
Disaat perintah tuan Smith di arahkan untuk anak buahnya di rumah hutan untuk mengamankan Carine yang berada di kamarnya tuan Smith, di saat bersamaan datang beberapa helikopter FBI yang menurunkan anggotanya agak menjauh dari kediamannya tuan Smith di dalam hutan itu.
Pasukan itu turun dengan tali yang langsung melesat ke bawah. Mereka berlari menyusuri hutan lebat di tengah malam dengan menggunakan kaca mata khusus untuk bisa melihat musuh dalam kegelapan malam.
Mereka juga mendeteksi hutan itu yang mungkin saja tertanam ranjau. Mereka juga sudah mengetahui kalau ada kawat pagar yang teraliri listrik. Sumber daya listrik yang ada di rumah hutan itu berasal dari air sungai yang tidak jauh dari rumah itu.
"Lakukan dengan hati-hati dan jangan sampai terjadi sesuatu pada Carine karena saat ini dia sedang hamil!" titah Mr. M pada anak buahnya.
"Baik Mr. M."
Kompak mereka menjawab titah Mr. M yang sedang memantau pergerakan anak buahnya dari layar ponselnya. Saat ini, bukan hanya pasukan elite FBI saja yang sedang melakukan misi itu, tapi ada Orlando yang ikut serta dalam menyelamatkan istrinya atas permintaan Mr. M.
Hanya saja Orlando di kirim ke tempat itu mengikuti kloter ke dua karena keterbatasan helikopter yang di kerahkan FBI hanya lima unit saja karena mengingat sulitnya medan di area hutan itu.
"Baby. Aku datang sayang. Aku datang menjemput kalian berdua. Tolong jaga dirimu dan calon bayi kita...! Aku mencintaimu sayang," ucap Orlando sambil menatap wajah cantik istrinya dilayar ponselnya.
Empat bulan berpisah dengan Carine tidak mudah bagi Orlando. Doa dan harapannya untuk bisa bertemu lagi dengan istrinya akhirnya terwujud.
Sementara di rumah pohon yang ada di hutan itu, Carine sedang melawan beberapa anak buahnya tuan Smith yang berusaha mendobrak pintu yang Carine kunci dari dalam.
"Nona...! Buka pintunya..! Ada perintah dari tuan Smith agar anda kembali ke Denmark malam ini juga," bohong salah satu anak buahnya tuan Smith.
Carine tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan pistolnya ke arah pintu kamar. Ia sudah mendorong lemari bufet yang cukup berat untuk menghalangi pintu.
"Nona..! Kalau anda tidak membukanya, kami akan dobrak pintunya..!"
Carine tetap tidak bergeming. Ia terus berdoa agar dirinya dan kandungannya selamat. Tidak lama terdengar suara helikopter. Carine merasa bingung dengan kedatangan helikopter itu milik siapa.
"Apakah itu helikopter milik FBI atau tuan Smith?" tanya Carine yang tidak bisa mengintip ke jendela karena terhalang oleh pohon-pohon.
"Carine...! buka pintunya.. sayang..! Ini aku Smith. Ayo kita pulang..!" bujuk tuan Smith yang baru tiba.
"Berarti helikopter tadi adalah milik bajingan itu. Aku tidak akan menyerahkan tubuhku padamu. Aku lebih baik mati daripada menjadi pelacurmu," gumam Carine menahan tangisnya.
"Carinnnnne...! Aku minta kamu keluar baik-baik atau aku akan mendobrak pintu ini. ..!" ancam tuan Smith sengit.
Pintu itu di tembak beberapa kali oleh tuan Smith hingga bolong. Tuan Smith hendak memasukkan tangannya untuk melepas pengait pintu namun Carine sudah lebih dulu menembak tangannya.
"Ahhhhkkkkkk...! Sial...! Rupanya jal**Ng itu memiliki pistol. Dobrak pintu ini cepat...!" pekik tuan Smith pada anak buahnya.
Mereka ramai-ramai mendorong pintu itu namun Carine menembak bertubi-tubi ke arah pintu membuat anak buahnya langsung terkapar.
"Dasar jal**Ng sialan...!" maki tuan Smith frustasi menghadapi agen rahasia FBI yang satu ini.
"Hei .. kalian..! Singkirkan mayat-mayat ini dan dorong lagi pintu ini..! Pasti wanita itu tidak cukup memiliki banyak peluru di pistolnya..!" titah tuan Smith dituruti oleh anak buahnya yang tersisa hanya 10 orang yang ada di dalam rumah.
Tembakan kembali terjadi antara Carine dan tuan Smith yang terhalang papan kayu. Posisi Carine sudah makin terdesak. Tuan Smith merobohkan papan kayu yang sudah terkoyak karena tembakannya.
Bersamaan dengan itu peluru yang di miliki Carine telah habis. Senyum menyeringai tuan Smith melihat keberadaan Carine yang sulit untuk melawan karena kehamilannya.
"Mau ke mana kamu, hmm? apakah ini wajah aslimu? kau menipuku dengan wajah lugumu itu. Kau membuat aku terkesan saat melindungi aku dari para penjahat," ucap tuan Smith seraya menampar wajahnya Carine hingga bumil ini tersungkur ke lanta
Plakkkk ...
Carine menahan tubuhnya agar perutnya tetap terlindungi. Kini rambutnya ditarik ke belakang hingga wajahnya mendongak ke atas oleh tuan Smith.
Tuan Smith mendekati wajah Carine hendak mencium bibir Carine namun tembakan datang dari luar sana menghentikan aksinya.
"Sialan... siapa yang berani menyerang markas ku?!" pekik tuan Smith pada orang-orangnya di depan kamar.
"Bos...! Ada serangan dari pasukan FBI. ..!" teriak seorang anak buahnya dari luar.
"Sialan...! Bagaimana bisa mereka mengetahui tempat ini, Carine ...?!" bentak tuan Smith menarik rambut panjang Carine lalu diseret seperti binatang.
"Lepaskan...!" pekik Carine kesakitan. Carine mencengkram tangan tuan Smith yang tadi tertembak membuat tuan Smith melepaskan genggamannya pada rambut Carine sambil menjerit kesakitan. Lagi-lagi wajah Carine ditampar oleh tuan Smith yang sudah kesetanan saat ini.
"Tuan Smith...! rumah anda telah di kepung. Kami harap kerjasamanya dan angkat tanganmu sambil berjalan keluar!" titah salah satu komandan pasukan FBI dengan pengeras suara.
Carine tersenyum mendengar suara Tuan Markel. Ia hafal betul suara komandannya itu.
"Ayo kita mati bersama, sayang!" ajak tuan Smith menarik lengan Carine lalu menodongkan senjatanya ke leher Carine.
Wajah Carine yang terlihat lebam dengan sudut bibirnya berdarah mengikuti langkah kaki tuan Smith untuk berjalan keluar. Bumil ini dijadikan sandera oleh tuan Smith.
Tapi Carine bukan wanita bodoh. Ia sempat menyembunyikan kater di dalam kantong mantelnya. Sekarang hanya menunggu kesempatan untuk merobek perutnya tuan Smith yang malam ini hanya mengenakan switer.
Pasukan FBI terkesiap melihat agen rahasia kebanggaan mereka tampak babak belur dengan perut besarnya berjalan terseok-seok karena sempat terinjak pecahan beling. Orlando yang baru datang belakangan tampak syok melihat tubuh dan wajah istrinya yang terlihat menyedihkan.
"Carine...!" gugup Orlando dengan suara tercekat namun menahan amarah yang luar biasa.
Saat ia ingin maju menghampiri Carine, namun dicegah oleh anggota FBI lainnya.
"Jangan gegabah...! atau istrimu akan tertembak oleh bajingan itu."
"Tapi, lihatlah Carine terlihat kesakitan...!" protes Orlando tidak sabaran.
"Istrimu sudah sering menghadapi kematian. Itu karena kondisinya yang hamil membuat ia harus rela menerima pukulan dari iblis itu. Beri dia kesempatan karena istrimu itu pantang menyerah pada lawannya."
"Apakah kamu bisa menjamin?" tanya Orlando makin gugup melihat Carine karena sangat rindu pada istrinya itu.
"Kita lihat saja bagaimana takdir bermain dengan nyawa manusia..!" jawaban ambigu dari rekannya Carine itu.
"Lepaskan wanita itu dan angkat tanganmu...!" titah sang komandan Markel.
"Tidak akan kecuali wanita ini pergi bersamaku dengan helikopter itu," ucap tuan Smith masih keras kepala.