
Keakraban nampak terjalin mesra antara Carine dan Orlando. Keduanya saat ini sedang jalan-jalan ke tempat hiburan maupun pusat perbelanjaan.
Tautan tangan keduanya tidak pernah terlepas. Kadang Orlando merangkul pundak Carine atau menyusupkan tangannya ke pinggang ramping Carine yang merasa sangat bangga berjalan dengan pria pujaannya.
Walaupun begitu, ada rasa takut kehilangan dalam diri Carine jika Orlando masih bergonta-ganti wanita.
Untuk itulah Carine seakan tidak ingin menyerahkan hatinya seutuhnya pada Orlando yang selalu menyatakan cinta padanya dengan mudah, namun Carine tidak pernah menyatakan perasaannya pada Orlando sekalipun. Jika suatu saat mereka berpisah, setidaknya Carine tidak terlalu merasakan sakit, itu yang ada dipikiran Carine.
"Aku ingin membelikan sesuatu untukmu," ucap Orlando menarik tangan Carine menuju ke pakaian dalam wanita. Tentu saja tidak jauh-jauh dengan lingerie.
Wajah Carine bersemu merah dan terperangah saat Orlando menunjukkan model lingerie yang begitu seksi dan transparan pada Carine.
"Tidak. Aku tidak membutuhkan itu!" tolak Carine dengan wajah memerah menahan malu.
"Ayolah...! Aku ingin kamu mengenakannya saja lingerie itu tanpa aku menyentuhmu. Aku ingin melihatnya saja..!" bujuk Orlando.
"Kamu bisa melakukannya dengan wanitamu. Aku bukan bagian dari mereka. Maaf. Kalau hubungan kita ini hanya sekedar memuaskan birahimu, kau salah salah besar, Orlando. Aku memang menginginkanmu, bukan berarti aku harus menyerahkan tubuhku padamu dengan suka rela," sarkas Carine yang terlihat salah paham pada Orlando.
"Carine. Kenapa kamu tega menghinaku sejahat itu?" kecewa Orlando pada sikap Carine yang merasa dirinya hanya ingin tubuh Carine semata.
"Maaf. Aku mau pulang," Carine menghempaskan tangan Orlando dari pundaknya. Orlando menahan pundak Carine dan memeluk wanitanya agar Carine merasa tenang.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau, tidak apa sayang, jangan merajuk. Dan aku mohon tolong jangan menghinaku lagi...! Aku sudah menemukan diriku yang hilang saat bersamamu.
Aku sedang belajar untuk meninggalkan hidupku yang menjijikan itu karenamu. Tolong percayalah padaku..!" ucap Orlando namun pikiran Carine tidak mudah dibujuk.
"Aku hanya ingin pulang. Aku sudah kehilangan selera," tolak Carine dengan mode wajah datar.
Orlando terlihat sangat menyesal karena belum tahu banyak tentang Carine bagaimana dengan kepribadian Carine. Orlando mengikuti langkah Carine yang meninggalkannya begitu saja.
Orlando merasa sangat tertantang dengan sikap Carine yang keras kepala dan sulit bujuk." Aku harus menikahi gadis itu secepatnya jika dia tidak ingin melakukan hubungan se*s bebas denganku," batin Orlando yang sudah berada di dalam mobil bersama Carine yang tidak ingin menatap wajahnya.
"Sayang. Maafkan aku..! Tolonglah...! aku tidak bermaksud merendahkan-mu dengan memintamu mengenakan lingerie," Orlando mengulangi kata-kata yang sama agar Carine mau memaafkan dirinya.
Carine nampak terdiam. Rasa takutnya akan hubungannya dengan Orlando karena status mereka adalah saudara tiri juga mengganjal dihatinya.
Carine hanya takut membuat keputusan yang salah yang akan membuatnya menyesal. Lebih baik mencegah sedari awal walaupun ia harus bergumul dengan batinnya.
"Apa yang kamu takutkan Carine? Apakah kamu mengira aku sedang mempermainkan mu?" tanya Orlando sambil menjalankan mobilnya.
"Jangan terlalu berlebihan saat kita sedang bersama. Jika suatu hari nanti kamu bosan denganku, aku tidak begitu sakit terima perpisahan kita," lirih Carine menahan cairan bening di matanya.
"Iya sayang. Tapi, aku mohon jangan samakan aku dengan masa laluku yang ingin aku tinggalkan demi dirimu. Beri aku kesempatan Carine! Agar aku bisa membuktikan kepadamu kalau aku mencintaimu seutuhnya," ucap Orlando terlihat sungguh-sungguh.
Carine mengangguk pelan. Orlando mengambil jemari lembut itu lalu menciumnya penuh kasih.
"Apakah kamu ingin kita pulang?" tanya Orlando yang melihat Carine nampak tidak semangat.
"Hmm!"
"Ok. Kita bisa nonton film di rumah," ucap Orlando tersenyum canggung dan Carine tak peduli.
...----------------...
"Ayo kita berenang!" Ajak Carine seraya masuk ke dalam kamarnya.
"Apaa...? Berenang?" panik Orlando.
Orlando memanggil Lucio agar mengkondisikan para pelayan untuk keluar dari rumahnya dalam waktu yang lama.
"Segera tinggalkan rumah ini! Kalian boleh kembali setelah 3 jam atau aku yang meminta kalian kembali," ucap Orlando buru-buru.
"Tapi tuan!"
Orlando menatap horor wajah Orlando yang langsung setuju tanpa ingin membantah lagi. Ia juga masuk ke kamarnya untuk mengenakan celana renang saja. Dan keluar kembali mengenakan jubah mandi sambil menunggu kekasihnya di balik pintu.
Dalam benak Orlando mengira kalau Carine akan mengenakan bikini. Itulah sebabnya jantungnya terpompa keras jika melihat pemandangan baru di hadapannya nanti.
Carine keluar dengan mengenakan jubah mandi berwarna merah dengan rambut yang sudah terbungkus oleh topi renang.
"Berenang malam-malam itu sangat menyenangkan, bukan?" batin Orlando tersenyum hangat lalu menggandeng tangan Carine.
Setibanya di kolam renang jantungnya Orlando makin kencang detakannya. Ia menanti dengan penuh penasaran saat Carine siap membuka jubah mandinya.
"Ayolah sayang..! Cepatlah..! Aku ingin melihat bagian terindah dari tubuhmu itu," batin Orlando menelan salivanya dengan gugup.
Carine membuka perlahan jubahnya dan ternyata baju renang yang di kenakan Carine bukanlah bikini renang, tapi baju renang terusan yang menutupi setengah tubuhnya berlengan pendek dan menutupi setengah paha mulusnya. Namun bagian dada Carine yang membusung padat menjadi pandangan erotis juga untuk Orlando.
Deggggg...
"Hahh ...?" Orlando tercengang karena baju renang Carine tidak sesuai dengan ekspektasinya. Kini Carine langsung melompat ke dalam kolam renang dan mulai melakukan gaya renang dengan berbagai gaya.
Kini giliran Orlando yang membuka jubah mandinya. Tubuhnya terlihat atletis dengan otot-otot kekar nampak jelas hingga susunan roti sobek itu bisa membuat tatapan mata wanita berdecak kagum.
Hanya saja saat ini Carine masih sibuk berenang hingga tidak memperhatikan bagaimana atletisnya tubuh sang kekasih.
Orlando melompat ke dalam kolam renang. Mengikuti gerakan Carine yang begitu gesit di dalam kolam renang. Sekitar sepuluh menit kemudian, Carine nampak beristirahat dan berdiri di sudut kolom renang disusul Orlando.
Wajah Carine terlihat memerah melihat tubuh atletisnya Orlando. Orlando tampak santai dan membiarkan Carine menatap tubuhnya bergantian wajahnya.
"Mau bertarung denganku?" tantang Orlando.
"Tidak. Aku tidak suka pertarungan," ucap Carine.
"Apa kau takut, sayang?" Orlando mendekati Carine lalu melingkari tangannya ke pinggang Carine yang tersenyum manis.
"Kau penuh kejutan Carine. Kau tahu menjaga aset tubuhmu hingga tidak sembarang orang menikmatinya. Aku makin mencintaimu, sayang!" batin Orlando lalu mendekati wajah Carine karena tidak kuat melihat bibir sensual Carine menganggur begitu saja.
Keduanya kembali terlibat ciuman. Kedua tangan Carine mengusap lembut dada bidang Orlando hingga turun ke perut Orlando yang merasa sangat bergairah namun ia harus menahan dirinya dan membiarkan Carine melakukan atas tubuhnya.
Kini bibir Carine menciumi rahang kokoh Orlando dan beralih ke leher dan berhenti di dada bidang itu. Orlando merasakan sensasi nikmat dari setiap kecupan bibir Carine yang kini beralih menjilati put**gnya dan itu adalah pusat gairahnya.
"Sayang. Jangan menggodaku kalau kamu tidak ingin disentuh juga!" ingat Orlando agar Carine tidak membuat miliknya hanya mengeras tanpa ada butuh pelampiasan.
Carine tersenyum seakan berhasil membalas dendam pada Orlando yang pernah menggodanya dulu setiap kali pria itu berciuman dengan kekasihnya di depan Carine.