PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
49. Bisa Teratasi


Kehamilan Carine yang cukup besar tidak menghalanginya untuk menumbangkan lawan karena saat ini ia hanya menggunakan senjatanya.


Jika adu fisik dia tidak mungkin bisa melawan para penjahat yang sedang mengincar mereka. Siapa lagi kalau bukan anak buahnya Andrew yang masih penasaran dengan Carine dan Orlando.


"Baby..! Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Orlando saat Carine menekan tombol jendela mobil untuk menurunkan kaca mobil.


"Melambaikan tanganku kepada mereka," canda Carine seraya mengeluarkan moncong pistolnya untuk mencari bidikan yang akan ia lepaskan ke arah sasaran.


Orlando tertawa kecut. Banyak hal yang selalu ia dapatkan dari istrinya yang bisa mengatasi masalah dengan tenang walaupun nyawanya di ujung tanduk.


"Wizz..! Kendalikan laju mobilnya antara cepat dan pelan untuk mengecoh penjahat!" titah Carine.


Orlando yang juga memegang senjata ingin melakukan penembakan juga hanya saja strategi yang dimilikinya kurang terlatih seperti Carine yang mampu menarik pelatuk langsung mengenai target langsung tepat sasaran.


Wizz mengatur frekuensi laju kendaraannya. Di saat mobil lawan sedikit menjauh dari sisi mobilnya tepat di belakang mobilnya dengan bagian cup mobil sedikit menonjol ke depan dan Carine dengan cepat menekan tombol jendela mobil lalu melepaskan tembakan ke arah mobil lawan diantara ban mobilnya lawan yang langsung meletus.


Mobil itu langsung kehilangan kendali yang langsung ditabrak oleh mobil rekannya di belakang. Sekali tembak dua tiga mobil terlampaui.


"Woww...! Keren...!" puji Orlando takjub.


Sebenarnya Carine bisa menghubungi markas FBI untuk mengamankan para penjahat yang mengejar mereka namun lagi-lagi Carine tidak mau identitasnya sebagai agen rahasia akan diketahui dengan mudah oleh penjahat karena itu yang mereka inginkan untuk mengetahui siapa Carine sebenarnya.


Asisten Wizz menikmati permainan istri dari tuannya ini. Ia jadi banyak belajar cara Carine membuat strategi memukul mundur lawan tanpa adu otot tapi lebih kepada membaca pola gerak-gerik lawan saat ingin menghabisi bumil itu.


"Pantas tuanku begitu tergila-gila padamu. Jadi ini jawabannya. Seorang penjahat kelamin bisa tobat jika berhadapan dengan wanita hebat sepertimu," puji asisten Wizz pada Carine membatin.


"Sekarang kamu bisa ngebut dan lewati dua mobil yang ada di depanmu!" pinta Carine yang sudah siap menembak lagi sementara Orlando hanya menjaga tubuh istrinya agar tidak sampai kebentur body mobil atau sampai perut besarnya mengalami cidera.


"Baik nona. Bersiaplah..!" ucap asisten Wizz segera melakukan gerakan zig-zag untuk mengecoh penjahat. Asisten Wizz mengambil jalur mereka antara kiri atau ke kanan. Dengan begitu mereka akan kelabakan untuk mencari posisi yang tepat agar terhindar dari tabrakan tuan Wizz.


Mereka memilih arah kanan yang justru menjadi sasaran empuk dari tembakan Carine. Posisi Carine yang sudah berpindah duduk dengan posisi suaminya yang memudahkan dirinya untuk menembak lawan yang ikut membuka kaca mobilnya hendak melepaskan tembakan Carine.


"Menunduk hubby...!" titah Carine yang merundukkan tubuh mereka saat penjahat melepaskan tembakan ke arah mereka namun tidak mengenai tubuh mereka.


Di saat mereka sedang mencari Carine dan Orlando dengan wajah termangu, di saat itulah Carine dan Orlando langsung membordir mereka dengan peluru hingga penumpang di dalamnya langsung tewas di tempat dan terakhir sopir yang menjadi incaran Carine dan mobil mereka langsung menabrak bahu jalan lalu terguling beberapa kali kemudian meledak hingga menghalangi dua mobil rekan mereka yang lainnya yang tidak bisa lagi mengejar mobilnya Orlando.


"Wowww...sayang..! Kita berhasil..!" pekik Orlando kegirangan seraya memeluk leher istrinya dan membenamkan ciumannya pada bibir seksi Carine.


"Ayo kita pulang sayang...! Aku sudah lelah," pinta Carine yang sudah terpacu adrenalinnya melawan menghabisi penjahat dalam kondisi hamil.


"Baby. Aku ingin anakku nanti kalau anak kita sudah besar harus menjadi sepertimu. Aku sangat kagum dengan caramu menghabisi musuh tanpa rasa takut. Walaupun aku sendiri hampir kehabisan nafas melihat aksimu. Aku sangat bangga memilikimu, baby," ucap Orlando tanpa jedah.


"Lho kenapa?" tanya Orlando bingung.


"Karena tidak semua manusia mengalami keberuntungan dalam hidupnya. Bisa saja hari ini aku lolos dari maut tapi belum tentu anak-anak kita melaluinya dengan baik. Aku sangat takut akan kehilangan. Sangat takut," ucap Carine mengingat akan kepergian ayahnya yang meninggal karena kurang perhitungan saat menjalankan misinya.


"Apakah kamu punya trauma tersendiri? Apakah kamu kehilangan teman dekatmu saat melakukan misi?" cecar Orlando.


"Ayahku yang telah gugur dalam melakukan misinya," ucap Carine.


"Jika ayahmu gugur dalam misinya, harusnya kamu tidak perlu menjadi agen rahasia FBI," protes Orlando.


"Aku harus tetap menjadi agen rahasia karena aku ingin membalas kematian ayahku. Orang yang menembaknya secara keji saat ia sudah menyerah," ucap Carine menahan bulir bening di mata indahnya.


"Siapa yang telah membunuh ayahmu, baby?" tanya Orlando.


Carine nampak terdiam karena mereka sudah tiba di apartemen milik Orlando. Obrolan itu terhenti karena mereka harus turun. Orlando menurunkan belanjaan istrinya. Keduanya segera menuju pintu lift. Carine tetap mengenakan kacamata dan maskernya. Asisten Wizz kembali ke perusahaan lagi.


Tiba di dalam kamarnya, Carine menanggalkan semua bajunya untuk mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket. Orlando merapikan belanjaan Carine dan langsung memasukkan ke dalam kulkas dan sebagiannya di simpan di kitchen set. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Orlando membuka pintu kamar mandi dan melihat Carine sudah berada di dalam bathtub. Carine menikmati sensasi air hangat yang memijat lembut tubuhnya sambil mendengarkan lagu. Orlando juga sudah menanggalkan pakaiannya dan ingin bergabung dengan sang istri.


"Apakah kamu mau tubuhmu dipijat sayang?" tawar Orlando.


"Hmm!" Carine mengangguk kecil saat suaminya sudah duduk di belakang punggungnya siap menunggu pijatan sang suami pada tubuhnya.


Rupanya pijatan yang diharapkan Carine bukan pijatan relaksasi ototnya yang kaku tapi lebih kepada dua bukit kembarnya yang menjadi tumpuan pijatan suaminya.


"Kenapa kamu menipuku..?" protes Carine menjadi kesal.


"Pijatan ini lebih efektif ke tubuhmu sayang karena akan melepaskan syaraf-syaraf kita yang sangat setress yang kita alami hari ini," dalih Orlando membuat Carine terkekeh kecil.


Carine memiringkan tubuhnya sedikit untuk menatap wajah tampan suaminya.


"Memang aku lebih membutuhkan pijatan dalam daripada dari luar. Aku butuh tongkat sakti ini untuk melepaskan kepenatanku hari ini," pinta Carine dengan jari jemarinya yang sudah bergerak memanjakan milik suaminya yang seketika mendesis.


Keduanya sudah saling berciuman dan menghisap lidah mereka. Decapan bibir keduanya menggema di dalam kamar mandi itu. Orlando mengusap leher Carine lalu menyambar dua bukit itu untuk ia sesap.


Sementara bunyi ponsel keduanya di luar sana terus bergema namun keduanya seakan menuli karena tidak ingin menunda urusan dalam negeri.


"Carinne...! Kamu di mana sayang..? Tolong mommy...!" pinta nyonya Adeline yang saat ini mobilnya sedang diikuti oleh dua mobil yang ingin mengepung mobilnya.