
Malam itu, Carine sendiri yang mendatangi lagi gereja tertua di dunia itu untuk mencari bom yang mungkin saja diletakkan di atas menara sesuai dengan tebakannya.
Hanya ada tiga orang anak buahnya yang Carine ajak untuk membantunya menemukan benda milik negaranya itu. Sekitar dua menara tinggi itu menjadi tempat incaran mereka. Namun sayang, tidak ada benda apapun di atas tempat itu kecuali jam besar dan lonceng milik gereja di antara dua menara itu.
"Maaf nona Carine, di atas sana tidak ditemukan apapun," ucap anak buahnya membuat Carine begitu geram.
Hati Carine begitu sesak karena merasa perburuannya sia-sia. Carine memejamkan matanya. Menghubungkan kembali apa motif dari pencurian bom itu untuk tujuan apa.
Saat menemukan apa yang ada dalam pikirannya, Carine lantas mengumpat dengan keras.
"Sialan....! Kita telah dipermainkan oleh mereka. Mereka sedang mengincar salah satu kandidat presiden yang merupakan keturunan Armenia. Dan beliau adalah seorang Katolik ortodoks yang taat.
Dan besok ada misa pagi yang akan diikuti oleh kandidat capres itu. Lawan politiknya ingin melenyapkannya. Sebaiknya kita kembali ke Amerika malam ini," ucap Carine segera masuk ke dalam helikopter.
"Apakah kali ini kita akan menemukan bom itu, nona?" tanya anak buahnya ragu.
"Jika tebakan aku salah, aku bersedia mengundurkan diri jadi bos kalian, mengerti?" geram Carine.
"Baik nona, semoga saja perkataanmu benar karena mengingat Armenia dan Amerika bukan jarak yang dekat."
Helikopter mengudara menuju bandara. Carine melihat jam ditangannya pukul delapan malam.
"Kita harus bergerak diam-diam menuju gereja katedral di pusat kota New York. Jangan sampai kepulangan kita ke Amerika diketahui oleh kesatuan kita," pinta Carine pada rekannya yang merupakan bawahannya itu.
"Lebih cepat lebih baik nona karena malam ini pasti sudah ada polisi yang mensterilkan tempat itu sebelum ada misa besok pagi," ucap Jonah.
"Kasihan snipers-nya, pasti mereka menjadi korban utama dari ledakan bom itu," ucap Carine.
Di bandara keduanya langsung naik pesawat milik agen FBI. Terbang mengangkasa melewati beberapa negara untuk mencapai kota New York Amerika. Carine tidak mengabari kedatangannya baik suaminya maupun bosnya sendiri karena saat ini semua orang menjadi tersangka menurutnya.
Tiba di bandara setempat, Carine kembali menaiki helikopter menuju gereja yang dituju. Carine melaporkan adanya bom di atas gereja itu kepada detektif Wells.
"Apakah kamu yakin bom itu ada di atas jam di menara gereja itu?" tanya detektif Wells membuat Carine geram.
"Tidak ada salahnya memastikan semuanya dari awal sebelum kejadian itu," timpal Carine.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menemani kamu untuk memastikan bersama, apakah ada dan tidak adanya bom itu di atas menara gereja," ucap detektif Wells.
"Baiklah. Kita akan bertaruh. Beri aku ruang untuk bisa menjinakkan bom itu karena bom itu akan meledak sesuai yang diharapkan pelaku bom itu sendiri," ucap Carine sambil berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai atas menuju atap.
"Kami sudah melakukan penyisiran di seluruh sudut gereja ini dengan alat pendeteksi berupa detektor untuk mengetahui benda-benda yang berupa senjata tajam dan bom. Semuanya sudah bersih. Kenapa sekarang tiba-tiba kamu datang memberikan alasan kalau ada bom di tempat ini?" omel detektif Wells.
"Apakah alat pendeteksi itu sampai ke menara gereja di jam itu?" tantang Carine menunjuk tempat yang berada di atas gereja itu.
Wajah detektif Wells terlihat kesal dengan Carine yang selalu saja menganggu ketenangannya. Kali ini Carine naik sendiri di atas jam tower untuk mencari bom yang berupa tabung itu.
Sekitar pukul 5 pagi, Carine menggapai tempat itu. Setelah mencari di setiap sudut area sekitar itu, ia tidak menemukan bom. Tapi hatinya sangat yakin bom itu ada di tempat itu.
Matanya tertuju di bawah lantai yang ia pijak. Rupanya lantai tempatnya berdiri terbuat dari kayu dan ditutup dengan karpet. Carine segera menyingkirkan karpet. Wajahnya terlihat cerah saat mengingat dirinya akhirnya berhasil menemukan bom itu.
"Pasti di sini," ucap Carine seraya mengangkat penutup balok kayu itu dan benar saja ada bom di dalamnya.
Wajah detektif Wells terlihat pucat. Ia tidak menyangka ada bom di dalam tempat itu. Jika saja gereja itu meledak maka dia akan disalahkan dan dipecat karena tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui jika bom ada di dalam tempat ini?" tanya detektif Wells.
"Jika jalan kejahatan yang ditempuh penjahat begitu apik dan hampir sempurna, ingatlah..! bahwa jalan Tuhan selalu memberikan cahaya kebaikan untuk menyelamatkan hambaNya yang tidak berdosa bila takdir kematian belum berpihak kepada mereka," ucap Carine sambil menarik nafas lega dengan senyum mengembang sempurna.
Carine melihat baterai bom itu makin. melemah. Detektif Wells menatap wajah Carine dengan tatapan rumit.
"Ada apa...? Mengapa wajahmu berubah seperti itu...?" tanya detektif Wells.
"Keluarlah dari sini...! Aku ingin sendiri di sini. Suruh semua anak buahmu pergi dari sini sebelum membuat mereka tewas..!" titah Carine terlihat berkaca-kaca.
"Apakah bom ini akan meledak? Apakah kamu tidak bisa menjinakkannya lagi?" tanya detektif Wells.
Carine mengangguk. Detektif Wells tersentak. Ia berdiri dengan tungkai kakinya gemetar. Ia mengambil ponselnya untuk memerintahkan anak buahnya agar segera menjauh di area gereja.
Carine menghubungi helikopter untuk datang menjemputnya agar mereka bisa membawa bom itu segera menjauhi pemukiman kota yang mungkin saja akan memakan banyak korban.
Walaupun ia tidak tahu apakah bisa menyelamatkan manusia tak berdosa dibawah sana atau tidak. Sementara itu di mansion utama tangis baby Kenan tidak berhenti.
Apapun yang diberikan oleh ayah dan Omanya untuk menenangkan bayi tampan itu namun di tolak oleh bayi itu. Ia terus saja berontak dan minta keluar dari rumahnya. Orlando menuruti permintaan bayinya dengan perasaan bingung.
"Mommy. Ada apa dengan puteraku? Apakah dia sakit perut?" tanya Orlando cemas. Mommy sudah menghubungi dokter Kayla. Sebentar lagi dia akan datang," ucap nyonya Adeline.
Sekitar lima menit kemudian, dokter Kayla yang merupakan dokter spesialis anak, sudah tiba di mansion itu karena rumahnya satu komplek dengan rumah Orlando yang ada di sekitar pesisir pantai.
"Berikan baby Kenan padaku..!" mengambil baby Kenan dari gendongannya Orlando.
Dokter Kayla memeriksa dengan seksama dan ia tidak menemukan penyebab dari tangisnya putranya Orlando itu.
"Dia baik-baik saja. Mungkin perasaannya sedang cemas saat ini. Di mana Ibunya?" tanya dokter Kayla.
"Sedang ada tindakan darurat medis pada pasien," ucap nyonya Adeline.
"Tolong minta ibunya segera pulang atau bawa dia pada ibunya karena dengan pelukan seorang ibu akan menenangkan hatinya," saran dokter Kayla membuat Orlando dan ibu mertuanya saling bertatapan.
Deggggg...
"Apakah terjadi sesuatu pada Carine-ku?" batin Orlando yang juga ikutan cemas karena ia tahu pasti saat ini Carine sudah menemukan bom itu.