
Saat ini Carine tidak perlu main kucing-kucingan lagi dengan suaminya tentang pekerjaannya sebagai agen rahasia FBI setelah mengakui semuanya pada Orlando walaupun tidak sepenuhnya karena ada satu hal yang tidak mungkin Carine ungkapkan rahasia kejahatan ayah kandung Orlando pada suaminya itu.
Kini Carine harus berhadapan langsung dengan Mr. M yang sedang menagih janji gadis itu yang ingin menyerahkan tuan Franco pada negara.
"Carine. Kamu sudah berapa lama berada di dalam lingkungan keluarga ayah tirimu itu?" tanya Mr. M.
"Sekitar 6 bulan ini, Mr.M," ujar Carine.
"Kapan kamu akan menyerahkan mafia itu? Apakah kamu ingin melindunginya hingga ia terus menerus menikmati bisnis haramnya itu?" selidik Mr. M.
"Banyak yang harus saya lakukan untuk bisa menangkapnya terutama harus mencari bukti lengkap atas kejahatannya bersama mafia lain."
"Oh begitu ya. Jadi, bukti yang belum lengkap atau fakta pernikahan rahasiamu dengan putranya yang sekarang ini menjadi bumerang bagimu?" sarkas Mr. M.
"Tolong beri saya waktu, Mr. M...! Saya berjanji akan menangkapnya dan membawanya sendiri pada anda," ujar Carine terlihat sangat tertekan.
"Kapan? Seberapa lama kami menunggu keberanianmu untuk menyerahkan ayah tirimu itu pada kami?" tanya Mr.M bernada intimidasi.
"Secepatnya. Aku janji dan kali ini tidak akan gagal lagi," ucap Carine meyakinkan Mr. M yang mengangguk ragu pada statemen Carine yang terdengar ragu akan misinya yang satu ini yang tampak lelet.
"Baiklah. Aku tunggu kabar baiknya. Aku harap cintamu pada putranya tidak membuatmu buta akan nilai kebenaran. Ingat...! Kamu adalah agen rahasia FBI negara ini yang siap membasmi kejahatan pada siapa saja sekalipun itu adalah darah dagingmu sendiri, kamu mengerti?!" tekan Mr. M.
"Siap Mr."
Carine meninggalkan ruang kerjanya Mr. M dan memilih untuk kembali ke rumah sakit karena ada janji konsultasi dengan pasiennya di kliniknya.
Sementara di mansion utama, nyonya Adeline merasa penasaran dengan putrinya yang sudah lama tidak pulang ke rumahnya semenjak pamit terakhir kali ke rumah sakit. Ini sudah hampir tiga pekan Carine tidak pernah pulang ke rumah padahal tidak sedang ke luar negeri.
Nyonya Adeline akhirnya memutuskan untuk mengunjungi putrinya ke rumah sakit tanpa mengabari kedatangannya untuk memberikan kejutan pada Carine. Nyonya Adeline mampir ke sebuah toko kue untuk membeli kue kesukaan putrinya.
Sebelumnya, Orlando juga sudah lebih dulu ingin mengajak istrinya untuk makan siang bersama dengannya. Kebetulan tidak ada lagi pasien di klinik tempat Carine praktek.
Sementara Carine sendiri masih memikirkan perkataan Mr.M yang terus menekannya untuk segera menangkap penjahat kelas kakap yaitu tuan Franco.
"Dokter Carine. Apakah tidak ada lagi yang anda butuhkan?" tanya suster Megan.
"Tidak ada suster. Kamu boleh istirahat sekarang..!" pinta Carine terlihat sangat lesu.
"Apakah anda baik-baik saja, dokter?" tanya suster Megan sambil menatap wajah Carine yang terlihat sangat pucat.
"Ya. Saya mau istirahat."
"Baiklah dokter. Kalau begitu aku pamit rehat duluan," ucap suster Megan yang langsung beranjak keluar dari ruang praktek Carine.
Orlando membawa buket bunga dan juga kue untuk istrinya. Dengan langkah gagah ia menghampiri ruang praktek Carine dan langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Carine terlihat bersandar di kursinya dengan keringat dingin menghiasi wajah pucat nya.
Melihat kedatangan Orlando, Carine reflek berdiri untuk menyambut suaminya.
"Hubby...!" pekik Carine langsung memeluk Orlando yang juga menyambut tubuh jenjang itu.
"Apa kabar sayang!" tanya Orlando seraya mengurai pelukannya.
"Tapi, wajahmu sangat pucat dan juga ada keringat dinginnya," protes Orlando.
"Aku hanya kelelahan Orlando. Kamu sudah tahukan kalau aku memiliki dua profesi bahkan tambah satu profesi lagi menjadi istrinya Orlando yang harus melayaninya di arena kasur," canda Carine.
"Itu adalah kewajibanmu sayang dan ucapanmu berhasil membangunkan adikku. Pegang lah dia..!" pinta Orlando seraya meraih dagu Carine untuk ia pagut bibir pink segar Carine yang merasakan sentuhan lembut bibir seksi suaminya yang sangat membuatnya candu.
Sementara di luar sana, tepatnya di rumah sakit Elisabeth, nyonya Adeline berpapasan dengan suster Megan. Wanita paruh baya itu yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda menyapa suster Megan yang menjadi asisten putrinya saat Carine praktek di kliniknya di rumah sakit itu.
"Hallo suster Megan. Apa kabar, sayang!" keduanya cipika-cipiki saling menukar kabar mereka.
"Sangat baik Tante. Apakah Tante ingin bertemu dengan dokter Carine?" tanya suster Megan.
"Iya sayang. Apakah dia ada di kliniknya?" tanya nyonya Adeline.
"Iya Tante. Dia masih di kliniknya. Kelihatannya dokter Carine kurang sehat karena wajahnya terlihat sangat pucat tadi," ucap suster Megan.
"Benarkah? Ok suster Megan. Biar Tante menemuinya di kliniknya. Lagi pula dia tidak tahu kedatangan Tante," ucap nyonya Adeline.
"Ok Tante. Selamat siang," ucap suster Megan.
"Terimakasih suster Megan."
Keduanya berpisah dan berjalan ke arah tujuan mereka masing-masing. Sementara di dalam klinik, Carine dan Orlando tampak tenggelam dalam ciuman panas mereka hingga kencing baju Carine sudah terlepas tiga karena tangan kekar Orlando yang ingin meremas bukit kembarnya secara langsung. Dan sialnya mereka lupa memastikan untuk mengunci pintu saat sedang bercumbu saat ini.
Cek.... lek..
Duarrrr.....
Mata nyonya Adeline seakan melompat keluar melihat pemandangan yang tidak senonoh menurutnya. Ia harus menyaksikan sendiri adegan cumbuan mesra antara putrinya dan juga putra sambungnya.
"Carinnnnne...!" pekik nyonya Adeline saat melihat pasangan itu melepaskan ciuman mereka dengan benang saliva yang masih tersambung.
Bahkan bibir Carine tampak bengkak di tambah bagian dadanya sudah setengah terbuka. Rasa syok nyonya Adeline hingga plastik kue yang dipegangnya jatuh ke lantai begitu saja. Tubuhnya gemetar hingga ia kehilangan kata-katanya untuk menegur pasangan yang sedang dimabuk asmara ini.
Carine tampak gugup hingga menundukkan wajahnya karena takut menatap wajah ibunya. Namun tidak dengan Orlando yang nampak santai malah merengkuh pinggang Carine posesif.
Carine berusaha melepaskan tangan Orlando dari pinggangnya malah lingkaran lengan itu makin kuat mencengkram erat pinggang rampingnya. Nyonya Adeline menghampiri Carine dengan tubuh gemetar menahan amarah yang siap meledak.
"Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian tidak tahu kalau kalian itu adalah saudara tiri? Katakan kepada mommy! Kenapa kalian terlihat sangat menjijikkan seperti ini? Apakah kalian sudah tidur bersama, hah?! Kamu benar-benar wanita murahan, Carine...!" pekik nyonya Adeline seraya menampar kuat wajah Carine membuat Orlando tercekat.
Plakkkk...
"Mommy....!" bentak Orlando yang langsung memeluk Carine dan melindungi istrinya dalam dekapannya.
"Apakah kamu tahu, mommy? Kalau aku dan Carine sudah menikah. Carine adalah istriku. Aku menyentuh tubuhnya dengan menikahinya terlebih dahulu dan istriku bukan wanita murahan. Suka atau tidak, aku sangat tergila-gila pada adik tiriku sendiri.
Itulah sebabnya aku menolak keinginan suamimu yang ingin menjodohkan aku dengan monyet betina itu," papar Orlando panjang lebar membuat tubuhnya nyonya Adeline terhuyung ke belakang.
"Tidak mungkin... Ini tidak mungkin...! Carine. Kau harus menceraikan Orlando ataukah kamu akan melihat jenazah ibumu. Kalian benar-benar terkutuk...!" Nyonya Adeline langsung keluar dari ruang praktek putrinya dan Carine langsung jatuh lemas namun ditangkap oleh Orlando yang langsung membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur pasien.