PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
42. Bernafas Lega


"Akhh...!" Pekik Carine yang hampir jatuh ke lantai membuat tuan Smith sigap menangkap tubuh Carine sebelum perut besar itu menghantam ke lantai marmer mengkilap itu.


"Carine ...!"


Tuan Smith mengorbankan tubuhnya yang menjadi tempat Carine jatuh namun dadanya ditahan tuan Smith agar perut besar itu masih melayang diatasnya. Tangan Carine juga menahan bobot tubuhnya berpegangan pada ujung meja.


Sesaat tatapan keduanya terbentur. Keduanya sama-sama syok. Karena nafas mereka yang terlihat tersengal.


"Turunkan tanganmu...!" titah Carine sengit.


"A...iya." Tuan Smith menurunkan satu tangannya dari dada Carine dan satu tangannya lagi mendorong tubuh Carine agar Carine bisa berdiri lagi dengan bertumpu pada pinggiran meja.


Namun begitu wajah keduanya terlihat sangat merah. Carine yang baru sadar dengan tujuan awalnya langsung menutup layar laptopnya agar tuan Smith tidak melihatnya saat pria ini baru ingin berdiri.


"Duduklah dulu...!" menarik lengan Carine untuk duduk di kursi makan itu.


Tuan Smith menuangkan air putih untuk Carine minum. Bumil ini meneguk minumannya. Sebenarnya Carine syok bukan karena ia hampir jatuh tapi lebih kepada ketakutannya akan terbongkar rahasia identitas profesinya. Carine menarik nafas lega sambil memejamkan matanya.


Jika ia tertangkap oleh tuan Smith maka dirinya akan dibunuh oleh tuan Smith dan negara akan membuangnya dan menganggapnya tidak ada.


"Apakah kamu sudah tenang? Jadi ikut denganku, hmm?" tanya Tuan Smith dan Carine mengangguk.


"Tunggulah di sini...! Aku mau ganti baju dan berkemas sebentar," ucap Carine.


"Tidak usah membawa koper..! aku akan membeli keperluanmu di sana. Bawalah sesuatu yang penting untukmu!" titah tuan Smith.


"Baiklah."


Carine masuk ke kamarnya untuk mengganti baju sambil menenteng laptop miliknya. Tuan Smith melihat laptop yang dipegang Carine tidak sama dengan laptop yang biasa Carine bawa untuk bekerja.


Beberapa menit kemudian, Carine sudah keluar dengan mantel tebal dan panjang hingga menutupi kaki jenjangnya. Keduanya segera berangkat ke bandara karena co-pilot pesawat jet pribadi milik tuan Smith sudah menunggu mereka.


Pada misi kali ini Carine tampak pasrah. Jika ia mati dalam misi ini ia berharap bayinya yang akan selamat dan akan ia berikan kepada suaminya karena Orlando yang sangat menginginkan bayinya.


"Orlando. Aku akan berjuang untuk menjaga calon bayi kita dengan nyawaku. Tolong doakan kami di misi kali ini karena aku tidak leluasa berperang dengan para penjahat dari kubu tuan Smith. Syukur-syukur dia tidak mengetahui rencana pengagalan FBI pada rencana perampokan anggota tuan Smith nantinya," batin Carine.


Setibanya di depan pesawat jet miliknya, tuan Smith membantu Carine saat menaiki tangga pesawat. Sebenarnya Carine tidak merasa keberatan dengan perutnya yang besar saat ini sudah memasuki usia 7 bulan, hanya saja ia tidak mau tuan Smith tersinggung dengan penolakannya.


Keduanya disambut oleh tiga orang pramugari di depan pintu pesawat dengan tangan terkatup dan senyum terbaik mereka. Awalnya mereka sempat tertegun melihat tuan Smith menggandeng tangannya Carine.


Mereka mengira Carine dan tuan Smith adalah pasangan suami-isteri namun perkiraan mereka langsung terjawab saat Carine mengucapkan sesuatu pada tuan Smith.


"Terimakasih tuan atas bantuannya..!" ucap Carine pada tuan Smith di depan ketiga pramugari pesawat itu.


"Hufftt...!" ketiga pramugari itu meniupkan udara dari mulut mereka sebagai ucapan rasa lega karena sang idola masih bujang.


Tidak menunggu lama, co-pilot sudah siap melakukan take-off menuju negara tujuannya tuan Smith.


"Maaf nona! Apakah Anda mau minum sesuatu?" tanya pramugari Mia pada Carine.


"Jus Apple dan cake coklat," ucap Carine saat melihat gambar menu yang tertera di tablet pramugari.


"Dan apakah tuan Smith mau sesuatu?" tanya pramugari Michel.


Sekitar lima menit kemudian, pesanan mereka dihidangkan di atas meja. Carine menikmati cemilannya. Namun pikirannya terasa gelisah dengan misi ini. Carine berulangkali menarik nafas berat. Hal itu cukup menganggu tuan Smith yang ada di sebelahnya.


"Apakah kamu mau istirahat?" tanya tuan Smith mengingat mereka saat ini menempuh perjalanan sekitar tiga jam.


"Apakah boleh?" tanya Carine.


"Tentu saja. Aku akan mengantarmu ke kamarku," ucap tuan Smith seraya bangkit diikuti Carine.


"Makanannya diantar ke kamar saja!" titah tuan Smith pada pramugari.


Carine merebahkan tubuhnya. Tuan Smith keluar lagi dan duduk di tempatnya.


Carine mulai meretas email milik tuan Smith yang dikirim oleh anak buahnya. Isi email itu langsung dikirim ke Mr. M.


Sementara itu di Amerika, Mr. M meminta Carine untuk meninggalkan tuan Smith karena misi ini sangat berbahaya untuk Carine. Jika Carine tidak hamil mungkin Mr. M tidak begitu peduli.


"Segera menghilang dari pria berbahaya itu...!" tulis Mr. M karena mengetahui watak keras tuan Smith yang tidak akan memberi ampun pada seorang pengkhianat.


"Baik Mr. M. Aku akan menunggunya bergerak di lapangan. Aku belum tahu kami akan menginap di mana?" balas Carine.


"Tidak usah memberitahu aku dimana keberadaanmu karena aku bisa melacak keberadaanmu," tulis Mr. M.


"Baik."


Carine menghapus semua obrolannya dengan Mr. M. Ia mencoba untuk tidur agar tidak mudah setress saat menghadapi misi besok malam.


Sementara Orlando juga merasakan hal yang sama. Pikirannya tidak terlepas pada sang istri dan juga calon bayinya.


"Carine. Jaga dirimu sayang dan anak kita. Aku hanya punya kalian. Aku sudah tidak lagi memikirkan kesalahanmu pada daddyku. Memang kamu tidak salah. Aku saja yang terlalu terbawa emosi.


Di mana kamu sayang? Aku akan menjemputmu!" lirih Orlando sambil menitikkan air matanya. Pria tampan itu menjadi makin cengeng setelah ditinggal pergi sang kekasih.


Tiba di tempat tujuan mereka di bawa ke sebuah tempat rahasia di mana Carine sangat terkejut saat melewati hutan belantara dengan helikopter.


"Kita mau ke mana?" tanya Carine terlihat sangat gugup.


"Bukankah kamu ingin mendampingi aku di setiap aktivitasku?" tanya tuan Smith dengan senyum mencemooh.


"Kenapa harus di dalam hutan? Kenapa tidak di kota? Apakah teman bisnismu itu adalah kelurga simpanse?" ngotot Carine.


"Tenanglah...! Walaupun kita berada di dalam hutan tapi tidak menakutkan. Hanya saja akses ke tempat itu tidak bisa dilalui oleh kendaraan biasa," ucap tuan Smith.


Helikopter mendarat di atas permukaan tanah yang cukup lembab. Di tempat itu terdapat rumah kayu namun tertata rapi. Di sekitarnya ada tanaman buah dan beberapa jenis sayuran. Ada juga pagar pembatas yang tersambung dengan listrik agar terhindar dari kedatangan hewan buas.


Perasaan Carine makin tidak karuan. Ia merasa kehidupannya bersama calon bayinya akan berakhir di dalam hutan sini. Mereka masuk ke dalam rumah kayu itu. Di dalamnya memang sangat mewah. Walaupun begitu Carine sama sekali tidak tertarik.


"Serahkan semua barangmu padaku termasuk barang elektronik...!" titah tuan Smith membuat wajah Carine langsung pias.


Deggggg...