PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
48. Aku Lebih Cerdik


Andrew yang tidak sabaran siap menghantam jendela mobil itu namun kepalan tangan itu melayang di udara ketika kaca jendela itu dibuka oleh penumpang taksi itu.


"Ada apa tuan?" tanya wanita itu menatap wajah tampan Andrew dengan tatapan rumit.


Andrew tersentak melihat wajah orang lain yang ada di dalam taksi yang tadi ditumpangi oleh Carine dan ia melirik sopir yang sudah ganti orang lain.


"Aku tidak mungkin salah mengenali taksi yang ditumpangi Carine," keluh Andrew lalu kembali ke mobilnya tanpa minta maaf pada penumpang dan sopir taksi itu.


Andrew melanjutkan perjalanannya dengan puluhan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.


"Sialan ...! Kenapa aku bisa kehilangan wanita itu. Ada apa sebenarnya dengan Carine? Mengapa dia menyamar di rumahnya sendiri walaupun itu rumah ayah sambungnya.


Siapa sebenarnya Carine? Tapi, bukankah dia adalah seorang dokter?" tanya Andrew yang merasa Carine memiliki suatu rahasia dan ibunya serta Orlando sangat mengetahui rahasia gadis itu.


Flashback satu jam yang lalu.


Setelah meninggalkan kediaman ibunya, Carine merasa kedatangan Andrew yang tiba-tiba di kediaman Tuan Franco yang tidak lazim membuatnya curiga. Merasa penasaran dengan sikap Andrew, ia akhirnya meretas cctv yang ada di swalayan tempat ia belanja kebutuhan dapurnya dan beberapa barang lainnya.


Ia menyisiri setiap tempat di waktu yang sama saat ia dan suaminya sedang berbelanja. Instingnya yang kuat membawanya untuk mencari tahu sumber kebenarannya dari swalayan besar itu.


Matanya mendelik saat melihat sosok tampan yang sedang menguntitnya tadi sampai ke tempat parkiran dimana dirinya berpisah dengan suaminya untuk mengambil tujuan masing-masing.


"Sial...! Dia sudah mengetahui penyamaranku dan terlebih lagi hubunganku dengan Orlando. Padahal dia dan ayahnya menjadi target misi aku selanjutnya setelah aku melahirkan nanti," lirih Carine lalu mencari cara untuk menyelamatkan diri jika Andrew menyusul taksi yang saat ini ia tumpangi.


Carine menatap wajah sopir taksi yang berusia sekitar 55 tahun itu. Ia menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan dirinya dan sopir taksi itu


"Pak. Apakah aku bisa meminta tolong pada bapak?" tanya Carine sedikit ragu tapi juga berharap.


"Ada apa nona?"


"Bisa tidak bapak menukar taksi ini dengan taksi milik teman bapak yang lain? Aku akan membayar bapak lebih dari ongkos taksi ini," tawar Carine sambil menyebutkan angka yang cukup besar untuk sang sopir bisa libur dua tahun bekerja menarik taksi. Jika di rupiahkan sekitar 500 juta.


Sang sopir langsung menepikan mobilnya dengan jantung berdegup kencang mendengar besarnya uang itu. Bagi Carine uang sebesar itu tidak masalah baginya karena suaminya bisa membeli makanan seharga itu. Apalagi dirinya adalah aset negara itu.


"Kalau itu maunya nona aku bisa melakukannya," jawab sopir taksi itu menyanggupi permintaan Carine dengan semangat. Ia segera menghubungi rekannya untuk menjemputnya di lokasi yang tidak jauh dengan taksi rekannya.


Tidak lama ada kesepakatan diantara mereka dengan bayaran yang tidak begitu banyak namun bisa membuat temannya tergiur.


"Sebutkan berapa nomor rekeningmu pak! aku akan transfer sekarang," ucap Carine yang sudah membuka aplikasi m-banking yang ada di ponselnya.


Sang sopir menyebutkan setiap angka rekening miliknya dan Carine langsung mengirim nominal yang ia janjikan pada sopir taksi itu.


"Periksa rekening milikmu, pak!" titah Carine. Sang sopir merasa hari ini benar-benar mendapatkan rejeki nomplok dari Carine.


"Baik nona."


Ia juga tidak heran dengan Carine karena gadis itu baru keluar dari mansion mewah yang mungkin taksinya saja yang baru masuk ke area mansion itu dan menunggu di sana sekitar 15 menit.


"Kita mau ke mana sekarang, nona?" tanya sopir taksi itu.


Carine menyebutkan nama perusahaan suaminya dan mobil itu langsung mengarah ke tujuan dan sang sopir sudah menduga Carine adalah istri pemilik perusahaan itu. Ada rasa bangga pada sang sopir bisa membawa wanita kaya di taksinya.


Tiba di tujuan, Carine mengucapkan terimakasih pada sopir dan langsung berjalan masuk menuju lobi. Baru saja kakinya melangkah ke dalam lobi, ia sudah berpapasan dengan Orlando yang langsung mengenali istrinya walaupun Carine mengenakan kacamata dan maskernya.


Flashback off


"Baby...!" pekik Orlando seraya memeluk erat tubuh istrinya lalu mencium wajah cantik itu berkali-kali tanpa ingin melepaskan kacamata dan maske Carine.


"Mengapa tidak mengangkat telepon dariku?" tanya Orlando menahan geramnya.


"Maaf sayang. Ada yang harus aku ceritakan padamu. Oh iya itu belanjaanku. Aku belum pulang ke apartemen kita. Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Carine berusaha bersikap tenang walaupun hatinya saat ini sangat sedih bercampur kuatir.


Orlando meminta asisten Wiz untuk mengantar mereka pulang dan seorang cleaning service memasukkan semua belanjaan Carine ke dalam bagasi.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Orlando membuka kacamata istrinya saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Carine menceritakan apa yang terjadi pada dirinya saat berkunjung ke kediaman orangtua mereka dan juga bertemu dengan Andrew.


"Kenapa kamu nekat ke sana sendirian dalam keadaan perutmu yang besar ini. Kamu bisa menyamar wajahmu dengan tampang jelek seperti itu tapi bagaimana dengan perutmu? Kamu tidak bisa mengempeskan-nya bukan?" geram Orlando.


"Aku terlalu merindukan mommyku. Jika memintamu menemaniku ke sana pasti kamu akan menolaknya," protes Carine.


"Itu karena aku melakukannya mengingat profesimu sebagai agen rahasia FBI. Kamu itu sedang diawasi oleh para penjahat yang tidak lain rekan bisnis ayahku. Itulah mengapa aku melarangmu ke sana dalam keadaan hamil. Dan sekarang penyamaran kamu sudah terbongkar oleh Andrew, itu berarti kamu akan berada dalam bahaya, Carine.


Kenapa tidak mau mendengarkan aku sekali saja? Ingat kalau kamu saat ini sedang hamil dan ruang gerakmu terbatas untuk melawan mereka," jelas Orlando sambil mengusapkan wajahnya dengan kasar.


"Maafkan aku. .! Aku janji tidak akan ke sana lagi. Lagi pula mommy tidak mau menerimaku. Aku diacuhkan oleh mommy," serak Carine yang kembali merasa sedih.


Orlando berusaha memahami perasaan Carine yang mudah sensitif ketika sedang hamil. Hal sekecil apapun yang menyinggung perasaannya Carine langsung merasa terluka.


Ditambah saat ini mereka sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka saat melakukan USG agar menjadi surprise nantinya.


Tanpa keduanya ketahui ada beberapa mobil sedang mengintai mobil mereka. Asisten Wizz sengaja mengambil arah yang berbeda untuk mengecohkan para penguntit. Orlando tidak sadar akan hal itu. Namun ponselnya Carine memberikan tanda bahaya.


Carine menarik pistolnya dari balik mantelnya. Orlando terkesiap melihat Carine sudah menengok ke belakang mobilnya. Carine kembali duduk normal.


"Suamiku. Apakah mobil ini anti peluru?" tanya Carine.


"Iya. Ada apa?" tanya Orlando dan Carine memberi kode ke kiri, kanan dan belakang.


"Mobil kita sedang di kepung. Apakah kamu punya solusi?" tanya Carine mulai merasa cemas.