
Merasa tidak tenang, Orlando akhirnya kembali lagi ke tempat parkir dan ingin melihat keadaan Carine. Iapun melihat mobil Carine masih berada di tempat yang sama.
Itu berarti Carine belum sempat keluar. Orlando turun dari mobilnya dan berusaha melihat area di sekitarnya. Matanya mulai terbentur pada bawah bodi mobil di mana Carine terbaring di samping mobilnya sendiri.
"Astaga. Carinnnnne....!" pekik Orlando seraya menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke dalam mobilnya.
Orlando membawa Carine ke rumah sakit terdekat agar Carine segera ditangani oleh dokter. Orlando menyetir mobilnya dengan sangat kencang dan begitu marah pada mobil yang jalannya begitu lambat di depannya.
Orlando memegang tangan Carine yang terasa sangat dingin dengan peluh bercucuran padahal AC mobilnya sangatlah dingin.
"Dasar bodoh...! Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Mengapa di saat cintaku hadir pada seorang wanita yang ku anggap tulus malah menyimpan racun mematikan sepertinya. Mengapa...?" pekik Orlando merasa serba salah.
Tiba di rumah sakit, beberapa perawat langsung menyambut Carine yang didampingi oleh satu orang dokter menuju ruang IGD.
Orlando hanya berdiri mematung menyaksikan istrinya saat ini sudah dalam penanganan dokter yang mengangkat sebagian bajunya sambil menempelkan stetoskop di perut Carine.
"Apa yang terjadi pada wanita ini? Siapa anda untuknya?" tanya dokter pada Orlando yang langsung menjawab tergagap.
"A..aku suaminya dan dia tadi sempat muntah terus pingsan," ucap Orlando tergugu.
Beberapa menit kemudian dokter itu mengarahkan alat USG pada perut Carine yang sebelumnya sudah di oles gel lalu memeriksa perut Carine dan melihat gumpalan kecil dalam perut Carine membuat dokter itu tersenyum.
Orlando mengamati ekspresi wajah dokter yang terlihat berbinar lalu meliriknya sesaat. Carine masih belum sadar dan terlihat sangat tertekan saat ini.
"Tolong bersihkan perutnya pasien suster!" titah dokter pada asistennya.
"Ayo ikut aku tuan ..! Ada yang harus aku jelaskan padamu tentang kondisi istri anda," ucap dokter Maya.
"Ba..baik."
"Selamat. Anda akan menjadi seorang ayah. Saat ini istri anda sedang hamil sekitar 10 Minggu. Tolong di jaga dengan baik dan jauhi dia dari setress karena itu tidak baik pada pertumbuhan calon bayi kalian," ucap dokter Maya penuh penekanan pada kalimatnya.
"Hahh...? Hamil dokter?!" sentak Orlando antara bahagia dan juga miris.
Miris karena hubungannya dengan Carine saat ini tidak baik-baik saja. Mungkin kalau mereka dalam keadaan siap tanpa dihadapkan dengan berita duka yang membelit kehidupan Orlando yang menyangkut kasus ayahnya, mungkin Orlando akan memeluk dan mencium istrinya untuk meluapkan rasa bahagianya.
Melupakan perbuatan Carine padanya itu tidak mungkin karena Orlando menganggap Carine adalah pengkhianat. Mendekatinya hanya memuluskan misinya gadis itu.
"Kenapa kamu datang di saat yang tidak tepat, nak," batin Orlando yang hampir menangis karena sedang berontak dengan dirinya sendiri.
Bahkan kebaikan Carine yang beberapa kali menyelamatkan dirinya terlupakan oleh pria ini begitu saja karena terbalut amarah yang tidak bisa merubah egonya hingga kehadiran seorang anak di tengah mereka tidak mampu merekatkan hubungan keduanya yang sedang merenggang.
Orlando keluar dari kamar IGD itu dan Carine sudah mulai siuman. Dokter yang melihat tampang dingin Orlando yang biasa saja saat mendengar Carine hamil cukup tahu diri dan tidak banyak bercerita. Dokter menghampiri Carine yang saat ini sedang mendapatkan infus untuk memulihkan tenaga Carine.
Carine menggeliat lalu mengerjapkan matanya dan menatap sekitarnya. Pandangannya yang sedikit buram sambil mendesis merasakan kepalanya yang masih berdenyut sakit.
"Saat ini anda sedang hamil nona. Mulai sekarang jauhi setress yang berlebihan kalau anda sayang dengan calon janin anda yang ingin merasakan kehidupan sempurna di dalam rahim anda," ucap dokter Maya yang belum tahu siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Hamil...? Aku hamil..!" gumam Carine begitu bahagia dengan senyum mengembang sempurna terlihat jelas di wajah pucatnya.
"Suami anda sudah mengetahuinya. Ia ada di luar. Kami akan memanggilnya supaya dia tahu anda sudah siuman," ucap dokter Maya namun tangannya langsung di cekal oleh Carine yang menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak perlu dokter. Hubungan kami kurang baik saat ini. Aku mau pulang sekarang," pinta Carine yang sudah mengetahui jika Orlando tidak menginginkan kehadiran janin yang saat ini ada dalam rahimnya.
"Sebentar lagi anda boleh pulang. Jangan sekarang karena cairan infus masih mengalir dalam tubuh anda," ucap dokter Maya.
"Aku bisa melanjutkan untuk infusnya di rumah. Aku adalah dokter bedah di rumah sakit Elisabeth," ucap Carine membuat dokter Maya terhenyak karena ia sudah banyak mendengar tentang Carine tapi baru kali ini melihatnya secara langsung.
"Apakah anda dokter...-" ?"
"Carine..!" ucap Carine yang langsung mencabut jarum infusnya begitu saja dan menahannya sebentar jalur pembuluh darahnya agar tidak mengeluarkan darah.
Dokter Maya tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tahu Carine bisa mengontrol dirinya sendiri. Baru saja Carine turun dari brangkar, Orlando sudah lebih dulu masuk dan langsung mencegah Carine yang ingin berjalan sendiri.
"Tunggu. Biar aku yang menggendongmu!" titah Orlando tanpa menunggu jawaban Carine dan langsung menggendong Carine keluar dari IGD setelah menyelesaikan biaya admistrasi perawatan Carine di billing.
"Aku bisa jalan sendiri," tolak Carine.
"Tidak untuk saat ini. Kau butuh pengawasanku karena mengandung anakku," ucap Orlando yang seakan lebih peduli dengan calon anaknya ketimbang Carine sendiri.
"Oh...! Jadi, hanya karena bayi ini dia mau menjagaku. Menyedihkan...!" batin Carine menahan bulir beningnya agar tidak terlihat lemah didepan Orlando yang sudah membawa tubuhnya keluar dari rumah sakit.
Seperti biasa Orlando memposisikan tubuh Carine dalam keadaan tetap nyaman di sandaran kursi mobilnya lalu bergegas meninggalkan rumah sakit itu menuju apartemen miliknya.
Sepanjang jalan keduanya terlihat diam. Carine juga tidak ingin bicara untuk menjaga emosinya stabil agar calon bayinya cukup tenang di dalam sana.
Setumpuk perkataan pedas di otak Orlando yang tidak bisa tersalurkan kepada Carine karena kemarahannya pada wanita ini masih belum usai namun ia juga tidak ingin mengorbankan calon bayinya yang sedang tumbuh dalam rahim wanita yang sudah membuatnya benci.
Mengetahui kalau Carine belum makan apapun seharian yang memicu wanita ini pingsan karena sibuk mengurus pekerjaannya, Orlando membelokkan mobilnya ke restoran langganannya.
"Aku mau pulang. Aku tidak lapar," tolak Carine.
"Bukan untukmu, tapi untuk calon bayiku. Dia harus lahir dalam keadaan sehat. Setelah lahir kita akan mengurus perceraian kita dan aku akan merawatnya.
Kau bisa melakukan apapun untuk negaramu demi menegakkan keadilan dengan wajah palsu mu itu untuk menipu banyak orang termasuk pria bermasalah siapa lagi yang kau incar agar urusan penangkapan mereka lebih mudah. Seperti yang kamu lakukan padaku," sarkas Orlando terdengar sangat menyakitkan bagi Carine.
Deggggg...
Carine hanya menarik nafas panjang. Hatinya benar-benar sangat sakit saat ini. Ia menahan dirinya dan mencoba untuk rileks.