
Saat pria aneh itu mengeluarkan kartu visit kelurga pasien dari balik jasnya, Carine dan Orlando melepaskan tangan mereka dari gagang pistol milik mereka. Keduanya tetap bersikap rileks walaupun Carine tidak sepenuhnya percaya pada pria itu.
"Ok tuan. Maaf sudah membuat anda tidak nyaman," ucap Carine.
Pria aneh itu membalikkan badannya menuju kamar pasien di mana kelurganya berada. Carine yang sudah mendapatkan wajahnya dengan mengambil gambar wajah penjahat melalui jam tangannya langsung melakukan pengenalan identitas pria itu.
Ia pun mengirim identitas pria aneh itu ke markas FBI untuk dilacak identitas pelaku yang lebih mendalam agar bisa menarik benang merah dari kasus yang saat ini sedang mereka tangani.
"Apakah ada masalah?" tanya Orlando melihat Carine sibuk dengan ponselnya.
"Tidak sayang. Hanya ada urusan kecil," ucap Carine menyimpan ponselnya ke dalam tasnya.
Tidak berapa lama keduanya sudah berada di butik untuk melakukan fitting baju pengantin. Carine dilayani beberapa orang staf wanita dan Orlando juga dilayani beberapa orang staf pria.
"Tunjukkan koleksi terbaru kalian karena aku dan calon istriku akan menikah hari ini," ucap Orlando yang memang kebelet kawin.
Ia memang menginginkan Carine seutuhnya entah menikah atau tidak yang jelas ia ingin bersama dengan agen rahasia itu.
Tidak lama, butik itu sudah mengeluarkan koleksi jas terbaru mereka untuk Orlando yang mereka kenal seorang pebisnis muda berbakat.
"Jangan sampai wartawan tahu aku akan menikah, kalian paham?" ancam Orlando yang memang melakukan pernikahan rahasianya dengan Carine mengingat status hubungan mereka yang tak lazim diketahui oleh orang lain.
"Baik tuan. Kami janji menjaga kerahasiaan pernikahannya tuan,"ucap manajer butik itu.
Orlando terlihat sangat tampan dengan stelan jas putihnya. Kini ia berjalan menuju tempat Carine dan menunggu gadis itu sedang di dandani oleh mua wedding di butik itu yang sudah satu paket.
Asisten pribadinya Orlando yaitu Wiz menghubungi lagi bosnya itu.
"Pernikahan kalian akan di jadwalkan jam sepuluh pagi. Datang satu jam sebelumnya," ucap tuan Wiz yang harus membayar mahal untuk pernikahan mendadak ini.
"Baik. Kami sedang di butik. Tolong belikan seperangkat perhiasan berlian untuk istriku dan modelnya keluaran terbaru dan limited edition!" titah Orlando.
"Baik tuan." Wiz tidak ingin berdebat lagi tentang apapun. Ia hanya berharap pernikahan ini bukan pernikahan instan karena Carine terlihat sangat berkorban atas cintanya pada Orlando.
Pria itu sudah menyiapkan cincin pernikahan mereka yang sudah ia beli beberapa Minggu yang lalu saat Carine bertugas ke luar negeri padahal belum ada kesepakatan antara mereka yang jelas, Orlando hanya ingin membelinya saat itu.
Tidak lama ruang ganti itu dibuka oleh staff untuk menampilkan sosok cantik yang akan menikah sebentar lagi dengan kakak tirinya itu. Orlando meneguk salivanya gugup melihat kecantikan Carine yang sangat luar biasa.
Walaupun dress pengantin itu tidak begitu seksi namun wajahnya Carine yang sudah mewakili keseksian Carine. Gadis itu memang melindungi tubuhnya dari tatapan liar lelaki manapun dan itu yang membuat Orlando mati penasaran.
Kalau untuk melihat tubuh gadis yang sudah sering terbuka cukup dinikmati saja tanpa rasa ingin mengetahui lebih dalam. Namun berbeda dengan Carine benar-benar sesuatu. Itu yang dipikirkan oleh Orlando.
"Baby...! Orlando tidak tahu harus berbuat apa saat ini karena sifat playboy-nya lenyap begitu saja.
Kehadiran Carine mengubah dunianya menjadi seorang penyabar karena tidak selamanya ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Carine tersenyum pada Orlando di balik kain penutup kepalanya sebagai wanita yang masih menjaga kesuciannya.
Orlando menghampiri calon istrinya dan keduanya diminta untuk foto bersama sebelum berangkat ke tempat pernikahan. Usai melakukan sesi pemotretan keduanya sudah berada di mobil menuju tempat pernikahan yang sudah diatur oleh asisten Wiz di salah satu hotel mewah sesuai pesanan Orlando.
Di hotel itu keduanya mengambil sumpah pernikahan yang di ikrarkan keduanya yang disaksikan oleh Wizz dan beberapa staf perusahaan Orlando. Pendeta mensahkan pernikahan keduanya.
Orlando tersenyum lalu membuka kain putih tipis penutup kepala dan wajah istrinya untuk dilihat lebih jelas. Keduanya berciuman seadanya karena Carine terlihat tidak begitu suka berciuman dihadapan orang.
"Lanjut ke kamar saja!" bisik Carine lembut.
...----------------...
Di kamar, Orlando yang sedang menggendong pengantinnya merebahkan tubuhnya Carine di atas kasur king size itu. Ia tidak langsung membuka gaun pengantin istrinya karena ingin menikmati kecantikan Carine yang begitu sangat cantik hari itu.
"Boleh aku membuka gaunmu, sayang?" tanya Orlando.
"Mulai sekarang aku milikmu. Lakukan apa yang kamu inginkan sayang!" sahut Carine dengan suara bergetar karena sebentar lagi, apa yang menjadi miliknya akan ia serahkan kepada pria yang dulu menjadi musuhnya kini dimiliki seutuhnya.
Puluhan wanita yang rela tubuhnya dijamah oleh Orlando, kini Carine sebagai pemenangnya. Mereka menyerahkannya dengan mudah tapi, tidak dengan Orlando yang hanya menikmatinya sesaat..
Gaun putih itu lolos begitu saja dari tubuh putih mulus nan jenjang itu. Kini hanya tersisa G string putih nampak seksi di tubuh jenjang Carine membuat dada Orlando seakan ingin meledak.
"Jadi, inikah kekayaan tubuhmu yang kamu sembunyikan? Kau... benar-benar membuatku terpesona, Carine,"puji Orlando dengan sekujur tubuhnya bergetar hebat menghadapi wanita suci di hadapannya ini.
Jika dulu Carine tampil apa adanya, mungkin dia tidak lagi menjadi istimewa di hadapan Orlando karena tubuhnya akan menjadi incaran para teman-temannya yang kehidupannya tidak jauh beda dengan Orlando.
Ukuran dada yang begitu montok. Ditambah pinggang ramping disangga bokong bulat dan cukup besar yang menjadi impian semua pria.
Orlando memeluk tubuh istrinya penuh rasa syukur. Ia menangis karena tidak mampu menahan rasa harunya. Ia sangat menyesal dengan perbuatannya dulu karena selalu menghina Carine yang terlihat sangat culun dan menjijikkan.
"Kau tahu cara menjaga dirimu. Menjaga bagian tubuhmu yang bisa saja menjadi mangsa bagi pria manapun. Maafkan aku, sayang. Aku terlalu buta dengan keindahan sesaat namun membuatku cepat bosan," ungkap Orlando sambil terisak.
"Aku lakukan itu karena untuk menyamar Orlando, bukan untuk menyimpan agar bisa ku berikan padamu," batin Carine yang memang ingin menjaga tubuhnya bukan untuk siapa-siapa karena memang tidak suka mengumbar pada siapapun karena baginya tidak penting harus memperlihatkan tubuhnya ke semua orang kalau dirinya cantik dan seksi.
Carine menanggalkan jas suaminya berserta kemeja dan terakhir adalah celana panjang Orlando. Dan kini keduanya hanya menyisakan pakaian dalam mereka.
Carine mendongakkan wajahnya menatap Orlando yang langsung menyambar bibir sensualnya sambil membuka apa yang melekat di tubuh istrinya.
Bagai binatang buas yang kelaparan, Orlando tidak sabar lagi merasakan benda kenyal di dada Carine lalu menatap bagian bawah perut Carine di mana surga tersembunyi milik Carine yang membuat Orlando meleleh.
Carine terlihat begitu malu hingga merapatkan lagi pahanya yang sempat terbuka lebar. Orlando buru-buru menahannya.
"Jangan membuatku malu Orlando!" rengek Carine manja karena tidak ingin hanya ditatap saja.
"Aku belum puas menatapnya sayang," kilah Orlando.
Drettttttt.....
Bunyi ponsel Carine dengan ring tone tanda bahaya membuat ia terkesiap.
"Aduh ... bagaimana ini?" batin Carine bingung untuk menerima panggilan dari bosnya itu atau tidak saat ia sedang melakukan bulan madu.