
Carine menggeliatkan tubuhnya setelah puas tidur. Wajah bantal itu tetap terlihat cantik dengan perasaan malas untuk beranjak dari kasur empuk yang ingin merasakan tubuh cantik itu melekat di permukaannya.
Saat kesadarannya mulai terkumpul, Carine baru ingat kalau saat ini dia sedang berada di mansion milik tuan Smith.
"Astaga...! Aku lupa kalau aku bukan berada di apartemenku. Tapi, kenapa tubuhku malas sekali untuk bangun? Ini kasurnya yang empuk atau bawaan bayi yang membuat mataku malas untuk dibuka. Tapi, perutku sangat lapar. Apakah aku sopan kalau aku minta makan pada tuan Smith?" tanya Carine pada dirinya sendiri.
Tok...tok...tok...
Carine segera mendekati pintu kamarnya dan memutar kunci pintu itu untuk melihat siapa yang datang. Carine terperanjat begitu melihat wajah tuan Smith yang tersenyum manis padanya sambil membawakan nampan berisi makanan yang tentu saja untuk dirinya.
"Apakah kamu baru bangun tidur?" tanya tuan Smith seraya meletakkan baki berisi makanan di atas meja makan kecil di dalam kamar tamu itu.
"Dari tadi, hanya malas saja untuk bangun. Maafkan aku...!" ucap Carine lalu duduk di kursi yang menyatu dengan meja.
"Tante Renata meminta Chef untuk memasak makanan buatmu. Kamu harus makan ya! Ini ada susu untuk ibu hamil dan juga vitamin untuk ibu hamil," ucap tuan Smith.
Aroma masakan itu mampu membangkitkan selera Carine yang terlihat meneguk liurnya. Tuan Smith tersenyum melihat wajah bantal Carine yang terlihat sangat lapar.
"Ayo makanlah..! Apakah aku harus keluar supaya kamu bisa makan dengan nyaman? atau mau aku suapin kamu?" cecar tuan Smith layaknya seorang suami siaga yang menjaga wanitanya yang sedang hamil.
"Aku bisa makan sendiri. Tidak apa kalau tuan ingin melihat aku makan. Tetaplah disini bersamaku," ujar Carine sungkan untuk menolak tuan Smith yang merupakan sang tuan rumah.
Mendengar perkataan Carine, tuan Smith seakan sedang mendapatkan angin segar yang menyejukkan jiwa.
Carine mulai menikmati kentang goreng dan selanjutnya memotong daging stik tenderloin lalu menyuapkan ke mulutnya. Carine merasakan setiap kunyahannya sambil menikmati rasanya yang sangat nikmat.
"Bagaimana rasanya? Apakah kamu suka?" tanya tuan Smith penasaran.
"Rasanya pecah di mulut. Tekstur dagingnya yang pas dengan kombinasi bumbu terasa sangat konsisten hingga tidak ada bumbu lain yang lebih menonjol. Ditambah lagi tingkat kematangan dagingnya sangat sesuai dengan seleraku," ucap Carine mereview makanan yang ada di depannya.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Makanlah yang banyak supaya bayimu sehat. Apakah kamu berencana membesarkannya sendiri, Carine?" tanya tuan Smith disela-sela Carine sedang mengunyah makanannya.
"Entahlah. Aku tidak tahu akan permainan takdir. Tapi, aku juga akan memberikan kesempatan kepadanya untuk mengurus anaknya kelak," ucap Carine terdengar ambigu ditelinga tuan Smith yang merasakan jika Carine tetap menunggu kedatangan Orlando sampai kapanpun.
"Apakah kamu masih mencintainya?" selidik tuan Smith.
"Sepenuh hati dan jiwaku," lantang Carine mantap.
"Walaupun dia menyakitimu?" cecar tuan Smith masih berusaha menggoyahkan perasaan Carine.
"Cintaku padanya lebih dalam dari perbuatannya menyakitiku. Aku ingin sekali membencinya, sayangnya cintaku yang kumiliki untuknya begitu besar dan mampu menyingkirkan perasaan sakit itu," ungkap Carine.
"Terserah apa yang tuan ingin katakan apa padaku. Dia suamiku, ayah dari bayiku. Aku mencintainya. Itu tak akan bisa terbantahkan," tegas Carine membuat kedua tangan tuan Smith mengepal kuat dibawah meja dan Carine mengetahui gerakan itu.
Bahkan ketampanan dan kekayaan tuan Smith tidak bisa melunakkan hati seorang agen rahasia FBI itu.
"Baiklah Carine. Aku akan menyembunyikan dirimu darinya selama kau berada dalam pengawasanku," batin tuan Smith yang tidak mengetahui jika dalam tubuh Carine sudah terpasang alat GPS yang selalu terlacak oleh FBI jika terjadi sesuatu pada Carine negara yang akan mengurus wanita ini walaupun disembunyikan dibawah tanah sekalipun tanpa signal.
Tanpa terasa, beberapa hidangan yang tersedia di atas meja itu dihabiskan semua oleh Carine. Sebagai penutupnya, Carine meneguk susu ibu hamil dan menyimpan vitamin ibu hamil di atas nakas di dekat tempat tidurnya.
"Kenapa tidak diminum vitaminnya?" tanya tuan Smith.
"Nanti saja. Tidak baik minum susu dan langsung minum obat karena tidak bisa terurai dengan baik di dalam metabolisme tubuh," jelas Carine lalu bangun berdiri menuju ke kamar mandi hendak mencuci tangan.
"Menginaplah disini. Aku sudah memesan baju dan pakaian dalam yang cocok untukmu. Ada banyak hal yang akan aku ingin bahas denganmu. Mau di kamarku atau di kamarmu?" tawar tuan Smith.
"Tidak untuk keduanya. Kalau bisa kita bekerja di perusahaanmu. Aku tidak mau bahas pekerjaan di ruang privasi entah kamu atau aku," tolak Carine.
Sebenarnya tuan Smith tidak terlalu suka bawahannya yang mengatur dirinya apa lagi membantah ucapannya. Namun, entah mengapa saat berhadapan dengan Carine, tuan Smith kehilangan kata bahkan kekuatannya sebagai mafia berhati dingin.
"Sial ..! Mengapa aku begitu lemah saat berhadapan dengan wanita ini? Dia jelas milik orang lain dan mencintai suami sialannya itu, tapi mengapa aku tidak bisa menolak keinginannya?" batin tuan Smith tak berdaya karena pesona Carine yang begitu kuat mengendap di jiwa raganya.
"Baiklah. Kalau begitu kamu bisa istirahat lagi saja. Aku lupa kamu sedang hamil dan butuh istirahat yang banyak. Kita bisa melanjutkan pekerjaan kita besok. Sekarang sudah sore, kamu harus mandi dan bisa melanjutkan aktivitas santai di kamar ini atau bergabung dengan Tante Renata," ucap Tuan Smith.
"Aku ingin mandi dan tidur lagi. Entah mengapa aku merasa sangat lelah hari ini. Maafkan aku tuan Smith...! aku bolehkan tidur lagi?" ijin Carine setengah memelas namun tidak terlihat menggoda.
"Tidak apa. Mungkin bayimu yang menginginkan itu. Aku akan meminta pelayan membereskan piring kotor ini. Sekarang kamu boleh istirahat!" ucap tuan Smith meninggalkan kamar Carine.
"Terimakasih tuan Smith. Anda sangat baik padaku," ucap Carine yang sudah tahu permainan licik tuan Smith padanya.
"Permisi nona! Ini baju ganti pesanan tuan untuk anda dan aku permisi mau mengambil piring kotor," ucap pelayan santun.
Carine mengambil paper bag dari tangan pelayan itu dan menunggu pelayan keluar dari kamarnya. Carine bergegas mengambil ponselnya dan memeriksa keadaan kamar itu yang mungkin memiliki CCTV tersembunyi.
Merasa aman dari pantauan cctv yang tidak ditemukan Carine dalam kamar itu, Carine mengunci lagi pintu kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Ia ingin berendam di dalam air hangat sambil membuka ponselnya dan melihat kegiatan suaminya yang terpantau dari CCTV kini sedang berada di kamar apartemen mereka saat ini.
Carine melihat wajah Orlando tampak menyedihkan dengan penampilan makin terlihat kacau saat ini. Hati Carine seakan tertampar mendapati suaminya yang sangat merindukannya hingga terlihat sedang mabuk-mabukan di dalam kamar mereka dengan banyak botol minuman yang terdapat di atas meja.
"Orlando...!" desis Carine sedih.