PESONA ADIK TIRI CULUN

PESONA ADIK TIRI CULUN
45. Kesadisan Carine..!


Carine memberikan isyarat dengan matanya pada komandannya untuk mengijinkan tuan Smith membawanya pergi dengan helikopter milik laki-laki maniak itu.


"Kau boleh pergi dengan anggotaku, tapi jangan sampai kau berani menyakitinya atau aku akan menghancurkan tubuhmu menjadi berkeping-keping...!" ancam komandan Markel dengan sandiwaranya. Walaupun begitu, ada rasa cemas pada diri Carine yang saat ini sedang hamil.


Orlando makin dibuat frustasi dengan kenekatan Carine. Anggota FBI yang ada di sebelahnya menahan tubuh Orlando agar suami rekannya ini tidak menghancurkan rencana istrinya.


"Biarkan dia bekerja dengan baik...! Insting Carine lebih kuat dari yang kamu duga. Itulah mengapa dia yang terpilih dari 7 kandidat terbaik calon agen FBI di angkatan kami," ucap Sanders.


"Sepertinya kau lebih mengenal istriku daripadaku," kesal Orlando yang mulai lagi dengan cemburunya.


"Siapa yang tidak menyukai Carine? Hanya saja wanita hebat itu sangat sulit untuk didekati oleh pria hebat sekalipun," ucap Sanders terlihat kecewa.


"Berarti aku laki-laki yang beruntung menaklukkan agen rahasia kebanggaan kalian itu," bangga Orlando membuat senyum smirk terbit di bibir Sanders.


"Cih...! dasar badebah...!" batin Sanders muak juga dengan tingkah sok Orlando.


Kembali pada Carine dan tuan Smith yang sudah berada di bawah pintu helikopter. Tuan Smith menatap Carine agar bumil ini naik ke atas helikopter.


"Naik...!" titah tuan Smith dengan bentakan.


"Apa kau tidak melihat perutku yang besar ini, hah?!" Carine balik membentak.


"Kau sangat menyusahkan..!" gerutu tuan Smith mengangkat tubuh Carine ke atas helikopter walaupun tangannya sedang terluka tapi pistol masih digenggamnya kuat.


Carine yang sudah siap dengan cater ditangannya pura-pura membelit leher kokoh tuan Smith. Saat tubuhnya benar-benar dalam pelukan lelaki maniak ini, Carine mendorong cater secara perlahan bersamaan dengan derunya baling-baling helikopter.


Carine dengan sadisnya menggorok nadi dileher tuan Smith dalam sekejap membuat mata pria maniak ini terbelalak. Darah itu muncrat mengenai wajah dan mantel Carine.


Orlando berlari secepat kilat untuk menggendong tubuh istrinya jika tuan Smith melepaskan tubuh Carine karena pria itu sebentar lagi akan menghembuskan nafas terakhirnya.


"Carinnnnne....!" pekik Orlando yang tidak bisa terdengar oleh Carine karena deru mesin helikopter dengan putaran baling-baling yang tak bisa berhenti.


Orlando langsung mendekap tubuh istrinya begitu tuan Smith sempat jatuh dengan kedua lutut mendarat di bumi. Carine menengok melihat siapa yang mendekap tubuhnya dan Carine terlihat sangat syok mendapati suaminya juga ikut dalam operasi misi kali ini.


"Orlando ..!" desis Carine begitu terharu saat ini.


"Sayang...! Terimakasih sudah menjaga dirimu dan kandunganmu dengan nyawamu. Maafkan aku," ucap Orlando dengan cairan bening luruh begitu saja menghiasi wajah tampannya.


Carine yang terlihat lelah dengan seluruh tubuhnya terasa sakit hanya bisa menangis. Orlando membawa Carine agak menjauh dari helikopter milik tuan Smith.


"Apakah tubuhmu semuanya sakit?" tanya Orlando cemas.


"Hmm!" jawab Carine seadanya dengan mata terpejam.


"Amankan co-pilot itu!" titah komandan Markel pada anak buahnya.


Carine hanya tersenyum getir. Ia masih trauma perlakuan tuan Smith pada dirinya. Tidak lama kemudian, datang helikopter medis menjemput Carine yang didampingi oleh suaminya sendiri.


Setelah tubuh Carine sudah dievakuasi ke dalam helikopter, dokter mulai melakukan tugasnya memeriksa keadaan Carine dan juga kandungannya.


Malam itu juga Carine langsung dibawa ke Amerika dengan pesawat jet pribadi milik Orlando. Pria ini tidak beranjak sedikitpun disamping istrinya.


...----------------...


Carine kini sudah berada di rumah sakit Elisabeth di mana dirinya mengabdi sebagai dokter bedah di rumah sakit itu. Orlando sedikit lega karena Carine ditangani sendiri oleh rekannya yang semuanya dokter wanita.


Sekitar satu jam mereka memeriksa keadaan Carine yang mengalami cidera pada tubuhnya yang cukup parah. Namun kandungnya tetap aman membuat Orlando dan Carine bisa bernafas lega.


"Tuan Orlando. Kandungan dokter Carine tidak mengalami cidera. Walaupun begitu dokter Carine harus tetap mendapatkan perawatan khusus karena terdapat banyak luka lebam di tubuhnya. Bengkak di wajah dan matanya akan segera membaik dalam waktu tiga hari," jelas Dokter Maya.


"Terimakasih dokter...! Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan istriku," ucap Orlando sekedar basa-basi.


"Sekarang kami permisi dulu. Sebentar lagi dokter Carine akan dipindahkan ke ruang inap sesuai yang tuan Orlando harapkan. Dan satu lagi jangan lakukan hubungan intim dulu selama dokter Carine dalam masa pemulihan!" dokter Maya mengingatkan Orlando dengan tegas.


Carine nampak tersenyum melihat Orlando hanya mengangguk patuh tapi hatinya menggerutu menolak saran yang tidak menguntungkan baginya. Tapi apapun itu ia merasa sangat puas bisa bertemu lagi dengan istrinya walaupun dalam keadaan yang menyedihkan.


Dalam satu jam Carine sudah dipindahkan ke kamar inap. Wajah Orlando begitu sumringah menatap wajah cantik istrinya lagi walaupun penuh lebam dan lecet di beberapa bagian.


Begitu pula bibirnya yang terdapat darah beku dan menggumpal di sana. Carine masih hidup saja dia sudah sangat bersyukur. Orlando mengusap perut besar istrinya.


"Hallo baby! apa kabar! Maafkan daddy sudah membuat mommy mu kecewa. Daddy janji tidak akan menyakiti hati mommy kamu lagi. Tetaplah disamping Daddy...! jangan tinggalkan Daddy lagi. Ok...!" Bisik Orlando membelai lembut perut besarnya Carine dan menempelkan wajahnya di sana.


Semenit kemudian janin itu bereaksi dengan menendang wajah tampan Orlando. Orlando tersentak karena baru kali ini ia merasakan sendiri bagaimana kehidupan dalam rahim itu bereaksi pada orang yang mengajaknya bicara.


"Hai sayang...! Kamu bisa mendengar ucapan Daddy?" tanya Orlando begitu gemas dengan calon bayinya yang masih berada di rahim istrinya itu.


"Iya daddy. Tentu saja aku bisa mendengar suara daddy," ucap Carine mengikuti suara anak kecil.


"Apakah kamu mau daddy kunjungi?" tanya Orlando sengaja memancing gairah Carine.


"Nanti saja kalau mommy aku sudah sembuh, ok!" ujar Carine membuat Orlando merasa serba salah untuk menyentuh tubuh istrinya yang penuh dengan luka lebam.


"Baiklah. Daddy akan menunggu perjumpaan kita. Terimakasih sudah menjadi anak yang hebat buat Daddy dan mommy. Kau benar-benar pewaris Daddy. Daddy tidak sabar ingin melihat kamu hadir di bumi ini," ucap Orlando disambut lagi dengan hentakan ringan di telapak tangannya dari janinnya.


Orlando tiba-tiba merasa sangat sedih. Ia kembali menangis mengingat mulutnya yang tidak bisa dikendalikan karena cemburu yang berlebihan membuat dirinya kehilangan Carine.


"Baby. Aku minta maaf. Mungkin maaf saja tidak cukup untukmu. Aku benar-benar menyesal," ucap Orlando sambil menciumi perut Carine karena di tempat yang lain Carine merasa sakit jika disentuh.


Namun ada yang menyita perhatian Orlando di mana bukit kembar Carine yang juga luput dari pukulan tuan Smith selain perutnya. Bukit kembar itu terlihat sensual nan menggoda karena makin bertambah besar seiring usia kehamilan Carine. Tapi rasa bersalah dan kesedihannya pada Carine mengalahkan rasa nafsunya.