
Sayang. Kita ke rumah sakit ya...!" ajak Orlando berusaha tenang walaupun dia sendiri yang paling sakit melihat bulir bening istrinya menetes dipipi karena merasakan sakit pada perutnya yang luar biasa diikuti oleh keringat yang sudah bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya.
"Sepertinya tidak bisa. Aku ingin melahirkan disini. Sepertinya kepala bayinya sudah masuk ke jalur lahir, Orlando," ucap Carine yang duduk bersandar di dasbor tempat tidur sambil menggeram kesakitan.
"Baiklah. Kalau begitu kamu melahirkan di kamar kita saja. Aku tidak mau melihatmu kesakitan. Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" tanya Orlando yang tidak bisa lagi melihat penderitaan istrinya.
Ting...tong ..
Bunyi bel pintu apartemennya menggema. Orlando sudah tahu kalau itu dokter dari rumah sakit yang datang ke sini dengan helikopter untuk menjemput mereka.
"Sayang. Tahan dulu sebentar. Sepertinya itu dokter," ucap Orlando sambil berlari ke luar kamarnya.
Orlando melihat layar CCTV di samping pintu dan benar saja itu tim medis yang dipanggilnya tadi.
"Dokter Maya! Silahkan! Carine sudah tidak kuat menahan sakit," ucap Orlando membawa sahabatnya Carine ke dalam kamar.
Cek...lek..
"Carine ...!" desis dokter Maya seraya masuk mengenakan kaus tangan untuk membantu persalinan Carine. Dua orang suster langsung mempersiapkan peralatan medis yang dibutuhkan dokter Maya.
Dokter Maya memposisikan kedua kaki Carine agar terbuka lebih lebar. Orlando duduk di sebelah tubuh istrinya sambil mengusap keringat yang mengalir di wajah istrinya.
"Mengejanlah Carine ..! Kamu adalah seorang dokter harus berani," ucap dokter Maya menyemangati sahabatnya itu.
Carine mengerahkan sekuat tenaganya sambil mengigit kain agar tidak terjadi pergeseran syaraf gigi agar tidak mudah copot saat memasuki usia senja.
Tidak lama kemudian, bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu lahir dengan selamat. Suaranya seketika menggema di ruang kamar kedua orangtuanya itu. Carine makin meraung karena ia bisa menyelamatkan bayinya. Begitu pula dengan Orlando yang langsung mencium Carine penuh rasa sayang.
"Terimakasih baby...! Kau benar-benar membuktikan kepadaku bahwa kamu wanita kuat dan pemberani. Aku makin mencintaimu," ucap Orlando mengecup bibir Carine.
Bayi itu di letakkan di atas dada ibunya. Seperti sudah tahu tempat produksi makanannya, bayi tampan itu langsung menyesap benda mungil itu membuat Orlando takjub.
"Bukankah bayi yang baru lahir itu tidak bisa melihat?" tanya Orlando menyaksikan ketangkasan bayinya meraup makanannya yang sudah langsung produksi ASI.
"Insting bayi sudah bekerja untuk mendapatkan makanannya sendiri, tuan," ucap dokter Maya yang sudah menggunting tali pusar bayinya.
"Cih...! Kenapa dia rakus sekali seakan takut ada yang merebutnya," kesal Orlando yang melihat satu tangan bayinya menutupi puti*g bukit kembar Carine.
"Sudahlah...! Dia bukan sainganmu. Kenapa kamu malah mendebat putramu sendiri? Bukankah kamu sedang menanti kehadirannya?" omel Carine sambil mengelus kepala bayinya.
"Tapi, dia merebut semua yang aku miliki padamu," protes Orlando.
"Aku akan berlaku adil pada kalian," balas Carine.
"Sebentar dokter Carine. Kami harus membersihkan bayinya dulu," ucap suster Megan seraya mengambil bayi itu dari dada Carine.
Tangis itu kembali menggema saat tubuh mungilnya tersentuh oleh air hangat. Sementara dokter Maya membersihkan tubuhnya Carine hingga rapi. Carine mengenakan kimono tidur agar memudahkan dirinya bisa menyusui bayinya.
Carine dipindahkan Orlando ke kamar tamu karena kasur mereka sudah terkena noda darah.
"Kita pindah kamar lain sayang. Ukuran kamar dan desainnya sama semua jadi kamu tetap nyaman. Besok aku akan meminta petugas apartemen untuk menggantikan tempat tidurnya dan menghias lagi kamar dengan nuansa baru yang cocok untuk bayi kita," ucap Orlando.
"Siapa nama bayi kita, Orlando?" tanya Carine yang belum sempat menyiapkan nama untuk bayi lelaki mereka.
"Kenan."
"Keren."
"Kau menyukainya sayang?"
"Sangat. seperti aku menyukai ayahnya."
Tok...tok....!
"Sebentar."
"Baby-nya harus disusui dulu oleh ibunya, tuan," ucap suster Megan.
"Silahkan masuk suster!" ucap Orlando.
Suster Megan memberikan bayi itu ke tangan Carine. Carine memposisikan tubuh bayinya dengan benar lalu mengeluarkan salah satu bukit kembarnya untuk di arahkan kepada mulut bayinya yang sedang mencari benda kenyal yang sempat ia cicipi tadi.
"Suster Megan. Apakah aku bisa minta tolong padamu?" tanya Carine.
"Katakan saja dokter!"
"Tolong Carikan aku baby sitter untuk membantu aku mengurus bayiku. Cukup satu bulan saja. Selebihnya biar aku dan suamiku yang mengurus sendiri. Kami bisa melakukannya bergantian," ucap Carine.
"Kalau hanya sebulan, biar saya saja dokter yang membantu anda di sini. Saya bisa ambil cuti untuk satu bulan," ucap suster Megan yang tidak lain asistennya Carine sendiri.
"Benarkah?" binar Carine begitu bahagia.
"Benar dokter."
Suster Megan menganggukkan kepalanya mantap.
"Baiklah. Biar pelayan yang akan menyiapkan kebutuhan anda besok pagi. Sekarang sudah terlalu larut malam. Sebaiknya kalian pulang dulu untuk istirahat," ucap Carine.
"Baik dokter. Kami akan kembali ke rumah sakit dulu. Kebetulan helikopter masih menunggu kami di atas. Besok saya akan sekalian bawakan suntikan imunisasi untuk baby-nya," ucap suster Megan.
Tidak lama kemudian, dokter Maya dan suster Emily ikut masuk ke kamar Carine. Ketiganya langsung pamit pulang di atas Orlando ke depan pintu utama.
Sepeninggalnya tim medis itu, Orlando menghubungi restoran siap saji untuk mengirim makanan ke unit apartemennya. Orlando tahu saat ini istrinya pasti sangat lapar karena baru saja membuang energi besar untuk melahirkan jagoan tampan mereka.
Orlando kembali ke kamarnya dan melihat Carine sudah terlelap dan bayinya sudah tidur di sebelahnya.
Orlando mengecup pipi Carine dan juga kening bayinya.
"Tidurlah...! Aku akan menjaga kalian sambil menunggu petugas restoran mengirim makanan," ucap Orlando yang sudah tidak bisa tidur lagi karena sebelumnya ia sudah tidur.
Orlando mengirim pesan singkat pada asistennya Wiz untuk mengirimnya dua orang pelayan untuknya besok pagi untuk membantu mereka. Carine memang tidak menyukai pelayan yang menginap karena ia tidak begitu suka ada pelayan di unit apartemennya. Tapi saat ini mau tidak mau ia harus terima karena ia butuh orang lain untuk membantunya.
Tidak lama Orlando sudah menerima pesanannya dari pelayan restoran. Orlando membangunkan Carine untuk makan agar tenaganya kembali pulih apalagi Carine baru habis melahirkan dan kini menyusui bayi mereka.
"Sayang. Kamu harus makan dulu ya!" pinta Orlando dan Carine mengangguk karena memang dia sangat lapar saat ini.
"Aiss...! Kamu tahu saja kalau aku saat ini sangat lapar, sayang," ucap Carine merasa terharu dengan perhatian suaminya.
"Besok kita akan makan makanan yang lebih enak. Untuk sementara, makan yang ada dulu ya," ucap Orlando.
"Hmm!"
Carine memakan burger dan dua potong ayam. Orlando membuat susu untuk ibu menyusui. Usai menyelesaikan makanannya, Carine pamit untuk tidur lagi. Orlando juga ikut tidur di seberang Carine menjaga baby mereka yang tidur di tengah mereka.
Keesokan paginya, asisten Wiz sudah mengirim dua orang pelayan ke apartemen Orlando. Ia juga di minta untuk memesan beberapa makanan pada tuan Lucio agar pelayan itu mengirimkan makanan untuk tuannya di apartemen Orlando.
"Lucio. Apakah kamu bisa mengantarkan sarapan ke unit apartemen nona Carine dan tuan Orlando?" tanya asisten Wiz.
"Tumben minta dibawakan sarapan?" tanya pelayan Lucio.
"Itu karena nona Carine baru habis melahirkan bayinya semalam," jawab asisten Wiz.
"Apaaa...?! Jadi nona sudah melahirkan?" sentak Lucio.
"Siapa yang melahirkan Lucio?" tanya nyonya Adeline.
Deggggg....