PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
35. Tetap Mencari


Walaupun Orlando sudah diperingatkan oleh Carine agar tidak mencari keberadaannya, namun Orlando tidak menuruti begitu saja kemauan istrinya.


Dia memang marah dan kecewa pada Carine, tapi cintanya pada wanitanya itu tidak hilang begitu saja. Ditambah lagi saat ini Carine sedang mengandung anaknya.


Satu-satunya yang harus ia datangi adalah bosnya Carine yaitu Mr. M. Walaupun wanita berusia 40 tahun ini seorang wanita namun ia tetap dipanggil Mr. M di kesatuannya karena berdasarkan struktur organisasi internasional tersebut.


Baru saja Mr. M keluar dari gedung megah FBI itu, Orlando buru-buru menghampirinya.


"Mr. M!" pekik Orlando tidak jauh dari tempat Mr. M berdiri.


Bos dari istrinya ini berhenti sesaat dan melihat wajah Orlando yang terlihat sangat kusut dengan jambang tipis menghiasi wajahnya dan benar-benar terlihat kacau.


"Mr. M. Tolong katakan kepadaku di mana istriku berada..! Aku ingin menjemputnya," pinta Orlando memelas sedih.


"Maaf. Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena Aku sudah berjanji untuk melindungi Carine darimu," acuh Mr.M sambil berjalan menuju mobilnya.


"Dia sedang hamil anak kami. Dia butuh aku di sampingnya," ucap Orlando.


"Bertahan di sampingmu agar kamu bisa menghinanya setiap saat?" sarkas Mr. M.


Orlando terdiam. Rupanya urusan rumah tangganya Carine sudah menceritakannya juga pada bos-nya. Mungkin Carine butuh teman untuk berbagi. Itu yang ada dipikiran Orlando saat ini dan dia bisa memakluminya.


"Maaf Mr. M. Aku akui kalau aku salah karena telah menyakitinya terus menerus Carine tapi aku janji tidak akan mengulanginya lagi," tegas Orlando.


"Maafkan saya juga karena saya juga tidak bisa memberitahu keberadaan istrimu karena atas permintaan Carine sendiri. Dia hanya ingin menjalankan kehamilannya dalam masa tenang dan menghindari perdebatan tak berarti diantara kalian.


Harusnya kau salahkan pria bajingan seperti ayahmu itu dan bukan mencari alasan untuk memusuhi istrimu sendiri. Bajingan sialan..!" maki Mr. M membuat Orlando terkesiap.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengatakan keberadaan Carine. Aku yakin dengan cinta yang aku punya untuknya aku pasti akan menemukan keberadaannya," pekik Orlando.


"Selagi orangnya ada mengapa kamu malah sia-siakan? Dan sekarang setelah Carine kabur kamu malah kelimpungan sendiri. Dasar lelaki egois. Aku harap kamu tidak akan pernah bertemu dengan Carine," umpat Mr. M lalu masuk ke dalam mobilnya.


Orlando juga masuk ke dalam mobilnya seraya memukul setir mobilnya berkali-kali meluapkan amarahnya. Ia lalu menjatuhkan keningnya di atas setir mobilnya dan merintih di dalam sana memikirkan nasib istrinya.


Rasa sakit kehilangan istrinya melampaui rasa sakit kehilangan ibunya yang pergi bersama laki-laki lain setelah perceraian kedua orangtuanya saat usianya masih belia.


"Carinnnnne....!" jerit pilu Orlando menggema di udara. Hampir empat bulan pernikahan mereka yang selalu dihiasi dengan kebahagiaan kini berubah suram seperti berada di lorong sepi dalam kegelapan malam.


"Upsss!" jari tangan Carine teriris saat sedang memasak di dapurnya. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada Orlando. Kerinduannya hanya menggumpal sesak di dadanya yang hanya bisa terhapus dengan air mata.


Lagi-lagi Carine hanya membelai perutnya yang mulai membesar sambil mengajak janinnya berbicara.


"Apakah kamu merindukan Daddymu, sayang? Mommy juga. Tapi mommy tidak mau bersama daddy mu selama dia tidak bisa merubah tabiat buruknya," ucap Carine lalu melanjutkan memotong wortel untuk membuat sup daging.


Memasuki hari weekend, Carine lebih banyak berada di unit apartemennya. Ia lebih senang membuat masakan dan kue untuk menghilangkan rasa jenuhnya menunggu berlalunya waktu.


Selebihnya ia membaca buku dan menonton film kesukaannya. Tapi siang itu ia di kejutkan dengan bunyi bel unit kamar apartemennya sementara dia tidak memesan apapun.


Ting....tong...


"Siapa yang datang?" tanya Carine beranjak mendekati pintu dan melihat layar CCTV.


"Astaga...! Tuan Smith? Mau apa dia ke sini?" panik Carine lalu menyapu pandangannya di sekitar ruang tamu untuk memastikan keadaan rumahnya masih dalam keadaan rapi.


Ting... tong...


Bunyi bel kembali menggema dan Carine segera menarik gagang pintu utama untuk melihat tamunya.


"Selamat siang..!" sapa tuan Smith terlihat kaku.


"Siang...!"


"Boleh aku menumpang makan siang di sini?" basa-basi tuan Smith untuk menghilangkan groginya.


"Silahkan...!" Carine membuka pintu lebih lebar untuk tuan Smith yang memindai ruang tamu yang terhubung dengan dapur. Aroma masakan Carine tercium oleh tuan Smith membuatnya tergiur.


"Kamu sedang memasak?" tanya tuan Smith melangkah mendekati dapur di ikuti Carine yang langsung melihat masakannya.


"Maaf tuan. Dapurku berantakan karena aku baru ingin membereskannya," ucap Carine seraya menyendok sup ke piring kecil untuk memastikan rasa.


"Hmm..! Sudah enak," gumam Carine tersenyum puas lalu mematikan kompornya. Bersamaan dengan itu cheese cake sudah matang ditandai bunyi timer microwave berhenti berdetak.


"Sebentar tuan Smith. Saya harus merapikan dulu masakan saya. Silahkan duduk di depan saja... ! Di sini kotor!" pinta Carine nggak enak hati.


"Boleh aku mencicipinya? Aku tiba-tiba merasa lapar," ucap tuan Smith dan Carine mengangguk ragu.


"Tapi masakanku tidak senikmat koki di mansion anda Tuan," ucap Carine mengambil piring untuk tuan Smith dan dirinya lalu menata makanannya di meja makan itu secantik mungkin.


"Mau aku siapkan?" tawar Carine ramah.


"Itu lebih baik karena aku jarang mengurus kebutuhan perutku sendiri," ucap tuan Smith.


Carine menyiapkan makanan untuk tuan Smith lalu dirinya. Tanpa menunggu dipersilahkan yang punya rumah, tuan Smith sudah lebih dulu mencicipi sup buatan Carine.


"Sluppp....ahhhhh!" decah tuan Smith menikmati kelezatan masakan Carine yang di pujinya kemudian.


"Ini sangat enak Carine. Rasanya luar biasa!" puji tuan Smith apa adanya.


"Apakah kamu selalu memasak sendiri untuk kebutuhan perutmu?" tanya tuan Smith di tengah acara makan siang mereka.


"Aku sedang nganggur di rumah. Untuk mengalihkan rasa jenuhku yah, dengan memasak," ujar Carine sambil mengunyah makanannya.


Carine menangkap kesan berbeda dari tuan Smith saat di tempat kerja dan sekarang mereka sedang berdua. Pria tampan ini tampak rileks walaupun awalnya terlihat kaku apa lagi berada di depan wanita.


"Apakah dia memiliki kepribadian ganda?" batin Carine nampak cuek dan menikmati makanannya tanpa canggung lagi di depan tuan Smith yang menghabiskan masakan Carine yang seharusnya untuk ia simpan buat makan malam nanti.


"Sudahlah. Aku bisa memasak spaghetti untuk makan malam nanti," batin Carine menyudahi makanannya begitu pula tuan Smith.


"Apakah tuan mau makan buah?" tawar Carine yang sudah menyiapkan salad buah dan juga memotong kue yang baru matang tadi untuk tuan Smith.


"Boleh." Girang tuan Smith yang merasakan perbedaan antara dilayani pelayan dan asisten pribadinya saat ini.


Saat bersama dengan Carine, ia merasa kehangatan sebuah rumah yang tidak pernah lagi ia rasakan saat kedua orangtuanya meninggal terbunuh 20 tahun yang lalu di hadapannya.


"Kenapa gadis ini terlihat sangat berbeda dengan wanita lain yang aku temui? Wanita lain sibuk memikirkan kukunya yang bagus akan rusak jika mereka mau bertempur dengan peralatan masak.


Tapi berbeda dengan Carine terlihat sangat lihai dan tidak begitu peduli dengan penampilannya bahkan wajah Carine terlihat polos dan sangat cantik alami," batin tuan Smith membandingkan setiap wanita cantik nan seksi dengan Carine. Wanita yang selalu berusaha mendekatinya namun tidak ada yang masuk dalam kategorinya.


"Silahkan di makan salad buahnya tuan...! Semoga anda menyukainya. Maaf, aku hanya punya itu saja," ucap Carine.


"Tidak apa Carine. Kalau boleh aku ingin menumpang makan bersamamu di sini tentunya masakan yang kamu buat sendiri. Bolehkah?" tanya tuan Smith membuat Carine tersedak.


Uhukkk...uhukk...


"Hahh ..?!"