
Carine mengurungkan niatnya untuk mencabut pistol yang ada di kakinya. Jika ia menunjukkan aksinya dengan permainan pistol maka penyamarannya akan terbongkar.
Sementara itu, tuan Smith saat ini sedang menghadapi maut karena tuan Daniel menempatkan sniper di balik pepohonan yang tidak jauh dari resort itu.
Pikiran bumil itu sangat cepat. Ia meraih gelas tangkai di depannya lalu melemparkan ke arah tuan Smith sambil memanggil nama bosnya itu.
"Tuan Smith....! Awas....!" teriak Carine menarik perhatian tuan Smith yang melihat ke arahnya namun reflek menundukkan kepalanya menghindari lemparan gelas yang melayang ke arahnya dan tepat di saat itu peluru dari sniper menancap ke keningnya tuan Daniel yang langsung jatuh di atas meja makan restoran itu dengan darah mengalir menghiasi taplak putih itu.
Tuan Smith yang syok kembali berlindung di bawa meja. Carine yang masih gesit menghampiri tuan Smith lalu menjatuhkan meja bulat itu untuk melindungi mereka dari serangan sniper.
Para pengawalnya tuan Smith langsung bergerak dengan menembak ke arah hutan. Mereka memburu sniper itu dengan terus melepaskan tembakan.
Merasa sudah aman, Carine baru memeriksa keadaan tuan Smith yang sempat syok hingga membuat lidahnya terasa kelu untuk berucap.
"Apakah tuan tidak pa apa?" tanya Carine memindai tubuh tuan Smith yang terlihat baik-baik saja.
Carine meminta air minum pada pelayan yang masih berdiri terpaku melihat mereka berdua.
"Bawakan aku air putih!" pinta Carine.
"Baik nona."
Dua menit kemudian, segelas air putih terulur ke arah Carine yang langsung menuntun ke mulut tuan Smith yang meneguknya setengah.
"Syukurlah tuan selamat. Bajingan ini telah menjebakmu. Pantas saja dia meminta untuk bertemu di sini padahal dia sudah mengatur segalanya agar nampak biasa saja," imbuh Carine yang mulai tenang.
"Bagaimana kamu mengetahui kalau aku akan dibunuh? Bagaimana kamu bisa melemparkan gelas tangkai itu dalam posisi lurus ke arahku? Itu semua butuh keahlian khusus. Kau pasti seorang polisi yang menyamar bukan?" selidik tuan Smith.
"Aku hanya kurang beruntung masuk ke akademi militer. Nilaiku standar dan teman-temanku saat itu sangat cerdas. Secara latihan fisik aku tangguh. Namun sayang otakku tidak mendukung untuk tes intelegensi akademi kepolisian," bohong Carine menutupi jati dirinya.
"Ternyata kau memberiku banyak kejutan. Dari wanita keibuan sampai wanita kuat pemberani. Hebat...! Hanya suamimu yang dungu itu saja yang melepaskan permata berharga seperti dirimu.
Dan ironisnya hatimu masih terpaut padanya," maki tuan Smith lalu bergegas berdiri di ikuti Carine yang tidak ingin dibantu oleh tuan Smith untuk berdiri saat tuan Smith memberikan tangannya.
Tuan Smith menendang mayat tuan Daniel yang membuatnya sangat murka karena ia sudah tertipu oleh permainan kotor pria bajingan itu. Carine hanya memalingkan wajahnya. Sementara anak buahnya tuan Daniel yang bekerjasama dengan sniper di amankan oleh anggota tuan Smith.
"Ayo kita pulang...!" ajak tuan Smith.
Carine masih kuatir saat ini. Ingin rasanya ia memberitahu bahwa jalan keluar dari resort ini, tepatnya di sepanjang jalan perbukitan, sudah ada banyak sekali anak buahnya tuan Daniel yang juga memiliki seorang Adik yang siap membalas dendam pada tuan Smith karena pertemuan hari ini sedang dipantau oleh mereka.
Namun, penyamaran Carine akan terbongkar oleh tuan Smith. Asisten Melendez yang sekarang menjadi sekretaris sekaligus sopir pribadi tuan Smith membisikkan sesuatu kepada tuan Smith yang mengangguk paham.
"Baik. Kita akan tukar mobil," ucap tuan Smith.
"Jangan...!" cegah Carine yang sudah tahu permainan para kelas mafia yang tidak begitu peduli nyawa tuan mereka.
"Kenapa Carine...?"
"Hei...! Kenapa kamu bisa mengetahui semuanya? Apa jangan-jangan kau ini mata-mata?" selidik Melendez.
"Kalau aku mata-mata kenapa aku harus repot menyelamatkan tuanmu ini. Biar saja dia mati. Toh, aku tidak punya kepentingan pribadi dengannya," elak Carine.
"Kembali ke mobil!" datar tuan Smith yang tidak ingin mendengarkan perdebatan dua orang di depannya.
Wajah Melendez nampak panas melihat tuan Smith lebih mendengarkan saran Carine daripada dirinya. Perjalanan di teruskan oleh rombongan tuan Smith yang menjaga ketat bos mereka.
Dalam dua puluh menit tidak terjadi apapun. Perjalanan mereka sangat lancar melewati jalanan perbukitan yang berkelok dan menurun lalu menanjak lagi.
Belum lagi sebelah jalan yang mereka lintas melewati pinggir kali. Pinggiran tebing tinggi yang di bawahnya cukup curam. Jika mobil jatuh bisa dipastikan penumpangnya tidak akan selamat.
Tiga puluh menit berikutnya, mobil para penjahat datang dari lawan arah dengan melepaskan tembakan lebih dulu pada mobil ketiga yang merupakan mobil pengganti yang harus mereka naiki.
Melihat tembakan dari arah depan, tuan Smith sudah mencabut pistolnya begitu juga dengan Melendez yang sudah menurunkan kaca jendela untuk berjaga-jaga. Carine begitu heran dengan sikap Melendez yang ingin menembak ke arah lawan dengan jendela mobil terbuka.
"Tuan Smith. Bukan mobil ini anti peluru?" tanya Carine.
"Iya benar."
"Kalau begitu, kenapa harus ikut menembak? Kenapa tidak mencari jalan yang aman untuk menghindari lawan?" geram Carine.
"Tutup jendelanya Melendez!" titah tuan Smith.
"Tapi tuan...-"
"Tutup jendelanya..!" bentak tuan Smith membuat Melendez menuruti perintah tuannya.
"Apakah aku boleh mengganti Melendez untuk menyetir?" tanya Carine yang ingin merubah strategi permainan pertempuran antara dua kubu mafia yang saling tembak menembak itu.
"Kamu sedang hamil. Jangan melakukan hal yang bodoh. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu,"cegah tuan Smith.
"Daripada kita mati di tembak oleh penjahat di depan setidaknya kita bisa menghindari tembakan lawan. Mobil ini memang anti peluru. Tapi lihatlah, mereka menggunakan basoka portabel untuk menyingkirkan mobil anggota kita.
Kekuatan ledakan bazoka akan membuat mobil anti peluru terjungkir balik dan mobil ini akan terseret jauh lalu jatuh ke dalam jurang," ucap Carine dengan analisanya yang sudah mempelajari bagaimana kekuatan mobil anti peluru bertahan.
"Katakan saja padaku! Apa yang harus aku lakukan untuk menghindari tembakan lawan?" tanya Melendez ingin mendapatkan pujian dari tuannya.
"Kau tidak akan berhasil melakukannya. Sekarang menyingkir lah dari tempat duduk mu dan biar aku yang menggantikan posisimu!" titah Carine yang sudah tidak sabaran karena mobil anak buahnya tuan Smith sudah banyak yang jatuh dan terguling di bawah tebing yang curam itu.
"Tidak. Aku tidak mau ambil resiko melihat kamu celaka. Biar aku yang menyetir dan kamu cukup mengarahkan saja aku yang akan melakukannya sesuai keinginanmu," ucap tuan Smith.
Carine terlihat gelisah. Ia akhirnya mengalah namun belum juga strategi permainannya di jalankan, mobil musuh sudah mendekat dan siap menembak mobil mereka dengan basoka portabel.
"Oh my God!" pekik Carine sambil menahan nafasnya karena sebentar lagi mobil yang mereka tumpangi akan berakhir di dalam jurang.