
Suasana kediaman Orlando layaknya seperti kuburan. Walaupun sesekali suara bayinya memecahkan kesunyian, namun cepat terdiam jika sang ibu menyusuinya dengan cepat.
Sudah satu pekan ini Orlando lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah daripada berada di perusahaannya. Ia membawa pekerjaannya ke rumahnya jauh lebih membuatnya nyaman karena bisa mengawasi kedua orang tercintanya sekaligus.
Walaupun Carine seorang agen rahasia tak takut mati bila berhadapan dengan musuh, namun keadaan tubuhnya belum siap untuk bertempur dengan musuh. Apalagi saat ini Orlando memperketat penjagaan apartemen itu membuat kelurga kecil itu tidak kuatir akan ancaman penjahat manapun yang mencoba menyusup ke dalam unit apartemen miliknya
Untuk saat ini, nyonya Adeline menemui tuan Franco untuk menanyakan kejelasan kepemilikan rumah dan perusahaan milik mafia itu yang sekarang diklaim oleh nyonya Cole sebagai miliknya.
Saat berada di ruang pertemuan antara napi dan keluarganya, tuan Franco nampak terlihat sehat dan baik-baik saja. Seakan penjara bukan lagi tempat dirinya bertobat.
"Ada apa sayang?" tanya Franco saat keduanya selesai basa-basi untuk bertukar kabar.
"Masih ingat dengan mantan istrimu?" ketus nyonya Adeline dengan raut wajah sinis.
"Apakah dia datang menemuimu?" tanya tuan Franco.
"Dia ingin aku meninggalkan rumah itu. Apakah dulu kamu merampok semua miliknya?" Serang nyonya Adeline.
"Tetap tinggal di rumah itu dan jangan dengarkan dia. Secara hukum dia tidak bisa mengklaim apapun yang aku miliki karena semua sudah atas namaku," ucap tuan Franco.
"Oh..! jadi, kau bisa mengakui apa yang kamu miliki itu hanya sebatas secara hukum? Itu berarti yang sebenarnya adalah hasil rampasan?" sarkas nyonya Adeline.
"Adeline...!" pekik tuan Franco geram.
"Kenapa....? Kaget..? Bagaimana aku bisa mengetahui seluk beluk hartamu yang selama ini kamu kuasai tidak milik dari suami pertama Cole? Bahkan Orlando itu adalah anak dari suami pertamanya, bukan putramu, bukankah seperti itu?" sinis nyonya Adeline.
"Tugasmu hanya menjaga hartaku hingga aku bebas dari sini. Tidak perlu tahu bagaimana cara aku mendapatkannya. Jangan terlalu mendengarkan orang asing yang sudah aku lupakan bahkan aku sudah singkirkan dia dari hidupku. Dan Orlando, dia adalah putraku," tekan tuan Franco yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan kehadiran mantan istrinya itu yang mulai mengusik keluarganya.
"Kau hanya mendekam di penjara tanpa beban. Tapi kau tidak tahu kekacauan apa yang saat ini kami hadapi di luar sana. Semuanya berawal dari ambisimu yang begitu rakus pada milik orang lain. Kau tega menipuku dan membuat aku terlihat buruk di mata orang lain," ucap nyonya Adeline seraya bangkit berdiri.
"Untuk kuat, kau harus menutup mata hatimu dan dan juga telingamu. Tidak peduli berapa banyak makian yang kau terima. Karena yang kau miliki tidak semuanya mudah diraih walaupun jalan untuk mendapatkannya dengan cara yang salah. Itulah pertarungan hidup. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa," ucap tuan Franco sebelum nyonya Adeline benar-benar pergi darinya.
Nyonya Adeline membalikkan tubuhnya. Iapun menyampaikan sesuatu yang hampir terlewatkan oleh dirinya.
"Aku sangat senang dan lega saat mengetahui kalau Orlando bukan putra kandungmu. Sehingga aku tidak perlu merasa berdosa karena saat ini kita sudah memiliki cucu," ucap nyonya Adeline terdengar ambigu di kuping tuan Franco.
"Cucu..? Apakah Orlando sudah menikah? Bagaimana bisa aku sudah punya cucu...? Bukankah seharusnya dia menikah dengan Orissa," balas tuan Franco.
"Orlando telah menikah dengan putriku Carine secara diam-diam, jauh sebelum kamu ditangkap oleh FBI," celetuk nyonya Adeline.
"Dasar tua bangka...! Jika kamu tahu kalau putriku sendiri yang telah membekuk kamu atas kejahatanmu, maka, kamu tidak bisa lagi bersikap angkuh dan menghina putriku Carine," batin nyonya Adeline yang bersyukur kalau suaminya belum tahu identitas Carine sebenarnya.
Nyonya Adeline beranjak pergi dari penjara itu. Hatinya cukup lega setelah menyampaikan hubungan Orlando dan Carine pada suaminya. Namun, ia juga merasa sedih setelah mengetahui tuan Franco mengambil semua apa yang dimiliki oleh ayah kandungnya Orlando.
"Kamu memang pantas mendekam di penjara untuk waktu yang lama. Aku akan mengembalikan apa yang menjadi haknya Orlando. Tapi, mengapa nyonya Nicole meminta aku keluar dari rumah itu kalau dia sendiri juga mantan istrinya Franco. Berarti yang bisa memiliki rumah besar itu adalah Orlando," gumam nyonya Adeline seraya memikirkan langkah selanjutnya.
Di dalam penjara, tuan Franco memiliki kemudahan untuk bisa berhubungan dengan anak buahnya di luar sana. Ia tidak ingin Orlando yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri memiliki hubungan dengan Carine.
"Aku tidak ingin memiliki menantu wanita jelek itu. Apakah putraku sudah gila atau memang matanya sudah buta bisa tergila-gila pada Carine. Wanita itu memang harus dibunuh," ucap tuan Franco segera menghubungi anak buahnya yang masih bisa ia kendalikan dari dalam penjara.
Sementara itu, nyonya Cole tidak berani lagi untuk bertemu dengan putranya Orlando. Walaupun ia sangat merindukan putranya itu. Tapi, ia cukup bahagia Orlando menikahi Carine.
"Ternyata gadis itu selain cantik, dia juga sangat baik. Aku senang putraku mendapatkan wanita baik-baik. Aku harap Carine bisa membuat putraku kembali mencintaiku," ucap nyonya Cole yang saat ini sedang berendam di dalam bathtub sambil meneguk wine.
Ia sendiri juga tinggal di apartemen yang tidak kalah mewahnya seperti putranya karena gedung apartemen itu miliknya sendiri. Hanya gedung apartemen itu yang dimiliki oleh nyonya Cole dari peninggalan suami pertamanya yang tidak diketahui oleh tuan Franco karena gedung apartemen itu atas nama nyonya Cole sendiri.
"Tidak terasa waktu telah berubah. Aku semakin tua. Kesepian di hari tua itu sangat menyakitkan ku. Bahkan setiap tempat yang aku datangi tidak bisa menawarkan kebahagiaan apapun untukku.
Aku butuh puteraku. Aku ingin sekali tinggal dengan mereka dan melihat cucuku tumbuh besar. Apakah aku akan mendapatkan kesempatan itu?" tanya nyonya Cole sambil menangis seorang diri.
Ting...tong...
Nyonya Cole segera bangkit dari dalam bathtub begitu mendengar panggilan dari bel unit kamar apartemennya. Walaupun ada pelayan yang bisa membuka pintu utama itu, namun ia selalu meminta mereka untuk menunggunya membuka sendiri pintu itu.
Sambil mengenakan piyama tidurnya yang panjang, nyonya Cole berjalan keluar menuju pintu utama.
"Nyonya... itu...ada tamu yang...-"
"Biar aku saja yang membukakan pintunya, Gea," potong nyonya Cole tanpa ingin mendengar ucapan pelayannya yang belum selesai bicara atau melihat layar CCTV.
Ketika pintu dibuka, betapa terkejutnya nyonya Cole melihat siapa yang datang saat ini. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan tubuh yang menggigil kuat.
"Mau apa kau menemui ku, bajingan?" maki nyonya Cole mencoba memberanikan dirinya menghadapi tamu yang ada di depannya.
"Ternyata, makin tua kau makin terlihat sangat cantik Cole...!" puji pria itu membuat tubuh nyonya Cole makin meremang..