PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
30. Membeberkan Fakta


Usai menikmati makan malam bersama dalam keheningan itu, keduanya kembali ke apartemen mereka. Seperti biasa, Orlando tetep menggendong tubuh istrinya yang memang masih terlihat lemah.


Orlando membaringkan tubuhnya Carine dan menggantikan pakaian kerjanya dengan piyama. Namun matanya segera dialihkan saat melihat buah ranum yang kini terlihat makin membesar yang menggoda imannya kala adiknya yang sedang berontak untuk mendapatkan perhatian lebih.


Orlando buru-buru mengenakan piyama tidur milik Carine agar tidak terjerumus lebih jauh karena suasana hatinya masih belum adem saat ini. Carine nampak tenang dan berharap Orlando hanya marah padanya saat ini dan bisa hilang berjalannya waktu.


"Tidurlah. Aku mau merokok sebentar!" ucap Orlando namun Carine lebih dulu membuka mulut.


"Daddy terlibat kejahatan dengan melenyapkan nyawa banyak orang hanya untuk mendapatkan organ tubuh manusia untuk diperjual belikan dengan sesama mafia termasuk tuan White," ucap Carine membuat Orlando menghentikan langkahnya.


"Jangan membual...! Itu tidak mungkin. Kami punya banyak perusahaan. Untuk apa menggeluti bisnis kotor dan menjijikkan seperti itu?" balas Orlando tidak percaya.


"Aku bukan orang gila yang menyeret Daddymu ke ranah hukum jika tidak ada bukti atas kejahatannya. Walaupun operasionalnya tidak dilakukan di Amerika, tapi sejumlah kejahatan itu ada di beberapa kota di beberapa negara yang cukup sepi untuk dijadikan markas operasional itu agar tidak terendus media dan kepolisian.


Awalnya dari bisnis narkoba. Mencari para wanita lajang yang terlihat depresi dan tuna wisma. Menyenangkan mereka dengan kemewahan lalu disuntik narkoba dan di jual di pria hidung belang setelah tidak lagi berguna, organnya diambil," tutur Carine.


"Bisa jadi daddyku hanya korban fitnah para rekannya sesama mafia. Jangan terlalu memusatkan perhatianmu pada daddy karena aku tahu betul siapa daddyku," elak Orlando mempertahankan argumennya tentang tuan Franco.


"Jaringan intelijen negara ini sudah mendapatkan semua bukti itu atas keterlibatan daddy. Tugasku hanya memastikan keterlibatan daddy dalam kasus ini," tutur Carine masih berusaha meyakinkan Orlando agar suaminya mau menerima fakta tentang kegiatan ilegal yang dilakukan oleh tuan Franco beberapa tahun yang lalu.


Carine mengambil ponselnya. Ia menyerahkan laporan kegiatan ilegal tuan Franco di sertai beberapa bukti berupa foto dan video di lokasi kejadian.


"Lihatlah sendiri bukti itu...! Kamu bisa menilai kebenarannya. Aku hanya menjalankan tugasku. Itu adalah resiko pekerjaanku. Jika ada yang melawan hukum tidak peduli seberapa dekatnya dia denganku sekalipun itu adalah darah dagingku sendiri," imbuh Carine tegas.


"Jika tahu aku putra dari seorang mafia, kenapa masih mau menerimaku sebagai suamimu...? Bukankah seluruh anggota tubuhku sudah dipenuhi hasil dari nafkah haram daddyku? dan mengapa tidak mau mencegah ibumu untuk menikahi daddyku jika kamu tidak punya maksud terselubung dengan semua ini?" cecar Orlando cukup membuat hati Carine ciut.


"Jika aku bisa memilih, mungkin aku akan menjauhimu dan tidak perlu membuat hatiku menderita. Sayangnya, setiap kali batinku berperang, tetap saja jawabanku tetap sama kalau aku sangat mencintaimu dan hatiku lebih menderita jika memilih menjauhimu karena kamu hanya karena kamu adalah putra dari mafia sadis," tutur Carine seraya menutupi wajahnya dengan selimut.


Deggggg...


Orlando tercengang mendengar penuturan istrinya. Hatinya seakan diremas kuat atas pengakuan Carine yang terdengar tulus dan mendalam. Hanya saja ia belum bisa move on mengetahui ayahnya adalah seorang penjahat besar berkedok pengusaha sukses dibidang lain.


Orlando mengambil ponsel Carine dan menyaksikan adegan yang membuatnya gemetar kala ayahnya sangat sadis saat membunuh beberapa orang pria yang mencoba membebaskan para wanita yang dijadikan PSK dan berakhir di meja operasi untuk diambilkan organnya.


Orlando melempar ponsel Carine ke sembarang arah dan keluar dari kamarnya menuju balkon sambil mengatur nafasnya yang terasa sangat sesak. Iapun berteriak dalam kegelapan malam dan suaranya langsung tenggelam bersama udara malam.


"Apakah aku tidak boleh meraih kebahagiaanku? Mengapaaa....? Andaikan daddy ku yang harus menerima hukumannya kenapa harus istriku sendiri yang menangkapnya? kenapa bukan orang lain...? Itu sama saja sebuah cemoohan untukku," pekik Orlando sambil menangis sendirian di balkon kamarnya.


Carine yang mendengarnya juga ikut menangis di dalam selimutnya. Ia bisa merasakan goncangan jiwa Orlando yang selama ini terkenal pria terhormat namun memiliki ayah bejat.


"Maafkan aku Orlando ...! Maafkan aku sayang..! Aku sudah mempertimbangkan tentang perasaanmu jika kamu harus tahu kenyataan pahit ini. Tapi apalah dayaku sebagai penegak hukum di negri ini yang tidak boleh tebang pilih," gumam Carine sambil terisak.


Ingin keluar memeluk suaminya tapi Carine begitu takut mendapat penolakan Orlando yang mungkin saja bisa berbuat kasar padanya dan itu tidak baik untuk dirinya yang saat ini sedang hamil muda.


Orlando kembali ke kamarnya dan mengambil beberapa kaleng minuman beralkohol untuk menghilangkan perasaannya yang sangat kacau saat ini.


Carine yang kelelahan akhirnya tidur juga. Sementara Orlando asyik dengan minumannya yang bisa membuat dirinya lupa akan masalahnya sejenak.


Malam itu, Orlando tidur di tempat terpisah dengan Carine. Ia tidak ingin berdamai dengan keadaan sekalipun fakta kebenaran dari kejahatan ayahnya sudah dia lihat sendiri.


Walaupun sudah berlangsung selama sepuluh tahun yang lalu dan tuan Franco membersihkan dirinya dari kejahatannya itu dan memilih hijrah ke Amerika dan membangun perusahaan. Sementara kegiatan itu dilanjutkan oleh mafia lain. Padahal cikal bakal kejahatan itu berawal dari tuan Franco sendiri.


Keesokan paginya, Carine kembali merasakan mual. Ia memuntahkan lagi isi perutnya walaupun yang keluar itu hanya air. Mendengar Carine muntah lagi, Orlando tidak tega dan mengurut tengkuk istrinya di wastafel itu.


Wajah Carine terlihat sangat pucat dan juga sangat lemah. Jika hanya karena mual alasan hamil, mungkin Carine bisa menahannya. Perasaan setress yang menambah beban mentalnya yang menganggu metabolisme tubuh Carine.


"Apakah sudah lebih baik?" tanya Orlando dengan perhatiannya sebagai seorang suami. Carine mengangguk lemah dan berusaha kembali ke kamarnya namun Orlando langsung menggendong tubuhnya.


"Istirahatlah dan jangan bekerja! Ingat..! kamu sedang mengandung anakku. Jangan libatkan dia dengan masalah bodohmu itu...!" ketus Orlando membuat kedua tangannya Carine mengepal kuat dan ingin meninju wajah menyebalkan Orlando.


"Untuk apa hidup bersama dengan pria ini kalau mulutnya tidak berhenti menyiksa mentalku. Aku dan bayiku bisa gila berada disisinya," batin Carine yang sudah serba salah menghadapi sikap ketus Orlando yang masih sulit menerima kenyataan tentang ayahnya.


"Tunggu ya sayang. Kita akan kabur dari ayahmu yang berengsek ini. Rupanya cinta mami tidak bisa mengubah hatinya yang keras karena masalah kakekmu itu," ucap Carine dalam hatinya.


Visual Carine