PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
60. Tangan Maut


Untuk sementara waktu, Carine sengaja menyembunyikan identitas pelaku yang telah menembak ayahnya saat sedang melakukan misi. Carine tidak mau ibunya syok karena mengetahui masalah ini.


Seiring berlalunya waktu, Carine sudah kembali ke aktifitasnya seperti biasa pasca cuti melahirkan. Kini ia kembali menjadi seorang dokter bedah dan juga agen rahasia FBI.


Apa lagi saat ini Carine lebih tenang bekerja karena ada ibunya yang mengawasi putranya yang kini sudah berusia enam bulan.


Putranya Kenan cukup anteng jika ditinggal ibunya bekerja karena ayahnya memberikan teman mainnya baby Kenan yaitu seorang anjing lucu jenis Pomeranian.


Anjing dengan nama lain Spitz Jerman Kecil ini merupakan salah satu yang sangat populer. Dengan anjing ini, baby Kenan tidak begitu memikirkan kedua orangtuanya kecuali malam tiba ia mau di tidurkan oleh ayah atau ibunya.


"Baby Kenan main dengan Oma dan Coky(nama anjing kesayangan baby Kenan) ya!" ucap Carine seraya menggendong putranya menuju ruang keluarga.


Bayi montok itu mengangguk namun matanya tak berkedip sedikitpun menatap wajah cantik ibunya. Orlando yang berjalan di sebelah istrinya melihat pemandangan itu membuatnya kesal juga.


"Jangan sekali-kali menatap dalam wajah istriku terlalu lama...!" ucap Orlando dengan iseng menutup mata si kecil yang sedang berkoala di perut ibunya yang melangkah ke arah ruang tamu.


Seakan menuli dengan godaan ayahnya si baby menepis tangan kekar itu dari wajahnya.


"Orlando. Sudahi perangnya! Jangan digodain terus anaknya! Entar susah dibujuk kalau sudah rewel," protes Carine karena Orlando begitu posesif padanya walaupun dengan putra mereka sendiri.


"Cepatlah kita berangkat..! Jangan terlalu lama merayunya..! Dia sudah punya mainan baru," ketus Orlando berjalan lebih dulu menuju mobilnya.


"Jangan dengarkan Daddymu...! Dia sangat mencintaimu melebihi apapun di dunia ini, ok! Mommy tetap menjadi milikmu, sayang," ucap Carine mengecup lembut pipi putranya.


"Baby....!" nyonya Adeline menyambut cucunya. Coky menghampiri majikannya itu yang sudah berada dalam gendongan sang Oma dengan mengibaskan ekornya.


"Apakah kamu pulang malam lagi?" tanya nyonya Adeline.


"Akan aku usahakan pulang sore mommy. Kalau tidak Orlando yang lebih dulu tiba di rumah karena dia pemilik perusahaannya," ucap Carine lalu mengecup pipi putranya sekali lagi.


"Mommy tidak mau putramu sampai ngambek kalau belum melihat salah satu kalian pulang..!" pesan nyonya Adeline.


"Baik mommy. Carine jalan dulu. Coky..! Jaga mereka untukku..!" pinta Carine dan coky segera berdiri sejenak seakan mengatakan siap bos pada Carine.


Carine melangkah dengan cepat karena Orlando sendiri yang mengantarkannya ke rumah sakit. Walaupun berpakaian rapi dibalut blazer dengan rok pendek di batas lutut, namun Carine menyimpan pistol di mana tempat di dalam bagian tubuhnya.


Tubuh Carine yang terlihat kembali ramping membuat Orlando tidak berhenti menggarap istrinya setiap saat.


"Sayang. Apakah kamu pulang sendiri atau mau aku jemput?" tanya Orlando saat mobilnya sedang melintas di sepanjang jalan pinggir pantai.


"Lebih baik tunggu informasi dariku pukul tiga sore. Jika ada tindakan mendadak pada pasien, aku tidak bisa pulang cepat," balas Carine.


"Biar asisten Wizz yang menjemputmu nanti kalau kamu pulang terlalu malam," ucap Orlando.


"Baiklah. Temani saja putra kita..! Jangan terlalu cemburu padanya," nasehat Carine pada suami posesifnya ini.


"Hmmm!"


Dreettt...


Ponsel Carine berdering. Carine melihat panggilan dari Mr. M. Carine menempelkan benda pipih itu dengan mengucapkan kata hallo.


"Langsung menuju markas Carine ! Ada tugas untukmu..!" titah Mr. M yang tahu pergerakan anak buahnya ini karena di tubuh Carine sudah ditanam alat GPS khususnya dibagian nadi pergelangan tangan. Carine mendengarkan penjelasan singkat dari bosnya itu.


"Baik Mr.M."


"Apakah kamu akan ke luar kota atau ke luar negeri?" tanya Orlando.


"Belum tahu pastinya. Nanti aku kabari kalau sudah tahu isi perintahnya apa," ucap Carine.


"Kamu memiliki bayi dan dia butuh asupan ASI darimu. Aku tidak mau putraku sampai sakit gara-gara misimu itu yang menjauhkan dia dengan makanannya," gerutu Orlando yang sebenarnya dirinya yang tidak bisa jauh sama istrinya.


"Kamu atau bayimu," cibir Carine sambil tersenyum.


"Dua-duanya. Sudahlah jangan menggodaku. Aku keberatan kalau kamu sampai ke luar kota apalagi ke luar negeri," ucap Orlando.


"Kita bertiga akan berangkat bersama jika memang tenagaku sangat dibutuhkan saat ini," ucap Carine.


"Apakah tidak ada orang lain selain kamu sayang?" geram Orlando.


"Biasanya Mr. M selalu memberikan tugas pada beberapa agen terpilih. Hanya saja saat diuji kemampuan khusus dalam misi itu ada yang tidak memenuhi syarat dan terpaksa aku yang kembali di unjuk sebagai tim pelaksana," jelas Carine.


"Mereka selalu saja memanfaatkan kamu," kesal Orlando.


"Sabar sayang. Ini demi kemanusiaan. Kalau kejahatan harus dibasmi," hibur Carine sambil mengusap paha suaminya.


"Jangan merangsang aku, baby! Tanganmu itu maut," cegah Orlando namun Carine makin menggoda dengan berpindah ke resleting celana panjang Orlando yang menahan nafasnya yang sudah tak teratur.


"Baby. Misi mu akan gagal kalau caranya seperti ini," ucap Orlando yang melihat tingkah agresif Carine yang sudah menyusup di balik boxernya.


"Cepat sekali dia bangun sayang," desis Carine terdengar sensual membuat Orlando butuh tempat untuk menyelesaikan hasratnya.


"Kau sudah memancingku, baby." Suara Orlando terdengar serak karena tidak kuat lagi menahan dirinya karena miliknya sudah dimanjakan oleh mulut istrinya.


Ia mencari tempat yang sepi agar bisa membalas wanitanya yang sudah berani menggodanya sepagi ini, padahal sudah melakukannya semalam suntuk.


Mobil berhenti. Orlando menarik tubuh Carine agar duduk dalam pangkuannya. Bibir sensual itu menjadi santapannya pagi itu. Gelora gairah Carine mampu membakar gairah suaminya karena gaya percintaan Carine yang spontan yang selalu tercipta membuat Orlando sangat menyukainya.


"Kau yang meminta aku merusak dandanan kamu pagi ini. Jadi jangan protes, baby..!" desis Orlando hanya dibalas senyum oleh Carine yang tampak erotis dengan gerakan indah meliukkan tubuhnya diatas suaminya.


"Aku suka terima hukuman nikmat ini. Aku mohon jangan berhenti mencintaiku sekalipun aku tidak bisa melakukan tugasku suatu hari nanti karena gagalnya misi," ucap Carine bersamaan dengan keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.


"Akkkk...! Carine...!" tatapan Orlando pada wajah cantik itu nampak berkeringat karena sudah memacu birahi mereka pagi itu.


Orlando menghembuskan nafasnya kasar setelah puas memacu birahi mereka. Carine berpindah lagi ke sebelah jok samping sambil memperbaiki busana yang sudah tak beraturan lagi karena aksi gila mereka pagi itu.


Sekitar lima menit membenahi pakaian mereka agar kembali rapi, Orlando baru menanyakan perihal ucapan yang terdengar aneh dari istrinya barusan.


"Apa maksud dengan ucapanmu barusan, baby?" tanya Orlando yang tidak suka dengan ucapan aneh itu.


"Aku hanya meminta itu padamu jika suatu saat aku sudah tidak mampu lagi melayanimu dan kamu boleh menikah lagi dengan wanita lain," jelas Carine menatap sendu wajah Orlando.


"Jangan bilang kalau misi mu kali ini sangat membahayakan dirimu, Carine!" tegas Orlando menatap tajam manik abu itu.


Deggggg...


"Apa tugasmu kali ini, Carine?" desak Orlando walaupun ia tahu Carine tidak akan membocorkan tugas negara itu sebelum misi dilaksanakan oleh Carine.