PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
36. Penolakan


Wajah Carine memerah menahan marah dan malu sekaligus. Tuan Smith nampak cuek dan tetap menyantap salad buah yang ada di mangkuknya dengan lahap.


"Maafkan saya tuan Smith...! Saya tidak bisa menerima permintaanmu itu karena saya wanita bersuami. Apa lagi saat ini saya sedang hamil," ucap Carine menolak secara halus.


"Bukankah kamu bilang sudah berpisah dengan suamimu?" tanya tuan Smith.


"Berpisah itu bukan berarti bercerai, bukan? Aku hanya sedang merajuk saja padanya. Tidak berarti berniat untuk bercerai dengannya," tegas Carine namun tuan Smith tetap terlihat tenang.


"Berarti kamu sedang melarikan diri darinya dan memilih bersembunyi di negara ini?" tanya tuan Smith masih penasaran dengan Carine.


"Iya, seperti itu ceritanya, tuan."


"Apakah kamu masih mencintainya?" tanya tuan Smith.


"Dengan sepenuh hatiku."


"Kalau masih cinta kenapa harus kabur? Kalian bisa saja menyelesaikan perselisihan diantara kalian tanpa harus menambah konflik baru," ucap tuan Smith.


"Tidak semua masalah dibicarakan dengan baik-baik. Tapi, sebelum memutuskan untuk meninggalkannya, aku sudah mencoba untuk menahan diri tapi selalu menemukan jalan buntu. Kabur darinya hanya untuk menguji perasaan cintanya padaku. Sekuat apa cinta yang kami rasakan diantara kami kala kami terpisah," imbuh Carine.


"Bagaimana kalau waktu bisa membuatmu melupakannya? Bagaimana kalau kamu menemukan orang yang lebih layak mencintaimu tanpa menyakiti hatimu dengan alasan apapun?" cecar tuan Smith dengan modus tertentu.


"Aku lebih memilih apa yang menurutku nyaman. Cinta yang kami lalui tidaklah mudah. Untuk bisa memilikinya aku harus menyingkirkan setiap tawaran cinta pria lain yang jauh lebih baik dari dirinya dan kebaikan mereka itu tidak cukup membuat hatiku bergetar," sarkas Carine membuat tuan Smith terdiam.


"Sial...! Baru kali ini aku merasa ditolak oleh wanita. Kenapa wanita ini sangat unik? Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku tiba-tiba menyukai seseorang yang sudah menjadi milik pria lain?" geram tuan Smith merutuki dirinya sendiri yang terlalu gegabah menyatakan perasaannya pada Carine walaupun tidak secara langsung.


"Baiklah. Kalau begitu aku pamit. Aku masih punya urusan lain. Maaf..! Aku sudah menganggu waktu liburmu. Aku sudah meminta seseorang untuk mengirim beberapa bahan makanan untukmu.


Jangan sungkan untuk menerimanya. Anggap saja itu sebagai bentuk terima kasihku karena sudah mengijinkan aku makan di sini bersamamu," ucap tuan Smith.


"Baiklah. Semoga berlaku hanya untuk hari ini saja, selebihnya aku tidak menyukainya," tegas Carine.


"Ok."


Tuan Smith pulang dengan perasaan tak karuan. Bahagia tidak, sedih juga tidak. Yang jelas misinya untuk mendekati Carine gagal total karena Carine tidak seperti wanita yang ia bayangkan lemah dan butuh perhatian pria lainya yang bisa ia ajak untuk berbagi kala sepi seperti saat ini.


"Ternyata wanita itu terlihat baik-baik saja. Ia lebih menikmati kesendiriannya daripada mengharapkan manusia lain untuk menghiburnya atau mendengarkan keluhannya. Aku sudah salah memikirkan dirinya yang aku kira dia sangat butuh lelaki lain. Siapa suaminya? Apakah suaminya orang yang berpengaruh? Menjengkelkan.


Aku akan membunuhnya agar bisa mendapatkan Carine. Dialah wanita yang aku impikan selama ini bukan wanita yang menjaga bentuk tubuhnya untuk memanjakan suaminya di ranjang," gumam tuan Smith sambil menunggu lift turun membawanya ke lobi.


Melihat wajah beku nan sendu tuannya, asisten Melendez segera menghampiri tuannya.


"Apakah anda baik-baik saja Tuan?" tanya asisten Melendez cemas.


"Kita pulang...!" titah tuan Smith tak semangat.


"Baik tuan."


Lima menit kemudian, mobil mewah milik tuan Smith sudah berada di depan lobi apartemen. Tuan Smith masuk ke mobilnya yang sebelumnya menatap ke atas gedung apartemen itu dan berharap Carine nongol di atas balkon kamar gadis itu karena Carine tinggal di lantai tiga di apartemen itu.


Yang ditunggu tidak muncul juga. Akhirnya tuan Smith masuk ke dalam mobilnya. Saat baja mewah itu melaju stabil keluar dari area apartemen, Carine baru muncul di balkon kamarnya.


"Sayang. Mommy tidak akan mengkhianati Daddy kamu walaupun dia sangat menyebalkan. Hanya daddy kamu yang membuat mommy selalu bahagia," gumam Carine sambil mengusap perut besarnya.


...----------------...


Di perusahaan, tuan Smith sedang menerima telepon dari rekan bisnisnya. Keduanya sepakat bertemu di sebuah resort yang berada di sekitar daerah pegunungan. Tuan Smith mengajak Carine untuk ikut bersamanya. Tentu saja ada asisten Melendez yang menjadi sopir pribadi tuan Smith seperti biasanya.


"Carine."


"Iya tuan."


"Ikut denganku. Kita akan menemui klienku di sebuah resort di luar kota. Apakah kamu siap?" tanya tuan Smith dengan wajah datarnya.


"Baik."


Carine mengambil tasnya dan berjalan di belakang tuan Smith yang melangkah angkuh penuh kharisma. Sikap dingin tuan Smith makin mendominasi sejak Carine menolak dirinya walaupun bukan dalam bentuk pernyataan suka tapi, tuan Smith tahu kalau ia tidak punya kesempatan untuk merebut hati ibu hamil ini.


Setiap kali tuan Smith bergerak, pasti para pengawal yang lainnya ikut bergerak hanya saja mereka tidak begitu menampakkan diri. Pergerakan mereka mampu dideteksi oleh Carine yang memiliki alat-alat canggihnya untuk mendukung penyamarannya.


Sekitar tiga jam perjalanan, mereka tiba juga di resort di sekitar wilayah pegunungan. Carine mengeratkan mantelnya. Udara dingin makin membuatnya menggigil namun Carine berusaha melawan rasa dingin itu. Padahal sebelum hamil, Carine termasuk kuat berada di daerah dingin hanya dengan mengenakan switer.


Tanpa banyak tanya, tuan Smith mengambil syal miliknya di koper kecil lalu mengenakan ke leher Carine.


"Saya tidak apa tuan. Buat tuan saja," tolak Carine hendak membuka lagi syal itu namun tatapan mata tuan Smith membuat Carine melilitkan lagi syal itu di lehernya.


"Baik. Maafkan saya...!" ucap Carine lalu turun dari mobil itu. Begitu pula dengan tuan Smith.


"Tuan Smith. Apa kabar kawan!" sapa tuan Daniel menyambut kawan lamanya itu dan sempat melirik ke arah Carine membuat tuan Smith tidak suka.


"Carine. Kau boleh istirahat dan pesan sesuatu di restoran itu agar calon bayimu tidak kelaparan," ucap tuan Smith.


"Baik tuan." Carine berjalan ke arah restoran karena memang ia sangat lapar.


"Apakah dia sekertaris barumu?" tanya tuan Daniel sambil cengengesan.


"Iya. Dia sedang hamil."


"Apakah dia wanita singel dan bisa di ajak ke ranjang?" cecar tuan Daniel membuat tuan Smith mengepalkan tangannya berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi.


"Dia sudah berkeluarga dan wanita baik-baik. Jangan coba-coba menggoda orangku! Kau mengerti..?" sarkas tuan Smith membuat tuan Daniel menjebikan bibirnya dengan bahu terangkat.


"Sudahlah..! Saya cuma becanda. Mengapa dibawa serius?" tuan Daniel menepuk punggung tuan Smith yang mengatupkan rahangnya dengan tetap mengawasi Carine dari jauh. Punggung Carine yang masih bisa terlihat olehnya dari tempatnya duduk membuatnya cukup nyaman.


"Beruntunglah. Aku tidak mengajak Carine untuk duduk bersama denganku disini. Kalau tidak mata pria bodoh ini tak teralihkan pada wajah Carine," batun tuan Smith.


Di restoran itu, Carine merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia buru-buru mengambil ponselnya untuk melihat apa yang terjadi di sekitar mereka.


Carine yang sudah terlatih membaca sesuatu yang mencurigakan membalikkan tubuhnya melihat ke arah tuan Smith yang nampak serius membahas bisnis dengan kliennya itu.


"Sial...! Tenyata ini sebuah jebakan..!" desis Carine hendak menarik pistol yang ada di bawah sepatunya, tapi...?