
Setelah beberapa waktu berlalu dan diperkirakan Rengganis sudah cukup jauh, Puguh perlahan mengurangi aliran tenaga dalamnya.
"Sekarang, apa yang kalian kehendaki dariku ?" tanya Puguh sambil menatap tajam Putri Mahatariti.
"Kau sekarang menjadi tahanan kami," jawab Putri Mahatariti pelan.
"Aku sudah menyerah, seperti yang sudah aku katakan. Bukankah berarti aku sudah menjadi tahanan kalian ?" jawab Puguh heran.
"Tarik semua tenaga dalammu, anak muda !" sahut Muka Pucat.
Mendengar permintaan Muka Pucat, Puguh segera menarik kembali sebagian besar tenaga dalamnya, dan hanya menyisakan sedikit untuk melindungi tubuhnya.
Pada saat itulah tubuh Muka Pucat yang sejak tadi sudah menyimpan perasaan dongkol, karena tidak bisa menghajar Rengganis, berkelebat sangat cepat ke samping Puguh sambil melayangkan pukulan dua kali ke arah tengkuk dan dada Puguh.
Paaaccckkk !
Buuuggghhh !
Tubuh Puguh yang hanya terlindungi dengan sedikit tenaga dalam, seketika pingsan dan jatuh terlempar ke belakang dengan keras.
Bruuuaaakkk !
"Ibu ! Hentikan ! Dia sudah menyerah !" teriak Putri Mahatariti sambil meloncat ke arah Puguh yang tergeletak di tanah.
"Gotong dia dan bawa dia ke kamar ! Beri obat untuk luka lukanya !" perintah Putri Mahatariti pada pembantunya yang tidak terluka.
Mendengar perintah itu, beberapa orang pembantu Putri Mahatariti dengan segera mengangkat tubuh Puguh dan membawanya ke ruangan pengobatan.
Namun, tanpa sepengetahuan Putri Mahatariti, Muka Pucat diam diam menotok tubuh Puguh di beberapa titik, sehingga Puguh tidak bisa mengeluarkan tenaga dalamnya. Kemudian, tangan dan kaki Puguh diikat dengan rantai besar yang sangat kuat, yang tidak mungkin bisa dirusak bila hanya menggunakan tenaga luar atau tenaga kasar.
----- o -----
Dengan tanpa merasa lelah dan dengan air mata yang selalu menggenang di pelupuk matanya, Rengganis terus menerus berlari hingga selama tiga hari tiga malam.
Dalam hati yang gelisah dan penuh dengan kekhawatiran akan keadaan dan keselamatan Puguh, tanpa disadarinya, Rengganis berlari ke arah hutan tempat guru sekaligus kakeknya tinggal.
Hingga pada pagi harinya di hari ke empat, Rengganis sampai di dekat gubug kecil tempat tinggal Ki Bajraseta kakeknya.
Karena perasaan lega serta kondisi tubuhnya yang sudah sangat kelelahan, begitu sampai di halaman depan gubug itu, Rengganis terjatuh dan pingsan.
Ki Bajraseta yang sejak Rengganis memasuki tepi hutan sudah merasakan adanya seseorang yang menuju ke tempatnya dari getaran tenaga dalam yang dia rasakan, segera keluar.
Betapa terkejutnya Ki Bajraseta, melihat ternyata yang datang menuju tempat tinggalnya adalah Rengganis cucunya dan dalam keadaan pingsan.
Maka segera disahutnya tubuh Rengganis dan dibawa masuk ke gubug untuk dirawat.
Selama sehari semalam Rengganis masih pingsan. Badannya demam. Tubuhnya terkadang menjadi sangat dingin, terkadang menjadi sangat panas hingga mengigau dalam pingsannya.
Akhirnya, setelah selama tiga hari tiga malam penuh Rengganis pingsan dan berkat usaha Ki Bajraseta yang dengan telaten merawat cucunya, Rengganis tersadar dari pingsannya.
Begitu tersadar, yang diingat Rengganis adalah Puguh. Sehingga Rengganis langsung menanyakan dimana Puguh dan kemudian menangis.
Melihat itu, Ki Bajraseta membiarkan sampai Rengganis betul betul sadar. Setelah tersadar sepenuhnya, barulah Ki Bajraseta menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Rengganis. Rengganis pun menceritakan semuanya pada kakeknya.
Sebenarnya, Ki Bajraseta sangat terkejut mendengar cerita Rengganis cucunya. Apalagi saat Rengganis menyebut nama Dharma Shankara dan Muka Pucat. Ada ingatan tersendiri yang membuat Ki Bajraseta sempat memunculkan getaran energi kemarahannya.
Namun, yang paling membuat Ki Bajraseta terkejut dan kagum adalah, kemampuan Puguh yang bisa mengalahkan Dharma Shankara. Sekaligus menumbuhkan kekhawatiran akan keselamatan Puguh, karena Ki Bajraseta tahu persis watak dan karakter Dharma Shankara yang tidak mau kalah dan tidak mau diungguli.
Dalam hati Ki Bajraseta bersyukur dan merasa lega, karena saat Rengganis dan Puguh bertarung melawan Putri Mahatariti dan kedua orangtuanya, tidak ada tokoh tokoh Perkumpulan Jaladara Langking yang lain yang berada di tempat itu. Karena masih banyak tokoh tokoh sakti di perkumpulan itu.
"Ngger Rengganis, sekarang kamu istirahat dulu, pulihkan keseharanmu dulu. Setelah kau benar benar sehat, kakek akan mengantarmu ke Kadipaten Langitan.
Akhirnya, karena ingatannya yang selalu pada Puguh, Rengganis berusaha secepatnya bisa sembuh dan pulih kembali keadaannya.
----- * -----
Sementara dalam waktu yang bersamaan, di kampung yang sudah berbatasan dengan sebuah hutan, seorang gadis cantik berpakaian bak seorang ningrat yang ditemani seorang kakek tua, sedang sibuk mengobati warga kampung yang sedang terkena wabah penyakit.
Namun, setelah diperiksa dan diteliti oleh gadis cantik dan kakek tua itu, mereka semua bukanlah terkena wabah penyakit. Tetapi mereka terkena sisa sisa racun yang tercampur di dalam sumber mata air yang biasanya diambil airnya oleh warga kampung itu untuk memasak dan minuman.
Warga kampung itu tidak hanya mengalami sakit yang dikarenakan perutnya, tetapi ada juga yang mengalami luka gatal ataupun melepuh kulitnya setelah menyentuh suatu barang.
Dalam pemeriksaannya, gadis cantik dan kakek tua itu menyimpulkan, jikalau racun itu berasal dari sisa sisa pertarungan yang sempat terjadi di kampung itu.
"Guru, untungnya racun ini masih dalam tingkatan menengah, sehingga tidak sampai merengut jiwa warga kampung," kata gadis itu.
"Untungnya juga, kita lewat daerah ini, Roro. Heehhh he he he ...," sahut kakek tua itu.
Mereka berdua adalah Den Roro dan Ki Bhanujiwo gurunya. Dalam pengembaraannya, mereka tiba di kampung di tapal batas Kadipaten Randu Beteng dengan sebuah hutan.
Dalam perjalanan mengembara, Den Roro dan Ki Bhanujiwo sering singgah di kampung kampung pelosok untuk membantu warga yang sedang sakit atau yang sedang membutuhkan obat. Terkadang mereka juga bertemu pendekar yang sedang mengalami luka luka akibat pertarungan, yang juga mereka coba membantu mengobatinya.
Dengan bertemu warga kampung terutama bertemu para pendekar, membuat Ki Bhanujiwo dan Den Roro bisa mendapatkan banyak informasi.
Dari seorang pendekar yang sempat diobati oleh Ki Bhanujiwo dan Den Roro, mereka berdua mendapatkan kabar, jika di daerah yang masuk wilayah Kadipaten Randu Beteng, banyak warganya yang menderita sakit karena racun. Dan kabarnya racun itu milik seorang wanita tua salah satu tokoh sakti di Perkumpulan Jaladara Langking.
Merasa tertarik dengan berita tentang wanita tua ahli racun, Ki Bhanujiwo berencana mengajak Den Roro melakukan perjalanan ke arah kampung yang dimaksud. Siapa tahu mereka berdua bìsa bertemu dengan wanita tua ahli racun itu.
Apalagi selama perjalanan mengembaranya, Ki Bhanujiwo berhasil menemukan obat untuk orang orang yang terkena Racun yang kemungkinan buatan nenek tua itu.
Karena perjalanan pengembaraan mereka yang sering singgah di kampung kampung, membuat perjalanan mereka berjalan lambat. Namun, hal itu juga membuat nama mereka terkenal kemana mana sebagai tabib.
__________ ◇ __________