
Carine tampak bingung dengan kedatangan Andrew sepagi itu di kediaman ayah sambungnya atau ayah mertuanya. Belum saja dirinya sempat berpikir tentang kedatangan Andrew, sambutan kata-kata pedas dari sang mommy membuat dirinya makin terpojok.
Tapi sesaat kemudian sikap ibunya berubah saat melihat wajah Andrew yang merupakan putra dari sahabat suaminya. Sikap ibunya yang lebih mementingkan kedatangan Andrew dari pada dirinya membuat Carine hampir saja menjerit.
"Andrew. Tumben ke sini pagi-pagi?" tanya nyonya Adeline sambil menuruni anak tangga melewati putrinya yang terpaku diam.
"Mommy ..!" lirih Carine menahan tangisnya.
Nyonya Adeline menyalami tangan Andrew yang langsung mengecup pipi nyonya Adeline sambil menatap wajah Carine yang memalingkan wajahnya menyembunyikan kesedihannya.
"Apa kabar Andrew! Bagaimana kabar ayah dan ibumu?" tanya nyonya Adeline seakan saat ini hanya Andrew yang datang bertamu ke rumahnya.
"Semuanya baik Tante. Bagaimana kabar paman Franco? Apakah kasusnya sudah bergulir ke pengadilan?" tanya Andrew yang masih saja melirik Carine yang menuruni lagi anak tangga.
"Berkas pemeriksaan dari penyelidik kepolisian belum lengkap. Jadi masih banyak yang harus mereka telusuri tuduhan tentang suamiku," sindir nyonya Adeline saat Carine melewati mereka menuju keluar.
Carine benar-benar kecewa pada sikap ibunya dan memilih untuk pulang. Andrew merasa gelisah karena ia ingin sekali mengejar Carine namun nyonya Adeline terus saja mengajaknya bicara namun tidak membuat Andrew tertarik. Kedatangannya ke tempat itu hanya ingin mengikuti Carine bukan untuk menemui nyonya Adeline.
Sesampainya di taksi, Carine berhenti sebentar untuk melihat ke belakang dan pelayan Lucio membuka pintu mobil untuk Carine yang hanya tersenyum pelit padanya. Carine yang sudah mengenakan lagi kacamata dan maskernya tampak masih menangis.
"Jalan pak..!" titah Carine pada sopir taksi yang langsung menghidupkan mesin meninggalkan mansion tuan Franco.
Pelayan Lucio merasa sangat bangga karena Orlando sudah memiliki juniornya yang sebentar lagi akan hadir di bumi ini.
"Terimakasih Carine..! Kau sudah mengubah perilaku Orlando menjadi seperti ayahnya," ucap pelayan Lucio entah apa arti dari perkataannya.
Sementara di dalam mansion, Andrew terlihat gelisah saat mendengar mobil taksi yang ditumpangi Carine sudah meninggalkan mansion.
"Aku tidak boleh kehilangan jejak Carine. Bagaimana mungkin dia bisa bersama Orlando. Mungkin saja nyonya Adeline lebih mengetahui hubungan Carine dan Orlando," batin Andrew berpikir keras.
Mau kabur cepat dari mansion itu maka ia akan kehilangan infomasi dan kalau mau tetap bertahan, maka dia akan kehilangan Carine. Akhirnya Andrew memilih untuk menanyakan pernikahan Carine.
"Tante. Maaf.. kenapa Tante terlihat marah pada Carine? Apakah Carine sudah membuat Tante kecewa?" selidik Andrew.
"Oh itu...! Tante hanya kecewa pada Carine yang menikah diam-diam dengan seorang pemuda yang tidak Tante sukai. Itulah sebabnya Tante cuekin dia saat dia tadi datang ke sini. Maaf Andrew, perang dingin antara kami membuatmu tidak nyaman," ucap nyonya Adeline.
"Siapa pria itu dan apa pekerjaannya? Terus di mana mereka tinggal? Aku ingin memberikan hadiah pernikahan untuk Carine," cecar Andrew membuat nyonya Adeline mengusap lehernya yang terasa sangat tegang.
"Tante sendiri tidak tahu mereka tinggal di mana? Dan tentang pekerjaan suaminya, Tante tidak peduli, jadi Tante tidak mengetahui pekerjaan yang digeluti suaminya Carine," jawab nyonya Adeline yang masih melindungi rahasia keluarganya yang dianggap aib baginya.
"Lantas di mana Orlando? Apakah dia masih tinggal di sini atau di apartemennya?" selidik Andrew yang masih sangat penasaran akan jawaban nyonya Adeline yang dianggapnya sedang menutupi rahasia pernikahan tabu hubungan saudara tiri itu.
"Orlando jarang pulang sejak Daddynya ditangkap oleh FBI," jujur nyonya Adeline apa adanya.
"Kalau begitu Tante pasti mengetahui alamat Orlando, bukan?" desak Andrew membuat nyonya Adeline begitu takut penyamaran putrinya akan terbongkar.
"Bukankah kamu punya nomor kontak Orlando? Kenapa kamu tidak mencoba menghubunginya saja?"nyonya Adeline balik bertanya.
"Sial...! Si jal**Ng ini tidak akan memberitahukan keberadaan putrinya sekalipun ia begitu marah pada putrinya yang jatuh cinta pada putra sambungnya sendiri," umpat Andrew.
Andrew melirik arloji yang melingkar ditangan kanannya. Ia akhirnya pamit untuk mengejar taksi yang membawa Carine pergi.
"Tante. Kalau begitu aku permisi pulang dulu. Aku harus kembali ke perusahaanku yang kebetulan baru membuka cabang di sini," ucap Andrew seraya menempelkan bibirnya mengecup pipi nyonya Adeline.
"Baik. Hati-hati Andrew. Sampaikan salamku kepada kedua orangtuamu," ucap nyonya Adeline yang memang sudah tidak suka dengan kehadiran Andrew yang terlalu penasaran pada putrinya.
Andrew berjalan sedikit berlari kecil menghampiri mobilnya. Dalam sekejap mobil itu langsung melesat pergi meninggalkan mansion milik tuan Franco.
"Walaupun aku membenci hubungan putriku dan putra sambung ku, Orlando, aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan hidupnya," gumam nyonya Adeline sambil menarik nafas dalam.
Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan bersalah karena telah mendiami putrinya yang sedang hamil cucunya.
Sementara di luar sana, Andrew membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi seakan ingin melampaui setiap mobil yang menghalanginya. Matanya terus fokus pada setiap taksi yang melintas depan mobilnya.
Orlando yang sejak tadi merasakan tidak nyaman bekerja di kantornya memaksanya untuk menghubungi Carine. Beberapa kali ia hubungi ponsel Carine namun tetap saja tidak diangkat oleh Carine.
Orlando menghubungi penjaga apartemen untuk menanyakan keberadaan istrinya namun tidak ada tanda-tanda kepulangan istrinya.
"Carinne...! Kamu di mana sayang? Jangan membuatku takut?" geram Orlando yang ingin membanting ponselnya.
"Harusnya aku menempatkan pengawal untuk menjaga istriku. Carine terlalu cerdik untuk diberikan kepercayaan. Ia selalu melakukan apapun sesuka hatinya." Orlando tidak tenang akhirnya memutuskan untuk pulang.
Rupanya apa yang diburu oleh Andrew akhirnya kesampaian juga. Ia berhasil menemukan mobil taksi yang tadi membawa Carine.
"Itu mobilnya. Aku tidak salah nomor plat mobilnya masih aku ingat," sorak Andrew yang ingin menghadang mobilnya Carine.
Semakin mobil Andrew mendekati mobil taksinya Carine, semakin cepat pula taksi itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Apakah Carine sudah gila menyuruh taksi itu menambah kecepatan kecepatan mobilnya saat dia dalam keadaan hamil besar? atau jangan-jangan wanita itu ingin melahirkan?" tebak Andrew yang sudah menyamakan kecepatan mobilnya dengan mobil taksi yang dinaiki Carine.
"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Carine..! Akan ku bunuh Orlando jika perlu seperti yang dilakukan oleh tuan Franco untuk mendapatkan ibumu," ucap Andrew yang mengetahui masa lalu kedua orangtuanya Orlando dari ayahnya.
Saat sudah terlepas dari keramaian, mobil Andrew dan mobil taksi itu sudah berada di jalanan sepi. Andrew memanfaatkan jalanan yang lengang untuk menghadang mobil taksi agar ia bisa bertemu dengan Carine yang sejak tadi memenuhi ruang kepalanya saat melihat sendiri wajah Carine yang sangat cantik.
Andrew membelokkan mobilnya menghalangi mobil taksi itu membuat mobil taksi itu harus menginjak rem secara mendadak agar tidak menabrak mobilnya Andrew.
"Gila sialan ...!" maki sopir taksi itu pada Andrew yang membuatnya hampir jantungan.
Andrew mengetuk jendela taksi itu agar Carine turun dari mobil taksi itu.
"Carinnnnne...! Buka pintu mobilnya..!" titah Andrew.