PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
59. Kemarahan Franco


Sejalannya waktu, Orlando dan Carine melakukan pengalihan harta kekayaan tuan Franco secara besar-besaran atas nama Orlando.


Semua rekening bank milik tuan Franco di beberapa bank ternama internasional di sejumlah negara telah dibekukan dan sebagiannya sedang dalam penyelidikan FBI.


Orlando begitu puas bisa membalaskan dendamnya pada ayah tirinya itu. Ia juga sangat berterimakasih pada sang istri yang mendukungnya dalam melancarkan balas dendam yang menyakitkan untuk Franco.


"Aku melakukan ini seperti apa yang kau lakukan pada kedua orangtuaku, Franco. Kau telah mencuri dari mereka dan aku mengambilnya kembali," senyum jahat Orlando menghiasi wajah tampannya penuh kepuasan.


Di tempat yang berbeda, Franco yang melihat pesan masuk dalam ponselnya nampak tergugu.


"Maaf tuan ...! Beberapa bank sengaja membekukan rekening anda hingga kartu anda tidak bisa digunakan untuk transaksi apapun kecuali harus meminta ijin Orlando," tulis sekertaris Gwen.


"Apa maksudnya ini? Kenapa Orlando ikut campur dalam urusan bisnisku?" geram Franco membalas pesan sekertaris Gwen.


"Semua perusahaan atas kepemilikan anda berserta uang dan obligasi yang ada di bank saat ini sudah dipindahkan atas namanya," balas sekertaris Gwen.


"Dasar anak sialan...!" maki tuan Franco.


Tuan Franco mencoba beberapa m-banking miliknya yang mungkin bisa ia gunakan untuk membayar orang-orangnya, namun tidak ada lagi kesempatan untuk melakukan transaksi karena m-banking miliknya sudah di non aktifkan oleh pihak bank di setiap bank di mana Franco simpan harta haramnya.


"Bagaimana aku bisa mengendalikan Bisnisku kalau semuanya sudah di blokir oleh pihak bank? Apakah badan intelijen negara ini sudah mengendus permainan aku? Bukankah ada tuan Nicolas yang selama ini telah melindungi bisnis haram ku? Baiklah. Aku akan menghubunginya.


Aku harus tahu apa yang terjadi di luar sana hingga aku tidak bisa lagi membuka m-banking milikku," gumam tuan Franco pada dirinya sendiri.


Franco menghubungi salah satu mata-matanya yang bekerja di badan intelijen negara tersebut.


"Nicolas."


"Hallo tuan."


"Kenapa nomor kamu yang lain tidak bisa dihubungi?" tanya tuan Franco.


"Maaf tuan Franco...! Sebaiknya kita tidak boleh lagi berhubungan karena saat ini setiap ponsel para ASN di sadap oleh bos kami. Dan FBI sudah mencurigai keterlibatan aku. Maaf aku tidak bisa membantumu lagi," ucap tuan Nicolas seraya mematikan sambungan telepon dengan tuan Franco secara sepihak.


"Bajingan sialannnnn...!" maki tuan Franco membanting ponselnya hingga pecah.


Anak buahnya yang merupakan sesama napi tampak ketakutan. Musuhnya yang kubu sebelah terkekeh melihat wajah frustasi Franco. Ia bisa menebak kalau kekuasaan pria yang ada di hadapannya ini telah redup.


"Ada apa denganmu, Franco? Apakah para penjilat kamu sudah menjauhimu sekarang? Aku bisa menebak kalau apa yang kamu miliki tidak bisa lagi kamu kendalikan dari dalam sini, bukan? Hei kalian..! Jauhi dia karena dompetnya sudah kosong saat ini," ledek Bronson sambil terkekeh.


Bagai harimau ompong, Franco tidak lagi segalak sebelumnya. Bahkan dia sendiri tidak memerintah anak buahnya untuk memukul orang-orang yang selalu mencari masalah dengannya seperti Bronson.


Bronson menarik sudut bibirnya lalu meludah ke samping. Menatap tajam wajah tuan Franco yang tidak ingin lagi mencari gara-gara dengannya.


"Benar bukan kecurigaan ku kalau pecundang ini tidak punya uang lagi untuk membayar kalian karena sekarang ia sudah bangkrut," ledek Bronson makin menjadi.


Anak buahnya yang biasanya melayaninya menanyakan perihal itu kepada tuan Franco atas kebenaran yang disampaikan oleh Bronson.


"Apakah benar yang disampaikan dia bos?" tanya salah satu anak buahnya dengan tangan mengepal.


"Tidak bisa. Kau harus membayar pengabdian kami padamu atau kau akan mati di dalam penjara ini!" ancam salah satu anak buahnya yang bertubuh kekar dan tinggi besar yang selama ini melindungi Franco dari serangan Bronson dan anak buahnya.


"Tenanglah. Nanti aku suruh orang-orangku untuk membawa uang agar bisa membayar kalian," ucap tuan Franco tidak gentar sedikitpun.


Walaupun intonasinya sedikit lembut tapi penekanan kalimatnya cukup kuat untuk menaklukkan lawan. Anak buahnya tidak mau terkecoh lagi dengan wajah kelam tanpa dollar itu.


Bagi mereka kekuasaan tanpa uang tidak akan berpengaruh sedikitpun untuk membuat mereka takut.


"Kau kira kami akan mempercayai kamu begitu saja? Rasakan ini keparat...!" Maki anak buahnya langsung melayangkan tinjunya pada wajah dan perut tuan Franco yang tidak bisa melawan karena kedua lengannya langsung dipegang oleh dua anak buahnya agar rekan mereka bisa menghajar tuan Franco sepuasnya.


Darah segar langsung muncrat dari mulut tuan Franco dengan luka lebam di wajahnya. Iapun langsung jatuh tersungkur kala anak buahnya sudah puas membuatnya benar-benar terkapar tak berdaya saat ini.


Tuan Bronson hanya terkekeh melihat kekalahan tuan Franco karena pria malang itu merayu anak buahnya untuk melayaninya semenjak menempati satu sel tahanan bersama dengannya.


Tiga bulan kemudian, Orlando dan Carine pindah ke mansion utama milik tuan Franco itu yang sekarang sudah menjadi miliknya lagi. Orlando belum siap meminta maaf pada ibunya karena masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Walaupun saat ini nyonya Adeline sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan putri, cucu dan menantunya.


Sore itu Carine mengajak ibunya ke pantai untuk membahas tentang tuan Franco.


"Apakah mommy masih menunggu tuan Franco bebas dari penjara?" tanya Carine sambil memangku si kecil yang sedang memainkan jemarinya.


"Entahlah. Mommy ingin melayangkan surat gugatan cerai padanya, tapi apakah dia akan mengabulkan permintaan mommy itu atau tidak," ucap nyonya Adeline.


"Apakah mommy masih mencintainya?" tanya Carine.


Nyonya Adeline nampak terdiam. Walaupun dia tidak tahu Franco seperti apa sebelumnya namun pria itu berhasil membuatnya jatuh cinta lagi setelah ia menjanda setelah kematian suami pertamanya.


"Apakah kamu sudah menemukan orang yang telah menembak ayahmu, Carine?" tanya nyonya Adeline mengalihkan pembicaraan mereka tentang Franco.


"Masih dalam penyelidikan mommy. Banyak sekali oknum pejabat yang terlibat dalam kematian ayah. Ayah sengaja di tembak oleh penjahat tapi ada sesuatu yang saya curigai kalau rekannya sendiri yang menghabisi ayah atas perintah seseorang," tutur Carine.


"Kenapa mereka tega membunuh ayahmu? Apa salahnya?" tanya nyonya Adeline bingung.


"Karena ayah mengetahui ada permainan kotor para senator negara ini yang mensukseskan pemilu salah satu kandidat calon presiden saat itu," ucap Carine.


"Apakah ada yang kamu curigai, Carine?"


"Ada mommy. Hanya saja butuh banyak bukti untuk menyeret orang itu sebagai dalang dalam penembakan ayah. Dengan ayah mati maka ayah tidak akan naik jabatan sebagai komandan FBI.


Jika ayah naik pangkat dan jabatan maka, rahasia kandidat capres saat itu akan dibongkar oleh ayah di ranah publik," ucap Carine.


"Apa maksud kamu Carine?"


Carine tidak ingin menjawabnya karena ia sudah tahu orang yang memerintah untuk membunuh ayahnya itu.


"Maafkan saya mommy...! belum saatnya mommy harus tahu orang itu," batin Carine.