
Kebingungan melanda perasaan Orlando saat ini. Jika ia ingin mengakui Carine sebagai istrinya, maka akan berimbas pada Carine karena identitas istrinya itu akan terbongkar. Apa lagi pernikahan mereka masih dirahasiakan sampai saat ini.
"Carine. Mengapa tidak mengatakan kalau kamu akan menghadiri pesta pernikahan sialan ini? Kalau tahu begini, aku tidak akan datang," ucap Orlando yang sudah curiga jika Carine sedang menjalankan misinya saat ini.
Orlando menahan diri untuk tidak menghampiri Carine. Namun ia tetap mengawasi istrinya yang terlihat sangat waspada pada para mafia yang sedang merayunya namun Carine bisa mengatasinya dengan baik karena memang sudah terlatih.
Itu dilihat dari cara Carine berdiri dengan dua langkah menjauh dari barisan beberapa orang pengusaha ternama yang berdiri di samping kiri kanan tubuhnya dan juga ada tiga pria lain di depannya.
"Cih....! Kau sudah seperti makanan yang dihampiri oleh banyak lalat. Kenapa hanya ingin menyamar kau harus tampil secantik ini kalau bukan ingin menarik perhatian mereka? Itu lipstik? Kenapa harus mengenakan warna merah.
Bukankah aku sudah melarangmu untuk tidak mengenakan warna lipstik yang terang? Kenapa kamu masih memakainya? Kau akan menerima hukuman dariku setelah acara ini, Carine!" gerutu Orlando terlihat sangat gelisah hingga tidak sadar seorang wanita cantik yang mengenalnya menghampirinya dari samping.
"Orlandooo...! Hei ..! Apa kabar, sayang..!" sapa Melissa yang langsung mengecup bibir Orlando tepat di saat Carine melihat ke arahnya membuat Orlando segera melepaskan diri dari wanita maniak di depannya ini.
"Lepaskan aku, jala*Ng!" pekik Orlando tidak suka dengan mendorong tubuh Melissa menjauhi dirinya.
"Orlando ...!" batin Carine syok namun senyumnya kembali menebar saat para pria di depannya menanyakan beberapa hal yang tidak penting padanya.
Carine yang fokus ingin menemui tuan Muller akhirnya pamit pada para pria muda yang sejak tadi ingin sekali merebut perhatian Carine agar Bu mil ini siap tidur dengan mereka.
Carine yang memang tidak tersentuh oleh pria konglomerat dari dulu karena terikat komitmen sebagai agen FBI yang tidak boleh terlibat asmara saat sedang menjalankan misinya.
"Permisi...! Maaf saya ingin menyapa yang lainnya..!" pamit Carine santun lalu meninggalkan lima orang pria yang sengaja menahannya dengan bicara padanya.
Tuan Muller yang sedari tadi bicara serius dengan rekan bisnisnya harus terdiam saat melihat Carine yang sedang menghampirinya.
"Bukankah itu dokter Carine?" tanya tuan Batista pada tuan Muller yang nampak tertegun melihat tubuh indah Carine yang sangat menggoda imannya.
"Sepertinya begitu," ucap tuan Muller tersenyum licik.
"Oh... dokter Carine. Ternyata anda juga datang ke pesta malam ini. Bagaimana dengan karier anda di dunia medis?" tanya tuan Muller basa-basi.
"Tentunya kami selalu menyelamatkan para pasien kami dengan kemampuan kami sebagai tenaga medis. Walaupun banyak orang yang yang haus akan darah orang lain demi sebuah ambisi untuk memperkaya diri dengan melenyapkan nyawa tak berdosa," sindir Carine terdengar elegan hingga tanpa sadar meraih gelas dari baki yang dibawa oleh pelayan yang berisi sampanye.
Saat hendak mendekati ke mulutnya untuk diteguk, Orlando lebih dulu meraihnya dari tangan lembut Carine yang sontak kaget.
"Wanita hamil tidak boleh mengkonsumsi minuman beralkohol apalagi anda seorang dokter nona Carine, harusnya anda lebih paham untuk menjaga kandungan anda dari jangkauan alkohol," ucap Orlando seakan ingin memberitahukan kepada para mafia paruh baya itu tentang status Carine yang sudah menikah.
"Apaa...? Dokter Carine sudah menikah? Kenapa kami tidak diundang dan anda rupanya sedang hamil juga? Bagaimana tuan Orlando bisa mengetahui kalau anda sedang hamil?" tanya tuan Muller membuat Carine yang ingin menjawab namun sudah dicegah lebih dulu oleh Orlando.
"Benar tuan kalau saya sudah menikah dengan tu...-"
"Dokter Carine adalah istri dari sahabatku yang saat ini sedang berada di luar negeri karena perusahaannya. Saya baru saja mendapatkan telepon dari suaminya dokter Carine untuk mengawasi istrinya karena saat ini dokter Carine sedang hamil muda," sambar Orlando membuat Carine tercengang.
"Hah...?! Apa maksudnya dia bicara seperti itu?" batin Carine yang merasa kalau Orlando masih marah padanya hingga tidak ingin mengakui dirinya adalah istrinya.
Sebaiknya dokter segera pulang dan saya harus mengantarkan anda pulang karena itu pesan dari suami anda, dokter," ucap Orlando yang langsung memegang lengan Carine yang belum mulai misinya saat ini.
"Tunggu sebentar....! Saya harus bicara dulu dengan tuan Muller," ucap Carine seraya menurunkan cengkeraman tangannya Orlando dari lengannya membuat wajah Orlando nampak kelam karena tidak suka mendapat penolakan dari istrinya.
"Ada yang bisa saya bantu dokter Carine?" tanya tuan Muller yang melihat Carine yang masih ingin bicara dengannya.
Orlando membisikkan sesuatu dikuping Carine." Cepat selesaikan urusanmu dan jangan berlama-lama berada di sini atau aku akan menggendongmu di depan mereka untuk membawamu pulang..!" ancam Orlando yang sudah terbakar api cemburu.
Orlando meneguk minuman milik Carine hingga habis dan mengambil lagi gelas minum beralkohol lagi karena amarahnya pada Carine yang belum usai tapi tampilan Carine malam ini membuat semua mata orang terpukau pada kecantikan istrinya yang membuat Orlando tidak rela untuk berbagi saat menatap istrinya.
Carine berbicara serius dengan tuan Muller yang agak sedikit menjauh dari yang lain dan tuan Muller menyanggupinya. Mungkin ada pembicaraan yang menyangkut janji temu lagi setelah pesta malam ini.
"Baik nona Carine. Saya akan tunggu kedatangan anda di perusahaan saya," ucap tuan Muller seraya menjabat tangan lembut Carine.
"Terimakasih tuan Muller. Kalau begitu saya pamit pulang karena kondisi kehamilan saya yang membatasi aktivitas saya," ucap Carine memberi alasan.
"Tidak apa nona Carine...! Sampaikan salam hormat saya pada suami anda," ucap tuan Muller sambil melirik Orlando yang tampak tenang dengan wajah datarnya namun tidak dengan hatinya yang merasa mendidih hingga tangannya gemetar tidak kuat menahan cemburu.
Usai basa-basi dengan beberapa tamu undangan yang ada di sekitar tuan Muller, Carine segera membalikkan tubuhnya dan Orlando menggenggam tangan Carine posesif. Semua mata tertuju kepada keduanya dengan tatapan curiga termasuk Neil dan orang-orang yang mengenal Orlando.
"Ada hubungan apa diantara mereka?"
"Apakah Orlando berpacaran dengan dokter Carine?"
Bisik-bisik diantara mereka yang memperhatikan pasangan sempurna itu yang lambat laun menghilang dari pandangan mereka. Di dalam lift, Orlando tidak sabar lagi menahan diri hingga memagut bibir Carine sambil merapatkan pinggang Carine ke tubuhnya.
"Hmmpp...!" Carine berusaha menolak karena tidak siap dengan serangan tiba-tiba Orlando padanya.
"Orlando...! Apa-apaan sih kamu, hah?!" Bentak Carine yang tidak suka cara Orlando yang terlalu posesif padanya.
"Kamu milikku dan mana cincin pernikahan kita? Kenapa kamu melepaskannya?!" bentak Orlando yang tidak melihat cincin pernikahan Carine di jari manis gadis itu.
"Tenanglah Orlando! Aku menyimpannya," ucap Carine.
"Kenapa kamu melepaskannya? apa demi misimu itu agar kamu mendekati mereka dengan mudah seperti yang kamu lakukan padaku? Belum cukup aku yang menjadi korban dari ambisimu itu, hah...?! Dasar wanita murahan...!"
Plakkkk...
Carine menampar pipi Orlando yang langsung tertolak ke samping membuat Orlando syok.
"Jika aku wanita murahan. Aku tidak perlu memaksamu untuk menikahi-ku kalau hanya ingin tidur denganmu," sarkas Carine.
Glekkk....