah Orlando.
Carine terkekeh lalu melepaskan diri dari pelukan Orlando dan berenang dengan cepat untuk mengusir ketegangan yang menjalar di sekujur tubuhnya kalau saat ini hasratnya juga tak tertahankan hanya dengan menatap tubuh seksi Orlando.
Orlando keluar dari kolam renang dan kembali ke kamarnya. Ia ingin menuntaskan birahinya dengan bersolo ria di dalam kamar mandi miliknya. Carine mengerti akan hal itu dan ia sibuk berenang sendiri.
"Sekarang kamu baru merasakan betapa tersiksanya saat menahan gairah yang tak bisa tersalurkan," batin Carine penuh dendam.
Ia tidak tahu apakah saat ini ia mencintai Orlando atau hanya terobsesi. Tapi, setiap kali mencoba untuk menepis perasaannya namun ia tidak bisa melupakan sosok tampan seorang Orlando.
Makin ingin melupakan Orlando hanya akan menyiksa batinnya. Dan saat keduanya dipertemukan seperti saat ini, hanya ada kebahagiaan yang dirasakan Carine maupun Orlando.
"Lebih baik menjalani hubungan ini apa adanya daripada menyiksa batinku sendiri. Toh, aku merasa nyaman walaupun aku harus tetap waspada agar tidak jatuh tergelincir ke dalam rayuan maut penjahat kelamin itu.
Selama ini kamu terlalu mudah mendapatkan tubuh wanita dengan pesona dan uangmu, tapi tidak denganku, Orlando. Aku tidak semudah itu kau tundukkan," ucap Carine yang berenang mengambang di kolam renang dengan mata terpejam.
Orlando sudah duduk lagi di bangku panjang dekat kolam renang sambil memperhatikan tubuh indah proposional Carine. Yang dia tidak habis pikir mengapa Carine menyamar dengan berpura-pura menjadi gadis culun dengan mengubah wajah cantiknya terlihat menjijikkan di hadapan orang banyak.
"Carine. Sudah berenangnya sayang. Aku sudah pesan makan malam untuk kita di restoran. Sebentar lagi akan tiba," ucap Orlando membuat mata bulat almond itu terbuka menatapnya lembut.
Carine menuruti perintah Orlando untuk mengakhiri berenang. Dengan menaiki tangga kolam renang, Carine mengambil jubah mandinya lalu berjalan masuk ke dalam mansion untuk membersihkan dirinya diikuti oleh Orlando.
Ting...tong ..
Orlando menghampiri pintu utama untuk mengambil pesanannya dari pelayan restoran dan tidak lupa memberikan tip pada pelayan restoran itu yang langsung pamit.
Ketika masuk ke kamar Carine, gadis ini sudah mengenakan piyama tidurnya. Wangi body lotion menguar di penciuman Orlando. Aroma lembut itu merangsang otaknya terlihat gelisah saat berhadapan dengan Carine yang setiap saat memompa jantungnya terus berdetak tak normal dengan darah yang berdesir.
Ia meletakkan hidangan makan malam mereka yang sudah ia pindahkan ke piring. Berulang kali Orlando harus menahan penderitaannya karena godaan Carine yang sengaja menyiksanya. Jika memaksa gadis itu bercinta, maka ia akan kehilangan Carine untuk selamanya.
"Cih...! Apakah ini akal bulusmu untuk menjebakku agar aku bisa membangun tembok kokoh agar tidak menyentuhmu?" geram Orlando yang sudah rapi menata setiap hidangan makan malam di atas meja di dalam kamar Carine.
"Aromanya sangat menggugah selera. Aku sangat lapar. Boleh aku eksekusi mereka?" tanya Carine dengan wajah berbinar menatap hidangan yang menerbitkan liurnya.
"Memang makanan itu untuk di makan sayang bukan untuk ditatap saja," ucap Orlando dengan senyum tulusnya namun ia sangat tidak tenang melihat kecantikan Carine yang menggulung rambutnya asal hingga tampak leher jenjang itu menggodanya untuk dikecup.
Jika bisa, ia ingin mengeksekusi tubuh gadis cantik di depannya ini sebelum mereka menikmati makan malam. Keduanya mulai menyuapi makanan ke mulut mereka sambil merasakan kelezatannya.
Cara makan Carine yang terlihat berkelas seakan sangat terlatih di kalangan istana raja. Carine mengusai table meneer agar terlihat bersahaja di depan Orlando. Padahal sebelumnya, Carine tidak pernah melakukan seperti itu saat mereka makan bersama sebagai keluarga baru.
"Apakah setelah makan malam kamu ingin tidur Carine?" tanya Orlando.
"Bukankah kamu tadi bilang kalau kita mau nonton?" jawab Carine.
"Oh iya aku lupa," bohong Orlando padahal itu yang dia harapkan agar bisa menghabiskan malam dengan Carine walaupun harus menahan si junior agar tidak melakukan pemberontakan pada nya.
"Boleh aku nonton bersamamu di tempat tidurmu?" tanya Orlando.
"Sini sayang!" mesra Carine sambil menepuk-nepuk kasur di sebelahnya untuk Orlando yang terlihat senang.
Orlando bersandar di tempat tidur. Carine ingin duduk di antara dua paha Orlando dan bersandar ke dada bidang Orlando. Nafas berat Orlando makin sesak saat kedua tangannya bisa merasakan perut rata Carine yang mengguncang kejantanannya.
Film mulai tayang. Menampilkan adegan romantis dan action sekaligus. Keduanya menikmati film itu. Saat adegan panas, Orlando terlihat tidak tenang. Carine mendongakkan wajahnya menatap wajah Orlando nampak yang tegang lalu tersenyum..
"Filmnya sangat bagus," puji Carine mengecup bibir Orlando sekilas.
"Carine. Aku tidak kuat sayang," lenguh Orlando penuh permohonan di kuping Carine yang langsung meremang.
"Siapa yang memintamu menonton film itu?" gerutu Carine.
"Lama-lama aku bisa menderita difusi ereksi, sayang kalau kamu terus menolakku," keluh Orlando.
"Mintalah wanitamu datang untuk memuaskanmu, Orlando...! Jangan harap aku akan menyerahkan tubuhku padamu," ketus Carine.
"Setidaknya tolong aku Carine. Aku tidak akan menyentuhmu, tapi kamu saja yang menyentuhku, mau ya?" pinta Orlando agar Carine mau memanjakan miliknya dengan mulut maupun tangan gadis itu.
Deggggg....
Carine menelan salivanya gugup. Itu berarti dia akan melihat dan merasakan kejantanan perkasa milik Orlando. Antara penasaran dan juga ketakutan melanda jiwanya.
"Mau ya sayang?" rengek Orlando sekali lagi dengan wajah yang menahan letupan gairah menyiksa.
Carine mengigit sudut bibirnya lalu menyentuh perlahan tempat sensitif Orlando yang terlihat membengkak dan keras dari balik piyama tidurnya.
"Aku tidak tahu cara melakukannya. Aku tidak pernah ...-"
Orlando tidak bisa lagi menahan diri. Ia mengeluarkan miliknya dan menyerahkannya kepada Carine yang langsung gelagapan melihat ukuran yang luar biasa besarnya benda pusaka itu bahkan tidak muat digenggam dengan satu tangannya.
"Lakukan sayang...! Gunakan instingmu...!" pinta Orlando sudah panas dingin membuat Carine tidak tega melihatnya.
Dengan tangan gemetar Carine menyentuh benda licin itu dengan sangat hati-hati seakan itu adalah barang antik yang perlu perlakuan khusus olehnya. Tangan lembut Carine yang dingin menggenggam milik Orlando hingga menyetrum tubuh Orlando seakan tersengat listrik.
Apalagi, Carine mulai memberikan sentuhan setiap permukaan pusaka kokoh itu dengan jilatan terlebih dahulu sebelum melahapnya.
"Akhh.... Ssssttt! Kamu bisa. Itu sangat nikmat Carine," desis Orlando merasakan hal berbeda dari Carine yang nampak kaku memanjakan miliknya tapi sensasinya sangat luar biasa yang tidak bisa ia temukan pada wanita jal**Ng.
Tanpa dibimbing Orlando, Carine melakukannya dengan sangat baik. Orlando mengerang, melenguh panjang, hingga akhirnya ia bisa meledakkan benihnya penuh kenikmatan hingga menjerit keras.
"Carine.... sayang...! Kamu sangat luar biasa...!" puji Orlando menarik tubuh Carine dan keduanya saling bercumbu mesra saat Orlando bisa melampiaskan hasratnya walaupun tidak pada tempat seharusnya karena kuatnya Carine mempertahankan miliknya.
Carine mau memanjakan miliknya saja itu sudah suatu keberuntungan yang tak tak tertandingi dengan apapun. Dan satu hal yang Orlando bisa pelajari dari Carine, kalau tidak semua keinginannya bisa dicapai dengan mudah karena Carine adalah gadis tangguh yang tidak mudah di taklukkan dengan pesonanya.