
Wajah cantik Carine kembali terlihat cerah seperti biasa. Bahkan luka lebam pada sekujur tubuhnya kecuali perut dan dadanya kini sudah menghilang.
Satu pekan berada di rumah sakit dan mendapatkan perawatan tubuh dan wajah yang ada di rumah sakit itu memberikan treatment padanya yang membuat kulitnya kembali mulus seperti sediakala. Apalagi ada massage untuk ibu hamil makin membuatnya segar setelah melakukan perawatan.
Hari ini Orlando akan membawa pulang istrinya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan benihnya di dalam rahim istrinya. Apalagi kerinduannya pada wanitanya yang sudah terpisah dengannya selama 4 bulan lebih yang membuat semangatnya menggelora.
Ditambah lagi ia harus mengurung anakonda-nya dengan pengamanan ketat dengan cara menahan diri. Ia tidak ingin menyelup miliknya pada milik wanita lain yang biasa ia lakukan dulu sebelum menikahi Carine.
Entah mengapa hatinya sedikitpun tidak melihat kelebihan apapun yang di miliki wanita lain di luar sana sekalipun mereka cantik dan seksi. Baginya Carine di atas segala-galanya dan dia membutuhkan Carine lebih dari apapun saat ini.
Di kediamannya yaitu apartemen mereka, Orlando tidak mengijinkan Carine untuk melakukan apapun kecuali ngobrol dengannya atau menemaninya nonton atau apa saja untuk mengisi waktu yang terbuang percuma selama empat bulan ini.
Saat ini keduanya sedang menikmati tontonan menarik yaitu menonton film. Carine mulai teringat akan ibunya dan menanyakan kabar ibunya pada Orlando.
"Orlando."
"Hmm!"
"Apakah kamu pernah bertemu dengan mommy?" tanya Carine sambil mengunyah popcorn.
"Mommy masih kecewa akan hubungan kita," sahut Orlando datar.
"Bagaimana kabar mommy?" tanya Carine.
"Baik. Aku tetap memantaunya melalui pelayan Lucio," ucap Orlando.
"Apa tidak sebaiknya kita tinggal lagi dengan mommy? Kasihan mommy sendirian tanpa ada Daddy di sampingnya. Aku butuh mommy saat aku mau melahirkan bayi kita," ucap Carine.
Orlando tampak terdiam. Sebenarnya ia sudah menemui ibu tirinya itu. Sikapnya masih tetap sama yaitu meminta Orlando menceraikan Carine. Itu suatu hal yang membuat Orlando sangat murka pada ibu mertuanya itu.
Tapi Orlando sulit menjelaskan pada istrinya tentang pertengkarannya dengan ibu mertuanya itu beberapa bulan yang lalu saat mencari Carine di sana. Orlando mengingat Carine sedang hamil besar saat ini. Apa lagi Carine baru terlepas dari satu masalah.
"Aku ingin bersama denganmu disini. Aku masih merindukanmu. Aku tidak akan membiarkan kamu berbagi kasih sayang kamu pada orang lain walaupun itu adalah mommy kita," ucap Orlando sengaja mengalihkan alasan yang cukup masuk akal agar diterima oleh istrinya tanpa rasa curiga padanya.
"Tapi aku ingin bertemu sama mommy. Aku tidak kuat menahan rinduku pada mommy. Besok kita ke sana ya, sayang!" pinta Carine manja.
"Tidak. Nanti saja kalau kamu sudah melahirkan baru bertemu dengan mommy," tolak Orlando halus.
Carine menatap wajah suaminya. Ada rasa curiga pada Orlando yang terlihat lihai menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apakah kamu baik-baik saja Orlando?" tanya Carine pada suaminya yang berusaha tenang.
"Tentu saja."
"Apakah kamu tidak...-"
"Aku merindukan bayiku. Aku ingin mengunjungi benihku," sambar Orlando seraya membungkam mulut Carine dengan ciumannya.
Orlando cukup pusing meneladani pertanyaan istrinya dan rengekan manja untuk bertemu dengan ibu mertuanya yang keras kepala itu.
Carine tidak dapat menolak karena Orlando begitu menginginkan dirinya malam ini. Carine akhirnya melayani suaminya karena ia juga tidak bisa lagi menahan rindunya pada calon ayah bayinya.
Kamar yang sudah lama sepi itu kini dihiasi kembali dengan suara erangan dan lenguhan nikmat menggema di sekitar kamar itu.
...----------------...
Pagi itu usai sarapan Orlando pamit pada istrinya untuk berangkat ke perusahaannya sebentar karena ada banyak urusan yang tidak bisa ia lakukan dari rumah.
"Sayang."
"Hmm!"
"Aku pamit ke perusahaan. Tidak apakan kalau kamu aku tinggal sendirian di sini?"
"Tidak masalah. Pergilah. Tapi cepat kembali..!" pinta Carine seraya memasang dasi pada Orlando.
"Tapi aku ingin belanja di supermarket depan. Aku bawa mobil ya!" pintu Carine.
"Kandunganmu sudah delapan bulan Carine," ucap Orlando yang tidak membiarkan Carine membawa mobil sendiri.
"Tapi aku bosan tidak melakukan apapun di rumah. Aku ingin memasak atau membuat kue," rengek Carine manja sambil bergelayutan di leher kokoh Orlando.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu ke swalayan dan kamu pulang naik taksi. Bagaimana?" ucap Orlando memberi solusi.
"Ok. Itu lebih baik. Aku ingin buat makan malam untuk kita berdua," ucap Carine.
"Buat yang enak. Aku juga sudah sangat merindukan masakan istriku," ucap Orlando.
"Siap tuan."
Orlando dan Carine berjalan keluar bersama menuju tempat parkir di mana mobil Orlando berada. Baja hitam itu bergerak stabil menuju swalayan.
Setibanya di swalayan Orlando menemani istrinya untuk berbelanja sebentar. Keduanya nampak asyik memilih beberapa barang dan bahan makanan yang akan diolah oleh Carine.
Tidak jauh dari mereka, seseorang yang melihat Orlando ingin menegur Orlando namun langkahnya terhenti ketika melihat Carine.
"Orlando sudah menikah? atau itu hanya kekasih gelapnya?" batin orang itu yang diam-diam mengikuti Orlando dan Carine.
Usai belanja, Carine harus naik taksi dan Orlando meneruskan perjalanannya menuju apartemennya. Merasa penasaran dengan tempat tinggalnya Carine, orang itu membututi taksi yang ditumpangi oleh Carine.
Sementara itu Carine yang saat ini sangat merindukan ibunya memutuskan untuk mengunjungi ibunya di kediaman Tuan Franco. Ia meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke mansion utama di mana Ibunya tinggal.
"Lho. Kenapa wanita itu ke rumahnya tuan Franco? Bukankah selama ini Orlando belum mengumumkan pernikahannya melalui media?" ucap pria itu yang tidak lain adalah Andrew saudara kandungnya Orissa.
Tiba di mansion utama, Carine turun meminta sang sopir taksi itu menunggu.
"Pak. Aku hanya sebentar. Tolong tunggu aku di sini!" pinta Carine pada sopir taksi yang hanya mengangguk.
"Baik nona," ucap sang sopir taksi itu patuh namun juga heran karena Carine sudah mengenakan masker dan kacamata hitam.
Andrew menyusul taksi itu masuk ke mansion utama. Carine berjalan masuk ke dalam mansion yang langsung di sambut oleh pelayan Lucio.
Betapa kagetnya pelayan Lucio saat melihat perut Carine yang sudah membesar. Carine yang sudah membuka masker dan kacamatanya menyapa pelayan Lucio dengan ramah.
"Nona Carine ...! Anda ..?" tanya pelayan Lucio syok tapi juga bahagia.
"Apa kabar Lucio! Apakah ada mommy?" tanya Carine.
"Nyonya ada di kamarnya. Apakah perlu aku panggilkan nyonya?" tawar pelayan Lucio.
"Tidak usah Lucio. Biar aku saja ke kamar mommy. Aku ingin beri kejutan pada mommy," ucap Carine semangat.
"Baiklah nona. Tapi itu..? perut anda, nona..?" gugup pelayan Lucio untuk menanyakan kabar kehamilan Carine.
"Usia kandunganku sudah memasuki delapan bulan Lucio," ucap Carine sambil menaiki anak tangga.
"Selamat pagi Lucio...!" sapa Andrew yang sudah masuk begitu saja karena penasaran pada sosok istrinya Orlando.
"Pagi tuan Andrew...!" ucap pelayan Lucio.
Carine menghentikan langkahnya dan menoleh ke bawah untuk melihat wajah Andrew. Sementara itu nyonya Adeline keluar dari kamarnya ketika mendengar suara putrinya.
"Mau apa kamu ke sini Carine...?" judes nyonya Adeline pada putrinya tanpa melihat keadaan Carine yang saat ini sedang hamil.
"Carine...?" heran Andrew melihat wajah Carine yang saat ini sudah kembali seperti biasa menjadi wanita culun. Padahal sebelumnya dia melihat sendiri wajah Carine yang sangat cantik saat belanja di swalayan tadi.
"Astaga...! jadi gadis ini sedang menyamar?" sentak Andrew yang baru mengetahui kalau Carine adalah istri Orlando yang sedang menyamar. Entah apa tujuannya.