
Setelah memastikan tidak ada nama Carine Alexandra Sheffield di manifest penerbangan domistik manapun, membuat Orlando menjadi ragu jika Carine pergi ke luar negeri.
"Jangan-jangan gadis ini tidak pergi ke luar negeri," tebak Orlando saat berada di bandara setempat.
"Apa jangan-jangan dia menumpang di pesawat jet pribadi bersama kekasihnya? Apakah dia sudah punya kekasih? Apakah kekasihnya terlalu posesif sehingga menyuruhnya menyamar menjadi perempuan jelek?"
Membayangkan Carine sudah memiliki kekasih saja, hati Orlando terasa sangat sakit.
"Mengapa rasanya sesakit ini? Membayangkannya saja hatiku sudah tidak sanggup. Tapi, bukankah kami ini adalah saudara tiri? Ada apa denganku?" gumam Orlando merasa serba salah dengan perasaannya sendiri.
Alih-alih ingin mengerjai Carine agar ia bisa mengusir ibu sambungnya bersama dengan adik tirinya itu dari hidup mereka, tapi justru dia mulai terpikat pada pesona adik tiri culun nya itu.
"Baiklah. Aku akan menantimu kembali Carine. Semoga kamu cepat kembali. Aku merindukanmu," lirih Orlando yang langsung berangkat ke perusahaannya. Ia ingin menyibukkan dirinya dengan bekerja agar tidak terlalu merindukan Carine..
Tiba di Belanda, Carine harus menyamar menjadi seorang wanita miliarder muda yang ingin bermain kasino di tempat pemilik judi online itu yang bernama tuan Benson Henderson. Carine mengenakan dress mewah berwarna hijau tua berlengan panjang dengan potongan leher rendah hingga memperlihatkan leher jenjangnya.
"Selamat malam nona Sofia..!" seorang bangkir minyak menyalami tangan Carine yang terulur dengan terbalut kaus tangan kulit hingga ciuman Tuan Miller tidak menyentuh langsung kulit mulusnya.
"Berapa banyak yang anda ingin bertarung, nona Sofia?" tanya sang pemandu permainan.
"Semuanya," ucap Carine mendorong koin judi miliknya dengan total jumlah 2 juta dollar AS.
Rupanya di atas sana, tuan Benson melihat layar monitor CCTV di mana menyorot peserta pemain kasino malam ini. Ia menanyakan asistennya tentang Carine.
"Siapa gadis cantik itu?" tanya tuan Benson yang tidak mengalihkan perhatiannya ke wajah cantik Carine.
"Dia seorang miliader muda dari Amerika," ucap asisten Rian.
"Bawalah gadis itu padaku usai permainan...! Aku ingin dia menjadi milikku malam ini..!" titah Benson seperti biasanya ingin mencicipi tubuh wanita berkelas seperti Carine.
"Tapi, putri Sofia tidak bisa ditaklukkan begitu saja tuan. Sepertinya dia tidak begitu membutuhkan lelaki dalam hidupnya. Dia punya ekspektasi sendiri untuk seorang pasangan. Kabar yang beredar kalau dia masih perawan," ucap asisten Rian setengah berbisik.
Benson nampak berpikir dan mempertimbangkan ucapan Rian. akhirnya paham kalau seorang gadis perawan sulit untuk didekati karena belum merasakan madunya bercinta.
"Akan ku ajari dia di tempat tidurku bagaimana bergairahnya dia dengan sentuhanku," gumam tuan Benson percaya diri.
Asisten Rian hanya bisa menarik sudut bibirnya saat mendengar ucapan tuannya yang terlalu narsis.
"Coba saja kalau tuan berani mendekati gadis itu..!" batin Rian yang tidak mau ikut campur lebih jauh urusan asmara bos-nya yang penggila se*s itu.
Di meja casino, Carine memenangkan permainan membuat 7 orang partnernya sangat kagum dengan kejeniusan gadis itu. Mereka akhirnya mengangkat topi dan meninggalkan permainan karena tidak ingin jatuh miskin jika mengikuti hawa nafsu.
Karena Kasino itu dilengkapi dengan hotel membuat Carine beranjak pergi dari Kasino dan ingin ke kamarnya. Baru saja langkah kaki jenjang mulus itu menuju pintu lift, ia sudah berpapasan dengan target yang dicarinya.
"Selamat malam nona ...!" sapa tuan Benson terlihat berwibawa seraya mengulurkan tangannya hendak mencium tangan Carine yang menolak bersalaman untuk membuat tuan Benson penasaran dengannya.
"Malam...!" datar Carine tetap melangkah menuju pintu lift membuat wajah tuan Benson menahan geram.
"Sialan...! Aku tidak pernah diperlakukan wanita seperti gadis itu. Akan ku buat kamu menyembah di kakiku karena telah mengabaikan ku," sumpah tuan Benson dengan darah mendidih menahan malu karena saat ini semua mata sedang tertuju padanya namun tidak berani berkomentar melihat pemandangan tadi.
"Rian...! periksa kamar gadis itu! Aku ingin berkunjung ke kamarnya. Bawakan anggur terbaik untuk kami. Aku tidak terima mendapat hinaan seperti ini dari gadis angkuh itu. Kau tahu apa yang aku maksud bukan?" titah tuan Benson masih penasaran dengan Carine.
Carine yang sudah berada di dalam kamarnya sedang meretas cctv di ruang kerjanya milik tuan Benson. Data setiap kejahatan pria bajingan itu sudah berada di tangan Carine yang mampu meretas setiap file dari laporan keuangan milik tuan Benson yang sudah mengeruk keuntungan berlimpah dengan teknik kotor yang dimainkannya.
"Aku akan membuatmu miskin bodoh..!" ucap Carine yang sedang memindahkan uang rekening milik bos pemilik judi online itu ke beberapa yayasan pendidikan dan beberapa rumah sakit tempat dirawatnya orang-orang miskin di beberapa negara tertentu.
Tok....tok....
Carine menghentikan aktivitasnya sesaat lalu menutup laptopnya. Ia merapikan kembali tempat tidurnya seakan belum melakukan aktivitas apapun.
"Sepertinya itu adalah tuan Benson!" tebak Carine segera menghampiri pintu dengan tetap bersikap waspada.
Pintu dibuka dengan daun pintu seukuran rantai penyangga untuk mencegah ada yang berusaha merangsak masuk ke kamarnya.
"Selamat malam nona! Apakah saya boleh masuk?" tanya tuan Benson.
Carine mempertimbangkannya sebentar lalu membuka pintu kamar itu lebih lebar untuk tuan Benson yang sabar menanti.
"Silahkan masuk...!"
"Terimakasih...!"
"Silahkan duduk tuan...!" santun Carine.
Tuan Benson duduk di sofa panjang dengan kaki bertumpuk terkesan angkuh.
"Aku dengar anda memenangkan beberapa kali permainan tadi. Selamat...! Ternyata anda bukan hanya cantik tapi anda juga sangat jenius, nona Sofia!" puji tuan Benson dengan rayuan mautnya.
"Biasa saja. Itu sangat mudah bagiku. Trik permainannya terlalu mudah untuk ditebak sehingga tidak sulit bagiku untuk mengalahkan mereka," angkuh Carine.
Tok....tok...!
"Sebentar...! Itu pasti asistenku yang membawa anggur untuk kita. Aku ingin memberikanmu hadiah sebagai ucapan selamat atas kemenanganmu yang telah menjadi salah satu pemain muda dan cantik bisa mengalahkan beberapa pengusaha hebat di permainan tadi," ucap tuan Benson seraya membuka pintu untuk asistennya yang didampingi dua orang pelayan yang mendorong kereta makanan ke dalam kamar Carine.
Carine yang sudah tahu niat jahatnya tuan Benson, membiarkan saja apa yang dilakukan pria ini padanya. Anggur merah itu dituangkan ke dalam dua gelas minum untuk Carine dan tuan Benson.
"Sebentar tuan Benson, aku mau ke toilet sebentar!" pamit Carine bergegas berdiri melangkah ke kamar mandi.
"Silahkan nona...!" girang tuan Benson yang merasa rencananya akan berhasil.
"Taburkan segera obat perangsang itu ke dalam anggurnya. Aku ingin menjadi lelaki pertama yang akan mencicipi tubuhnya," desis tuan Benson menyuruh asistennya Rian sambil menyeringai licik.
Carine keluar dari kamar mandi tapi sudah mengenakan gaun tidurnya namun bukan lingerie yang dibayangkan oleh tuan Benson. Tapi baju tidur stelan atas bawah dengan model celana berbahan satin.
"Apakah anda sudah mengantuk nona?" tanya tuan Benson.
"Tentu saja. Ini waktunya aku tidur. Jika tidak keberatan setelah kita merayakan kemenangan ini, tolong keluar dari kamarku. Bagaimana?" tawar Carine membuat wajah tuan Benson memerah karena dipermalukan lagi oleh Carine.
"Apakah kamu masih bisa tidur setelah minum anggur ini, nona Sofia?" batin tuan Benson.
"Baiklah. Ayo kita bersulang..!" pinta tuan Benson sambil mengangkat gelasnya.