PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
6. Menghina


Pagi itu, Carine dikejutkan dengan amarah Orlando yang menggedor pintu kamarnya seperti kesetanan.


"Buka...! Buka pintunya.. atau aku dobrak pintu ini..!" titah Orlando dengan suara nyaring dan Carine segera membukanya saat ia siap berangkat kerja.


"Ada apa?" tanya Carine santai.


"Ke mana kamu semalam, hah?!" bentak Orlando dengan wajah kelam.


"Tentu saja pulang ke rumah," sahut Carine seraya mengambil tasnya.


"Siapa yang menyuruhmu pulang sendiri? Dan kenapa kamu tiba-tiba menyerang teman-temanku? Dan gara-gara kau mobilku rusak parah dan aku di gelandang ke kantor polisi," tutur Orlando menyudutkan Carine yang berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi dengan penjahat kelamin yang ada di hadapannya saat ini.


"Apakah kamu ingin aku menjadi korban bully-an teman-temanmu seperti yang kamu lakukan pada aku dulu?" balas Carine.


"Dengan memamerkan ilmu bela dirimu yang tidak seberapa itu?" remeh Orlando.


"Setidaknya aku bisa melindungi diriku daripada harus memohon pertolongan kepada kakak tiri tidak berguna sepertimu itu," sarkas Carine menabrak separuh pundak Orlando hendak keluar dari kamarnya.


"Tunggu....! Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara. Jangan coba-coba mengulangi perbuatanmu yang memalukan semalam...! Jika mereka membully dirimu, itu karena kamu pantas mendapatkannya karena wajahmu itu yang merusak pandangan mata orang lain," ucap Orlando menghentikan langkah Carine yang berusaha memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang.


"Apakah tidak ada kata yang lebih hebat dari yang barusan kamu ucapkan kepadaku, Orlando?" tenang Carine yang masih merasa beruntung karena saat ini ia merasa penyamarannya benar-benar sempurna.


"Tidak ada wanita jelek...jelek.... jelek..!" cicit Orlando seraya berlalu ke kamarnya.


"Setidaknya wanita jelek ini telah menyelamatkan nyawamu, pria sialan," maki Carine segera berlalu pergi dari rumah Orlando menuju markas FBI dengan mengendarai mobil pribadinya.


Dari atas balkon, Orlando diam-diam memperhatikan kepergian Carine dari mansionnya. Ada rasa bersalah dalam hatinya yang kini menyeruak ke seluruh jiwanya.


"Astaga. Apa yang sudah aku lakukan pada gadis itu? Kenapa mulutku begitu mudah melontarkan hinaan padanya? Bukankah dia adalah adik tiriku? tapi, tunggu dulu.


Kenapa suara Carine sangat mirip dengan wanita semalam yang menolongku? Bahkan baju dan jaket yang digunakan wanita semalam sama persis seperti yang dipakai oleh Carine. Bedanya wajah yang satunya seperti bidadari sedangkan di dalam rumahku ini mirip monster," bingung Orlando bicara pada dirinya sendiri.


Orlando segera turun untuk sarapan pagi bersama ayah dan ibu tirinya nyonya Adeline. Di meja makan ketiganya nampak tenang menikmati sarapan pagi mereka hingga akhirnya tuan Franco yang lebih dulu bertanya pada istrinya.


"Baby."


"Hmm..!"


"Sebenarnya, apa pekerjaan Carine?" tanya tuan Franco.


"Dokter bedah di rumah sakit Elisabeth," ucap nyonya Adeline.


"Dokter? Setahuku dia mengambil jurusan manajemen bisnis sepertiku," ucap Orlando.


"Carine memiliki kejeniusan tingkat tinggi. Di usianya 15 tahun, dia sudah menyelesaikan pendidikan S3 dengan tiga jurusan. Salah satu jurusan yang ia ambil adalah jurusan kedokteran dan mengambil spesialis bedah," imbuh nyonya Adeline membuat Orlando tersentak hingga berhenti mengunyah.


"Sejak usia lima tahun," ujar nyonya Adeline spontan. Ia lupa akan konsekuensinya jika terlalu banyak mengumbar tentang identitas putrinya akan berakibat fatal bagi Carine.


"Sial. Jadi, selama ini gadis culun itu sudah membohongi semua orang dengan penampilan anehnya itu? Sebenarnya apa yang dia cari? Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku harus mencari tahu informasi tentang dirinya," batin Orlando penasaran dengan adik tirinya itu.


"Apakah Tante tidak kuatir jika nanti pasiennya Carine yang ingin berobat agar cepat sembuh malah bisa kena stroke saat melihat wajah dokter mereka seperti putri Tante itu?" ledek Orlando mulai dengan keisengannya.


"Apakah terlalu penting sebuah wajah untukmu ketimbang keahliannya dalam mengobati pasiennya, Orlando?" sarkas nyonya Adeline tetap tenang menghadapi anak tirinya yang terlihat urakan.


"Bukankah banyak wanita yang rela menyerahkan tubuh mereka ketimbang otak mereka untuk memperbaiki keturunan? Ingat Orlando, sesungguhnya ragawi yang terlihat indah hanya bertahan di masa muda, sementara kecerdasan akal dan pikiran ditunjang oleh kepribadian baik akan bertahan hingga kita mati," lanjut Nyonya Adeline lalu mengakhiri sarapannya.


"Permisi. Aku duluan," pamit nyonya Adeline.


Tuan Franco menatap horor wajah putranya yang tidak bisa bersikap sopan pada istrinya.


"Jangan terlalu kekanak-kanakan, Orlando! Lihatlah dirimu..! Dibandingkan dengan Carine, ia masih bisa menghidupi dirinya sendiri dengan kemampuannya, tidak denganmu yang memanfaatkan hartaku untuk bersenang-senang dengan wanitamu, seperti ibumu yang pelacur itu," sarkas tuan Franco membuat wajah Orlando mengeras menahan malu.


Perceraian kedua orangtuanya karena perselingkuhan ibunya yang tidur dengan banyak lelaki setiap kali ayahnya pergi ke luar negeri. Itulah mengapa Orlando tumbuh menjadi anak yang brutal dengan menganggap wanita itu adalah sampah.


Tuan Franco membuang serbet di atas piring kotor setelah mengusap bibirnya. Ia ingin meminta maaf kepada Adeline yang sangat tersinggung dengan penghinaan Orlando pada putrinya Carine.


Di dalam kamar, perancang busana pria ini nampak gusar mengingat lagi peringatan putrinya untuk tidak membuka mulut pada siapapun tentang identitasnya.


"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan penyamaran itu di dalam rumah ini agar bajingan Orlando tidak menghinamu, sayang," ucap Adeline bicara dengan ponselnya menatap wajah cantik putrinya.


Sementara di tempat yang berbeda, Carine sedang melakukan investigasi ke salah satu tempat pembunuhan berantai yang terjadi satu pekan akhir-akhir ini yang tidak bisa diselesaikan oleh pihak kepolisian.


Dengan kejeniusannya dan kepekaannya yang mampu meriplay kembali bagaimana pembunuhan seorang wanita muda yang di temukan di pinggir pantai dalam sebuah kantong plastik.


"Sepertinya pembunuhan para gadis muda ini dilakukan bukan di atas kapal. Mereka melakukan pemerkosaan sadis terlebih dahulu hingga korbannya meninggal dunia dan setelah itu dimasukkan ke dalam kantong plastik daging sapi yang siap di ekspor ke luar negri," ucap Carine dengan prediksinya.


"Bagaimana kamu bisa memiliki asumsi seperti itu?" tanya bosnya, tuan Markel.


"Lihatlah jenis kantong plastik itu. Kantong plastik itu di desain khusus untuk menyimpan daging sapi yang dipotong beberapa bagian tubuhnya. kantong itu akan kedap air hingga menjaga kelembaban daging di dalamnya agar tidak mudah rusak," ucap Carine.


"Apakah kamu mencurigai kapten kapal yang melakukan ekspor daging sapi ke luar negeri?" tanya tuan Markel.


"Konsepnya tidak seperti itu. Penjahat ini sangat profesional untuk menjebak seseorang dengan melakukan beberapa alibi agar dirinya lolos dari setiap kejahatannya," ungkap Carine.


"Lalu, bagaimana ceritanya mayat ini bisa berada di kantong plastik daging sapi?" tanya tuan Markel.


"Pemilik hotel yang melakukan pembunuhan para gadis itu. Kantong daging sapi yang bekas pakai di daur ulang kembali oleh pihak hotel sebelum digunakan lagi. Dan anak buahnya itu tahu bagaimana menyimpan mayat sebelum di antarkan ke dermaga dan diangkut oleh kapal pesiar dan di buang di tengah laut," ucap Carine.